Jodoh di Persimpangan Senja Chapter 3: Jejak di Dunia Maya
3/10
Bab 3

Chapter 3: Jejak di Dunia Maya

Upaya pencarian Meira yang putus asa di media sosial menjadi viral. Ia harus menghadapi simpati sekaligus cemoohan publik, sementara Bima mengamati dari kejauhan, ragu untuk menampakkan diri.

Bab 3: Jejak di Dunia Maya

Dua hari terasa seperti dua abad. Apartemen Meira yang biasanya menjadi benteng pertahanan dari riuh Jakarta, kini berubah menjadi ruang hampa yang menggandakan sunyi. Setiap sudut seolah berteriak tentang sebuah kehilangan. Tempat tumbler biasa tergeletak di samping laptop kini kosong melompong. Rak piring terasa janggal tanpa siluet birunya yang familier. Bahkan saat menyeduh kopi instan dengan cangkir keramik biasa, rasanya seperti sebuah pengkhianatan.

Meira menatap layar laptopnya, kursor berkedip-kedip di laman kosong dokumen novelnya. Karakter utamanya, seorang detektif swasta yang sinis, terasa menertawakannya. Bagaimana ia bisa menulis tentang melacak penjahat kelas kakap jika menemukan sebuah tumbler saja ia tak becus?

Keputusasaan adalah binatang buas yang aneh. Ia menggerogoti logika, melahap harga diri, dan pada akhirnya, mendorongmu melakukan hal-hal yang sebelumnya kau anggap konyol. Malam itu, setelah gagal menulis satu kalimat pun dan meminum kopi yang terasa hambar, Meira menyerah. Ia membuka tab baru, jarinya dengan ragu mengetik alamat Twitter.

“Ini bodoh. Ini memalukan,” gumamnya pada cicak di dinding. Tapi jari-jarinya tetap bergerak, didorong oleh sisa harapan terakhir yang lebih tipis dari selembar tisu.

@MeiraKiran: Dicari: Sebuah tumbler. Warna biru langit, agak dekil. Ada stiker bunga aster kecil yang mulai pudar di dekat tutupnya. Terakhir terlihat di KRL Commuter Line arah Bogor, sekitar jam 15.30 hari Selasa, kemungkinan besar di gerbong tiga. Isinya cuma air putih, jadi nggak ada ruginya kalau dibalikin. Penting.

Ia berhenti sejenak, membaca ulang twitnya. Terlalu lugas, terlalu kering. Tidak ada drama, tidak ada permohonan. Persis seperti dirinya. Ia menambahkan sebuah foto—satu-satunya foto tumbler itu yang ia punya, nyempil di sudut sebuah foto lama saat ia dan ibunya piknik di Kebun Raya Bogor bertahun-tahun lalu. Kualitasnya buruk, gambarnya pecah, tapi bentuk dan warnanya masih bisa dikenali. Tanpa berpikir panjang lagi, ia menekan tombol ‘Tweet’.

Detik pertama, hening. Menit pertama, masih hening. Meira mendengus. Tentu saja. Siapa yang peduli dengan tumbler hilang di lautan jutaan twit sampah? Ia hendak menutup laptopnya saat notifikasi pertama muncul. Dari Rina, sahabatnya.

@RinaAdelia me-retweet: Temen gue kehilangan barang kesayangannya. Warga KRL, kalau ada yang liat, tolong kabarin @MeiraKiran ya! Bantu RT teman-teman! #TumblerHilang #InfoKRL

Dan dari sanalah bendungan itu jebol.

Tagar yang dibuat Rina, yang awalnya terasa menggelikan bagi Meira, ternyata menjadi pemantiknya. Dalam satu jam, twitnya sudah di-retweet ratusan kali. Akun-akun komunitas KRL, akun info Jabodetabek, bahkan beberapa akun gosip entah kenapa ikut menyebarkannya. Ponsel Meira yang biasanya sepi mulai berdengung tanpa henti. Notifikasi membanjiri layarnya seperti hujan meteor.

Awalnya adalah gelombang simpati.

“Semoga cepet ketemu ya, Mbak. Aku pernah kehilangan dompet di kereta, rasanya nyesek banget.” “Ikut sedih bacanya. Aku bantu doa & RT!” “Coba cek ke bagian Lost & Found di stasiun akhir, Mbak. Biasanya barang-barang dikumpulin di sana.”

Meira membaca semuanya dengan perasaan aneh. Perutnya mulas. Ia tidak terbiasa dengan simpati, apalagi dari orang asing. Perhatian ini terasa seperti lampu sorot yang menelanjanginya, mengubah kesedihan pribadinya menjadi konsumsi publik. Ia ingin berterima kasih, tapi lidahnya kelu. Ia hanya menatap layar, merasa semakin kecil dan terekspos.

Lalu, seperti yang sudah ia duga, datanglah gelombang kedua: cemoohan dan sinisme.

“Lebay amat, cuma tumbler doang sampe viral. Beli baru kan bisa.” “S3 Marketing ya, Mbak? Biar dapet tumbler gratis dari sponsor?” “Paling juga sengaja ditinggal biar bisa jadi selebtwit. Caper.” “Gerbong tiga emang angker, Mbak. Isinya copet sama orang aneh.”

Komentar-komentar ini, anehnya, justru terasa lebih familier. Inilah dunia yang Meira kenal. Dunia yang ia tulis dalam novel-novelnya. Dunia yang menganggap sentimentalitas sebagai kelemahan. Sebagian dari dirinya merasa lega, seolah pandangan sinisnya terhadap kemanusiaan baru saja divalidasi. Tapi sebagian lagi—bagian kecil yang rapuh dan masih berduka—terluka. Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu bahwa tumbler itu bukan sekadar wadah minum. Itu adalah gema tawa ibunya, sisa kehangatan tangannya, jangkar terakhir yang menahannya dari lautan duka.

“Gila lo, Mei,” suara Rina terdengar dari telepon. Meira akhirnya mengangkat panggilannya setelah dering kelima. “Twit lo trending di Jakarta. Selamat, sekarang lo resmi jadi ‘Mbak Tumbler Biru’.”

“Jangan mulai, Rin.”

“Serius! Ini gila. Ada yang bikin meme, ada yang bikin utas analisis kepribadian lo berdasarkan cara lo nulis twit. Katanya lo tsundere,” Rina tertawa.

“Aku mau hapus twitnya.”

“Jangan! Lo udah sejauh ini. Lihat sisi baiknya, makin banyak yang lihat, makin besar kemungkinan ketemu. Anggap aja ini riset novel. Lo lagi ngalamin sendiri gimana rasanya jadi korban viralitas di era digital,” Rina mencoba menghibur dengan logikanya yang pragmatis.

Meira menghela napas panjang. “Riset ini menyebalkan.”

Ia menutup telepon dan kembali menelusuri lautan komentar. Matanya terpaku pada sebuah balasan yang dilampiri foto. Jantungnya berdebar kencang. Foto itu menunjukkan sebuah tumbler biru di tangan seseorang, tapi… ada stiker band indie yang tidak ia kenali menempel di sisinya. Bukan miliknya. Harapannya patah secepat ia tumbuh.

Ia melempar ponselnya ke sofa dan membenamkan wajah di bantal. Ini adalah kesalahan. Seharusnya ia membiarkan tumbler itu pergi, merelakannya sebagai satu lagi kehilangan dalam hidupnya. Sekarang, ia tidak hanya kehilangan tumbler itu, tapi juga kedamaiannya.


Di sebuah kamar bernuansa kayu di sudut kota Bogor yang teduh, Bima menyesap teh jahe hangatnya. Di atas meja kerjanya, di antara tumpukan kertas partitur dan sebuah gitar akustik yang bersandar di dinding, berdiri sebuah tumbler berwarna biru langit. Stiker bunga aster kecil yang pudar menempel dengan setia di dekat tutupnya.

Bima menemukannya tergeletak di bawah kursi kosong di seberangnya saat KRL mulai lengang mendekati Bogor. Awalnya ia mengira itu milik penumpang yang baru saja turun. Ia menunggu, tapi tak ada yang kembali. Saat kereta tiba di stasiun akhir, ia membawanya turun, berniat menyerahkannya pada petugas keamanan. Tapi entah kenapa, langkahnya tertahan.

Ada sesuatu dari tumbler itu. Desainnya yang sederhana, warnanya yang menenangkan, stiker aster yang usang. Terasa personal. Terasa dicintai. Ia teringat pada gadis di seberangnya, yang tenggelam dalam bukunya dengan ekspresi begitu serius. Yang jemarinya mengetuk-ngetuk ritmis di sampul buku, seolah sedang mendengarkan musik yang hanya bisa ia dengar. Bima yakin tumbler itu miliknya.

Ia membawa tumbler itu pulang, membersihkannya dengan hati-hati, dan menaruhnya di meja. Ia merasa seperti penjaga sebuah artefak suci. Selama dua hari, benda itu menjadi teman kerjanya. Kehadirannya memunculkan melodi-melodi baru di kepalanya, melodi tentang pertemuan singkat, tentang tatapan yang tak tersampaikan, tentang gema yang tertinggal di gerbong tiga.

Malam itu, saat sedang beristirahat, ia iseng membuka Twitter. Algoritma membawanya ke sebuah twit yang sedang ramai dibicarakan. Foto thumbnail-nya buram, tapi warnanya familier. Ia mengkliknya.

Matanya membelalak.

Dicari: Sebuah tumbler. Warna biru langit, agak dekil. Ada stiker bunga aster kecil yang mulai pudar… KRL Commuter Line arah Bogor… gerbong tiga…

Deskripsinya cocok seratus persen. Fotonya, meskipun pecah, jelas menunjukkan tumbler yang sama dengan yang kini berdiri anggun kurang dari satu meter darinya.

Jantung Bima berdebar. Ini dia. Pemiliknya sedang mencarinya.

Refleks pertamanya adalah segera membalas. “Saya menemukannya! Tumbler-nya aman sama saya!” Jarinya sudah melayang di atas papan ketik virtual. Tapi kemudian, ia berhenti. Ia mulai membaca balasan-balasan di bawah twit itu.

Ia melihat simpati yang meluap-luap, dan di sisi lain, cemoohan yang tajam. Ia melihat bagaimana sebuah permintaan sederhana berubah menjadi sirkus digital. Nama akun pemiliknya, Meira Kiran, kini menjadi pusat perhatian. Bima, seorang musisi yang lebih suka tampil di kafe-kafe kecil yang intim daripada di panggung besar, merasa ngeri membayangkan dirinya terseret ke dalam pusaran itu. Jika ia membalas secara publik, ia akan menjadi ‘Mas Penemu Tumbler’. Notifikasinya akan meledak. Mungkin akan ada yang menuduhnya sengaja menyimpannya untuk mencari perhatian.

Keraguan merayap di hatinya.

Ia mengklik profil Meira. Bio-nya singkat: “Penulis cerita, peminum kopi, penghuni gerbong tiga.” Foto profilnya menunjukkan seorang perempuan dengan tatapan tajam, sedikit sinis, tapi ada kilat kecerdasan di matanya. Ia menelusuri twit-twit lamanya. Isinya kebanyakan adalah komentar sarkastik tentang buku, film, dan absurditas kehidupan di Jakarta. Orangnya tampak… rumit. Sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan.

Bima menatap kembali tumbler di mejanya. Benda ini terasa hangat dan penuh kenangan. Sementara pemiliknya di dunia maya terasa dingin dan berduri. Kontras itu membuatnya bingung.

Mengembalikannya di tengah keramaian viral ini terasa salah. Terasa seperti merusak kesakralan dari pertemuan tak sengaja mereka. Ia ingin mengembalikannya dengan cara yang benar, cara yang personal. Bukan sebagai pertunjukan untuk ribuan pasang mata netizen.

Ia kembali ke twit Meira, terus menggulir ke bawah, melewati ratusan komentar baru yang terus berdatangan. Ia merasa seperti seorang pengamat, berdiri di kejauhan, memegang kepingan puzzle yang paling penting sementara semua orang sibuk menebak-nebak. Ia ragu, terbelah antara keinginan untuk segera mengakhiri pencarian gadis itu dan keengganan untuk menampakkan diri dalam sorotan yang begitu terik.


Meira sudah di ambang batas. Ponselnya terus bergetar seolah kesurupan. Kepalanya pusing membaca argumen tak berujung antara mereka yang mendukungnya dan mereka yang menghujatnya. Semua ini untuk sebuah tumbler. Sebuah tumbler yang semakin terasa mustahil untuk kembali.

“Cukup,” desisnya. Ia akan menghapus twit itu, menghapus akunnya jika perlu, dan mengubur kenangan tentang tumbler itu dalam-dalam.

Ia membuka aplikasi Twitter untuk terakhir kalinya, jarinya sudah siap menekan tombol hapus. Tapi saat itu, sebuah notifikasi yang berbeda muncul di bagian atas layar. Bukan balasan atau retweet. Sebuah Direct Message. Dari akun yang tidak ia kenal. Akun dengan nama pengguna aneh dan tanpa foto profil.

Rasa penasarannya mengalahkan kejenuhannya. Ia membukanya.

Pengguna1827465: Mbak, saya nggak yakin. Tapi hari Selasa sore di KRL arah Bogor, saya duduk di gerbong empat. Pas kereta berhenti agak lama di Stasiun Cilebut, saya lihat dari jendela ada cowok turun dari gerbong tiga. Dia bawa gitar di punggungnya, dan di tangannya dia pegang tumbler biru. Mirip banget sama yang di foto Mbak.

Meira membaca pesan itu sekali. Lalu sekali lagi. Dan sekali lagi.

Dunia maya yang bising dan kacau di sekelilingnya mendadak senyap. Cemoohan dan simpati artifisial itu menguap. Yang tersisa hanyalah kalimat-kalimat sederhana dari orang asing ini. Sebuah jejak. Sebuah petunjuk nyata pertama.

Cowok bawa gitar. Turun di Stasiun Cilebut atau setelahnya. Di Bogor.

Jantungnya yang tadinya terasa berat dan lelah, kini mulai berdetak dengan ritme yang berbeda. Bukan lagi ritme keputusasaan, melainkan ritme perburuan. Harapan, yang tadinya ia kira sudah padam, kembali menyala seperti bara kecil yang ditiup angin.

Ia tidak membalas pesan itu. Ia juga tidak jadi menghapus twitnya. Ia meletakkan ponselnya, berjalan ke lemari, dan menarik keluar sebuah tas ransel kecil. Karakter detektifnya di dalam novel seolah berbisik di telinganya, “Apa yang kau tunggu? Jejaknya masih hangat.”

Untuk pertama kalinya dalam dua hari, Meira tahu persis apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Perjalanannya belum berakhir. Perjalanannya justru baru akan dimulai. Dan tujuannya sekarang jelas: Bogor.