Jodoh di Persimpangan Senja Chapter 5: Bab-Bab yang Terbaca Indah
5/10
Bab 5

Chapter 5: Bab-Bab yang Terbaca Indah

Hubungan Meira dan Bima berkembang. Inspirasi Meira untuk menulis kembali, ia merasa telah menemukan 'jodoh'-nya. Namun, bayang-bayang masa lalu Bima mulai muncul dalam bentuk panggilan telepon rahasia dan pertemuan-pertemuan ganjil.

Bab 5: Bab-Bab yang Terbaca Indah

Jari-jari Meira menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Kata-kata mengalir seperti sungai yang menemukan kembali jalurnya setelah kemarau panjang. Di apartemennya yang mungil, di sudut yang ia sulap menjadi ruang kerja, dunia terasa pas dan sempurna. Cahaya sore Jakarta yang keemasan menyelinap melalui jendela, menimpa tumpukan buku dan cangkir kopi yang sudah dingin di samping laptopnya. Dan di sana, di sisi lain meja, berdiri dengan anggun tumbler perak itu. Bukan lagi sekadar wadah minum, melainkan sebuah monumen kecil—penanda dimulainya sebuah babak baru.

Sudah dua bulan sejak pertemuan di gerbong tiga itu. Dua bulan yang terasa seperti kompilasi adegan-adegan terbaik dari sebuah film roman. Bima, dengan senyumnya yang teduh dan kesabarannya yang tak terbatas, telah membongkar satu per satu dinding sinisme yang Meira bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun. Ia adalah antitesis dari segala kekacauan Jakarta dan kerumitan hidup yang Meira kenal.

“Kalau terus-terusan senyum sendiri begitu, nanti editor-mu bingung. Ini naskah novel atau buku harian remaja kasmaran?”

Suara Bima memecah keheningan, menarik Meira dari pusaran kalimat yang sedang ia rangkai. Pria itu muncul dari arah dapur, membawa dua cangkir teh hangat yang aromanya menguar, bersaing dengan aroma kopi yang mulai basi.

Meira terkekeh, meregangkan punggungnya yang kaku. “Justru ini metode, Bim. Aku sedang menyalurkan perasaan protagonisku yang akhirnya menemukan male lead yang tidak menyebalkan. Ternyata susah juga, karena referensiku di dunia nyata kebanyakan menyebalkan.”

Bima meletakkan secangkir teh di samping laptop Meira, matanya menyapu beberapa paragraf yang terpampang di layar. “Oh ya? Jadi aku ini cuma bahan riset?” godanya, pura-pura tersinggung.

“Bahan riset premium,” balas Meira cepat, mencomot sepotong biskuit dari piring yang juga dibawa Bima. “Yang lulus uji kelayakan dengan nilai A+.”

Bima tertawa, suara tawanya yang renyah memenuhi ruangan. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di samping Meira, tidak lagi menatap layar laptop, melainkan menatap Meira. Tatapannya begitu dalam, seolah ia sedang membaca bab-bab tersembunyi di dalam diri Meira yang bahkan Meira sendiri belum pernah membukanya.

“Bagaimana perkembangannya?” tanya Bima, suaranya melembut.

“Lancar. Aku rasa… aku rasa aku menemukan kembali suaraku, Bim. Setelah kepergian Ibu, semuanya terasa hambar. Menulis jadi seperti pekerjaan paksa. Tapi sekarang…” Meira berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. Ia menatap tumbler di mejanya, lalu beralih ke wajah Bima. “…sekarang rasanya seperti pulang.”

Bima mengulurkan tangan, mengusap punggung tangan Meira dengan ibu jarinya. Sebuah gestur sederhana yang mengirimkan kehangatan hingga ke ulu hati. “Aku senang mendengarnya, Mei. Sungguh.”

Di saat-saat seperti ini, Meira merasa telah menemukan kepingan puzzle yang hilang dari hidupnya. Ia tidak hanya mendapatkan kembali tumbler peninggalan ibunya, tetapi ia juga menemukan seseorang yang membuat dunianya terasa utuh. Bima adalah bab yang terbaca indah, sebuah alur yang mengalir mulus tanpa perlu revisi. Ia adalah akhir bahagia yang Meira kira hanya ada di novel-novel picisan.

Ponsel Bima yang tergeletak di atas meja kopi bergetar, layarnya menyala menampilkan nama yang tidak dikenal. Getaran itu seolah menjadi koma yang canggung di tengah paragraf mereka yang sempurna. Bima meliriknya sekilas, lalu mengabaikannya.

“Nggak diangkat?” tanya Meira.

“Nomor nggak dikenal. Paling telemarketer,” jawab Bima santai, kembali memusatkan perhatian pada Meira.

Namun, ponsel itu bergetar lagi. Dan lagi. Polanya insistent, mendesak. Raut wajah Bima sedikit berubah. Senyumnya masih di sana, tetapi matanya menyiratkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang terusik.

“Sebentar ya,” katanya, akhirnya meraih ponsel itu. Ia bangkit dan berjalan menuju balkon, seolah mencari privasi di apartemen Meira yang sempit.

Meira mencoba untuk tidak peduli. Ia kembali menatap layar laptopnya, membaca ulang kalimat terakhir yang ia tulis. Cinta adalah rumah yang kau bangun tanpa sadar, hingga suatu hari kau menyadari bahwa kau tak ingin pergi ke mana-mana lagi. Cheesy. Sok puitis. Tapi terasa benar.

Dari balkon, samar-samar ia mendengar suara Bima. Tidak jelas, tetapi nadanya berbeda dari biasanya. Bukan nada hangat dan tenang yang biasa ia dengar. Nada itu terdengar rendah, tajam, dan tertekan.

“…sudah kubilang jangan telepon ke sini.”

Sebuah jeda.

“Aku butuh waktu. Kamu harus mengerti.”

Jeda lagi, lebih lama. Meira pura-pura sibuk mengedit sebuah kalimat, padahal telinganya menajam, mencoba menangkap lebih banyak.

“Bukan begitu. Dengar, kita bicarakan ini nanti. Jangan sekarang.”

Pintu balkon bergeser terbuka. Bima masuk kembali, wajahnya berusaha keras untuk terlihat normal, tetapi Meira, sebagai seorang penulis yang terbiasa mengamati detail, bisa melihat ketegangan di sudut bibirnya dan bayangan gelap yang sekilas melintas di matanya.

“Maaf,” kata Bima, suaranya sedikit serak. “Teman lama, ada sedikit masalah.”

“Oh,” hanya itu yang bisa Meira katakan. “Masalah serius?”

“Nggak juga. Cuma… drama yang nggak perlu.” Bima duduk kembali, meraih cangkir tehnya dan meminumnya dalam sekali teguk, seolah butuh sesuatu untuk menenangkan dirinya. “Sekarang, sampai mana tadi kita? Protagonis yang menemukan male lead premium?”

Ia tersenyum, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Untuk pertama kalinya, Meira merasa ada halaman yang disobek dari buku cerita mereka. Sebuah bab yang sengaja dilewati. Naluri sinisnya yang lama tertidur, perlahan menggeliat bangun.

Beberapa hari kemudian, insiden telepon itu hampir terlupakan, terkubur di bawah tumpukan kencan makan malam, sesi menulis yang produktif, dan percakapan-percakapan ringan hingga larut malam. Meira meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia hanya berlebihan. Setiap orang punya drama, punya masa lalu. Bima pun begitu. Tidak adil baginya untuk menuntut transparansi total ketika hubungan mereka masih terbilang baru.

Siang itu, Meira sedang dalam perjalanan menuju sebuah toko buku di bilangan Jakarta Selatan untuk mencari beberapa buku referensi. Ia memutuskan untuk naik MRT, menikmati jeda dari hiruk pikuk jalanan di permukaan. Saat kereta berhenti di Stasiun Senayan dan pintu terbuka, matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenal di peron seberang.

Bima.

Ia berdiri di dekat pilar besar, tidak sedang menunggu kereta. Ia sedang berbicara dengan seorang wanita. Meira secara refleks sedikit menunduk, bersembunyi di balik penumpang lain, jantungnya tiba-tiba berdebar lebih kencang. Ini terasa salah, seperti memergoki sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.

Wanita itu tampak seumuran dengan mereka, mungkin sedikit lebih tua. Ia berpakaian elegan, dengan blazer berwarna krem dan celana bahan yang jatuh sempurna. Rambutnya disanggul rapi, tetapi beberapa helai lepas membingkai wajahnya yang tampak tegang dan pucat. Mereka tidak terlihat seperti dua teman yang sedang bertemu sapa. Gestur mereka terlalu kaku, percakapan mereka tampak terlalu serius.

Dari kejauhan, Meira tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi ia bisa membaca bahasa tubuh. Bima berdiri dengan postur defensif, lengannya sesekali terangkat seolah mencoba menenangkan. Sementara wanita itu tampak putus asa, tangannya bergerak-gerak gelisah. Satu kali, wanita itu mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Bima, sebuah sentuhan yang memohon. Bima menarik lengannya dengan lembut namun tegas.

Pikiran Meira berputar. Siapa wanita itu? Teman lama yang punya ‘drama’? Kenapa mereka bertemu di stasiun MRT yang ramai, seolah sengaja memilih tempat publik yang anonim?

Kemudian, Meira melihat sesuatu yang membuat perutnya mulas. Bima merogoh saku belakangnya, mengeluarkan sebuah dompet, lalu mengambil beberapa lembar uang berwarna merah dan menyerahkannya kepada wanita itu. Wanita itu menerimanya dengan ragu, matanya berkaca-kaca. Setelah bertukar beberapa kata lagi, wanita itu berbalik dan berjalan cepat menuju eskalator, menghilang dari pandangan.

Bima tidak langsung bergerak. Ia berdiri mematung selama beberapa saat, menyandarkan kepalanya ke pilar, matanya terpejam. Wajahnya yang biasanya memancarkan ketenangan, kini terlihat begitu lelah dan penuh beban. Seolah-olah pertemuan singkat itu telah menyedot seluruh energinya.

Pintu kereta di depan Meira berbunyi, menandakan akan segera tertutup. Ia harus membuat keputusan: tetap di kereta dan melanjutkan perjalanannya, atau turun dan menghampiri Bima. Bagian dirinya yang rasional berteriak untuk tetap diam, untuk tidak mencampuri urusan yang bukan miliknya. Tapi bagian dirinya yang lain—bagian penulis yang haus akan kebenaran, bagian wanita yang mulai jatuh cinta—merasa terkhianati.

Kereta mulai bergerak. Meira tetap di tempatnya, menatap sosok Bima yang semakin menjauh di peron. Ia merasa seperti seorang pembaca yang baru saja menemukan sebuah plot twist yang tidak diundang, sebuah detail janggal yang merusak keindahan narasi yang selama ini ia nikmati.

Malamnya, Bima datang ke apartemennya seperti biasa. Ia membawa sekotak martabak manis kesukaan Meira dan senyumnya yang paling hangat. Ia tidak menyinggung apa pun tentang pertemuannya di stasiun. Ia bersikap seolah hari itu adalah hari biasa yang lain.

“Kamu kenapa? Kok diam dari tadi?” tanya Bima, menyadari keheningan Meira yang tidak biasa saat mereka duduk di sofa.

Meira menatapnya, mencari jejak kebohongan di matanya. Tapi yang ia temukan hanyalah kepedulian yang tulus. “Cuma capek. Writer’s block,” dustanya.

“Mau aku pijitin pundaknya?” tawar Bima, sudah menggeser duduknya lebih dekat.

“Nggak usah, Bim.” Meira menghindar dengan halus. “Aku… aku cuma butuh sendiri sebentar, mungkin. Buat cari ide.”

Raut kecewa samar-samar terlintas di wajah Bima, tetapi ia menutupinya dengan cepat. “Oke. Tentu. Aku ngerti, kok. Jangan dipaksa, ya.”

Malam itu, setelah Bima pulang, Meira tidak bisa tidur. Ia duduk di depan laptopnya, membuka kembali naskah novelnya. Ia membaca deskripsi karakter utama prianya: Arya adalah personifikasi dari keteduhan. Matanya selalu jujur, senyumnya adalah obat dari segala penat. Di dunianya yang serba pasti, tidak ada ruang untuk rahasia gelap atau masa lalu yang belum usai.

Meira tertawa getir. Betapa naifnya tulisan itu. Betapa naifnya dirinya.

Ia menatap tumbler perak di mejanya. Benda itu adalah awal dari segalanya. Awal dari bab-bab yang terbaca indah. Tapi sekarang, ia mulai curiga, mungkin ada catatan kaki yang tersembunyi, cetakan kecil yang tidak ia baca, atau bahkan beberapa halaman yang sengaja dirobek dan dibuang sebelum buku itu sampai ke tangannya.

Ponselnya di atas meja bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari Bima.

Sudah sampai rumah. Mikirin kamu. Tidur yang nyenyak, ya, novelisku. Mimpiin alur cerita yang indah.

Meira membaca pesan itu berulang kali. Setiap kata terasa manis, tetapi kini menyisakan rasa pahit di lidahnya. Ia mematikan layar ponselnya dan kembali menatap halaman kosong di laptopnya. Alur cerita yang indah itu mendadak terasa seperti sebuah kebohongan. Bab yang ia kira sempurna, kini dipenuhi dengan tanda tanya yang mengganggu. Dan untuk pertama kalinya sejak bertemu Bima, Meira merasa inspirasinya kembali membeku, digantikan oleh hawa dingin dari sebuah kecurigaan.