Bab 2 – Tatapan di Bawah Hujan
Pagi itu, langit Jakarta masih kelabu sisa hujan semalam. Dira berdiri di depan gerbang rumah sambil menggandeng Langit yang hendak berangkat sekolah. Ia tersenyum lembut, meski semalam hatinya koyak oleh ucapan anaknya.
“Langit jangan nakal di sekolah, ya. Nanti mama jemput, maaf karena hari ini mama nggak bisa antar Langit karena mama harus antar Eyang Ti ke rumah sakit,” ucapnya sambil membetulkan dasi kecil di seragam putranya.
“Iya, Ma. Nanti kalau Eyang Ti udah sembuh, Langit boleh nginep di rumah Eyang lagi, Ma?” tanya Langit.
"Pasti boleh dong, Sayang. Makanya Langit doakan Eyang Ti biar cepat sembuh,"
"Iya, Ma. Langit pasti akan selalu doakan Eyang, Mama juga biar Mama enggak sedih terus," ucap Langit polos.
Dira tercekat sejenak, lalu memaksakan senyum. “Mama enggak sedih kok, Sayang. Kenapa Langit ngomong gitu?" Dira membungkuk sembari mengelus lembut rambut Langit.
"Langit tahu kok kalau Mama sering menangis apalagi kalau dimarahin Papa. Papa kenapa ya Ma suka marah-marah sama Mama padahal Mama selalu baik sama Papa," Langit menatap Dira sedih dan bingung.
Pertanyaan Langit membuat Dira membeku sesaat. Ia tak menyangka kalau Langit, anaknya, kini telah beranjak besar dan mulai mengamati kondisi rumah tangga orang tuanya.
"Langit, Papa enggak marah-marah, kok. Langit salah mengerti. Papa hanya menasihati Mama agar Mama lebih hati-hati. Kadang, Langit juga suka menangis kan kalau Mama marahi? Tapi Mama tetap sayang Langit, Mama bukannya bermaksud jahat sama Langit. Mama hanya ingin menasihati Langit. Sama seperti Mama juga kadang menangis kalau lagi dinasihati Papa. Papa hanya mau agar Mama lebih berhati-hati seperti Mama menasihati Langit agar tidak berlari-larian di balkon karena itu berbahaya," Dira memberi penjelasan.
Langit pun hanya mengangguk mencoba mengerti penjelasan mamanya.
Tak lama, mobil jemputan sekolah berhenti di depan gerbang. Langit melambai ceria dan segera melangkah menuju bus sekolah. Dira berdiri mematung sampai mobil itu menghilang di tikungan.
Ia berbalik, hendak masuk, namun langkahnya berhenti.
Sosok itu lagi. Lelaki yang semalam dilihatnya di bawah lampu jalan depan gerbangnya. Kali ini ia berdiri di seberang, tampak jelas dalam balutan kemeja putih rapi dengan tas hitam di tangan.
Tatapan mereka kembali bertemu. Untuk sepersekian detik, dunia seakan berhenti berputar.
Lelaki itu lalu menyeberang, langkahnya mantap, tatapannya tegas tapi hangat.
“Permisi,” suaranya dalam, sedikit serak. “Ibu yang semalam saya lihat dari jendela rumah ini, ya?”
Dira terdiam, hatinya berdegup tak terkendali. “I-itu… iya. Kenapa?”
Pria itu tersenyum tipis. “Perkenalkan, saya Abisena. Saya baru pindah di komplek ini, tepat di sebelah rumah Anda. Semalam saya sempat hampir salah masuk rumah. Hujan deras dan jalanan cukup gelap jadi saya sampai salah mengenali gerbang rumah saya apalagi kunci rumah saya ternyata masih di tas istri saya yang masih di jalan pulang. Maaf kalau semalam saya mengganggu dan terkesan seperti orang jahat saat berdiri di depan gerbang rumah ini dan memandangi jendela rumah Anda. Saya benar-benar tidak ada maksud buruk. Saya justru ingin menjalin sihaturahmi dengan tetangga baru,” ucap pria itu dengan ramah dan tulus.
Dira mengangguk, menenangkan debaran di dadanya. “Oh, begitu. Iya tidak masalah, Pak. Oh ya, Saya Nadira. Panggil saja Dira.”
Ada jeda hening. Hanya suara burung di pepohonan yang terdengar. Dira hendak berbalik, tapi Abisena menambahkan, suaranya pelan, seolah tak ingin terdengar orang lain:
“Maaf kalau saya lancang, Bu Dira. Tapi… tadi saya lihat ekspresi Anda saat melepas putra Anda. Rasanya… ada sesuatu yang dipendam.”
Dira menahan napas. Tatapan lelaki ini menembus lebih dalam daripada siapa pun yang pernah ia temui. Bahkan suaminya sendiri tak pernah peduli sejauh ini.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan. “Anda terlalu cepat menyimpulkan, Pak Abisena. Saya baik-baik saja. Perasaan biasa yang dialami seorang ibu yang akan melepas anaknya pergi keluar, meski hanya sebatas ke sekolah,”
Sena, begitu ia memperkenalkan dirinya singkat hanya tersenyum samar. “Kalau suatu saat Anda butuh teman bicara, saya ada di sebelah. Kita tetangga, bukan?”
Ucapan itu sederhana. Tapi bagi Dira, rasanya seperti pintu kecil yang terbuka di tengah tembok kokoh yang selama ini mengurungnya. Selama ini ia merasa begitu sepi. Tak ada teman bicara, bahkan kepada orang tua dan teman-temannya ia selalu memakai topeng dan merasa bukan menjadi diri sendiri. Namun kepada Abisena, pria asing yang baru saja akan menjadi tetangga sebelahnya itu justru terasa berbeda. Ada sesuatu di hati Dira yang terasa nyaman saat berbicara dengannya.
Sebelum ia sempat merespons, ponselnya berdering. Nama Rangga Atmaja tertera jelas di layar.
Dira menjawab dengan suara hati-hati. “Halo?”
Suara berat Rangga terdengar. “Ra, siapkan koperku. Malam ini aku ada perjalanan dinas seminggu ke Singapura. Aku nanti akan pulang sebentar hanya untuk mengambil koper. Kamu nanti akan antar Mama ke rumah sakit, kan? Sebelum berngkat, koperku sudah harus siap. Oke?”
"Iya, Mas. Nanti aku akan siapkan kopermu sebelum ke rumah Mama,"
"Oke!"
Lalu sambungan terputus begitu saja, tanpa ucapan cinta, tanpa salam.
Dira menggenggam ponselnya erat. Seperti biasa, Rangga hanya menelepon hanya untuk memberi perintah. Bukan untuk menyapa hangat layaknya pasangan suami istri pada umumnya.
Abisena masih berdiri di depannya, menatap dengan wajah lembut. Baru pertama kali Dira melihat sosok wajah lelaki yang begitu lembut, tenang, dan meneduhkan. Wajah yang sama sekali tak ia lihat dari sosok papa dan suaminya. Dira memang sejak kecil tak merasakan kehangatan dari sosok pria, bahkan papa kandungnya. Papanya sangat mirip dengan suaminya yang hanya mementingkan citra di kalangan bisnis.
Bahkan, kedua kakak lelakinya pun tumbuh dengan watak dan perangai persis papanya. Hal itulah yang membuat Dira seolah menormalisasikan sikap Rangga kepadanya karena ia sudah terbiasa dengan sifat dan sikap papa dan kedua kakak lelakinya yang tak menganggap penting kesetiaan dalam pernikahan. Asal tak terendus publik, perselingkuhan itu adalah hal yang lumrah. Itu yang selalu Dira lihat dalam pernikahan orang tuanya, kedua kakak lelakinya, dan kini pernikahannya sendiri.
Dan saat ini untuk pertama kalinya, Dira melihat sosok lain dari seorang pria. Sosok yang tak membuat Dira takut meski baru saja bertegur sapa dengannya.
"Apa ada masalah, Dira? Apa tak keberatan jika saya panggil Dira saja agar terkesan lebih akrab. Saya kira juga usia kita tak jauh berbeda,"
"Eh, enggak ada apa-apa, kok. Cuma ada sesuatu yang harus saya kerjakan. Iya, boleh, Pak Abi.."
"Panggil saja Sena karena saya juga belum terlalu tua untuk dipanggil bapak, hehe,"
"Baik, Sena," ada sedikit perasaan aneh dalam hati Dira saat menyebut nama itu. Entah debaran yang sebelumnya tidak pernah Dira rasakan, bahkan terhadap suaminya.
Pagi itu, memang masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Angin yang bertiup lembut, kicau burung pun masih terdengar biasa. Namun, ada satu hal yang pasti berbeda. Pertemuannya dengan Abisena membuat hidup Dira terasa lebih berwarna.
"Perasaan aneh apa ini, kenapa pipiku terasa hangat saat pria itu tersenyum," batin Dira.