Bab 4 – Rumah Tanpa Kehangatan
Sena beralih ke ruang tengah, menutup gitar pelan, jemarinya masih bergetar tipis karena nada terakhir yang ia mainkan. Ia duduk sejenak, menatap kosong ke arah rintik hujan deras yang turun tanpa henti di luar jendela. Butir air menghantam kaca, menetes, lalu mengalir deras seolah ingin menghapus jejak apapun di baliknya.
Namun, bukan hujan yang mengosongkan dadanya. Melainkan sepi yang selalu kembali menyeruak setiap kali bayangan Dira menghilang dari pandangannya. Senyum dan mata sendu perempuan yang baru saja dikenalnya itu, entah kenapa, masih menempel di benaknya.
Ia menarik napas panjang, bangkit dari sofa, lalu meletakkan gitar di sudut ruang tamu. Gitar itu satu-satunya benda yang masih membuatnya merasa hidup, benda yang ia pilih sendiri, bukan dipaksakan seperti hampir semua hal di dalam hidupnya.
Langkahnya bergesekan di lantai rumah megah itu. Meski luas, dinginnya selalu menusuk. Perabot mahal tak pernah mampu menutupi fakta bahwa rumah itu lebih mirip museum. Terlihat indah, berkilau, tapi mati. Kosong.
“Aku lapar.”
Sena terhenti. Suara itu datang dari arah kamar utama. Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Aqila, istrinya, keluar dengan langkah malas. Meski sudah larut malam, ia masih mengenakan gaun pesta dengan bahan satin tipis berwarna merah marun. Rambutnya tergerai indah, wajahnya tetap memesona seindah gambar iklan yang sering memenuhi papan reklame.
Tapi bagi Sena, semua itu terasa hambar. Tak ada ketertarikan.
“Kenapa nggak pesan saja?” tanyanya datar sambil berjalan menuju dapur.
Aqila menguap kecil, lalu mendengus. “Aku sudah pesan. Tapi kamu tahu kan, aku nggak bisa makan banyak. Nanti perutku buncit. Job foto bulan depan bisa batal.”
Sena membuka kulkas, mengambil sebotol air mineral. Ia meneguknya langsung, mencoba meredam jengah yang mendidih di dadanya. “Kamu bahkan nggak pernah makan bareng aku belakangan ini.”
Aqila menoleh sekilas, ekspresinya sinis. “Makan bareng nggak bikin aku makin terkenal, Sena. Fokusku sekarang karier. Kamu tahu itu sejak awal.”
Kata-kata itu jatuh seperti jarum yang menusuk perlahan. Sena menahan diri untuk tidak membanting botol di tangannya. Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat itu, terlalu sering dianggap angin atau bayangan dalam kehidupan glamor istrinya.
Karier. Terkenal. Popularitas. Itulah tiga hal yang selalu diulang Aqila, seolah hanya itu yang penting di dunia. Bahkan, rumah tangga mereka pun sama sekali tak ada artinya.
“Aqila,” suaranya pelan, tapi ada nada serius yang tak bisa ia sembunyikan. “Kita sudah tiga tahun menikah. Jangan-jangan kamu benar-benar nggak pernah berpikir punya anak?”
Aqila menghentikan langkahnya, lalu berbalik. Tatapannya tajam, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang lebih mirip ejekan. “Anak? Kamu serius? Aku nggak mau tubuhku berubah gara-gara hamil. Aku nggak mau kehilangan kontrak iklan hanya karena harus menyusui. Karierku baru mulai naik, Sena.”
Sena terkekeh getir. “Jadi buat kamu… pernikahan ini hanya sekadar status atau formalitas di atas kertas, ya?”
“Bukankah begitu juga buatmu?” balas Aqila cepat. “Kita dijodohkan, Sena. Kamu nggak cinta aku. Aku pun nggak cinta kamu. Jadi, buat apa pura-pura seolah kita pasangan harmonis? Papaku yang maksa aku menikah sama kamu hanya karena dia enggak mau aku berhubunyan dengan mantanku. Kamu juga tahu itu, kan?”
Jawaban itu menusuk lebih dalam daripada yang ia perkirakan. Bukan karena ia tak tahu, tapi karena Aqila mengatakannya dengan begitu terang-terangan, tanpa peduli bahwa kalimat itu meremukkan hati seseorang.
Ia teringat hari pernikahan mereka. Semua orang tersenyum, musik mengalun indah, tapi di balik itu, Sena merasa dirinya sedang dipertontonkan. Ayahnya dan ayah Aqila saling berjabat tangan penuh kepuasan, seolah pernikahan itu hanyalah perjanjian bisnis yang akhirnya berhasil.
Dan benar saja, tiga tahun setelahnya, inilah hasilnya. Sebuah rumah mewah tanpa kehangatan, seorang istri cantik tanpa kesetiaan, dan dirinya sendiri yang semakin tenggelam dalam rasa hampa.
Suara notifikasi ponsel memecah keheningan. Aqila mengambil ponselnya dari meja, lalu tersenyum kecil saat melihat nama di layar. Tanpa menunggu, ia berjalan menuju balkon, menjawab panggilan dengan nada yang berubah manja.
“Aku rindu juga, Sayang…” suaranya terdengar meski berusaha berbisik.
Sena menutup mata. Ia tidak perlu menebak siapa yang ada di seberang. Axel Leonard. Nama itu sudah lama menghantui pikirannya, mantan pacar Aqila yang tak pernah benar-benar hilang. Bahkan setelah menikah, bayangan pria itu masih ada, seolah menempel di setiap langkah istrinya.
Genggaman Sena pada botol air semakin kencang. Plastik itu nyaris penyok, menahan emosi yang memuncak. Bukan rasa cemburu, tapi harga diri seorang lelaki yang seolah sudah tidak ada lagi saat ini. Sena seperti lelaki bodoh yang mencoba tutup mata dengan hubungan terlarang istrinya itu. Ia bukannya tak ingin buka suara, tetapi keadaan yang memaksanya untuk bungkam.
Ia melangkah cepat menuju ruang kerja, meninggalkan Aqila yang masih tertawa kecil bak remaja lagi kasmaran di balkon. Pintu ditutupnya dengan kasar, lalu ia menjatuhkan diri di kursi kerja.
Ruang kerja itu kecil, jauh lebih nyaman daripada ruang tamu yang luas. Di sudut ruangan ada rak buku, beberapa foto lama, dan gitar keduanya. Di sanalah Sena sering bersembunyi ketika rumah terasa terlalu menyesakkan.
Ia memejamkan mata, menarik napas panjang. Rumah tanpa cinta. Istri tanpa kesetiaan. Hidup tanpa arah. Lalu, apa lagi alasan yang bisa membuat ia semangat untuk menjalani hidup?
Bayangan Dira tiba-tiba muncul. Tatapannya yang sendu, suaranya yang bergetar ketika bercerita, dan keberaniannya untuk duduk di sampingnya di teras tadi seketika menorehkan lengkung senyum di sudut bibirnya. Ia merasa seperti kembali menemukan alasan untuk hidup.
Sena tidak bisa memungkiri, perasaan hangat yang muncul ketika bersama Dira berbeda. Ada sesuatu yang tulus di sana, sesuatu yang sudah lama ia lupakan. Dira tidak membawa kemewahan, tidak membawa topeng kepalsuan. Ia hanya membawa dirinya sendiri dengan luka, dengan tangis, dengan ketulusan kecil yang justru membuat Sena merasa… hidup dan berarti.
Untuk pertama kali dalam waktu yang lama, ia tidak merasa sendirian. Ia merasa bahwa ada orang lain yang memiliki luka yang sama dengannya.
Dan itu cukup untuk menyalakan bara kecil yang selama ini padam. Bara yang kini mulai membesar, meski ia tahu, jika dibiarkan, bisa membakar habis semua yang sudah ia miliki. Semua yang sudah ia pertahankan, meski dalam kepalsuan. Meski dalam ketidakberdayaan.
Tapi mungkin, batinnya berbisik, itulah satu-satunya cara agar ia bisa benar-benar merasakan arti rumah. Merasakan arti hidup. Dan mungkin kini ia mulai menemukan satu-satunya alasan untuk bisa semangat menjalani hari tanpa perasaan sesak di dada. Senyum Dira.