Terjerat Janji, Terjebak Hati BAB 5- LUKA YANG BERTEMU
5/16
Bab 5

BAB 5- LUKA YANG BERTEMU

Bab 5 – Luka yang Bertemu

Dira menghela napas berat sambil menurunkan tas belanja yang menekan tangannya. Plastik bening itu sudah tampak terlalu penuh. Ia baru saja pulang dari minimarket dekat komplek. Langkahnya makin cepat karena hujan turun semakin deras. Payung berwarna biru muda yang ia bawa dari rumah terasa kurang membantu; angin kencang membuat beberapa bagian tubuhnya tetap basah kuyup.

Langit sudah dijemput pengasuhnya dari sekolah. Bocah itu sedang tidur siang di kamar, dan Dira ingin sampai rumah sebelum ia terbangun. Namun, langkahnya terhenti begitu salah satu kantong plastiknya sobek.

Kreck!

Bunyi itu diikuti dengan buah-buahan yang bergulir bebas. Apel merah jatuh hingga memantul ke jalan setapak, sementara jeruk-jeruk bergulir mendekati selokan.

“Ya ampun…” Dira buru-buru jongkok, panik memunguti belanjaannya. Air hujan membasahi rambut yang tak sepenuhnya tertutup payung. Ujung gaunnya mulai berat karena basah.

“Boleh saya bantu?”

Suara itu membuatnya tersentak. Ia menoleh cepat, dan menemukan Abisena sudah berjongkok di sampingnya, tangannya cekatan meraih jeruk yang hampir hanyut ke selokan.

“Pak Abisena…,” ucap Dira, terkejut sekaligus lega.

“Bilang saja Sena,” pria itu tersenyum tipis, menyerahkan buah yang berhasil ia selamatkan. “Rasanya lebih ramah, kan?”

Dira menerima dengan ragu. Ada sesuatu di senyum itu yang hangat, meski sederhana. “Terima kasih… Sena.”

Nama itu terdengar asing di bibirnya, tapi anehnya memberi kesan berbeda, seolah ada ruang kecil di dadanya yang tiba-tiba terisi. Selain itu, ada rasa hangat di pipi saat ia menyebut nama yang baru saja ia kenal di dalam hidupnya itu.

Mereka akhirnya berteduh di halte dekat perumahan. Hujan turun makin deras, menciptakan tirai air yang memisahkan mereka dari dunia luar. Dira menurunkan kantong belanjaan di pangkuannya. Apel dan jeruk basah menumpuk, beberapa masih kotor terkena lumpur.

Ia terkekeh kecil, meski wajahnya sedikit lelah. “Lihatlah… bahkan belanjaan saya pun bisa berantakan begini.”

Sena meliriknya sekilas, lalu menatap hujan lagi. “Mungkin bukan berantakan. Bisa jadi… hal itu merupakan cara semesta untuk menyuruh kita berhenti sejenak.”

Kening Dira berkerut. “Berhenti?”

“Berhenti dari semua kesibukan. Dari semua kepura-puraan. Pura-pura tersenyum, meski hati sedang terluka. Pura-pura kuat, meski diri rasanya ingin tumbang.” Suara Sena pelan, nyaris tenggelam di antara suara hujan. “Kadang, kita terlalu sibuk menutup rapat luka, sampai lupa kalau sebenarnya… ada orang lain yang juga berdarah, bahkan lebih pedih dari derita kita.”

Kata-kata itu membuat dada Dira menegang. Ia meremas rok yang basah di pangkuannya. Kalimat itu menusuk terlalu tepat seolah Sena membaca isi hatinya.

“Kalau begitu…” suaranya nyaris tak terdengar, “…luka Anda apa, Sena?”

Ada jeda panjang. Hujan turun semakin liar, menggedor-gedor genting rumah kosong itu. Sena menunduk, lalu tersenyum getir. “Pernikahan yang kosong. Seperti rumah tanpa atap. Terlihat utuh dari luar, tapi di dalamnya basah kuyup.”

Dira terdiam. Ia ingin menyangkal, ingin berpura-pura tidak mengerti, tapi tubuhnya menolak. Ia tahu persis rasanya. Hidup bersama seorang pasangan, tapi hati seperti terpenjara sendirian. Setiap waktu terus berpura-pura agar tampak sempurna dari luar, tapi pada kenyataannya sangat hancur porak poranda di dalam.

Hening merayap di antara mereka. Hanya suara air yang jatuh dari talang, memercik ke tanah.

Tiba-tiba, ponsel Dira bergetar keras di dalam tas belanjaannya. Ia buru-buru merogoh, dan layar yang menyala menampilkan nama yang sudah lama membuatnya gusar. Rangga Atmaja.

Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol jawab. “Halo, Mas Rangga?”

Suara di seberang terdengar riuh, bercampur tawa seorang wanita. “Ra, aku nggak jadi pulang minggu depan. Ada proyek baru di Singapura. Jangan buat masalah, oke? Uang belanja aku transfer besok. Urus segala keperluan Langit. Pastikan tak ada masalah lagi di sekolah seperti bulan lalu. Aku tak mau dengar ada konflik lagi antara Langit dan temannya. Hal itu bisa mencoreng citraku. Itu saja. Aku mau kembali rapat. ”

"Oke, Mas." jawab Dira singkat seperti seorang bawahan yang baru saja mendengat instruksi dari atasannya.

Klik. Sambungan terputus.

Begitu cepat. Begitu dingin. Seolah Dira hanyalah sekretaris yang menunggu instruksi, bukan istri yang menanti kepulangan. Bukan pasangan yang menunggu sapa hangat. Hanya sekadar menjalankan tugas dan formalitas. Hal itu memang tak terjadi sekali atau dua kali. Selama enam tahun pernikahan, hal itu adalah suatu hal yang lumrah dalam kehidupan rumah tangga Dira dan Rangga. Suami memberi perintah dan istri harus sigap melaksanakan mandatnya.

Ia menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Hatinya diremas. Perutnya mual. Ada dorongan kuat untuk menangis, tapi ia menahannya. Ia sudah terlalu sering menangis sendirian.

Sena memperhatikan, tanpa mengomentari. Ia tahu persis rasa hampa itu. Perlahan, ia menyodorkan sapu tangan putih bersih. “Tidak semua luka harus kamu sembunyikan sendirian. Pasti terasa sesak bukan jika harus terus berpura-pura?” katanya lembut.

Dira menatap sapu tangan itu lama. Jemarinya ragu, tapi akhirnya meraihnya. Saat itu, jemarinya tanpa sengaja menyentuh jemari Sena.

Seketika, waktu berhenti.

Sena tidak menarik tangannya. Dira pun tidak buru-buru melepaskan. Ada keheningan aneh yang justru lebih keras daripada suara hujan. Jantung keduanya berdetak cepat, beradu dalam keheningan yang penuh rahasia.

Dira buru-buru menunduk, pura-pura mengelap pipinya dengan sapu tangan itu. Namun wajahnya memerah, bukan karena udara dingin.

Sena menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Ada sesuatu di dalam dirinya yang selama ini padam, kini kembali menyala.

"Apa yang sedang aku lakukan?" batinnya gelisah. Tapi hatinya tak mau mundur.

“Dira,” suara Sena akhirnya pecah, pelan namun berat, “kamu nggak perlu selalu jadi kuat. Kalau capek, boleh… istirahat di sini.”

Dira menoleh. “Di sini?”

“Di tempatku,” Sena mengoreksi, cepat. “Maksudku… aku ada di sini. Kalau kamu butuh teman bicara.”

Ada kejujuran telanjang dalam suaranya. Dan entah kenapa, Dira percaya.

Untuk pertama kali sejak lama, ia merasa tidak sendirian. Tidak perlu memakai topeng. Ia seperti bebas meluapkan kesedihan dan kerapuhannya selama ini.

Namun sebelum ia bisa menjawab, kilat menyambar, diikuti dentuman guntur keras. Lampu-lampu rumah di sekitar blok itu padam sesaat. Ponsel Dira yang ia genggam tiba-tiba kembali bergetar, panggilan masuk lagi.

Nama Rangga Atmaja kembali muncul.

Tapi kali ini berbeda. Layar menunjukkan panggilan video.

Dira menegang, jantungnya nyaris meloncat. Ia menoleh panik ke arah Sena, lalu kembali ke layar ponselnya.

Apakah ia harus mengangkat?

Apakah Rangga akan melihat Sena di sampingnya?

Apakah ini awal dari badai baru?

Hujan masih turun deras, menutup semua suara dunia. Tapi di dalam dada Dira, ketakutan dan getaran aneh bercampur menjadi satu menciptakan ketegangan yang tak bisa ia hindari.