MAHAR 3 MILIAR TOPAN: BENCANA ALAM BERWUJUD COWOK GANTENG
1/20
Bab 1

TOPAN: BENCANA ALAM BERWUJUD COWOK GANTENG

Harlia punya satu prinsip hidup yang selama dua puluh tujuh tahun selalu ia pegang teguh.

“Jangan pernah jatuh cinta pada lelaki yang jam tangannya lebih mahal dari gajimu.”

Masalahnya, prinsip itu hancur berkeping-keping tepat pukul delapan pagi, di lobi gedung kantor tempat ia bekerja. Ketika seorang lelaki bernama Topan berdiri sambil menelepon, tertawa lebar, dan tanpa sadar membuat jantung Harlia kehilangan ritme normalnya.

“Ya, santai aja. Nanti gue sampai,” kata lelaki itu. Suaranya rendah tapi santai, seperti orang yang hidupnya terlalu baik untuk dipikirkan serius.

Ia mengenakan kemeja putih yang digulung sampai siku, celana hitam pas badan, dan—astaga—jam tangan mengilap yang jelas bukan jam promo akhir tahun.

Harlia berdiri mematung sambil memeluk map laporan. Menatap lelaki itu dengan ekspresi yang tidak pantas untuk perempuan rasional sepertinya.

“Tarik napas, Har,” bisiknya pada diri sendiri. “Cuma cowok.”

Tapi tubuhnya tidak setuju. Matanya yang bulat kecil malah memelototi sosok tampan itu, mengintip dari balik map yang menutupi hidungnya yang mini.Topan menoleh, mata mereka bertemu, dan senyum lelaki itu muncul begitu saja. Seolah-olah senyum itu memang disiapkan khusus untuk Harlia pagi ini.

“Pagi...!” sapanya ramah.

“Pa—pagi,” jawab Harlia. Suaranya mendadak naik setengah oktaf seperti balon bocor. Membuatnya malu setengah hidup. Ia membenci dirinya sendiri saat itu.

Mereka masuk lift bersama. Sepuluh orang lain ikut berdempetan. Tapi entah bagaimana, dunia Harlia mengecil menjadi sebatas jarak satu langkah di antara mereka berdua.

“Lantai berapa?” tanya Topan.

“Lima,” jawab Harlia cepat.Topan menekan tombol enam.

“Dekat. Berarti kita tetanggaan lantai," kata Topan lagi.

“Oh.”

“Kenapa aku jawab ‘oh’ kayak NPC, sih?" batin Harlia menyesal. Padahal bisa jadi obrolan panjang kalau ia nanya resep soto Betawi.

Lift bergerak naik. Harlia pura-pura sibuk mengecek ponsel. Padahal tidak ada notifikasi apa pun. Sementara itu, Topan melirik sekilas.

“Kerja di sini sudah lama?” tanyanya Topan.

“Tiga tahun,” jawab Harlia. “Kamu?” Harlia balik bertanya.

“Baru dua bulan. Masih kagok. Termasuk sama lift ini,” katanya sambil menunjuk panel tombol. “Kayaknya lift ini lebih pinter dari gue," seloroh pria tampan bertubuh atletis tersebut.

Harlia tertawa refleks, spontan, dan alami. Tapi ia langsung sadar tawanya terlalu lebar jadi cepat-cepat mengatupkan mulut. Harlia terkejut dengan tingkahnya sendiri.Topan meliriknya lagi, senyumnya sedikit melebar.

“Nah, akhirnya ada yang ketawa sama lelucon gue. Gue nggak kerja di sini, kok. Tapi dua bulan ini emang sering wara-wiri ke sini," jelas Topan.

“Oh...." Lagi-lagi hanya 'oh' yang kemudian disesali oleh Harlia.

“Kamu sering nggak ditertawain?” tanya Topan.

“Sering,” jawab Harlia santai. “Biasanya ditertawakan, bukan ditertawain," ralatnya.

Lift berhenti di lantai lima dan pintu pun terbuka.

“Eh, ini lantai gue,” kata Harlia, sedikit kecewa entah kenapa.

“Lantai gue satu lagi. Tapi ya sudah,” Topan tiba-tiba ikut melangkah keluar juga. “Ngopi, yuk!”

Harlia terhenti.

“Apa?!” kejutnya dengan ajakan Topan yang tiba-tiba.

“Ngopi,” ulang Topan. “Kalau nggak sibuk. Anggap aja hadiah karena udah ketawa.”

Logika Harlia langsung menyalakan sirene bahaya. Cowok hedon, jam mahal, tukang gombal. Tapi hatinya seperti kucing lapar melihat ikan?

“Ng—nggak sekarang,” jawab Harlia akhirnya. "Aku harus kerja," katanya memberikan alasan.

Topan mengangguk, sama sekali tidak terlihat kecewa.

“Oke. Nanti kalau berubah pikiran, gue di lantai enam, ya?"

Topan lalu melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum yang terlalu mahal untuk diabaikan. Harlia berdiri terpaku selama lima detik penuh sebelum akhirnya sadar bahwa ia sedang menghalangi orang-orang di belakangnya.

“Har, lo kenapa pagi-pagi udah bengong kayak habis ditinggal nikah?” suara Rina menyentaknya.

Harlia duduk di kursinya, menghela napas panjang.

“Gue ketemu cowok.”

“Terus?” tagih Rina.

“Ganteng.”

“Banyak orang ganteng di sini," serobot Rina.

“Kayaknya kaya."

“Wah, bahaya," warning Rina.

“Jam tangannya bikin gue minder," tambah Harlia.

“BAHAYA!!!”

Harlia tersentak kaget dengan teriakin sahabatnya itu. Rina mendekat, menatap Harlia dengan tatapan tajam.

“Ceritain!”

Harlia menceritakan semuanya. Lift, senyum, dan tawaran ngopi.

“Namanya siapa?” tanya Rina.

“Topan.”

Rina mendengus.

“Nama aja udah red flag.”

“Kenapa?”

“Topan itu bencana alam," tuding Rina.

Harlia terdiam.

“Tapi dia baik.”

“Har,” Rina menepuk bahunya. “Cowok kaya, hedon, sok santai, biasanya cuma jago bikin cewek klepek-klepek.”Harlia menelan ludah.

“Gue nggak klepek-klepek," bantahnya.Rina mengangkat alis.

“Tangan lo dingin, pipi lo merah.”

Harlia memalingkan wajah. Meraba-raba wajahnya yang lebar sambil cepat-cepat mencari kambing hitam.

“Itu AC!” tunjuk nya pada pendingin ruangan central pada langit-langit.

Rina tetap tidak percaya dan terus menggoda Harlia sampai Harlia semakin malu tapi tidak juga mengaku.

Siang harinya, takdir—atau mungkin karma—membuat Harlia kembali bertemu Topan di pantry. Topan sedang menuang kopi, berdiri santai seolah pantry itu miliknya. Ia menoleh begitu Harlia masuk.

“Eh, tetangga lift," celetuk Topan.

Harlia tersenyum kaku.

“Hai!”

“Gue Topan,” katanya sambil menyodorkan tangan. Sebenarnya Harlia sudah membaca name card miliknya ketika di lift.

“Harlia.”

“Tadi pagi kelihatan kayak orang baik-baik saja,” kata Topan. “Sekarang kelihatan capek.”

“Kerja,” jawab Harlia singkat. Topan tertawa kecil.

“Kopi?”

“Gue—” ucap Harlia hampir menolak.

“Tenang,” potongnya. “Ini kopi kantor. Gratis. Nggak ada yang mewah.”

Harlia menerima cangkir itu. Jari mereka bersentuhan sebentar.

Sial. Harlia seperti kesetrum listrik tegangan tinggi beraliran kasmaran.

“Jadi,” kata Topan sambil bersandar di meja. “Ngopi beneran nya kapan, nih?” tagihnya.

Harlia menyesap kopi untuk mengulur waktu dan berpikir.

“Kamu sering gombal, ya?” tudingnya.Topan tertawa lepas.

“Ketahuan, ya?”

“Iya," sahut Harlia.

“Tapi gue jujur,” katanya. “Gue cuma gombal sama orang yang menarik.”

Harlia hampir tersedak.

“Dan,” lanjut Topan santai, “lo menarik.”

Harlia menatapnya, berusaha mencari tanda-tanda kebohongan. Tidak ada. Atau mungkin ia terlalu sibuk meredam jantungnya sendiri.

“Kamu kayaknya terbiasa ngomong begitu ke banyak orang,” kata Harlia akhirnya.

Topan mengangkat bahu. “Mungkin.”

“Dan mereka klepek-klepek?” tebak Harlia.

“Sering.”

Harlia mendengus. “Pede amat.”

Topan menatapnya lebih lama. Membuat Harlia salah tingkah barangkali ada yang salah di wajahnya. Lipstik luntur kah? Upil menggantung kah, atau....

“Tapi lo beda," ucap Topan menghentikan kesibukan pikiran Harlia.

“Oh ya?” Harlia menyilangkan tangan berlagak tenang.

“Bedanya apa?”

“Lo nggak langsung percaya," jawab Topan.

Harlia terdiam. Apa itu tadi sebuah pujian atau bagaimana?Topan tersenyum.

“Itu bikin gue penasaran,” kata Topan.

Sial. Harlia menangkap sinyal bahaya seperti peringatan Rina. Tapi terlambat, jantungnya berdetak awur-awuran.

“Gue harus balik kerja,” kata Harlia cepat.Topan mengangguk.

“Oke. Tapi tawaran ngopi masih berlaku.”

Harlia berjalan pergi tanpa menoleh, tapi senyum bodoh tak bisa ia tahan. Dalam hati, ia mengumpat pelan.

“Harlia, lo klepek-klepek. Dan itu baru hari pertama....,” batin Harlia yang berisik sekali di kepalanya.