Senin pagi di kantor PT Mitra Jaya Solutindo memang sudah terkenal sebagai hari paling dramatic. Semua orang tahu: kalau bukan printer rusak, listrik kedip-kedip, atau laporan mendadak hilang, ya satu lagi penyebab kehebohan kantor. Rara dan benar saja. Baru jam sembilan lewat sepuluh, satu lantai sudah ribut.
“Rara lagi hilangin barangnya?” tanya Rehan dari Purchasing.
“Yap. Tumbler sentimentalnya,” jawab Siska sambil menyeruput kopi seperti veteran yang sudah terbiasa menghadapi bencana mingguan.
“Waduh, kita siap-siap aja,” celetuk Nana. “Kemarin gue lupa bawa stempel kantor aja dia panik setengah mati. Apalagi tumbler kesayangannya.”
Di tengah-tengah keramaian itu, Rara berdiri di depan meja kerjanya dengan ekspresi campuran frustasi, terkejut dan sedikit ingin menangis.
“Gue, gue yakin gue taruh di sini hari Jumat,” katanya sambil menunjuk-nunjuk meja seolah meja itu hidup dan bisa menjawab.
“Emang lo seriusan inget, Ra?” tanya Siska lagi.
Rara memejamkan mata, menekan pelipis. “Inget, agak inget, tapi lupa atau inget tapi lupa, pokoknya antara itu.”
Siska menatapnya dengan tatapan kosong. “Lah, apa bedanya, Dek?”
“Beda, tapi aku bingung jelasin!” Rara menepis udara dan mulailah drama pencarian edisi besar.
Ia mulai menginvestigasi meja kerja dengan nol petunjuk.
Di mana Rara mulai dengan menggeledah meja sendiri.
Bukan cuma membuka laci, ia mengeluarkan semua isi laci. Sticky notes, gunting, plastik bekas, bahkan snack jahe expired dua bulan lalu ikut dibongkar.
“Nih, Ra. Mungkin tumblermu berubah bentuk jadi snack expired,” sindir Fajar lewat sekat cubicle.
“Fajar, diam. Diam sebelum aku lempar sama snack ini,” ancam Rara sambil mengangkat snack itu seperti batu nisan.
Tentu saja tumblenya tidak ada.
Hanya kertas-kertas menumpuk dan harga diri Rara yang makin menipis.
Kemudian dia melakukan investigasi pantry. Meski dia sendiri sudah mengeceknya sebanyak enam kali.
Rara kembali ke pantry untuk kesekian kali.
“Ra, ini udah keenam kalinya lo ke pantry pagi ini,” ujar Dini yang dari tadi hanya ingin membuat kopi tapi terusik oleh penampakan Rara yang datang pergi seperti hantu ruangan.
“Aku harus memastikan,” kata Rara dramatis sambil mendorong pintu pantry dengan gaya agen rahasia.
Ia memeriksa semua rak, membuka lemari mini, melihat celah belakang galon dispenser, sampai menunduk memeriksa bawah meja pantry.
“Mungkin dia jatuh dan terguling ke dimensi lain,” kata Rara sambil memasukkan kepala ke area kolong.
“Ra, kalau sampai jatuh ke dimensi lain, kita harus panggil dukun,” celetuk Dini.
“Panggil aja! Aku desperate!”
Tumbler? Tetap tidak ada. Yang ada hanya mie instan kantoran yang pernah hilang minggu lalu.
“Ini mah mie instan gue!” seru Dini melihat bungkusnya nyempil.
“Lah itu mie kamu? Gue kira sampah minggu lalu,” kata Rara santai.
“Rara!”
Rara berlalu begitu cepat.
Rara lalu menyerbu ruang meeting lantai delapan.
Pertama-tama ia cek belakang proyektor. Tidak ada. Meja panjang ruang meeting ia periksa sisi per sisi.
“Permisi, Mbak, ada jadwal meeting?” tanya seorang staff HR dengan ragu.
“Nanti. Sekarang saya lagi nyari masa depan saya.”
“Eh?”
“Tumbler saya.”
“Ah…” HR langsung mundur pelan-pelan.
Tidak ada tumbler mint di situ. Hanya kabel-kabel kusut, spidol kepanasan dan secarik kertas catatan rapat yang berbunyi “Kita harus lebih produktif!” Kalimat yang membuat semua karyawan stres setiap kali membacanya.
Rara mendesah berat. “Produktif dari mana kalau tumbler gue aja hilang.”
Rara tidak berhenti sampai di situ saja. Dia berlari ke arah resepsionis.
Rara meluncur ke lobi kantor dengan napas ngos-ngosan.
Nadine, sang resepsionis, sedang mengetik email ketika Rara tiba-tiba menempelkan kedua tangan di meja resepsionis sambil mencondongkan tubuh.
“Nad!” serunya, membuat Nadine hampir menjerit. “Astaga, Ra! Lo muncul kayak jumpscare!”
Rara mengacungkan tiga jari seperti bersumpah. “Pertanyaan penting. Sangat penting. Hidup-mati. Masa depan bangsa.”
“Apaan?”
“Lost and Found minggu lalu. Ada tumbler mint?”
Nadine menelusuri daftar barang hilang. “Hmm… payung, jaket, charger, payung lagi, payung lagi, kantor ini banyak banget payungnya.”
“Fokus, Nad.”
Nadine mengetuk layar. “Tumbler mint, nggak ada.”
Rara langsung jatuh terkulai di meja resepsionis seperti kain basah. “Kenapa hidupku begini!”
Nadine mengelus bahunya. “Sabar, Ra.”
“Gue udah sabar sejak jam delapan, Nad. Ini hampir jam sebelas. Sabar gue menipis kayak saldo dompet.”
Rara tidak menyerah, Rara menuju pos satpam di parkiran basement.
Pak Darto sedang menyapu ketika Rara menghampiri dengan langkah dramatis seolah adegan sinetron.
“Pak Darto!” Rara memanggil dengan suara bergetar.
Pak Darto menoleh. “Waduh, Mbak Rara. Kenapa wajahnya kayak abis ditolak KPR?”
“Sesuatu yang lebih menyakitkan, Pak. Tumbler saya hilang.”
Pak Darto memutar bolamatanya ke langit-langit basement. “Aduh, aduh.”
“Pak lihat tumbler warna mint? Ada stiker lucunya gitu. Warna pastel. Cantik banget. Kayak.”
“Kayak anak TikTok ya, warnanya?”
“Iya! Warna aesthetic itu, Pak!”
Pak Darto berpikir sejenak, lalu berkata, “Kemarin saya lihat orang bawa tumbler warna mint, tapi nggak tahu itu punya siapa.”
Rara terlonjak. “Serius Pak?!”
“Serius.”
“Bentuknya kayak apa? Ada lecet tipis di tutupnya nggak? Kayak goresan kehancuran nasib saya?”
Pak Darto mengerutkan dahi. “Wah… itu saya kurang perhatiin detailnya.”
Rara pegang dada. “Pak, ini bukan sekadar tumbler. Ini tumbler kenangan!”
“Mungkin yang bawa anak outsourcing, Mbak.”
“Siapa namanya?”
“Lupa.”
Rara menjerit pelan. “Pak, ini bukan anime. Jangan kasih petunjuk setengah-setengah!”
Pak Darto menyeret sapunya. “Saya bantu cari kalau lihat lagi ya.”
Harapan Rara naik lalu turun lagi ketika ia ingat betapa besar kantor itu.
Satu petunjuk samar sama saja dengan tidak ada petunjuk.
Karena Rara tidak diam dan tidak bisa diam, berita kehilangan tumblernya menyebar secepat gosip artis.
“Ada yang lihat tumbler Rara?” tanya Rehan ke divisi lain.
“Sumpah gue pikir dia bercanda, ternyata serius?” balas Monik dari Marketing.
“Serius banget. Katanya itu hadiah dari sahabatnya,” jawab Nana.
Dalam waktu satu jam, seluruh lantai tujuh sudah tahu bahwa, tumbler Rara telah hilang yang warnanya mint, ada stiker lucu dan ada kenangan dalamnya
Rara sudah mengecek pantry 6 kali
Siska sudah menyerah menghadapi tingkahnya. Bahkan ada rumor simpang siur.
“Katanya tumblernya warna biru?”
“Mint! Mint!” jawab yang lain.
Semakin siang, semakin tidak stabil kondisi emosional Rara. Setiap kali melihat warna mint, ia langsung loncat.
Melihat kertas pastel mint: “Tum? Oh, bukan.”
Melihat post-it warna hijau: “Tum! Oh, itu catatan hutang.”
Melihat botol sabun warna toska: “Tum?! Ah, cuma sabun!”
Setiap kali ada orang lewat membawa botol minum, jantungnya berdegup.
Siska geleng-geleng. “Lo kayak kucing kehilangan anak.”
“Ini bukan anak, Sis, ini kenangan.”
“Ya gue tahu, Ra, tapi hidup lo nggak berakhir cuma karena tumbler hilang.”
Rara menatap Siska sambil memegang dadanya, “tapi rasa kehilangan ini nyata.”
“Drama level dua ribu.”
“Aku serius!”
“Aku juga serius. Lo harus tenang. Tarik napas. Inhale, exhale!”
Rara berusaha menarik napas, tapi malah cegukan.
“Hiks.”
“Oh dear God,” Siska menepuk dahinya.
Saat Rara kembali ke pantry untuk ketujuh kalinya, ia melihat pria asing yang tadi pagi membawa tumbler mint yang mirip.
Hatinya berdegup.
“Tuh, tuh, dia lagi,” gumam Rara, tapi Rara terlalu takut untuk mendekat. Ia hanya mengintip dari celah pintu.
“Ra, jangan,” Siska menahannya. “Jangan stalking.”
“Aku nggak stalking. Aku cuma mengobservasi objek investigasi.”
“Objek investigasi dari Hongkong. Minggir!”
Rara akhirnya menjauh sambil menutup wajah. Ia tidak tahu apakah tumbler itu benar miliknya atau hanya kebetulan mirip dan ia belum sanggup menghadapi kemungkinan tumbler itu bukan miliknya.
Belum.
Menjelang jam pulang, Rara terduduk di kursinya, lemas, wajah menghadap layar laptop yang tidak disentuh sejak pagi.
“Aku gagal,” bisiknya.
Siska duduk di sebelah. “Enggak, lo belum gagal. Lo cuma belum berhasil.”
Rara mengusap mata yang mulai panas, “tapi seharian udah keliling dari pantry, meeting room, resepsionis, basement dan semuanya nol besar.”
“Besok kita lanjut,” kata Siska menepuk bahunya. “Siapa tahu tumblermu muncul.”
Rara mendesah. “Iya, mungkin dia lagi jalan-jalan tanpa izin.”
“Betul. Tumblermu lagi healing.”
Rara memaksakan senyum kecil, tapi begitu semua orang mulai membereskan meja, Rara mengintip pantry sekali lagi, hanya untuk memastikan.
Kosong.
Ia berdiri di depan pantry dengan tangan turun lemas di samping tubuhnya.
Hatinya seperti diikat simpul.
“Besok kita cari lagi,” gumamnya karena bagi Rara, tumbler itu bukan sekadar barang.
Itu serpihan kecil dari masa lalu yang ia belum siap lepaskan dan pencariannya baru saja kembali dimulai.