His Contract Bride - Dia Lebih Aman Bersamaku - Bab 35

Penulis Rei_Moira
10 September 2025

“Jadi ini rumah mereka?” Celeste tidak langsung turun dari mobilnya. Kepalanya menoleh pada rumah mewah bergaya modern yang baru saja ditunjuk Ezra.

“Jalankan misi dengan benar, Celeste.” Ezra mengetatkan rahangnya. Waktu semakin berjalan. “Buat hubungan mereka kacau secepatnya, dan kau akan mendapatkan Kael kembali.”

Celeste menyeringai tipis. Bayangan dirinya yang menggelayut di pelukan Kael lagi seperti waktu itu kembali menyergap memorinya. Ketika Kael menatapnya dalam di atas kasur, dan membenamkannya perlahan pada kenikmatan yang tak akan pernah terlupakan.

Kalau saja Aurora tidak pernah ada, pasti dirinya lah yang saat ini menjadi istri Kael.

“Ok, mari kita lakukan sebaik mungkin.” Celeste menghela napasnya panjang. “Kau urus Aurora, aku akan kembali menarik Kael ke dekapanku.”

Ezra mengangguk, mempercayakan sepenuhnya hal itu pada Celeste, lalu membuka pintu mobilnya cepat. Ketika ia telah berdiri di halaman rumah, seorang tetangga baru yang masih asing di matanya memberikan senyum ramah.

“Kenapa tanganmu?” tanya wanita sekitar berusia 40-an, dengan selang air yang masih menyala, diarahkan pada tanaman di tamannya.

Ezra mengerutkan kening. Sedikit aneh ketika ada orang asing menyapanya dengan ramah. “Kecelakaan kecil, jawabnya.”

Seorang pria keluar dari rumah—mungkin suaminya, sekilas seperti sepantaran. Ia menatap Ezra dan Celeste bergantian, kemudian mengecup pipi sang wanita sambil tersenyum. “Ada masalah?”

Wanita itu menggeleng. “Tidak ada. Aku hanya menyapa tetangga baru kita.”

Pria itu kembali melihat ke arah Ezra, lalu menunjuk tangannya yang masih dibebat gips. “Jatuh?”

Ezra tertawa canggung, “Kecelakaan. Kalian sekarang tinggal di rumah itu?”

Sang pria mengangguk. “Semoga kita bisa bertetangga dengan baik, mohon kerjasamanya.”

Ezra mengangguk samar, merasa aneh dengan nada bicara tetangga baru itu. Namun ia tak ingin mempermasalahkannya terlalu dalam. Celeste telah memanggil di depan pintu, rupanya wanita itu tak sabar untuk masuk.

“Siapa?” tanya Celeste, begitu Ezra telah berdiri di sampingnya.

“Tetangga baru katanya, entahlah…”

“Kalian tidak saling bertukar nama?” tanya Celeste.

Ezra menggeleng. “Buat apa? Ayo masuk.”

Decakan pelan terdengar dari Celeste. Lirikannya tajam ke Ezra. “Dasar sosiapat!”

Pintu besar itu terbuka. Celeste menghirup dalam aroma bergamot yang selalu menjadi ciri khas Kael. Semenjak berpisah, ia selalu merindukannya, sampai-sampai rela mengganti aroma diffuser-nya dengan aroma yang sama agar merasa selalu dekat dengan Kael.

Sial memang… ketika Celeste yang selalu menjadi primadona para pengusaha muda Vallmont, justru terlibat dalam cinta mengenaskan bersama Kael. Ia seakan sedang dihukum karena pada masa itu terlalu angkuh dan percaya akan menjadi nyonya Vireaux.

Sampai akhirnya… nyonya Vireaux yang sebenarnya kini berdiri di hadapannya dengan tatapan yang membuatnya ingin mengumpat. Jika bukan karena misinya dengan Ezra, pasti ia akan mengawali pertemuan ini dengan decakan kasar.

“Halo, Rora,” sapa Celeste ramah—terlalu ramah, membuat Aurora mengerut samar.

“Tidak perlu berpura-pura baik padaku, aku tahu kau membenciku.” Aurora dingin, tak terjamah.

“Shit!” umpat Celeste lirih, pertahanannya runtuh.

Ezra menghela napas, pandangannya beralih dari Celeste ke Aurora–kembali lagi Celeste dalam hitungan detik. “Calm down, Girls. Kalian kenapa seperti kucing dan tikus?”

Aurora tidak ingin memperpanjang. Ia memilih untuk berbalik dan masuk ke dalam kamarnya, menunggu Kael pulang. Melihat Celeste memasuki wilayah privasinya, berhasil membuat emosinya berantakan.

Beberapa detik kemudian ia tergoda untuk mencarikan saja orang yang mampu membantu Ezra selama tangannya dibebat. Namun ia kembali teringat jika situasi masih tidak memungkinkan. Ia harus melindungi posisi Kael agar tak ada celah bagi Bastien untuk mengusiknya lagi.

Aurora terlalu paranoid. Ia terus membayangkan orang asing yang datang untuk membantu Ezra adalah suruhannya Bastien. Tidak, Aurora tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Jika berurusan dengan Bastien, sudah tentu urusannya selalu menyangkut nyawa.

Tubuhnya bergidik, mengingat kertas ancaman yang diberikan padanya waktu itu. Kematian ibunya dan Mireille juga masih belum menemukan titik terang. Kael tak pernah memberitahu perkembangan pencarian itu, bahkan saat ia bertanya.

“Tenang saja, Sayang. Semuanya akan aku urus dengan baik.”

Selalu itu yang dikatakan Kael padanya, sampai muak mendengarnya. Aurora tidak suka perasaan ini, rasa tidak berguna.

Sementara itu di ruang tengah, Ezra segera mengajak Celeste menuju kamarnya. Kepalanya celingukan ketika mengikuti Ezra, mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa menjadi alat untuk melancarkan misinya.

“Kendalikan dirimu kalau masih ingin memiliki akses keluar masuk rumah ini.” Ezra memperingatkan Celeste begitu pintu kamarnya tertutup dari dalam.

“Excuse Me, Mr. Ro—Vireaux.” Celeste hampir menyebut nama keluarga Ezra yang sebenarnya. “Aku sudah melakukannya dengan baik. Kalau aku tidak menahan diri, pasti perempuan yang kau sukai itu sudah kujambak rambutnya!”

“Jangan berani sedikit pun mengusiknya,” desis Ezra.

Tak takut dengan gertakan itu, Celeste justru tertawa kecil. “Oh, gosh! Kau benar-benar menyukainya, huh?”

“Fokus saja sama tugasmu, jangan campuri perasaanku.” Tidak ada keraguan dalam kalimat Ezra.

Celeste memperhatikan pria itu sejenak, sebelah matanya menyipit. Dari cara Ezra menarik kata dan ekspresi dingin yang tergambar di wajah tampannya, ia bisa meyakini jika perasaan Ezra untuk Aurora Vireaux adalah nyata.

“Kita terlibat dalam masalah besar, kau tahu itu, kan?” Celeste menghela napasnya. “Kael tidak akan diam saja jika kita sampai melukai Aurora.”

Ezra kembali menoleh cepat, tatapan tajamnya tersampaikan dengan jelas. “Tidak ada yang menyuruhmu untuk melukainya, dan aku tidak akan pernah menyakitinya.”

Celeste berdecak kasar, lalu tertawa miris. “Dengan kau berusaha untuk memisahkannya dengan Kael. Jelas sekali akhir ceritanya adalah sebuah rasa sakit. Dan KAU yang menorehkannya.”

Ezra tak langsung menjawab. Kenyataan yang sedang ia jalani pada dasarnya memang persis seperti yang Celeste ucapkan. Namun tak ada pilihan lagi. Lagipula, Aurora akan terus tidak aman jika bersama Kael.

“Karena aku pasti akan melukainya, maka aku juga akan bertanggung jawab. Dia lebih aman bersamaku.” Ezra mengeratkan rahangnya. Pelipisnya tampak berkedut pelan, bersamaan dengan tangannya yang terkepal kencang.

Celeste duduk di pinggir kasur, lalu merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit. “Atur saja. Aku tidak akan menghalangimu dengan misi cintamu itu pada Aurora.”

“Good, fokus saja dengan usahamu untuk menggaet Kael lagi. Aku sudah memberimu jalan, jangan kecewakan tanganku yang menjadi korban.”

Celeste menegakkan badan begitu mendengar keluhan Ezra lagi. Meskipun masih ada rasa bersalah dalam dirinya, tapi ide itu berasal dari Ezra. Kecelakaan kerja tak pernah bisa dihindari, apalagi kalau itu adalah pertama kali baginya, benar?

“Sampai kapan kau akan menjadikan itu senjata?” Celeste mendengus. Ia menoleh, memperhatikan gerakan perlahan dari Ezra yang duduk di sebelahnya.

“Selamanya, maybe.” Ezra menyeringai, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Celeste. “Tergantung dari baik buruknya kau menjalankan misi ini.”

Secara refleks, Celeste menarik badannya agar jarak mereka tetap terjaga. Tanpa peringatan, jantungnya sedikit berdebar. Keningnya mengerut, memilih untuk tidak menghiraukan.

“Sekarang, bantu aku ganti baju.” Ezra masih menatap Celeste, kini seringai itu berubah menjadi senyum yang lembut. “Please,” ucapnya.