“Bekas luka apa ini?” Celeste menyentuh kulit punggung Ezra—satu garis miring—seperti bekas koyakan.
Ezra menoleh, sampai mampu menatap ujung pundaknya. “Kau mulai tertarik padaku?”
Satu dorongan kuat dari tangan Celeste pada pundak Ezra membuat pria itu mengaduh kesakitan.
“Perasaanmu digadaikan, ya?!” protes Ezra sinis, masih sedikit membungkuk karena nyeri pada tangannya yang masih dibungkus gips.
Celeste meraih kaus yang telah diambil dari lemari Ezra. “Jangan menggodaku, atau itu yang akan kau dapatkan dariku.”
Ezra mendengus, tak ada niatan untuk memperpanjang perdebatan. Tangannya terangkat pelan, memberikan ruang untuk Celesta yang berhati-hati agar tak menyentuh area sensitif tangan Ezra yang patah.
“Ok, selesai.” Celeste menghela napasnya. “Maaf karena aku bertanya tentang bekas lukamu. Aku hanya tidak bisa menahan rasa penasaranku.”
Celeste memahami jika luka seseorang pasti memiliki sejarah. Setelah Ezra hanya membalas ucapannya dengan dengusan, ia kembali merasa bersalah karena sudah bertanya terlalu jauh.
“Karena bekas lukanya masih terlihat baru?” ujar Ezra, sambil berdiri, menjangkau single sofa di sebelah jendela.
Anggukan Celeste terlihat samar, tapi sorot matanya jelas mengilat—tak bisa diajak kompromi.
Ezra menghela napas. Gigi-giginya merapat sejenak ketika mengingat kejadian itu. Saat ia berusaha mencegah Bastien mengambil Elias, tapi pengawal setia pria kejam itu justru menikam belati di pundaknya.
“Beberapa bulan yang lalu… kecelakaan.” Ezra menjawabnya tanpa memberikan detail. “Masih terasa nyeri ketika disentuh, tapi tidak akan membuatku mati.”
Seringai sinis Celeste mengembang separuh. “Kenapa kau selalu identik dengan kecelakaan? Beberapa bulan yang lalu kecelakaan, kemarin juga kecelakaan.”
Ezra berdecak pelan. “Kemarin adalah hal yang kita rencanakan, itu tidak bisa disebut sebagai kecelakaan… kecuali bagian kau yang terlalu bersemangat menabrakku.”
“Hei!” seru Celeste. “Aku sudah di sini untuk membantumu, okay? Jadi jangan buat itu sebagai senjata untuk menyudutkanku!”
“Aku tidak menyudutkanmu. Aku mengingatkanmu.” Ezra tersenyum, lebih terlihat seperti sedang mengejek.
“Whatever, yang jelas aku tidak mau hal itu dibahas lagi. Aku hanya menjalankan perintahmu.” Celeste mengempas tubuhnya di kursi kerja. Keningnya mengerut, bibirnya mengerucut.
Ezra memperhatikan sikap Celeste. Wanita konglomerat dengan harga diri setinggi Mirador Height itu nyatanya memiliki sisi kekanakan yang kontras. Tanpa sadar, satu sudut bibirnya tertarik, menertawakan tingkah konyol itu.
Kantor CEO Vireaux Group mendadak tegang ketika Luther memberikan dokumen pada Kael. Satu biodata lengkap dari seseorang bernama Ezeriah Roux. Sosok itu tidak pernah terlibat bisnis dengan Vireaux Group—baik itu resmi maupun gelap.
Namun satu hal yang membuat jantung Kael berdetak lebih cepat adalah, foto Ezeriah Roux yang tercantum di data itu sama persis dengan Ezra Vireaux, pemuda yang mengaku sebagai adiknya—dan adik Aurora.
“Kau yakin ini benar?” Kael mendongak, keningnya mengerut ketika menatap Luther yang berdiri di balik meja kerjanya.
“Valid, Tuan. Aku mendapatkannya dari data penduduk setelah melobi klien di sana. Jika Tuan bisa mendapatkan sidik jari Ezra, kita bisa mencocokkan datanya di forensik.” Luther menjawab dengan tegas, pandangannya ikut tertuju pada dokumen yang dibiarkan terbuka di atas meja.
“Tidak ada orang tua, hanya seorang adik bernama Elias Roux.” Kael mengusap dagunya dengan jemari. “Kau bisa mencari tahu di mana lokasi Elias Roux?”
“Sure,” ucap Luther cepat. “Secepatnya akan aku lacak di mana mereka tinggal. Alamat yang tertera di sana sudah tidak valid. Unit rumah itu telah terjual setahun yang lalu.”
Kepala Kael berkedut kencang. Siapa Ezra sebenarnya? Benarkan Ezra dan Ezeriah adalah dua pria yang sama? Jika benar, sudah jelas pemuda itu adalah orang kiriman Bastien. Lalu apa misinya? Kenapa tidak ada hal mencurigakan? Kenapa justru ia bersikap layaknya seorang keluarga? Bahkan ia menjaga Aurora tanpa diminta.
“Aku harus menjauhkannya dari Aurora.” Suara Kael pecah, tak percaya ia telah membiarkan musuh menyusup.
“Saranku, tahan dulu sampai Anda bisa mendapatkan sidik jarinya dan hasil dari forensik keluar. Jika Anda terlihat langsung defensif dan menjauhkannya dari nyonya Aurora, aku takut Bastien akan bertindak yang lebih jauh lagi.” Luther menarik kursi, lalu duduk dengan badan tegak.
Kael terdiam sejenak, berusaha menahan emosinya yang bergejolak agar tidak mengotori cara berpikir tajamnya. Setelah helaan napas panjang beberapa kali, Kael menyibak rambutnya yang telah acak-acakan sambil kembali memandang dokumen milik Ezeriah Roux.
“Kau benar,” ucapnya. “Tempatkan musuh pada tempat terdekatmu agar kau bisa menusuknya lebih cepat sebelum dia berusaha menusukmu.”
Luther mengangguk, terlihat bangga dengan jawaban Kael. “Betul sekali. Jika Ezra memang benar Ezeriah, maka Anda harus terus berada di dekatnya. Dengan begitu, Anda bisa mencari tahu apa misi yang diberikan Bastien padanya. Tidak mungkin hanya untuk sekedar menjadi bagian dari keluarga Vireaux saja, kan?”
Betul. Pasti ada misi tersembunyi yang selama ini lolos dari pantauannya. Mencari itu bukan hal yang sulit. Aurora lah yang menjadi hal tersulit dalam masalah ini jika benar Ezra adalah orangnya Bastien.
“Sepertinya akan ada pertengkaran antara aku dan Rora,” desah Kael, seakan telah melihat masa depannya.
“Aku yakin nyonya Aurora tidak akan menutup mata jika ada bukti yang nyata.” Luther kembali memberikan suaranya. “Kita hanya harus mendapatkan bukti yang kuat.”
Kael menarik tubuhnya, membenamkannya kasar pada sandaran singgasananya. “Terlalu banyak bukti yang harus kita kejar, tapi tidak ada satu pun yang bisa mengungkap apa yang kita cari.”
Luther tidak menjawab, ia mengerti maksudnya.
“Untuk sementara, kita harus fokus dengan mencari bukti tentang Ezra dan mencari tahu siapa sebenarnya. Urusan tentang melawan Bastien dan pencarian apa yang ada di balik kematian mom dan Isabelle kita kesampingkan dulu.”
“Lakukan pendekatan,” ucap Luther.
Kening Kael mengerut, kepalanya miring sedikit.
“Mendapatkan bukti sidik jari saja tidak cukup. Anda bisa dengan mudah membawa gelas bekas yang dipegang Ezra dan dibawa ke forensik, tapi hal itu tidak akan membuat nyonya Aurora percaya sepenuhnya,” ujar Luther.
Kael memahaminya. Aurora sangat percaya jika Ezra adalah adiknya. Jika tiba-tiba ia membawa bukti pemeriksaan sidik jari itu, sudah jelas akan memicu pertengkaran walaupun hasilnya positif.
“Ada kalanya, pelaku akan kehilangan kontrol rahasianya ketika sudah merasa nyaman. Entah itu petunjuk samar yang keluar, tapi yang jelas itu akan membuat kita bisa melangkah lebih jauh lagi untuk mengetahui apa misinya.” Luther menambahkan.
Kael kembali menyandarkan tubuhnya. “Jika itu benar dia adalah Ezeriah Roux.”
“Betul,” ujar Luther. “Dan untuk sementara, Anda bisa mulai terlihat menerimanya sebagai adik sambil mengorek informasi yang mungkin saja lolos dari mulutnya.”
Sial.
Tampaknya Kael tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika ternyata Ezra Vireaux benar-benar Ezeriah Roux. Mungkinkah itu jawaban kenapa sampai saat ini ia tidak bisa menerimanya seperti yang dilakukan Aurora?
Dan kalau benar Ezra adalah orang kiriman Bastien, Kael pastikan bahwa dia yang akan mengeksekusinya.