Malam menyelimuti Pedran dengan kabut tipis yang menari di antara lampu-lampu minyak. Kota yang biasanya penuh hiruk-pikuk pasar kini sunyi, hanya terdengar gemerisik langkah kaki di atas batu yang dingin. Dalam kesunyian itu, bayangan dendam dan tipu daya mulai bergerak, tak terlihat namun terasa mengancam.
Di tengah malam itu, ada seorang gadis yang baru saja pulang dari pasar—Cloris, yang selama ini menutupi asal-usulnya yang sebenarnya, dan yang kini mulai merasakan konsekuensi dari perhatian yang tidak diinginkannya.
Di rumah besar keluarga Rouverian, kemarahan mencapai puncaknya. Lord Renard, paman Seraphine, duduk di kursi besar, wajahnya merah padam, tangan menepuk meja dengan frustrasi yang jelas. Semua rencana dan harapan untuk menguasai perdagangan Cloris hancur oleh kegagalan licik Seraphine.
“Sial! Semua penghasilan yang seharusnya masuk ke tangan kita… hilang karena ulahmu, Seraphine!” teriaknya, suaranya memekakkan ruang tamu.
Seraphine menunduk, tubuhnya gemetar. Air mata mengalir di pipinya, tapi di balik tangisan itu tersimpan sesuatu yang jauh lebih gelap: dendam. Setiap kata yang ia ucapkan, setiap bisikannya, adalah janji kebencian yang perlahan membara. “Aku akan membuatnya menyesal. Dia akan menderita. Tidak seorang pun akan bisa melindunginya dariku,” bisiknya lirih, seolah mantra yang membakar setiap rasa belas kasih dalam dirinya.
Lord Renard terlalu marah untuk memperhatikan dendam itu. Ia terlalu fokus pada kerugian finansial dan rasa malu yang dirasakannya karena rencana mereka gagal.
Sementara Seraphine mulai merajut rencana baru—rencana yang lebih pribadi, lebih berbahaya. Malam itu, ia memanggil beberapa pengikut setia dan memberi mereka arahan gelap: “Cari gadis itu. Hentikan dia. Buat dia tahu rasa takut, tapi jangan sampai membunuhnya. Aku ingin dia merasakan penderitaan perlahan, sampai benar-benar menyadari siapa yang berkuasa.” Sementara itu, di jalan-jalan sunyi Pedran, Cloris berjalan pulang sendiri. Tubuhnya lelah, tapi hatinya masih ringan. Dagangan hari itu habis terjual, dan utusan Kerajaan Utara telah membeli kain-kainnya. Namun bayangan dendam Rouverian tetap menyelimuti pikirannya. Ia tahu, meski Seraphine gagal hari itu, dendam itu belum hilang. Tiba-tiba, dari kegelapan, terdengar suara langkah lain. Awalnya Cloris mengira itu anak-anak atau pedagang yang pulang larut, tapi nada langkah itu berbeda—hati-hati, penuh niat tersembunyi. “Ayo… tunggu sebentar, cantik,” suara serak seorang pria terdengar dari belakang. Cloris menoleh dan melihat tiga pria dengan ekspresi licik mendekat. Nalurinya langsung menyala: mereka tidak datang untuk sekedar bertanya arah atau meminta bantuan. Maksud mereka jelas, dan berbahaya. Dengan tenang tapi tegas, ia mencoba menarik jubah lebih rapat dan berkata, “Pergilah… aku tidak ingin masalah.” Tawa rendah menjawab, dan satu dari mereka melangkah lebih dekat, mencoba meraih lengannya. “Kau akan menyesal menolak kami, gadis kecil,” kata pria itu dengan senyum kejam. Saat itu, dari bayang-bayang muncul sosok lain—pria muda berpakaian gelap, tinggi, dan bergerak dengan ketepatan yang membuat orang-orang di sekitarnya terkejut. Dalam satu gerakan, ia menahan salah satu pria, membuatnya tersungkur, sementara dua lainnya mundur, kebingungan. “Lepaskan dia!” teriaknya dengan tegas. Matanya menatap tajam para penyerang, dan ada kekuatan yang membuat mereka mundur. Cloris menatap sosok itu, tubuhnya gemetar antara takut dan lega. Pria itu menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik kerah jubah gelap, tapi aura ketegasan dan kewaspadaan terpancar jelas. “Tidak penting siapa aku. Pergilah ke rumahmu. Aku akan memastikan tidak ada yang mengikutimu lagi malam ini.” Cloris tak punya pilihan selain mengikuti saran itu. Ia berlari ke rumah, sementara sosok misterius itu tetap di belakang, memastikan ia sampai dengan aman. Begitu Cloris sampai di ambang pintu, ia menoleh lagi, tapi pria itu sudah menghilang di kegelapan malam. Di rumah, Cloris menutup pintu rapat-rapat, menarik napas panjang, dan mencoba menenangkan diri. Tubuhnya masih gemetar, tapi ketegangan mulai mereda. Namun bayangan Seraphine tetap menghantuinya. Gadis itu tahu, dendam Seraphine kini lebih bersifat pribadi, dan ancaman dari Rouverian jauh dari selesai. Di tempat lain, Seraphine masih menangis, tapi bukan air mata kelemahan yang keluar. Itu adalah air mata kebencian, janji yang membara: Cloris akan merasakan akibatnya. Lord Renard, masih murka, tidak mengerti rencana yang sedang dibentuk Seraphine, tetapi kekuatan dendam itu telah cukup untuk membuat Cloris berada dalam bahaya yang lebih besar di masa depan. Malam itu juga menjadi pengingat bagi Cloris. Dunia di luar lapaknya penuh bahaya, dan musuh-musuhnya lebih licik dari yang pernah ia bayangkan. Namun satu hal jelas: ada pihak yang diam-diam mengawasinya, menjaga agar ia tetap aman. Pria yang muncul dari kegelapan bukan sekadar penyelamat biasa. Ia tahu cara menjaga Cloris tetap terlindungi tanpa membuatnya merasa canggung atau terancam. Cloris menatap kain-kain yang tersusun di meja, simbol perjuangan dan identitasnya. Malam ini bukan hanya tentang perdagangan—ini tentang pertahanan diri, rahasia, dan keberanian. Malam ini mengajarkannya bahwa bertahan hidup bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga kecerdikan dan kewaspadaan. Dengan tekad baru, Cloris menarik selimut kain ke tubuhnya. Bayangan malam—Seraphine, para bayaran, dan penyelamat misterius—akan menghantuinya, tetapi ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap teguh. Ia tidak akan jatuh begitu saja. Ia Cloris, pedagang, penyintas, dan anak Utara yang darahnya tak bisa sepenuhnya disembunyikan. Dan di luar jendela, kegelapan malam masih menyimpan rahasia, ancaman, dan perlindungan yang tak terlihat. Semua itu hanyalah awal dari peperangan yang akan segera dimulai—peperangan yang melibatkan dendam, identitas, dan seseorang yang diam-diam menunggu waktu yang tepat untuk muncul.