Drama

Sosiopat - Sebuah Takdir Yang Lucu - Bab 21

Penulis Ichan
09 December 2025

Sebuah Takdir Yang Lucu

Malam itu hujan turun pelan, seperti tirai tipis yang menutupi kota. Lampu-lampu jalan memantul di genangan air, dan bau tanah basah bercampur dengan aroma bensin dari kendaraan yang melintas terburu-buru. Namun, di antara ribuan langkah manusia yang menuju rumah masing-masing, ada satu langkah yang berbeda, tenang, teratur, dan mematikan.

Alina.

Ia menyusuri gang kecil di belakang kompleks pergudangan tua. Tempat itu sudah lama tidak digunakan, hanya sesekali dihuni oleh pedagang ilegal yang memindahkan barang-barang gelap. Namun, malam ini, tempat itu menjadi panggung untuk sesuatu yang jauh lebih kelam.

Alina berhenti di depan salah satu pintu besi yang setengah berkarat.

Ia menarik napas panjang.

Di tangan kirinya, ada pisau lipat perak. Di tangan kanannya, ponsel dengan titik merah di peta.

Sinyal pelacak yang ia tanam pada salah satu orang kepercayaannya telah mengarahkannya ke lokasi ini dan ia tahu, pamannya, Dante Ginanjar Anshar, ada di dalam.

“Waktunya menyelesaikan semuanya,” bisik Alina, sebelum ia mendorong pintu itu perlahan.

Pintu berderit keras, sekeras rasa benci yang telah ia simpan selama bertahun-tahun.

Semua ruangan gelap, hanya disinari satu lampu bohlam kuning yang memantul dari sudut ruangan. Di tengah ruangan kosong itu, beberapa kardus dan meja tua berserakan seperti saksi bisu dari rencana kotor Dante.

Di sana, berdiri seorang pria dengan tubuh tinggi, rambut beruban dan mata kosong yang pernah menghancurkan hidupnya. Dante.

Dante tersenyum pelan ketika melihat Alina masuk.

“Aku sudah menduga kau akan menemukan tempatku,” katanya sambil menepuk-nepuk debu di ujung lengan bajunya. “Kau memang anak yang keras kepala.”

Alina menutup pintu di belakangnya dan berjalan perlahan, langkah-langkahnya bergema.

“Keras kepala?” Alina mengangkat alis. “Kupikir kau akan menyebutku ‘mengganggu rencana lamamu’ atau mungkin ‘durhaka’ seperti biasa.”

Dante tertawa kecil.

Tawa yang membuat tubuh Alina menegang.

“Kau tumbuh menjadi perempuan yang jauh lebih kuat dari ibumu.” Ucapan itu menyalakan bara di dalam dada Alina.

“Kau tidak punya hak menyebut-nyebut ibuku.” Suara Alina datar namun tajam.

“Setelah semua yang kau lakukan, termasuk mencuri nyawanya.”

Dante hanya menatapnya sejenak, lalu menjawab dengan santai, "terkadang keputusan harus diambil demi masa depan. Ibumu tidak sesuai dengan rencana. Kau pun tidak, tapi… kau di sini sekarang.” Ia mengangkat bahu. “Mungkin aku seharusnya membunuhmu waktu itu.”

Itu cukup.

Alina tidak bicara lagi.

Ia menyerang.

Gerakan mereka cepat, tetapi tidak sembarangan. Dante menghindar ke kiri dan menjatuhkan beberapa barang sebagai penghalang. Alina mengejar dan pisau di tangannya berkilat saat melewati cahaya lampu.

Pertarungan itu tidak brutal secara fisik lebih seperti duel mental. Dante menghindar dengan pengalaman. Alina menyerang dengan ketenangan yang menjengkelkan.

“Kenapa kau tidak berhenti saja, Alina?” ujar Dante sambil mundur perlahan. “Kau punya hidup baru. Kau punya kekayaan dari Dirga. Kau bahkan punya dua pria yang siap mati untukmu dan kau tetap kembali mengejarku.”

Alina menjawab tanpa jeda, “Karena aku ingin melihatmu hancur.”

Satu ayunan cepat.

Dante terpeleset.

Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah sedikit ketakutan kecil dan Alina tahu ia telah mengambil alih permainan.

Ia melompat ke atas meja dan menendang Dante ke dinding. Pria itu terjatuh, napasnya terputus sebentar.

Alina mendekatinya pelan, seperti predator yang sedang menikmati momen terakhir sebelum mangsanya mati.

Pisau di tangannya diarahkan ke dada Dante. Hanya butuh satu gerakan untuk mengakhiri semuanya. Namun, suara langkah kaki terdengar.

Seseorang masuk.

Pintu besi terbuka keras.

“ALINA, HENTIKAN!”

Suara itu—l begitu familiar hingga darah Alina berhenti mengalir sejenak.

Dirga.

Alina menoleh. Dirga berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat, matanya melebar tidak karena kaget, tetapi karena ketakutan akan apa yang akan dilakukan Alina dan kemudian Alina melihat sesuatu yang lebih mengerikan.

Dirga tidak datang sendirian.

Ia datang sambil memegang lengan Dante, bukan menyeret, bukan menahan, tetapi melindungi pria itu.

Alina membeku.

Apa yang ia lihat tidak masuk akal.

Tidak mungkin.

“Kau,” Alina mengerutkan dahi. “Kenapa kau memegangnya seperti itu?”

Dirga tidak menjawab. Ia maju dan berdiri di antara Alina dan Dante.

“Jangan sentuh paman itu.”

Alina tertawa kecil.

Tawa yang kosong.

“Apa katamu barusan?”

Dirga menatapnya tajam, namun tidak ada amarah. Hanya tatapan seseorang yang menyembunyikan terlalu banyak rahasia.

“Aku sudah tahu semuanya, Alina.” Ia menarik napas panjang.

“Dante… adalah suami dari kakakku.”

Dunia Alina seakan berputar sesaat.

“Pernikahan mereka terjadi sebulan setelah kejadian itu.”

Dirga menelan ludah, matanya tampak terguncang tetapi tegas.

“Kakakku tidak pernah tahu masa lalunya. Dia hanya tahu Dante adalah duda kaya yang sederhana dan baik.”

Alina mengerjapkan mata.

Lambat.

“Jadi… kau melindungi dia ya, sekarang?”

“Aku melindungi keluargaku.”

Suara Dirga dalam dan tajam.

“Jika kau membunuh Dante, kau bukan hanya membunuh pamanmu sendiri, kau menghancurkan hidup kakakku. Kau menghancurkan keluargaku.”

Alina tertawa lebih keras.

Kini suaranya hampir seperti retakan kaca.

“KAU PEDULI PADA KELUARGAMU?”

Ia mendekat selangkah.

“LALU KELUARGAKU? IBUKU?”

Dirga diam dan itu membuat Alina merasa sesuatu dalam dirinya jatuh, bukan hancur, tetapi berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Dante, yang kini berdiri dengan bertumpu pada dinding, hanya tersenyum.

“Lihat? Bahkan anak emas perusahaanmu pun mengerti posisinya, Alina. Kau sendirian.”

Alina mendadak diam.

Wajahnya tidak marah, tidak sedih, justru tenang.

Terlalu tenang untuk seseorang yang baru dikhianati oleh orang yang memberi separuh kekayaannya padanya.

Ia menatap Dirga lurus-lurus.

“Jadi… kau sudah tahu aku bukan orang baik?" Nada suaranya anehnya lembut.

Dirga mengangguk pelan.

“Aku sudah tahu sekarang. Aku tahu kau memanfaatkan kekayaanku. Aku tahu kau menyembunyikan banyak hal, tapi aku selalu berharap, ada alasan.”

Alina mendekat sampai tinggal beberapa langkah dari Dirga.

“Kau masih mencintaiku?”

Dirga terdiam lama, "ya.”

Damai. Tenang. Mengerikan.

Alina tersenyum kecil, dingin seperti kaca es. “Bagus.”

Dirga tampak bingung. “Bagus?”

“Ya.”

Alina menatapnya dengan cara yang membuat Dirga bergidik.

“Itu artinya aku masih bisa menyesatkanmu lebih jauh.”

Wajah Dirga menegang. “Apa maksudmu?”

Alina tidak menjawab.

Ia hanya memutar pisau kecil di jarinya sambil berjalan perlahan mengitari Dirga dan Dante, seperti seekor macan yang sedang menilai kelemahan mangsanya.

Dante menyipitkan mata.

“Kau tidak bisa menang, Alina. Bahkan pria kaya bodoh itu tahu siapa aku.”

Alina berhenti.

Ia menatap paman itu.

“Tidak.” Ia tersenyum.

“Aku tidak pernah ingin menang di sini.”

Dirga menelengkan kepala, bingung.

“Alina, kumohon berhentilah.”

Namun, Alina melangkah mendekatinya, sangat dekat, menatap mata Dirga dari jarak beberapa sentimeter.

“Dirga…” Suaranya pelan, seperti bisikan yang menenangkan sekaligus berbahaya.

“Kau baru saja memilih sisi yang salah.”

Dirga menelan ludah, merasa ada sesuatu yang berubah di atmosfer ruangan.

“Aku melakukan yang benar.”

Alina tertawa kecil, tertahan.

“Akan kita lihat nanti.”

Ia menyimpan kembali pisaunya, berbalik lalu berjalan pergi dari ruangan itu tanpa menoleh sedikit pun.

Dante tampak lega.

Dirga masih terpaku, tatapannya mengikuti punggung Alina seperti seseorang menatap badai yang pergi, tapi meninggalkan ancaman akan kembali lebih ganas dan di luar gudang itu, di bawah hujan yang kembali deras,

Alina berhenti sebentar.

Ia memejamkan mata.

Senyumnya muncul, senyum yang tidak seharusnya dimiliki manusia.

“Baik, Paman dan Dirga.” Ia membuka mata.

“Aku akan membuat kalian menyesal karena merenggut hakku malam ini.”

Rencana baru mulai terbentuk di dalam pikirannya.

Rencana yang lebih halus. Lebih gelap.

Lebih mematikan daripada sekadar balas dendam.

Karena sekarang, Alina tak hanya ingin membunuh…

Ia ingin menghancurkan dan ia tahu caranya.