Bab 6 Firasat

Penulis Itsme-R
09 December 2025

Saat kamu mencintai seseorang begitu dalam, perasaanmu akan terhubung dengannya. Saking dalamnya koneksi itu, kamu mungkin bisa merasakan firasat dari sekecil apa pun perbedaan sikapnya. Percayai firasat itu, seringkali kata hatimu adalah penyelamatmu.


"Ara." Noah memanggil gadis muda disisinya tanpa sedikit pun mengalihkan pandang dari jalanan di depannya.

Sejak meninggalkan rumah sakit dan sampai mereka telah berkendara lebih dari 20 menit, Ara masih tetap bungkam hingga membuat Noah yang sudah tak lagi tahan dengan keheningan diantara mereka, membuyarkan lamunan gadis itu.

"Aku baik-baik saja." Jawabannya membuat Noah mendengus.

"Siapa yang coba kamu bohongi?" Noah menyahutinya.

Kali ini Ara menghela nafas, "Aku sungguh baik-baik saja."

"Kalau begitu hanya kepalamu yang berisik. Kamu perlu berlatih mengendalikan ekspresimu kalau tujuanmu adalah membuatku tak tahu apa isi pikiranmu," cetus Noah.

"Ajari aku kalau begitu," Ara menyahutinya.

Tawa kecil Noah terdengar setelahnya. Lelaki itu melepas satu tangannya dari kemudi dan mengarahkannya untuk mengacak rambut Ara yang sontak memberengut dan mengerang protes.

"Cukup jadi dirimu sendiri," ujar Noah.

Gadis disisinya itu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sebelum melempar pandang kembali keluar jendela. Tak ada pembicaraan diantara mereka sampai Noah melajukan kendaraannya memasuki pekarangan mansion milik orangtua Ara.

"Mereka hanya saudara tiri, bukan pasangan selingkuh."

Kata-kata ini membuat Ara menghela nafas dan menoleh ke arah Noah yang menatapnya dengan lembut, kelembutan yang sangat jarang dilihatnya.

"Ansela pernah menyukai Jerriel," Ara berkata dengan senyum muram.

Itu adalah fakta yang tak pernah diceritakannya pada siapa pun. Dirinya bahkan sangsi bahwa Gisella dan Jenandra juga menyadari yang satu ini. Ara sudah lama tahu bahwa sejak awal, Ansela yang mengenal Jerriel jauh lebih lama dibanding dirinya, menyukai sang kekasih.

"Dulu, bukan?" Noah menimpali tanpa kehilangan ketenangannya.

Ara mengangguk, "Seharusnya iya."

"Tapi?" Sebelah alis Noah terangkat saat mempertanyakannya.

Helaan nafas gadis itu kembali terdengar bersamaan dengan Ara yang kembali menatap keluar jendela dengan mata menerawang. Benaknya memutar memori dari percakapan di ruang rawat ibu Ansela tadi.

"Ah, selamat atas pernikahannya, Om." Ara mengulurkan tangan untuk menjabat ayah Jerriel yang langsung disambut pria itu.

"Terimakasih. Maaf baru memberitahu sekarang" tuturnya.

Senyum tak luntur dari bibir Ara saat Noah bergiliran dengannya untuk mengucapkan selamat. Dari sudut matanya, Ara dapat menangkap ekspresi tak suka Jerriel yang membuatnya bertanya-tanya apa penyebabnya.

"Jerriel jadi memiliki saudara sekarang. Kebetulan sekali mereka juga sudah berteman lama, jadi tak perlu waktu lama untuk beradaptasi sebagai saudara. Benar, kan?" ayah Jerriel menatap putra dan putri tirinya bergantian dengan senyum di wajahnya.

Jerriel mengangguk kaku, "Ya, Pa."

Berbeda dengan Ansela yang langsung mengamit lengan Jerriel dan menyunggingkan senyum lebar, "Tentu saja, Om. Akhirnya aku punya kakak laki-laki."

Hampir saja Ara mendengus jika tangan Noah tak mengenggamnya, seakan mengingatkannya untuk menahan diri dan menjaga sikap di depan mereka.

Noah juga yang pada akhirnya mengambil alih topik pembicaraan mereka yang berujung pada keduanya akhirnya berpamitan setelah menghabiskan hampir dua puluh menit disana.

"Ara!" langkah kaki Jerriel yang cepat, membawanya menyusul Ara dan Noah yang sedang menunggu lift tak jauh dari kamar rawat ibu Ansela.

Di belakangnya, Ansela ikut menyusul. Pemandangan itu membuat Ara menyipitkan mata sementara Noah tak mau repot menyembunyikan ekpsresi jengah yang sudah ditahannya sejak tadi.

"Bisa kita bicara sebentar?" Jerriel langsung bertanya seraya meraih lengan Ara.

Ara tak langsung menjawab. Gadis itu justru mendongak, menatap ke arah Noah berdiri menjulang disisinya. Kerutan di kening lelaki itu, membuatnya tahu bahwa Noah juga tak menyukai situasi ini.

"Aku tunggu di mobil," Noah menjawab pertanyaan tak terucap Ara dengan tegas.

Begitu Noah melangkah masuk ke dalam pintu lift yang terbuka di belakang mereka, Ara mengalihkan pandang pada Jerriel, menantinya bicara.

"Maaf," hanya satu kata ini yang keluar dari bibir sang kekasih.

"Untuk apa?" tanya Ara, jelas sekali ingin mengujinya.

"Karena tak langsung menceritakannya padamu," tukas Jerriel.

Ara menghela nafas lelah, "Sudah terlanjur. Lagipula ini urusan keluarga, aku tidak berhak ikut campur."

Jerriel mengerutkan kening tak suka pada kalimat terakhir sang kekasih, "Kamu pacarku, Ara."

"Hanya pacar. Aku bukan keluargamu. Ansela keluargamu," Ara menjawab lugas.

Mendengarnya membuat Ansela menyunggingkan senyum sinis yang membuat Ara membatin, "Lanjutkan sandiwara menjijikkan itu sebisamu, Ansela."

"Kami hanya saudara tiri," Jerriel melanjutkan penuh penekanan, lelaki itu bahkan melirik Ansela yang menegang.

"Aku mengerti. Bukankah yang penting aku sudah tahu faktanya sekarang? Jadi saat aku melihat kalian pergi atau datang berdua seperti kemarin, aku tak perlu bertanya-tanya lagi," sahut Ara.

Tangan gadis itu menekan tombol lift yang pintunya langsung terbuka dibelakangnya. Dirinya melangkah masuk dan kembali melanjutkan kata-katanya sebelum pintu lift tertutup.

"Kalian memang hanya saudara tiri. Jadi, tak ada yang perlu kukhawatirkan, bukan?"

"Ara," panggilan lembut disertai elusan di lengan atasnya, membuat lamunan Ara buyar.

Dirinya menoleh dan mendapati Noah tersenyum lembut padanya. Lelaki itu lalu menanyainya dengan nada menggoda, "Sudah melamunnya?"

Ara terkekeh, "Ya, aku sudah selesai melamun."

Noah mengangguk maklum, "Kalau kamu masih ingin melamun, kita bisa pergi satu putaran lagi."

Tawa Ara kembali terdengar. Gadis itu meraih sabuk pengaman dan melepaskannya kemudian, "Aku hanya ingin tidur setelah mendapat kejutan tak menyenangkan hari ini."

"Terimakasih sudah mengantarku, Noah," lanjutnya.

Lelaki disisinya itu mengangguk tanpa melunturkan senyum di wajah tampannya, "Anytime, Ara."


"Aku tahu kamu kesal, Kak."

Nathan yang entah sejak kapan berada di apartemennya, membuat Noah melirik sebal pada adik kembarnya itu.

"Aku akan mengganti izin akses apartemenku setelah ini," tukas Noah.

"Kalau kamu ganti izin akses apartemen ini, kasihan Ara kalau butuh tempat sembunyi," sahut Nathan.

"Ada cerita apa sampai kamu sekesal itu?" tanyanya kemudian.

Noah tak langsung menjawab. Langkah lebarnya menuju dapur, tangannya membuka pintu kulkas dan meraih sebotol air mineral dingin disana sebelum membuka dan meminumnya.

"Ayah Jerriel dan ibu Ansela sudah menikah sejak sebulan yang lalu." Noah menjawab seraya memutari kitchen island dan duduk di salah satu kursi.

"Jadi informasi yang kita dapat kemarin valid?" Nathan kembali bertanya, tak terkejut karena kembarannya itu sudah sempat menyelidiki sebelum membawa Ara ke rumah sakit.

Noah mengangguk, "Ya."

"Saudara tiri yang saling mencium bibir, luar biasa." Nathan bertepuk tangan saat mengomentarinya.

"Ara juga sudah memikirkan yang terburuk," sahut Noah.

Kening Nathan berkerut, "Maksudnya?"

"Dia tahu Ansela sudah lama menyukai Jerriel. Menurutmu dengan mereka serumah sekarang, apa kemungkinan terburuknya, Nathan?" Noah bertanya balik.

Adik kembarnya itu mengusap kasar wajahnya, "Aku jijik membayangkannya."

Noah beranjak berdiri dari posisinya lalu menepuk pelan bahu sang adik sebelum berlalu ke kamarnya, "Tak perlu dibayangkan, cukup dapatkan buktinya agar aku bisa meminta Ara belajar melangkah pergi."

"Walau aku tahu itu akan sangat menghancurkannya nanti," batin Noah.


Ara memandangi ponselnya dengan pikirannya yang terus berisik memintanya menekan tombol hijau yang sejak 15 menit lalu hanya dipandang tanpa niat digesernya.

"Telepon atau tidak?" batinnya terus menyuarakan pertanyaan yang sama sejak tadi.

Biasanya di jam ini, dia akan selalu menghubungi Jerriel entah lewat telepon atau pesan singkat, tapi kali ini Ara merasa ragu.

"Mari telepon saja," putusnya.

Tangannya lalu menggeser tombol hijau. Panggilan pertamanya tersambung ke kotak suara setelah tak kunjung diterima oleh Jerriel. Ara mencoba sekali lagi dan kembali tersambung ke kotak suara.

"Sekali lagi, mari coba sekali lagi," gumamnya.

Lagi, Ara mencoba menghubungi Jerriel yang untungnya kali ini panggilan itu diterima sang kekasih. Ara menghela nafas sebelum akhirnya mulai bicara.

"Je, kamu sibuk?"

"Sayang, maaf aku ketiduran," Jerriel menjawabnya dengan suara yang jelas seperti sedang mengatur nafas hingga membuat Ara menaikkan sebelah alisnya.

"Kamu sakit?" tanyanya.

"Aku? Tidak, aku baik-baik saja," Jerriel menyahut cepat.

Terlalu cepat sampai Ara yang sudah sangat hafal kapan sang kekasih berbohong, memejamkan mata dan berujar, "Kamu olahraga malam-malam sampai nafasmu terengah begitu?"

Kali ini Jerriel sedikit tercekat sebelum berhasil menguasai diri dan menjawabnya, "Aku terbangun karena mimpi buruk dan mendengar ponselku berdering setelahnya."

"Mimpi buruk," Ara mengulang kata itu.

"Baiklah, ambil minum lalu istirahatlah lagi. Aku hanya penasaran karena kamu belum menghubungiku sejak siang tadi," lanjutnya.

Usai mengatakan itu, Ara mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban Jerriel. Dirinya melempar ponselnya ke atas nakas dan langsung menjatuhkan diri ke bantal empuk di belakangnya.

Tangannya mengusap kasar wajah, dia jelas tahu Jerriel baru saja berbohong, tapi aktivitas apa yang membuat nafas lelaki itu sampai begitu memburu.

"Tidak, jangan berpikiran negatif," gumamnya lagi.

Drrt .. Drrt ..

Getar ponselnya membuat Ara menoleh dan meraih benda pipih itu sebelum terhenyak saat mendapati sebuah pesan singkat yang dikirim Noah disana.

Aku masih punya waktu 1 minggu di Indonesia. If you need help, I'll be there.