Drama #romansa #CEO

Bab 7 Pertanyaan Tak Terjawab

Penulis Itsme-R
09 December 2025

"Ara!"

Gadis yang namanya baru saja dipanggil itu, sedikit berjengit saat merasakan tepukan cukup keras di pundak bersamaan dengan suara cempreng Jenandra.

"Bisa bertingkah normal sehari saja?" ketusnya kemudian.

Jenandra mendengus, "Aku sudah panggil kamu lima kali. Five fucking time, Ara."

"What's wrong with you?" imbuhnya.

Mendengarnya membuat Ara mengerjapkan mata bak orang linglung. Netranya menangkap keberadaan Gisella yang sudah duduk di depannya dengan tatapan khawatir.

"Kamu melamun lama. Matamu kosong, Ara." Gisella berujar dengan kekhawatiran yang tak disembunyikannya.

Tangan Ara bergerak memijit keningnya yang berdenyut, "Aku baik-baik saja. Hanya sedang ada yang kupikirkan."

"Dan apa itu?" Jenandra sedikit mendesaknya kali ini, ditambah dengan Gisella yang mengangguk setuju.

Ara menatap kedua sahabatnya itu bergantian sebelum akhirnya memutuskan bercerita, "Ini rahasia, tolong jangan sampai tersebar dan jangan lakukan apa pun karena semuanya hanya pemikiran burukku."

Dengan satu anggukan kompak dari Jenandra dan Gisella, Ara langsung menceritakan tentang kejadian kemarin di rumah sakit bersama orangtua Jerriel dan Ansela serta status mereka berdua sekarang. Bukan hanya itu, Ara juga menceritakan kejadian semalam dan tentang kecurigaannya pada sikap Jerriel.

"Jadi selain fakta bahwa sekarang mereka saudara tiri, kamu juga mencurigai Ansela berusaha menggoda Jerriel?" Gisella menyimpulkan seluruh cerita Ara.

Ketika temannya itu mengangguk, Gisella menghela nafas, "Tapi kamu tak punya bukti konkrit."

"Ya, karena itulah ini jelas hanya pemikiran negatifku," tutur Ara.

Dirinya lalu menoleh pada Jenandra yang tak berkata apa pun lagi sejak Ara mulai bercerita, "Jen?"

Jenandra menghela nafas kasar. Lelaki itu tak langsung menjawab dan justru menatap Gisella sebelum menanyainya.

"Dimana Hito?"

Gisella mengerutkan kening, "Dia ada urusan dengan perwakilan OSIS yang akan mengurus acara kelulusan kita nanti. Kenapa?"

"Sepertinya aku perlu bicara dengan pacarmu itu tentang Jerriel," jawab Jenandra.

"Membicarakan penyebab memburuknya hubungan mereka?" tebak Ara.

Jenandra mengangguk, "Ya. Aku cukup mengenal Hito untuk tahu dia tak akan memutus pertemanan jika itu bukan karena kesalahan fatal. Berharap saja ini tak berhubungan dengan kecurigaanmu barusan."


"Mereka sama sekali tak keluar dari rumah sejak semalam sampai siang ini, tuan muda. Bahkan melewatkan jam sekolah hari ini," seorang pria paruh baya melaporkan hasil pengamatannya pada Noah yang mendengarkannya dengan seksama.

"Baiklah, hari ini sudah cukup. Aku hanya ingin tahu itu saja. Terimakasih sudah membantuku, Pak Deni." Noah menyahut seraya beranjak berdiri dari kursinya dan meraih kunci mobil sport mewahnya.

"Anda akan pergi, tuan muda?" tanya pria itu lagi.

Noah mengangguk, "Kalau orangtuaku bertanya, tolong katakan pada mereka aku menjemput Ara sesuai permintaan Om Zayn."

"Saya mengerti." Pak Deni mengangguk dan mempersilahkan tuan mudanya itu untuk pergi.

Setengah jam kemudian, Noah telah berada di dekat gerbang sekolah Ara. Dirinya memutuskan tetap berada di dalam mobil, menunggu gadis itu keluar.

Tuk .. tuk .. tuk ..

Suara kaca mobilnya yang diketuk disisi penumpang, membuatnya menoleh dan seketika keningnya berkerut ketika mendapati Jenandra lah pelakunya. Noah keluar dari mobilnya dan berputar menghampiri salah satu sahabat Ara itu.

"Ada apa?" tanyanya.

Hanya dari ekpsresi yang ditunjukkan Jenandra, dia tahu ada masalah serius yang mungkin berhubungan dengan Ara.

"Aku baru selesai bicara dengan Hito soal Jerriel," Jenandra memberitahunya.

Lelaki berseragam SMA itu menghela nafas kasar seraya mengutak atik ponselnya dan menunjukkan sesuatu disana yang membuat mata Noah sedikit melebar.

"Dia memberikanku ini," Jenandra melanjutkan kata-katanya.

"Aku tak tega langsung memberitahu Ara. Mungkin Kak Noah bisa membantu memberitahunya."

"Kirimkan padaku," titah Noah.

Jenandra mengangguk dan langsung mengirimkan apa pun yang ditunjukkannya barusan pada Noah. Saat selesai, sebuah suara menginterupsi mereka.

"Noah?" Ara yang baru keluar melewati gerbang sekolah, menghampiri mereka dan bertanya dengan alis bertaut heran.

Ekspresi Noah yang tadinya datar, sontak berubah. Seulas senyum kecil muncul di wajah tampannya yang membuat Jenandra sedikit terkejut oleh cepatnya ekspresi lelaki itu berubah.

"Papamu memintaku menjemputmu. Om Zayn ada meeting bersama ayahku," tutur Noah, menjelaskan alasannya menjemput Ara tanpa diminta.

Ara mengangguk paham. Sang Ayah memang sudah sempat memberitahunya lewat pesan beberapa saat lalu. Tapi yang membuatnya heran adalah Jenandra yang menemui Noah.

"Urusan kalian sudah selesai?" tanyanya.

Jenandra lah yang mengangguk, "Kami sudah selesai. Aku tadi hanya ingin menanyakan lowongan kerja di Skylar."

"Oh." Ara mengangguk-angguk tanpa ambil pusing lebih jauh pada alasan yang dikemukakan sahabatnya itu.

"Ayo pergi," Noah memutuskan mengakhiri pembicaraan itu dan menggiring Ara masuk ke dalam mobilnya sebelum melaju pergi.

"Ingin mampir dulu?" tawar Noah saat mereka melaju di jalan raya tak jauh dari lokasi sekolah gadis itu.

"Mall? Boleh," sahut Ara.

Noah mengangguk dan mengarahkan mobilnya menuju salah satu mall. Setengah jam kemudian, keduanya telah berada di dalam mall, berkeliling atau lebih tepatnya Ara lah yang menikmati acara jalan-jalan dadakan itu.

"Itu cocok untukmu," Noah berkata saat melihat Ara menjajal sebuah sepatu.

"Benarkah? Jerriel tak pernah menyukai saat aku memakai high heels," tutur Ara.

Gadis itu lalu beranjak dari posisinya seraya melepaskan sepatu di kakinya, berniat mengembalikan sepatu itu ke etalasenya. Namun geraknya terhenti ketika tangan Noah meraih sepasang sepatu di tangannya, menuntunnya kembali duduk ke salah satu kursi yang tersedia lalu berlutut dengan satu kaki di depannya.

Lelaki itu memasangkan lagi sepatu itu di kaki Ara dan tersenyum lembut saat melihat kaki gadis itu telah terbalut sepasang high heels yang memang cocok di kakinya.

"Dia mungkin hanya mengkhawatirkanmu yang seringkali ceroboh saat berjalan apalagi dengan sepatu setinggi ini, tapi bukan berarti kamu tak boleh membeli atau memakainya sama sekali," ujarnya halus.

"A good shoes take you to good places," pungkasnya.

"Aku merasa kamu bukan membicarakan sepatu," sahut Ara.

Kekehan kecil lolos dari bibir Noah saat lelaki itu mengangkat wajah dan menatap tepat ke sepasang mata jernih Ara, "Ini memang bukan tentang sepatu."

Lelaki itu bangkit dari posisinya lalu menoleh dan menemukan seorang pramuniaga yang berdiri tak jauh dari posisi mereka sekarang, "Saya ambil sepatu ini, tolong proses pembayarannya."

Pramuniaga itu mengangguk, "Baik, tuan muda."

Ara mengerjapkan mata, "Aku lupa mall dan sebagian besar toko disini ada dibawah naungan perusahaan milik keluargamu."

"Dan itu berarti kamu bebas berbelanja apa pun yang kamu inginkan, Ara." Noah mengulurkan tangan, bermaksud membantu gadis itu berdiri yang langsung disambut.

Usai menyelesaikan transaksi, mereka berdua meninggalkan toko itu dengan Noah yang menenteng sebuah tas belanja berisikan sepatu lama Ara. Kaki gadis itu telah terbalut heels yang baru saja dibelinya.

"Sekarang kita harus mencarikan pakaian ganti yang cocok untuk sepatu itu," tukas Noah.

"Aku merasa seperti kamu sedang berusaha mendandani Cinderella," cetus Ara.

Noah melepas tawanya lagi, "Masa putri tunggal Zayn Abimana kusebut Cinderella."

Seperti yang dikatakannya, Noah membawa Ara memasuki salah satu toko pakaian branded dan memilihkan beberapa pakaian yang lalu dijajal gadis itu di dalam ruang ganti khusus.

Ara pada akhirnya memilih sebuah dress santai sepanjang lutut berwarna pastel yang cocok dengan heels yang membalut kakinya.

Keduanya kembali menyusuri mall, kali ini dengan beberapa tas belanja di tangan Noah. Ara memasuki beberapa toko lain dan berakhir dengan menambah tas belanja lagi di tangan lelaki itu.

"Lapar?" tanya Noah saat mereka baru saja keluar dari sebuah toko buku.

"Um-hum, aku lapar." Ara menyahut sambil memegang perutnya yang membuat Noah tersenyum dan mengelus puncak kepalanya.

"Pilih restoran manapun yang kamu inginkan," ujarnya.

Ara mengangguk penuh antusias lalu mengarahkan kakinya menuju salah satu restoran favoritnya. Noah lah yang lalu memesankan makanan untuk mereka sebelum lelaki itu menyusul ke meja yang telah dipilih Ara.

"Kenapa cemberut?" Noah langsung bertanya heran saat melihat Ara sedikit mencucurkan bibirnya.

"Jerriel tak membalas pesanku sejak tadi pagi," ujar Ara.

"Mungkin dia sedang berada di rumah sakit menjaga ibu tirinya," Noah menimpali menenangkannya.

Ara mengangguk-angguk, memutuskan tak memperpanjang topik itu sampai akhirnya makanan mereka datang. Keduanya langsung mulai menikmati makanan dengan sesekali diiringi obrolan ringan sampai akhirnya netra tajam Noah menangkap sosok yang ditunggu pesannya oleh Ara.

Lelaki itu memutuskan diam tanpa niat memberitahu Ara dan membiarkan si gadis menyelesaikan acara makannya. Ketika akhirnya mereka selesai, Noah menggiring Ara keluar dari area restoran dan kembali menyusuri mall.

Drrt .. drrt ..

Ara langsung memeriksa ponselnya saat benda pipih itu bergetar tanda pesan masuk dan senyumnya langsung terkembang saat mendapati Jerriel akhirnya membalas pesannya.

"Dimana dia?" pertanyaan Noah membuat gerak jemari Ara yang akan membalas pesan itu, terhenti.

"Apa maksudmu?" Ara bertanya balik.

"Dimana Jerriel sekarang?" Noah memperjelas pertanyaannya.

"Dia bilang di rumah," sahut Ara.

Noah mengangguk dan kembali melangkah tanpa menjelaskan maksudnya pada Ara yang langsung menyusulnya dengan alis bertaut.

"Bisa jelaskan apa maksudmu?" desak Ara.

"Lebih baik tanyakan langsung pada kekasihmu semua kecurigaan di kepalamu itu, Ara." Noah menghentikan langkah sembari menjawabnya.

"Kecurigaan itu hanya firasat tanpa bukti," cetus Ara.

Kali ini Noah tersenyum simpul, "Kamu hanya perlu meminta jika membutuhkan bantuanku untuk mendapatkan buktinya."

Ara tercekat saat mendengarnya, namun yang membuatnya semakin tak bisa membalas Noah adalah pertanyaan lelaki itu setelahnya.

"Tolong jawab ini, apa yang akan kamu lakukan begitu mendapatkan bukti dari kecurigaanmu? Bisakah kamu meninggalkannya tanpa melukai dirimu sendiri? Kamu sudah cukup banyak menanggung luka, Ara. Satu luka lagi dari orang yang kamu anggap dekat, akan menghancurkanmu."

Senyum kecil di wajah Noah membuatnya tahu lelaki itu begitu mengkhawatirkannya, "Terkadang ketidaktahuan adalah berkat."