Bahkan sampai Arga berangkat kerja dan kemanapun lelaki itu pergi hingga pulang kerja tetap saja para pengawal yang sudah papanya atur untuk menemani Arga terus menempel padanya seolah tidak bisa sedetik saja jauh dari sisi lelaki itu.
Adrian mengetuk pintu ruang kerja Arga dan masuk ke dalam di mana saat itu ia melihat kedua orang yang sedang menjaga bosnya itu di kedua sisi kursi yang Arga tempati.
"Tidak bisakah mereka berdua ini keluar sebentar saja karena aku ingin membahas sesuatu yang penting denganmu?" ucap Adrian pada Arga yang lalu membuat Arga hanya menoleh dan menatap ke arah asistennya tersebut sembari menghela nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Terlihat lelaki itu kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali tanda kedua lelaki yang tengah menjaganya itu tidak bisa jauh-jauh darinya.
"Kenapa tidak bisa? di sini di dalam ruangan ini hanya ada kita saja tidak ada orang lain apalagi orang yang akan berniat jahat denganmu," ucap Adrian kemudian pada Arga yang lalu membuat lelaki itu hanya bisa mengabaikan ucapan Adrian tersebut.
"Apakah sebegitu terancamnya nyawamu sampai-sampai pengawal itu ada di kedua sisimu 24 jam seperti ini?" ucap tanya Adrian kemudian yang membuat Arga hanya bisa berdiri dari tempatnya kemudian berhadapan dengan Adrian di sana.
"Sejak kapan aku membutuhkan bodyguard? seterancamnya nyawaku sekhawatirnya aku, Aku tidak pernah meminta seseorang mengawalku sampai sedekat ini asal kau tahu saja mereka berdua adalah suruhan Papa dan Mama karena malam ini adalah jadwal makan malam dan kunjungan keluarga Aditama ke rumah, Papa dan Mama menggunakan cara ini untukku agar aku tidak kabur," ucap Arga dengan jawabannya yang lalu membuat Adrian yang langsung tertawa terbahak-bahak di mana ia tidak bisa menahan tawanya saat itu ketika melihat sahabat serta Bosnya itu diperlakukan bak tawanan oleh kedua orang tuanya.
Sedangkan sore itu di tempat Zoya berada. Setelah semalam ia pulang hampir pukul dua dini hari. Ia tidur cukup lama hari itu. Hingga sore tiba dan ia terbangun karena merasa ia sudah tidur cukup lama. Ia tersentak begitu terkejut saat ada beberapa orang wanita dengan pakaian rapi dan tangan terlipat ke depan Tengah berdiri berjajar di samping salah satu sisi ranjangnya.
"Mama!" teriak Zoya saat itu karena ia begitu terkejut namun mamanya pun segera berhambur dan datang ke arah putrinya berada.
"Ada apa Sayang kenapa kamu teriak-teriak begitu?" tanya mama kemudian.
"Ada apa dengan orang-orang ini Mama kenapa mereka ada di sini di kamarku?" ucap tanya Zoya saat itu karena memang ia belum mengerti tentang keberadaan beberapa orang di sana meskipun Zoya saat itu bisa melihat ada beberapa deret pakaian dan juga peralatan make up tersaji di atas meja yang tidak jauh dari tempatnya berada.
"Kenapa masih bertanya sayang bukankah malam ini ada acara makan malam di tempat calon suami kamu sudah pasti mereka ada di sini untuk mendandani putri Mama agar terlihat cantik jelita bukankah ini adalah pengalaman pertama kita bertemu dengan mereka jadi Mama ingin kamu terlihat sempurna dan tidak ada sedikitpun cela," ucap mama kemudian yang memberitahu jika ternyata beberapa orang yang ada di sana khusus Mama datangkan untuk kepentingan makan malam.
"Apakah mama sebegitu tidak percayanya padaku sampai-sampai mama mendatangkan mereka hanya untuk mendandaniku saja?" ucap gerutu Zoya saat itu dalam hati dan akhirnya wanita itu pun tidak memiliki pilihan lain selain menurut pada mamanya.
Dan tepat pukul enam malam Zoya zelesai dengan aktivitasnya. Saat itu ia mengenakan gaun warna merah muda dengan bagian atas yang sedikit terbuka menampakkan tulang selangka Zoya yang tampak indah dan gaun tersebut tampak selaras dengan kulit tubuh Zoya yang putih bersih dan dipadukan dengan rambut yang ditata menyamping hingga menampakkan jenjang leher Zoya yang begitu sempurna. Papa dan mamanya terpana ketika melihat sang putri yang tengah berjalan menuruni anak tangga menuju ke arah mereka. tampak Papa dan Mama Zoya terpukau menatap kecantikan dan keindahan putrinya di sana. Zoya juga bisa menebak jika pastinya orang lain yang melihatnya pun akan memiliki ekspresi yang sama.
"Apakah ini bisa diartikan kalau kedua orang tuaku sengaja mendandani ku seperti ini kenapa rasanya seperti mereka akan menjualku? apakah sebegitu Papa bangkrutnya sampai-sampai ia tidak memiliki koneksi lainnya selain keluarga rivalnya itu? aku merasa keluargaku seperti tidak punya harga diri saja kalau seperti ini ceritanya tapi kalau memang papa melakukan hal itu menjatuhkan harga diri yang selama ini tidak pernah Papa lakukan bukankah itu artinya memang perusahaannya sedang gawat darurat? lalu kenapa aku sebagai seorang putri tidak bisa untuk membantu papa? ya meskipun aku harus mengorbankan diri hanya untuk bisa menjadi pendamping Putra keluarga mereka yang gosipnya tidak pernah bersentuhan dengan wanita itu, pertapa dingin!" ucap gerutu Zoya saat itu dalam hati.
"Baiklah sayang ayo kita berangkat," ucap Mama Zoya kemudian pada sang putri yang lalu segera menggandeng tangan Zoya dan mengajaknya menuju ke arah mobil.
Sedangkan di tempat Arga berada.
"Astaga anak ini! kau sengaja ingin mempermalukan Papa dan Mama di acara penting ini? kau harusnya menunjukkan jati dirimu sebagai penerus keluarga Sanjaya Arga! Apa kamu tidak mau papa kamu sembuh? papa mu sudah sakit seperti ini. Papa hanya ingin melihat segera anak darimu lahir tapi kenapa kamu malah seperti ini? kalau kamu memiliki calon istri mungkin kami akan mempertimbangkannya tapi kamu tidak memiliki wanita yang dekat dengan kamu apalagi calon istri dan sekarang kamu juga sepertinya tidak ingin menghadiri acara makan malam ini yang ada di rumah kita. Mau kamu Apa? kamu mau papa kamu ini cepat mati?" ucap papa Arga saat itu ketika melihat putranya yang tengah bersantai di dalam kamarnya dan belum berganti pakaian.
"Apakah sepenting itu acara makan malam ini untuk keluarga kita?" ucap tanya Arga kemudian. Dimana ia merasa tanpa dukungan keluarga Aditama pun mereka bisa melambung tinggi. Dan alasan papanya sakit itu tidak membuat keadaan berbalik memusuhinya.
"Tentu saja sangat penting. Ini adalah pertemuan pertama keluarga besar kita dan keluarga besarnya! jadi kau jangan sampai mengecewakan Papa dengan keadaanmu yang seperti ini, tunjukkan pada mereka bahwa tuan muda dari keluarga Sanjaya penerus satu-satunya keluarga kita adalah lelaki tampan yang sempurna dan begitu menjanjikan dan sudah pasti bisa meyakinkan mereka jika kau tidak akan pernah menyulitkan putri mereka dan menyakiti Putri mereka apakah sekarang kau paham sebegitu pentingnya penampilanmu malam ini agar mereka tahu kau adalah lelaki terbaik dan mereka tidak akan pernah rugi memilihmu untuk Putri mereka," ucap Rama Sanjaya saat itu pada putranya.
"Kenapa Papa begitu takut dan begitu khawatir tentang penilaian mereka tentangku? kalaupun aku tidak masuk kriteria mereka sebagai calon menantu mereka Ya sudah, apakah tidak ada gadis lain dari keluarga berada lainnya selain mereka yang menjadi kandidat calon menantu papa?" ucap gerutu Arga kemudian.
"Tidak ada! coba kau pikirkan lagi apakah ada kandidat lain selain Putri keluarga Aditama?" ucap Rama Sanjaya lagi. Dan saat itu Arga pun mulai mengingat-ingat kembali apakah ada wanita lain yang tingkatannya setara dengan keluarganya. Dan memang hanya anak dari keluarga Aditama itu yang setara dengan keluarganya. Selama bertahun-tahun lamanya kedua keluarga besar itu selalu bersaing namun tidak pernah ada yang menang ataupun kalah bisa dibilang mereka memang setara dibandingkan dengan keluarga besar lainnya.
"Emb... memang yang sebanding dengan keluarga kita hanya keluarga Aditama," sahut Arga kemudian.
"Nah! kalau begitu Papa tunggu kau dengan penampilan terbaikmu malam ini," sahut Rama Sanjaya kemudian.