Drama #Romance

Bab 8 HARUSKAH AKU GANTI WARNA BIRU TUA DAN MERAH MUDA?

09 December 2025

Arga hanya mendengus sesaat sembari menatap kepergian papanya dari ruangan.

"Apa sih yang papa pikirkan? papa khawatir sekali kesan pertamaku pada keluarga mereka jelek. Kalau memang mereka nggak mau dan nggak setuju aku jadi menantu mereka ya sudah! papa nggak tahu saja putri keluarga mereka seperti apa di luaran sana, kita lihat saja nanti. Kalau papa nggak sakit, nggak mungkin aku mau!" ucap gerutu Arga dalam hati. Akhirnya dengan perasaan malasnya Arga segera beranjak dari tempat dan mulai dengan aktivitasnya.

Dan di tempat Zoya berada. Mobil yang asisten papanya kendarai sudah memasuki area rumah megah keluarga Sanjaya di iringi beberapa mobil di belakangnya yang berisi beberapa pengawal keluarganya. Meski bagi Zoya rumah itu tidak terlalu membuatnya terpukau karena hampir sama seperti rumahnya. Namun ada satu sisi yang membuat Zoya terus menatapnya. Ya, ada satu sudut di taman rumah itu yang berisi bunga gardenia putih yang bemekaran dan cantik. Hingga ia teringat akan teman curhatnya di salah satu aplikasi game yang dulu sering menemaninya hingga teman itu hilang dan tidak pernah muncul lagi membuat Zoya akhirnya memutuskan untuk tidak bermain game tersebut lagi.

"Ada apa sayang?" tanya mama Zoya saat melihat putrinya menatap lekat di salah satu sudut.

"Akh... tidak ada apa-apa ma..." sahut Zoya kemudian. Hingga mereka tiba di depan teras rumah tersebut dan di sana tampak Rama Sanjaya beserta istri dan beberapa asisten rumah tangga tengah menyambut kedatangan mereka. Dan tidak nampak lelaki spesial yang akan menjadi tunangan Zoya di sana.

"Ck, sudah aku duga kau akan menghindari acara makan malam ini," ucap dalam hati Zoya. Akhirnya Zoya dan mama serta papanya pun segera turun dari dalam mobil di susul beberapa orang pengawal yang mengikuti mereka. Namun mereka tidak boleh ikut masuk ke dalam bersama dengan mama dan papa serta Zoya.

"Selamat datang calon besan... selamat datang calon menantu," sapa Rama Sanjaya yang lalu merangkul Aditama di sana sebagai tanda selamat datang baginya. Begitu juga dengan mama Arga yang menyambut kedatangan mama Zoya dan juga wanita itu.

"Astaga... Zoya anggun sekali jeng... cantik ya... ayo masuk, masuk... di luar dingin," ajak mama Arga pada ketiga orang yang ada di sana.

"Maaf... kami hanya membawa sedikit bingkisan saja Jeng malam ini," ucap mama Zoya sembari memberi isyarat pada beberapa pengawal yang sedari tadi tengah membawa barang yang sudah di kemas dari rumah Zoya dan segera membawanya mendekat ke arah mama Arga.

"Astaga Jeng... kenapa repot-repot segala sih... terimakasih banyak lo..." ucap mama Arga yang lalu mempersilahkan para pengawal itu masuk dan di sambut oleh asisten rumah tangga keluarga Rama yang sudah berjajar di sana. Semua orang pun tampak senang dan melangkah masuk ke dalam. Mereka semua duduk di ruang keluarga. Tampak semua orang tengah berbincang-bincang dan tinggal Zoya di sana yang sendirian.

"Sayang... Arga ada di kamarnya kalau kamu mau ajak dia turun... nggak apa-apa kok, atau kamu bisa lihat-lihat kamarnya, anggap saja rumah sendiri ya..." ucap mama Arga saat itu pada Zoya yang lalu membuat wanita itu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya beberapa kali tanda ia mengerti. Zoya pun segera beranjak dari tempatnya dan sebelum wanita itu melangkahkan kakinya terdengar suara mama Arga yang berbicara lagi.

"Kamarnya yang tepat di depan ujung anak tangga ya sayang, ruang pertama setelah naik," ucap mama Arga pada Zoya yang lagi-lagi disambut dengan anggukan kepala saja oleh wanita itu. Akhirnya Zoya pun segera berjalan meninggalkan tempat dan menaiki anak tangga menuju ke lantai dua rumah megah tersebut.

"Hemz... bosan. Mereka bertemu hanya membahas bisnis. Aku nggak suka," ucap Zoya hingga ia merasa sedikit terhibur saat tahu ia akan bertemu dengan seseorang yang mungkin akan menjadi lawannya atau malah menjadi sekutunya kelak. Zoya menghentikan langkah kakinya saat ia sudah tiba di depan pintu kamar Arga. Tangannya mengetuk beberapa kali sebelum terdengar suara sahutan dari dalam yang mempersilahkannya untuk masuk ke dalam.

"Masuk ma!" ucap Arga yang mengira mamanya yang saat itu tengah mengetuk pintu kamarnya. Zoya hanya tersenyum sekilas sembari membuka pintu kamar dan saat itu ia melihat sosok lelaki gagah yang tengah memakai pakaian lengkap tengah berdiri di depan kaca cermin yang ada di dalam kamar itu. Arga tersentak saat melihat Zoya dari pantulan kaca cermin yang berjalan masuk ke dalam kamar tersebut. Sontak Arga pun segera berbalik ke arah Zoya berada dan keadaan lelaki itu masih belum menfancingkan satu pun kemeja yang ia kenakan dan terlihat otot perutnya yang tertata bak roti sobek bertingkat itu pun memukai kedua mata Zoya di sana. Zoya tidak terkejut hanya menatapnya tanpa kedip saja.

"Kenapa kau ada di sini?" tanya Arga sembari sibuk mengancingkan kancing kemejanya.

"Tentu karena undangan papa dan mama mu kan?" ucap Zoya dengan balasannya.

"Maksudku kenapa kau bisa masuk ke kamarku? siapa yang memberi izin?" tanya Arga lagi dengan nada suara sedikit meninggi.

"Kau kan yang memintaku masuk tadi? ya aku masuk lah," sahut Zoya dengan santainya.

"Baru pertama datang saja kau sudah berani masuk kamarku, mau kamu..." ucap Arga yang tertahan karena Zoya sudah menyahutnya kembali.

"Mama kamu yang memintaku naik ke kamar kamu ini, kenapa sih berisik sekali? belum pernah tepanjang di depan wanita ya? roti sobek begitu ma sudah sering kali aku lihat," sahut Zoya kemudian dengan nada ketusnya.

"Kau!" ucap Arga lagi yang tertahan dan hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam laku menghembuskannya. Bagi Arga berdebat dengan wanita jelas bukan tipenya. Terlebih lagi wanita itu adalh calon istri yang papanya pilihkan untuknya. Arga lalu menghadapkan tubuhnya kembali ke arah cermin yang ada di depannya dan sibuk kembali dengan aktivitasnya. Sedangkan Zoya hanya bisa menatap setiap sudut kamar lelaki itu yang bernuansa abu-abu bercampur hitam khas lelaki misterius.

"Kenapa harus abu-abu dan hitam sih? perpaduan yang nggak banget," ucap gerutu Zoya kemudian. Dan hal itu di dengarkan oleh Arga.

"Kenapa? haruskah aku ganti biru tua dan merah muda khas wanita yang sok jaim?" ucap Arga saat itu yang menimpali ucapan Zoya di sana.

"Boleh kalau kau mau dan suka," balas Zoya dengan seenaknya. Ia lalu duduk di tepian ranjang dan mengangkan salah satu kakinya kemudian menyilangkannya di sana. Arga bisa melihat belahan gaun panjang itu mulai dari ujung kaki sampai hampir batas pangkal paha Zoya yang tampak begitu terbuka.

"Hemz... wanita anggun dan sopan kata papa, anggun darimananya kalau bentukannya begitu. Sopan darimananya kalau di depan lelaki saja sengaja memperlihatkan jenjang kakinya," ucap Arga yang berusaha menyadarkan Zoya dengan tingkahnya. Namun pose itu adalah pose ternyaman Zoya saat itu jelas wanita itu menyadari apa yang ia lakukan.

"Kenapa? haruskah papa dan mamamu juga harus tahu jika putranya suka menatap jenjang kakiku?" ucap Zoya kemudian dengan ucapan menohoknya.