Cukup sulit untuk menjaga emosi—terutama ekspresi wajah—ketika Kael menatap Ezra. Semua detail yang ada di dalam dokumen tadi masih tercetak jelas dalam pikirannya. Ezeriah Roux, mungkinkah betul Ezra?
Dari foto memang sama. Namun Kael tak menutup mata dengan wajah beberapa orang yang terkadang mirip. Lebih dari itu, sebenarnya ia merasa takut membuat Aurora kecewa. Hal itu membuatnya menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil langkah.
“Jangan bilang kau mulai menyukaiku.” Ezra menyeringai, sadar dengan sorot tajam Kael yang tak lepas darinya sejak duduk di meja makan, lima menit yang lalu.
Jika bukan karena Aurora yang saat ini tengah menatapnya—memastikan tidak ada pertengkaran—pasti pisau steak di genggaman kanannya telah dilempar ke arah kening pria itu.
Namun detik berikutnya, ucapan Luther tadi siang kembali terngiang. Ada hal lebih penting yang harus ia lakukan saat ini selain menargetkan lubang kecil di kening pria itu. Dengan terpaksa, sudut-sudut bibirnya tertarik kaku. “Sekali lagi kau mengucap omong kosong, aku akan menendangmu dari rumah ini.”
Aurora memutar bola matanya, mulai lelah dengan hari-hari penuh pertengkaran. “Hari ini kau lebih pemarah, Husband,” ucapnya.
Kael mendengus. Bagaimana ia tidak menjadi lebih pemarah jika ada hal besar yang telah lolos dalam pantauannya. Dan sialnya, hal besar itu dilindungi oleh istrinya sendiri secara terang-terangan.
“Aku selalu seperti ini.” Kael menyuap steak-nya.
Nyatanya, menjadi ramah adalah hal tersulit dalam lembar hidupnya—terutama pada Ezra. Beberapa kali matanya mengarah tajam pada pria itu, mencari-cari topik pembicaraan yang bisa digunakan untuk mencari informasi mengenai siapa Ezra sebenarnya.
Terlalu berhati-hati dengan perasaan Aurora membuatnya tidak bisa berpikir lebih leluasa.
“Kau tahu, Kael…” Aurora meletakkan garpunya di atas piring. Steak-nya masih separuh, tapi kilatan matanya terlihat menggoda. “Seharian… Celeste tampaknya menunggumu pulang.”
Sebelah mata Kael berkedut pelan. Fokusnya tentang mencari celah untuk mengorek informasi langsung buyar. Pembahasan Celeste tidak ada dalam rencananya. “So what?”
“Itu artinya dia masih berharap untuk bertemu denganmu.” Aurora mendengus, terdengar kesal sekalipun jelas itu bukan ulah suaminya. “Kurasa dia akan terus di sini kalau tadi tidak menerima telepon penting.”
Kael mengambil segelas air di sebelah tangannya, menyesapnya dua kali dan diletakkan kembali sebelum berkata, “bukan urusanku. Aku tidak pernah mengundangnya kesini,” ujarnya, sambil melirik tajam pada Ezra.
“Oh… gosh!” Ezra terbatuk pelan. “Dia hanya berusaha bertanggung jawab atas tanganku. Siapa sangka kalau dia adalah mantan tunanganmu.”
Kael mendesah, semua ucapan Ezra terdengar sampah di telinganya. Ada keinginan untuk menyuruh Ezra tinggal di apartemennya saja, atau… dirinya dan Aurora yang pergi dari sana. Namun, musuh yang terlanjur mendekat tidak akan ia biarkan pergi begitu saja. Setidaknya, malam ini sidik jari pria itu harus diamankan.
“Apakah Celeste bilang ingin bertemu dengan Kael?” tanya Aurora pada Ezra, matanya tampak berapi-api.
“Tidak sama sekali,” ucap Ezra, tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya yang masih penuh. “Dia hanya fokus untuk membantuku beraktivitas. Kurasa dia sudah move on.”
“Kau yakin?” Aurora jelas sedang mengejar jawaban tentang rasa penasarannya.
Ezra mengedikkan bahu. “Yang cedera tanganku, Rora, bukan telingaku. Sejauh ini, Celeste hanya mengeluh karena harus bertanggung jawab atas tanganku.”
“Kalau kau tidak nyaman, aku bisa mencarikan orang untuk membantu Ezra.” Kael dengan cepat menengahi. “Aku tidak mau kau terus curiga tentang hubungan kami.”
Hubungan kami, huh? Dari cara Kael mengatakannya, Aurora langsung menyimpulkan seolah hubungan mereka pernah terjalin dengan erat—atau masih. Pikirannya tak bisa tenang semenjak Celeste menginjakkan kaki di rumah ini.
“Aku tidak curiga,” ucap Aurora cepat. “Aku hanya mulai membayangkan bagaimana kau dulu berhubungan dengannya.”
Ezra tersedak pelan. Bagaimana jadinya jika Aurora mengetahui bahwa suaminya dulu pernah berbagi tubuh dengan Celeste. Hei, bukankah itu hal yang baik? Mungkin, pertengkaran dua orang ini akan semakin memanas jika Aurora mengetahuinya? Sekarang pun ia bisa melihat api cemburu di sorot mata wanita itu.
Kael meletakkan garpunya, mengelap mulutnya sekilas dan menatap tegas pada Aurora. “Pembicaraan ini sudah pernah kita bahas, Rora. Kalau kau hanya ingin bertengkar denganku, lebih baik cari alasan lain yang lebih baik daripada mengungkit hubunganku dengan Celeste.”
Kael berdiri, berbalik dan segera berjalan ke arah ruang kerjanya tanpa mengucap sepatah kata lagi, bahkan tak menoleh sedikit pun pada Aurora.
Canggung sesaat. Ezra menghela napasnya panjang. Situasi yang ia harapkan telah terjadi, retakan halus dalam hubungan yang tadinya terlalu kuat. Pria seperti Kael, egonya akan terluka ketika Aurora mulai tidak memercayainya. Sementara Aurora, kepercayaan dirinya akan mulai terkikis perlahan ketika Kael mulai lelah dengan pembicaraan yang terus berlanjut, seolah tak memiliki ujung.
Ezra telah memikirkannya dalam-dalam. Permainan psikologis adalah satu-satunya cara yang ampuh untuk mengacau sebuah hubungan, meskipun harus melalui proses panjang.
“You… okay?” tanya Ezra, tatapannya terlihat cemas.
Aurora mengerjap beberapa kali, berusaha bersikap normal di hadapan Ezra. “Fine, why?”
“Well… aku belum pernah melihat kalian seperti ini. Apakah… tadi itu kalian bertengkar?” Ezra mulai memancing.
Aurora kembali mengedipkan matanya beberapa kali. Apakah ia baru saja bertengkar dengan Kael? Tak ada bentakan, tak ada perdebatan seperti yang sering mereka lakukan di awal pernikahan dulu. Namun kenapa dadanya terasa sesak? “Apakah kami terlihat baru saja bertengkar?”
Ezra mengedikkan bahu. Perubahan ekspresi Aurora tidak luput dari perhatiannya. “Kurasa begitu. Bertengkar tidak harus saling bentak, kan? Kupikir… dia sedang berusaha menghindar.”
Menghindar? Kenapa harus begitu?
Aurora menoleh pada pintu ruang kerja Kael yang telah tertutup. Jika benar tidak ada lagi rasa yang tertinggal, kenapa Kael harus menghindar darinya? Bukankah lebih baik dibicarakan bersama agar tidak ada kecurigaan lagi? Selama ini tidak ada kepastian pada jawaban suaminya.
“Kalau begitu… ya… kami baru saja bertengkar,” gumam Aurora. “Tapi… kenapa dia menghindar?”
Ezra masih menatap Aurora lekat-lekat. “Biasanya… orang akan menghindari ketika ada sesuatu yang disembunyikan. Mungkin dia tiba-tiba pergi karena kau terlalu menekannya.”
Aurora terdiam. Benarkah ia terlalu menekan Kael? Apakah mempertanyakan perasaan Kael yang sebenarnya pada Celeste adalah suatu penekanan?
“Aku hanya ingin tahu… apakah Celeste sudah benar-benar tidak ada di hatinya Kael.” Aurora mengakui perasaannya.
Seringai Ezra tertarik samar ketika Aurora menunduk. Namun pada detik selanjutnya, ia mendesah pelan. Celeste benar, akhirnya Aurora akan terluka. Melihat wanita itu sedih, membuatnya kesal dan marah pada dirinya sendiri. Sementara nyawa adiknya bergantung pada berhasil tidaknya misi ini. Sekalipun ia harus menyakiti Aurora, tetap rencana itu harus dijalankan.
“I’m sorry, Rora,” ucap Ezra lirih.
Aurora mendongak, alisnya bertaut. “Buat apa?”
Ezra tersentak, sadar dengan apa yang baru saja diucapnya. “Nothing. Aku hanya feel sorry dengan situasi ini. You know, aku tidak suka melihatmu sedih.” Untuk kali ini, ia tidak berbohong.
Aurora tersenyum sebelum berdiri. “Selalu ada masalah dalam satu hubungan. Aku ke kamar dulu, habiskan makananmu, Brother.”
Brother…
Ezra mendesah frustrasi. “Don’t call me brother, Rora.”
Namun kalimat itu tak pernah didengar oleh Aurora. Wanita itu telah menutup pintu kamarnya—ditelan sekat dan jarak tak kasat mata.