Bab 2. Twins

Penulis nyiratu
09 December 2025

Wanita yang dipanggil Amanda itu terkejut. Bibirnya mengucapkan nama Henry meski ia tidak mengeluarkan suara.

"Manda, kenapa kamu ada di sini?" tanya Henry.

Henry melirik bergantian ke arah Alana dan Amanda, dua wanita berbeda usia yang wajahnya sangat mirip.

Amanda memasuki ruang gawat darurat. Air matanya meluap ketika melihat putrinya terbaring lemas dengan kepala dibalut perban.

"Kamu yang menabrak anakku?" Amanda bertanya kepada Henry. Meski kesal, ia tetap memelankan suaranya agar tidak mengganggu pasien lain.

"Anak?" Henry tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya atas pernyataan Amanda bahwa dia adalah ibu dari anak yang ditabraknya. "Apakah dia anak kamu?"

Amanda tidak menjawab pertanyaan Henry. Dia terus menatap putrinya dengan iba, terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

"Manda, katakan yang sebenarnya. Apa dia anakku?" tanya Henry, memaksa Amanda untuk menghadapnya. Namun, ibu muda itu menepis tangan pria yang telah menabrak anaknya.

"Jangan menggangguku lagi!" Amanda sangat marah namun tetap memelankan suaranya karena takut mengganggu pasien lain. "Lebih baik kamu keluar!"

Henry akhirnya keluar dari ruangan, tidak ingin membuat keributan di rumah sakit. Dia duduk di kursi tunggu di bagian depan ruangan sambil memegangi kepalanya.

William menghampiri bosnya setelah menyelesaikan administrasi Alana.

"Bos, ada apa denganmu?" tanya William, yang terdengar sedikit panik melihat bosnya terlihat frustrasi.

Bukan pria itu yang ia khawatirkan, tetapi anak kecil yang berada di ruang gawat darurat.

"Bagaimana keadaan anak itu?" William terlihat sangat khawatir. Dia khawatir sesuatu akan terjadi pada Alana. "Dia baik-baik saja kan?"

"Aku tidak bisa mengatakan bahwa dia baik-baik saja, tapi ...."

"Tapi apa, Bos?" William duduk di samping bosnya yang masih menunduk memegangi kepalanya.

"Alana adalah putri Amanda ... mantan istriku." Henry menegakkan badannya, lalu menoleh ke asistennya. "Apa ada kemungkinan Alana adalah putriku?"

"Maaf, Bos, saya tidak bisa menjawab pertanyaan Anda. Sebaiknya Anda tanyakan langsung kepada Nyonya Amanda."

"Aku sudah bertanya kepadanya, tapi dia bilang itu bukan anakku. Umurnya sekitar lima tahun dan kami sudah bercerai belum enam tahun. Ada kemungkinan dia itu anak kandungku kan?"

"Apakah Anda ingin saya menyelidikinya?" tanya William.

Henry menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan kasar. "Tidak perlu William. Aku akan menyelidikinya sendiri. Mungkin anak itu adalah anak dari selingkuhannya ketika dia masih menjadi istriku."

William terdiam. Dia tidak membalas perkataan atasannya lagi. Jika ditugaskan untuk mencari tahu tentang anak itu, dia akan melakukannya sesuai perintah, meskipun dia sudah mengetahui segalanya. Dia akan berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Alana telah dipindahkan ke ruang perawatan sambil menunggu donor darah. Gadis kecil itu terlihat masih lelap dalam tidurnya seakan enggan bangun. Amanda tampak sangat sedih. Ia berulang kali menepuk-nepuk pipi Alana, berharap putrinya akan bangun.

Stok darah di rumah sakit kosong, membuat Amanda panik menelepon teman-temannya yang bergolongan darah AB. Golongan darah Amanda tidak sama dengan putrinya. Hal itu membuatnya gugup. Putrinya membutuhkan darah, tetapi ia belum menemukan pendonor.

Air mata Amanda terus mengalir di pipinya. Ia merasa menjadi ibu yang gagal jika tidak bisa menyelamatkan anaknya.

Hanya Alana dan Alan yang ia miliki saat ini. Merekalah yang bisa membuat Amanda tidak lelah memperjuangkan hidupnya. Namun kini, salah satu anaknya terbaring tak berdaya dengan jarum infus menancap di lengan kirinya.

Henry menatap Amanda yang menangis di sudut ruangan. Pria itu tidak tega melihat mantan istrinya bersedih. Meski ia masih benci jika mengingat pengkhianatan Amanda terhadapnya, rasa cintanya tak kalah besar dari kebenciannya.

Namun, sekarang keadaannya berbeda. Dialah yang menyakiti Amanda. Bahkan ia merasakan sakitnya wanita itu ketika melihat Alana terbaring lemah tak berdaya.

"Manda, aku akan mendonorkan darahku untuk Alana," ujar Henry sambil berdiri dari tempat duduknya.

Amanda menatap tajam ke arah mantan suaminya. Sudah hampir enam tahun ia berpisah dengan pria itu, tapi Henry masih tetap sama, tetap tampan seperti dulu.

Namun, semua itu tidak ada artinya lagi bagi Amanda. Perpisahan yang menimbulkan rasa sakit hingga kini membuat Amanda tidak bisa bersikap normal kepada Henry. Rasa sakit itu kembali muncul ketika ia mengingat pria yang dicintainya telah mengkhianatinya bahkan memfitnahnya.

"Apa maksudmu?" tanyanya. Ia baru menyadari bahwa Henry adalah ayah biologis dari kedua anaknya. Tentu saja, kemungkinan besar, golongan darah mereka sama.

"Golongan darahku AB, sama seperti putrimu. Izinkan aku mendonorkan darah untuk Alana," pinta Henry dengan sedikit memaksa.

"Tapi-"

"Alana sangat membutuhkan darah. Jika kita tidak segera bertindak, aku khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi padanya," kata Henry.

"Tidak akan terjadi apa-apa pada putriku!" Amanda berkata dengan tegas.

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu, tapi tolong pertimbangkan tawaran ini baik-baik. Lupakan tentang kita untuk saat ini. Ingat, Alana membutuhkan darah secepatnya. Anggap saja ini sebagai bentuk tanggung jawabku karena telah membuatnya seperti ini," kata Henry. "Jangan egois, Manda! Alana sangat membutuhkan darahku."

"Oke," kata Amanda yang akhirnya setuju.

Amanda ingin menghindari melibatkan Henry dalam urusan anak, tapi Alana membutuhkan darah itu. Demi anaknya, Amanda sedikit menekan egonya.

Amanda dan Henry segera menemui dokter dan memeriksa kesehatan Henry agar bisa segera mendonorkan darahnya.

Henry melakukan serangkaian tes untuk memastikan darahnya sesuai dengan darah Alana. Untungnya, seluruh tubuh Henry sehat, sehingga ia dapat mendonorkan darahnya untuk gadis kecil yang ditabraknya.

Banyak pertanyaan berkecamuk di otak Henry, termasuk kenapa golongan darah Alana sama dengan darahnya. Sudah hampir enam tahun ia dan Amanda berpisah, tapi ia yakin bahwa Alana adalah anaknya.

Tidak mungkin semua yang terjadi adalah sebuah kebetulan. Pasti ada jalan takdir yang telah digariskan. Setelah sekian lama berpisah dengan Amanda, baru kali ini ia bertemu dengan wanita yang masih dicintainya itu.

Setelah proses pengambilan darah, Henry kembali ke ruang rawat Alana. Dokter menyarankannya untuk beristirahat sejenak, tapi Henry bersikeras untuk menemui Alana.

Darah yang telah didonorkan segera dimasukkan ke dalam tubuh Alana melalui selang infus. Gadis kecil yang malang itu harus merasakan sakit karena kecelakaan yang diakibatkan oleh mantan suami ibunya.

Henry duduk di sofa tak jauh dari tempat tidur Alana, mata pria itu tertuju pada gadis kecil yang sedang tertidur pulas.

Amanda, yang melihat anaknya telah menerima transfusi darah, bisa bernapas lega. Ia duduk di samping tempat tidur sang anak, dengan lembut ia membelai dengan penuh kasih sayang di puncak kepala putrinya.

"Lana, kamu pasti baik-baik saja," bisik ibunya.

Amanda melabuhkan ciuman tepat di puncak kepala putrinya. Segala sesuatu tentang wanita itu tidak luput dari perhatian Henry. Mantan istrinya itu masih sama seperti dulu. Terlihat cantik dan penuh kasih sayang.

Henry tidak mengerti mengapa wanita selembut Amanda bisa berselingkuh. Pria itu teringat kenangan masa lalu. Kemudian Henry mengembuskan napas dengan kasar dan memberanikan diri untuk mendekat ke arah mantan istrinya.

"Amanda," Henry memanggil lirih.

Amanda menoleh. Wanita itu menatap mantan suaminya. Air matanya ingin keluar, tapi dia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. Dia tidak pantas menangisi pria yang telah menyakitinya.

"Ya," jawab Amanda dengan suara yang serak.

"Aku ingin berbicara serius denganmu."