Bab 38. Selama Ini Kau Menahannya!

Penulis Rei_Moira
10 September 2025

Tak ada sentuhan malam ini. Aurora meringkuk di balik selimut dengan pikiran liarnya tentang hubungan Kael dan Celeste waktu itu. Tak mungkin mereka hanya saling duduk berhadapan. Mantan tunangan seperti Celeste, jelas Kael pun akan tergoda meskipun tanpa cinta.

Ia kembali mengingat bagaimana Kael berbicara dengan Celeste saat mereka menghadiri acara gala di Mirador Heights. Lembut, dengan tatapan yang sejauh itu tak pernah ia dapatkan. Bahkan Kael tak menepis tangan Celeste.

“Jelas bohong kalau mereka tidak pernah melakukannya,” dengusnya.

Hening.

Kael belum keluar dari ruang kerjanya. Entah apa yang dilakukan di sana, mungkin benar sedang menghindarinya. Sial. Baru sehari Celeste masuk ke kehidupan mereka, bahkan tak saling bertatap tapi telah berhasil mengubah situasi. Tak pernah sedetik pun Kael meninggalkan malamnya sejak mereka saling mengungkap perasaan.

Namun sekarang?

Semakin memikirkannya, semakin rasanya ingin berteriak. Aurora sampai mencengkeram erat ujung selimut yang ada di batas lehernya. Giginya menggertak erat. Shit! Ketidaknyamanan ini membuatnya muak.

Sementara pikirannya terus berputar tanpa henti, matanya mulai berat karena lelah emosional. Beberapa kali mengerjap, berusaha tetap terjaga, tapi pada akhirnya Aurora kalah. Perlahan semuanya menggelap, semakin pekat, dan dalam.

Tubuhnya mulai melayang, hampir memeluk mimpi ketika usapan halus teraba dari ujung kaki sampai pahanya. Kedua mata Aurora sontak membelalak. Kael sedang di ujung kakinya, bergerak perlahan dengan mata menggelap.

“Maaf sudah membangunkanmu.” Suara Kael lirih.

Ya. Sudah seharusnya Kael meminta maaf setelah meninggalkan Aurora begitu saja di meja makan. Selimut yang tadi menutup tubuhnya, kini telah terjuntai ke lantai. Tangan Kael dengan cepat menarik gaun tidur satin Aurora, dan melemparnya ke sembarang arah.

“Kau marah padaku,” ucap Aurora, tanpa menepis tangan Kael yang mulai bermain di bagian bawahnya.

Kael tak menjawab. Lumatan kasar telah membungkam mulut Aurora. Sesapan dan gigitannya serupa ketika ia pertama kali melanggar aturan pria itu. Penuh ledakan amarah.

Tanpa bertanya, Aurora tahu betul bahwa suaminya tengah memberinya sebuah hukuman. Dadanya bergejolak, harga dirinya tertantang. Jika Kael mampu menghukumnya dengan ciuman, maka ia pun sanggup untuk menunjukkan siapa yang paling mampu menangani sisi liar pria itu. Dirinya, atau Celeste sang mantan tunangan.

Aurora mencengkeram erat tubuh tegap Kael. Dalam satu gerakan, ia berhasil mengubah posisi. Kael terkesiap ketika Aurora menindihnya. Jika malam-malam sebelumnya Kael selalu memimpin permainan, kini Aurora tak akan pernah mengizinkan. Malam ini, pria itu harus tunduk padanya.

“Baby—”

Kalimatnya tak utuh. Aurora membungkamnya dengan tangan kirinya, sementara telunjuk kanan terangkat ke bibirnya. “Ssstt…”

Kael mengedip beberapa kali. Aurora tak bersikap seperti biasanya.

“Jangan bicara sampai aku mengizinkan.” Aurora membalas bungkaman Kael tadi dengan lembut, memberikan jeda pada Kael untuk merasakan sensasinya.

Demi harga dirinya, malam ini Aurora rela menjadi jalang untuk suaminya sendiri. Bahkan ketika Kael berusaha untuk mengendalikan situasi, dengan tegas Aurora mendorong dada bidangnya dan melesakkan milik Kael padanya. Satu tangannya masih menahan dada Kael, dan satu lainnya mencengkeram paham pria itu untuk menjaga keseimbangan.

Mata Kael semakin menggelap. Ia memahami Aurora sedang berusaha membuktikan padanya. Resah yang masih tersisa sejak Celeste masuk ke kehidupan mereka semakin terlihat. Tak ingin berdiam, Kael menangkupkan tangannya pada kenyal yang mulai mengencang. Dan saat Aurora mulai melenguh sampai memejam, dengan cepat pria itu menegakkan tubuhnya dan berhasil membalik keadaan.

Tautan mereka terlepas. Aurora terkejut dalam napasnya yang tersengal. Tubuhnya membungkuk di atas kasur, sebelum hentakan Kael dari belakang kembali membuatnya mengerang. Bahkan Kael yang selalu memberikan kenyamanan dan kelembutan untuk Aurora, kini ikut berusaha untuk meyakinkan Aurora bahwa hanya dirinya lah yang ada dalam kehidupan Kael.

Tangan Aurora menahan tubuhnya dari ritme Kael yang semakin cepat. Cengkeraman tangan Kael pada pinggangnya terasa lebih erat, membuatnya memekik. Rasa sakit dan nikmat itu bercampur, tak mengizinkan Aurora untuk mengambil jeda.

‘Apakah seperti ini yang dilakukan Kael bersama Celeste dulu?’

Gemuruh dalam dada Aurora semakin kencang. Erangan dan lenguhan malam ini tak lagi sama. Tak ada hangat yang menggebu, tapi berganti dengan obsesi kasar yang membutakan.

Bahkan saat Aurora mulai mencapai puncaknya, nyatanya tak mampu menghapuskan risau yang justru semakin membesar.

“Kau menahannya selama ini?” Aurora memberanikan diri untuk bertanya setelah Kael berbaring di sisinya.

Sudah pasti pria itu menahannya.

“Apa maksudmu?” Kael menoleh, alisnya bertaut.

“Yang kau lakukan tadi, tidak pernah terjadi di malam-malam sebelumnya. Kau menahannya, kan? Apakah seperti ini ritme dan attitude yang selalu kau lakukan bersamanya?” Aurora mulai melontarkan kata sinisnya lagi.

Tubuh Kael sontak tegak saat mendengarnya. Sorot tajam itu kembali menggelap. “Kau masih mempermasalahkan hubunganku dengan Celeste?”

Ya! Tentu saja.

“Aku tidak menyebut satu nama, tapi kau dengan yakin mengucap nama itu.” Aurora ikut duduk, tak ingin kalah dengan tatapan Kael padanya.

“Sayang… entah berapa kali aku harus bilang kalau hubunganku dengan Celeste tidak sedalam yang kau kira—”

“Aku bicara tentang hal lain, yang baru saja kita lakukan,” ucap Aurora dingin. “Kau melakukannya juga dengan Celeste, kan??”

Kael muak mendengarnya. Ia memang mencintai Aurora, tapi tidak pernah suka jika cintanya mulai diragukan. “Bisa kau hentikan asumsimu itu?” ucapnya, masih mencoba sabar.

“Asumsi??” Suara Aurora meninggi. “Katakan padaku, berapa kali kau bercumbu dengannya? Berapa kali kalian saling menindih di ranjang yang sama?? Katakan!”

Mata cokelat Kael mengilat tajam. Amarahnya mulai mengaburkan logika. “Kau benar-benar ingin mengetahuinya?” Suaranya teredam kasar.

“Katakan!!”

Hening. Kael masih berusaha menahan situasi agar tidak semakin panas. Namun Aurora terus mendesaknya.

“Katakan sekarang juga, Kael Vireuax!”

“Sering,” ucap Kael pada akhirnya.

Aurora terdiam. Perasaan tidak adil sontak membakar kesadarannya. Kael adalah orang pertama baginya, dan jadi satu-satunya pria yang ia inginkan. Namun… kenapa?

“Kau bilang tidak mencintainya.” Kini nada menuntut mulai terlontar dari mulut Aurora.

“Tidak pernah sekalipun.” Kael bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

Alih-alih tenang dan puas dengan jawaban itu, nyatanya Aurora semakin meledak. “Tidak pernah mencintainya, tapi kau bisa begitu saja bercinta dengannya??”

“Aurora, aku tidak mencintainya, tapi aku seorang pria,” desis Kael.

“Oh?? Jadi kalau kau pria, itu artinya kau bisa meniduri sembarang wanita??” sentak Aurora. “Artinya… sekarang pun kau bisa menindih wanita lain atas dasar insting priamu itu?!”

“Jaga ucapanmu, Aurora!” Kael balas membentak, lebih kencang dari yang pernah didengar oleh Aurora.

“Dan sekarang kau membentakku!!” Aurora berteriak, air matanya meleleh tanpa bisa dicegah.

Kael menegang, dirinya sendiri pun terkejut dengan bentakan yang baru saja dilontarkan. Ketika tangannya berusaha merengkuh, Aurora dengan cepat mundur dan turun dari ranjang. Gaun tidur satin yang teronggok di lantai segera dikenakan, lalu ia menarik jubah tidurnya cepat dan berjalan ke arah pintu.

“Rora, kembali!”

Tangan Aurora telah memegang gagang pintu. Kepalanya menoleh cepat, wajahnya memerah. “Cukup dengan semua sikap diktator-mu itu, Kael! Kembali saja pada Celeste kalau kau merindukan dekapan yang tidak bisa kugantikan!!”