Tak Tahu Terima Kasih, Huh!

Penulis MrBroken
10 December 2025

Dalam waktu beberapa menit, Shui Hu merasakan kondisi fisiknya mulai pulih secara perlahan. Energi spiritual yang melimpah mengalir di dalam tubuhnya. Dia merasa seperti terlahir kembali ke dunia dalam kondisi bugar. Ingin rasanya berterima kasih kepada orang yang telah memberikan dirinya energi spiritual, tetapi ia tidak siapa orang yang memberikannya. Penglihatannya yang awalnya sama-samar, kini sudah bisa melihat dengan jelas wajah-wajah manusia yang berada di sekitarnya. Rasa terkejut terukir di wajahnya, seakan tidak percaya dengan orang yang memberikan dirinya energi spiritual adalah musuhnya di siang hari. Tidak mungkin dia yang melakukannya, kan?, pikirannya terus bergelut diantara yakin dan ragu. “Tenanglah, sebentar lagi akan selesai,” ujar Fang An menyuruh Shui Hu agar menstabilkan kondisi hatinya, karena dia belum selesai memberikan seperempat energi spiritual miliknya. Shui Hu hanya menganggukkan kepalanya. Dengan nada pelan, dia mengucapkan terima kasih pada Fang An. Fang An sama sekali tidak merespon, dirinya tetap fokus memberikan energi spiritual miliknya yang sebentar lagi selesai. Membutuhkan waktu 30 menit bagi Fang An untuk menyembuhkan fisik Shui Hu. Semua orang yang berada di dalam ruangan gudang bernapas lega, karena bisa menyelematkan seorang manusia, dan tidak melanggar aturan para leluhur mereka. Namun, siapa yang menyangka Shui Hu berdiri dengan cepat, lalu menendang Fang An yang masih dalam keadaan duduk sila dengan cepat. Tendangannya berhasil membuat Fang An terpental hingga tubuhnya terbanting ke dinding ruangan. Fang An meringis kesakitan. Kedua matanya memberikan kode pada Gong Zong agar segera menangkap Shui Hu. Gong Zong merespon dengan cepat, mengangkat jari-jari manisnya memberikan kode pada Gong Sun dan Gong Shi agar segera bertindak. Kedua mata Shui Hu melirik ke semua arah, menganalisa situasi dan kondisi. Tidak ada jalan kabur lewat pintu depan. Hanya ada satu jalan yang bisa membuatnya kabur dari tempat para bandit ini, yaitu jendela. Tanpa menunggu lama-lama, kedua kakinya melangkah dengan cepat ke arah jendela. Gong Sun dengan kecepatannya berhasil menarik tangan kanan Shui Hu, tetapi Shui Hu melakukan gerakan serangan telapak tangan kiri pada dada Gong Sun, yang membuatnya terpental ke arah Fang An. Fang An segera merespon dengan cepat, menahan tubuh temannya agar tidak mengenai tembok. Gong Zong dan Gong Shi terlambat melangkah, yang membuat keduanya tidak bisa menangkap Shui Hu. “Jangan!!!!” Fang An berteriak agar Shui Hu tidak melompat dari jendela gudang. Shui Hu mengindahkan peringatan Fang An, dia berhasil melompat keluar jendela. Tidak yang pernah tahu, ternyata di bawah jendela gudang adalah sungai kotor yang sudah tercemar dengan bau menyengat seperti bangkai. Bau yang menyengat membuat Shui Hu ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya. Dia buru-buru naik ke daratan, agar bisa mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya. Fang An langsung memberikan perintah pada keenam bersaudara Gong untuk menangkap Shui Hu, mencari keberadaan di dalam kampung. Selain itu, ia meminta Gong Sun agar menutup seluruh pintu masuk ke kampung Yunshan. “Dengan begini, wanita tak tahu terima kasih itu tidak akan bisa kabur dari kampung ini,” ucap Fang An sembari melangkah keluar gudang. Gong Sun menganggukkan kepalanya, lalu menghilang dalam sekejap ketika sudah berada di luar gudang. Fang An meminta Gong Zong dan Gong Shi mengikutinya mencari Shui Hu ke berbagai sudut gang. Gong Zong dan Gong kompak menjawab siap. Sedangkan tidak bersaudara Gong lainnya sudah mulai bergerak masing-masing sesuai perintah Fang An. Rasa mual akibat bau yang menyengat, membuat Shui Hu mengeluarkan seluruh isi makanan yang berada di dalam perut lewat mulutnya, membuatnya kembali kelaparan. Disisi lain, tubunya perlahan mulai menggigil kedinginan, padahal dia sudah melakukan teknik penghangat tubuh dengan sedikit energi spiritual. Seorang anak laki-laki berlari terpincang-pincang menghampiri Shui Hu. Ia memberikan setengah potong kue gandum. Awalnya Shui Hu tidak ingin menerimanya, tetapi setelah melihat siapa yang memberikannya. Dia menerimanya dengan tulus, tak lupa dua kata terima kasih keluar dari kedua bibirnya untuk si kecil. Setelah itu, sang anak kembali berlari terpincang-pincang menghampiri neneknya yang sudah berusia lanjut, seluruh rambutnya sudah berwarna putih. Sang Nenek dengan penuh senyuman, menyuruh Shui Hu agar mendekatinya. Shui Hu balas senyuman sang nenek, menganggukkan kepalanya. Tubuhnya segera berdiri, tetapi seorang pemuda tak sengaja menyenggolnya, membuatnya tersungkur ke tanah. Ingin rasanya memukul orang yang menyenggolnya, tetapi niat tersebut berujung urung saat melihat kondisi sang pemuda yang kehilangan kaki kanannya. Dua kali melihat orang cacat, membuat rasa penasaran Shui Hu meningkatnya. Dia buru-buru berdiri, lalu melirik ke berbagai arah melihat keadaan sekitar. Terkejut, simpati, bingung, dan penasaran semuanya bergelut di dalam otaknya. Secara tidak sadar, dia meneteskan sebutir air mata dari kelopak matanya. Kenapa mereka semua cacat? Ada sebenarnya ini? D-dan mereka semua mau ke mana? “Mereka pergi ke lapangan kampung,” jawab sang nenek, seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Shui Hu. Shui Hu kembali bertanya tanpa melirik ke arah sang nenek, “M-mau ngapain mereka ke sana, Nek?” Sang nenek tersenyum sedikit sembari menutup kelopak matanya sebentar. “Mereka ingin mengambil bantuan pangan dari kepala kampung Yunshan, Qingzhao,” jawabnya. “B-bantuan pangan? Kampung sekecil ini bisa mempunyai pangan berlimpah? Dari mana asalnya semua ini, Nek?” Kali ini sang nenek tertawa kecil. Dia sadar kalau wanita ini bukanlah penduduk asli kampung Yunshan. Jadi, wajar kalau tidak tahu. Tanpa berbelit-belit, ia menjelaskannya dengan singkat. Singkatnya bantuan pangan ini berasal dari hasil rampokan para bandit kampung ini. Semua bandit berada di bawah kendali, Fang An yang merupakan putra tertua kepala kampung Yunshan, Qingzhao. “Fang An? Ketua para bandit? Pemuda yang selalu memakai pakaian hitam itu, Nek?” Shui Hu kembali bertanya karena terkejut. Sang nenek hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban Shui Hu. Jadi, orang itu namanya Fang An. Selama ini, dia merampok pangan para bangsawan hanya untuk dibagikan di sini. Satu pertanyaan lain, kembali terngiang-ngiang di dalam pikiran Shui Hu. Tanpa izin terlebih dahulu, dia kembali bertanya pada sang nenek, “Lalu, Nek, itu kenapa kondisi semua orang pada cacat?” Untuk pertanyaan satu ini, sang nenek tidak ingin menjawab. Ia hanya memberikan sebuah mantel penghangat tubuh. “Pakai mantel ini. Kau tidak tahu, kalau air sungai ini memiliki efek dingin abadi,” ucapnya sembari meninggalkan Shui Hu. Rasa penasaran satu ini belum terjawab, membuat Shui Hu ingin menahan sang nenek, agar menjawab pertanyaannya. Namun, dirinya sadar kalau sang nenek sedang membutuhkan bantuan pangan untuk cucu mungilnya. Lebih baik aku segera pergi dari sini saja. Shui Hu kembali bergerak. Kali ini, ia melangkah ke arah selatan. Gong Zong dan Gong Shi melihat Shui Hu sedang berlari ke arah selatan. Keduanya segera berlari-lari dengan cepat untuk mencegahnya kabur. Tidak lupa, Gong Zong memberitahu Fang An keberadaan Shui Hu.