Saat mengetahui kalau wanita itu pergi ke arah selatan, Fang An hanya tersenyum tipis. Dia tidak tahu kalau pergi ke arah selatan sama saja dengan bunuh diri, karena sebelah selatan kampung Yunshan itu adalah perbatasan antara Kerajaan Zhou denga Kerajaan Ming. Tanpa menunggu lama-lama, Fang An bersama Gong Sun bergerak menuju selatan dengan berlari. Tak lupa, dia memina Gong Zhong dan Gong Shi agar terus mengikuti wanita sial itu dari jarak aman. Shui Hu terus melangkah dengan cepat ke arah selatan tanpa memedulikan apa pun. Padahal tubuhnya sudah terkena berbagai macam duri tumbuhan, membuat tubuhnya mengeluarkan sedikit darah segar. Semakin malam, hari semakin gelap. Pandangan mata semakin sempit. Shui Hu tak menyadari kalau di depan adalah jurang pergunungan kampung Yunshan. Tidak ada jalan lagi selain parit besar yang berisi air ganas. Langkahnya semakin cepat, hingga napasnya terengah-rengah. Karena pandangan yang begitu sempit, tidak bisa melihat apa pun kecuali cahaya bulan. Tiba-tiba Shui Hu menabrak seseorang, membuatnya tersungkur ke tanah. Dia langsung bersiap melakukan serangan, siaga kalau orang yang menabraknya adalah orang jahat. Namun, siapa sangka, Shui Hu menabrak seorang wanita cantik jelita, tetapi terhalang oleh gelapnya malam hari. Wanita itu tampak dua tahun lebih muda darinya. Rambutnya mengurai hingga bahu dan berwarna pirang. Ia meringis kesakitan sembari mengusap-ngusap kedua tangannya yang kotor terkena tanah. “Kau siapa?” Shui Hu bertanya sambil berdiri sembari menatap sang wanita dengan tajam. Sang wanita bukannya menjawab, ia meminta Shui Hu membantunya berdiri, tetapi sayangnya permintaanya di tolak mentah-mentah olehnya. Shui Hu meminta sang wanita untuk menjawab pertanyaannya terlebih dahulu. Sang wanita hanya berdecak kesal, enggan menjawab sama sekali. Shui Hu hanya menganggukkan kepalanya, lalu memutar tubuhnya, kedua kakinya melangkah pelan-pelan. Sebuah taktik jitu untuk membuat orang asing menjawab pertanyaannya. Terlihat rasa ketakutan terukir di wajah sang wanita. Ia akhirnya menjawab pertanyaan Shui Hu, “Namaku Ji-ji Ming Lan,” jawabnya dengan bibir bergetar. Shui Hu berhenti melangkah sembari tersenyum. Ia kembali memutar tubuhnya, lalu mengulurkan tangan kanannya, membantu Ji Ming Lan berdiri. “Jadi, namamu Ji Ming Lan?” Shui Hu bertanya untuk memastikan. Ming Lan hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Tiba-tiba sebuah serangan menyerang Shui Hu dan Ming Lan secara mengejutkan. Beruntung Shui Hu memiliki refleks cepat, sehingga menyelamatkan dirinya dan Ming Lan secara bersamaan. Serangan tersebut kembali muncul dengan cepat, tetapi Shui Hu dengan mudah menghindari serangannya. Walaupun menyerang dengan cepat, Shui Hu mengetahui serangan jenis apa itu, ya, serangan badai kabut. Dalam sekejap keadaan dipenuhi dengan kabut. Shui Hu meminta Ming Lan agar berdiri di belakangnya. Ia bertanya dengan nada kecil, “Apakah kau bisa bela diri atau kekuatan?” Ming Lan menjawab dengan bibir gemetar, “A-aku hanya bisa menggunakan teknik penyembuhan.” “Kalau begitu bantu aku menyembuhakn luka-lukaku,” pinta Shui Hu sembari bergerak maju ke depan dan melakukan gerakan putara angin untuk mengusir seluruh kabut. Ming Lan hanya menganggukkan kepalanya sebagai responnya atas pertanyaan Shui Hu. Gelombang serangan badai kabut beberapa kali menyerang Shui Hu dan Ming Lan. Semakin lama Shui Hu menahan, semakin cepat serangan badai kabut menyerang. Serangan ini hanya bisa berhenti ketika Shui Hu berhasil menyerang sumber serangannya alias pemilik kekuatan kabut. Walaupun memiliki kelebihan penglihatan tajam, hal ini tak bisa membuat Shui Hu mencari sumber kekuatannya di mana. Sebab penglihatan tajam sudah mencapai titik batas maksimal. Semakin cepat serangan badai kabut, semakin keruh kondisi di sekitar, bahkan Ming Lan hampir tidak bisa melihat apa pun. Ia hanya bisa memegang sedikit pakaian Shui Hu agar tidak terpisah darinya. Dari kejauhan, Fang An melihat ada yang aneh, bahkan kedua telinganya mendengar sesuatu seperti sedang terjadinya sebuah pertarungan. Kedua matanya melihat Gong Zhong dan Gong Shi yang berhenti bergerak, keduanya tampak penasaran dengan apa yang terjadi di depan mata mereka sendiri. Ketika sudah sampai, Fang An langsung bertanya, “Ada apa ini, Gong Zhong?” Gong Zhong menggelengkan kepalanya, begitu juga dengan Gong Shi. Keduanya tampak kebingungan. “Gong Sun, apakah kau bisa ke sana?” Gong Sun hanya mengangkat kedua bahunya. “Rasanya sulit kalau bergerak ke sana. Dari sini saja kelihatan tampak gelap sekali keadaan di sana,” ucapnya mencoba menganalisis keadaan dari kejauhan. Fang An menganggukkan kepalanya, tanda setuju dengan analisis Gong Sun. “Kalau begitu, kalian bertiga tunggu di sini.” Gong Zhong sempat menolak perintah Fang An, begitu juga dengan Gong Shi. Hanya Gong Sun yang menganggukkan kepalanya, karena dia percaya, kalau ketuanya memiliki rencana sendiri. Fang An menepuk bahu Gong Zhong dan Gong Shi bersamaan. “Tidak apa-apa,” ucapnya sembari tersenyum. “Jika dalam waktu satu jam aku tidak kembali, kalian bertiga langsung bergegas ke sana, Oke?” “Siap, Ketua!” jawab kompak ketiga saudara Gong. Fang An kembali berlari dengan cepat menuju tempat yang begitu gelap tanpa cahaya bulan. Hanya dalam waktu lima menit, kedua kakinya sudah menginjak di tempat yang dipenuhi dengan kabut. Kedua matanya hampir tidak bisa melihat sama sekali, tetapi kedua telinganya mendengar napas dua orang wanita. Apakah dia wanita sialan itu? Kalau begitu yang satu lagi siapa? Sebuah serangan badai kabut tiba-tiba menyerang Fang An dari depan, reflek Fang An meloncat sekaligus memutar tubuhnya ke belakang. Kedua telinganya kembali sebuah suara, kali ini suara seorang laki-laki yang tertawa kesenangan. Siapa dia? Apakah dia penyebab semua ini. Fang tersenyum sinis, menyeringai memperlihatkan gigi-gigi putihnya di dalam kegelapan. Kedua bibirnya bergerak mengucapkan sebuah mantra, sedangkan kedua tangannya bergerak membentuk berbagai bentuk untuk mengeluarkan mantranya dari kedua tangannya. Kedua matanya tertutup begitu rapat, otaknya bekerja menentukan mantra yang akan dikeluarkan. Beberapa detik kemudian, Fang An membuka kedua matanya, bibirnya mengucapkan sebuah mantra dibarengi dengan kedua tangannya yang berputar cepat di atas kepalanya. Dalam sekejap pusaran angin puting beliung terjadi di tengah-tengah tubuh Fang An. Pusaran angin puting beliung ini berhasil membuat Fang An melihat sekilas keberadaan sang pemilik kekuatan kabut. Shui Hu tesenyum saat mengetahui posisi sang pemilik kekuatan kabut, semua ini berkat pusaran angin puting beliung yang dikeluarkan oleh Fang An. Tak menunggu lama, Shui Hu meminta Ming Lan memperkuat tubuhnya, Ming Lan menyanggupinya. Tubuh Shui Hu seketika berubah menjadi ringan, membuatnya bisa bergerak secepat kilat ke arah sang pemilik kabut. Satu pukulan keras mendarat di wajah sang pemilik kabut. Kabut yang memperkeruh keadaan dalam sekejap menghilang. Siapa yang menyangka jarak diantara Shui Hu, Ming Lan, dan Fang An hanya lima langkah. Ketiga saling terkejut satu sama lain. Terkejut tidak saling mengenal.
Apa Yang Sedang Terjadi Di sana?
Penulis
MrBroken
10 December 2025