Ketika Benih-Benih Itu Tumbuh

Penulis MrBroken
10 December 2025

Di bawah cahaya bulan dan puluhan pohon besar berdiri gagah dengan daun lebat, tiga orang berdiri saling menatap. Satu menatap dengan penuh kebencian, satu menatap dengan ketakutan, dan satu lagi menatap dengan penuh kesenangan. “Sekarang kau tidak bisa lari ke mana-mana lagi, wanita sialan!” ucap Fang An terus terang dengan wajah kesal. Ming Lan yang penuh dengan ketakutan saat melihat tatapan tajam Fang An hanya bisa bersembunyi dibalik punggung Shui Hu. Shui Hu meminta agar diam di tempat. Kedua kaki Fang An melangkah dengan pelan mendekati Shui Hu, ia berkata, “Jadi wanita, jangan tak tahu terima kasih, ya. Sudah dikasih hati, malah minta jantung.” Kedua bibirnya berdecak kesal sembari sembarang meludah ke samping kanan. Shui Hu menutup bibirnya rapat-rapat, tidak ingin merespon apa pun yang dikatakan oleh Fang An. Dia hanya tidak ingin, wanita di belakangnya menjadi terluka karena Fang An. Demi bisa mengusir Fang An, kedua kakinya terpaksa melangkah mendekatinya. Dalam hembusan angin yang kencang, kedua batang hidung Fang An dan Shui Hu saling beradu satu sama lain. Bola mata Fang An bergerak sana-sini melihat kecantikan wajah Shui Hu, tetapi baginya wajah Shui Hu hanyalah wajah wanita biasa. Sedangkan Shui Hu memperhatikan bagaimana putihnya wajah Fang An, hampir tidak ada goresan sama sekali di wajahnya. Ketika satu mata menatap mata lain yang berbeda jenis, disitulah benih-benih perasaan cinta selalu muncul. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Fang An dan Shui Hu. Mereka malah menumbuhkan benih-benih kebencian. Tanpa disadari, benih kebencian ini membuat tubuh Fang An diselimuti oleh hawa iblis. Hawa iblis merupakan jenis energi yang bertentangan dengan energi spiritual. Jika energi spiritual berwarna putih, maka hawa iblis berwarna hitam. Lebih tepatnya bagaikan Yin dan Yang yang tidak bisa bersatu satu sama lain. Keduanya terhanyut dalam pandangan kebencian satu sama lain, hingga melupakan tujuan awal mereka untuk apa. Ya, dan satu gelombang serangan badai kabut kembali menyerang Fang An dan Shui Hu tepat di samping kanan. Ming Lan dengan cepat mendorong Shui Hu ke arah Fang An, sehingga dia bisa terhindar dari serangan badai kabut. Seperti yang tidak diharapkan, Shui Hu terjatuh ke dalam pelukan Fang An. Kedua telinganya tiba-tiba mendengar suara detakan jantung yang begitu cepat, cepat hingga tak bisa terkontrol. Fang An hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Ingin rasanya bergerak, tetapi tubuhnya sama sekali tidak tersinkron denga napa yang otaknya perintahkan. Seakan semuanya terikat dalam balutan pelukan hangat yang penuh dengan kasih sayang. “Kalian jika ingin bermesraan jangan di sini, di neraka saja sana!” teriak sang pemilik kekuatan kabut, yang ternyata dia adalah siluman kabut. Berkat teriakan siluman kabut, Fang An dan Shui Hu akhirnya tersadar. Shui Hu dengan cepat mendorong Fang An, hampir membuatnya terbentur ke batang pohon besar. Beruntung Fang An bisa menahannya. Dadanya terasa sesak berkat pukulan telapak tangan Shui Hu saat mendorong. “Lebih ba-baik kalian berdua bereskan dulu dia!” ucap Ming Lan memberikan saran, “Lalu selesaikan masalah kalian setelah semua ini selesai,” lanjutnya sembari melakukan gerakan teknik penyembuhan kilat pada Shui Hu dan Fang An. Tubuh Fang An dan Shui Hu seketika menjadi terasa ringan. Bahkan mereka merasakan energi spiritualnya masing-masing bertambah dengan alami. Keduanya kompak berterima kasih pada Ming Lan, walaupun pada akhirnya kedua kembali saling membuang muka. “Ternyata dia siluman kabut, ya.” Shui Hu hanya menganggukkan kepalanya sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Fang An bertanya-tanya, “Kenapa siluman ini menyerang kita. Bukannya siluman juga makhluk baik?” Pertanyaan ini sontak membuat Shui Hu terkejut, Hah? Siluman baik?. “Memangnya ada siluman baik? Bukannya semua siluman sama-sama jahat seperti manusia?” dia bertanya balik pada Fang An yang terasa aneh. Ming Lan hanya tersenyum geli saat mendengar pertanyaan Fang An. “Kau lihat saja di kampung Yunshan, kampungku. Semua makhluk hidup, manusia dan siluman hidup berdampingan di sana. Bahkan ada yang sampai menikah.” Fang An hanya bisa menjawab dengan singkat. Ternyata dia tidak semenakutkan yang aku kira, kini pikiran Ming Lan semakin terbuka tentang Fang An. Hanya dengan melihat sikap Fang An, dia menjadi tahu, penampilan luar tidak selalu sama dengan penampilan dalam. Dan kalian tahu? Ya, betul, benih cinta kali ini benar-benar muncul, tetapi berada dalam diri Ming Lan. Siluman Kabut tidak tahan dengan ocehan Fang An dan Shui Hu, dia membentang kedua tangannya, kedua bibirnya mengucapkan sebuah mantra, dalam sekejap ratusan anak panah kabut muncul di belakang tubuhnya. Jari jemarinya bergerak-gerak ke depan belakang, kedua mata Siluman Kabut menatap Fang An dan Shui Hu bergantian. Dalam hitungan detik, dia menggerakn kedua tangannya ke depan sembari mengepal. Ratusan anak panah kabut menyerang secepat kilat kea rah Fang An dan Shui Hu dalam berbagai arah. Tangan kanan Fang An bergerak menulis suatu mantra di depan wajahnya, lalu dia melemparkan tulisan mantra tersebut ke arah anak panah. Sebuah perisai terbuat dari api muncul untuk menahan serangan ratusan anak panah. “Kau urus bagian belakang, Wanita sialan!” Shui Hu hanya berdecak kesal hanya dirinya diumpat wanita sialan. “Namaku Shui Hu, bukan wanita sialan!” jawabnya dengan nada kesal. Tidak ada pedang andalannya. Shui Hu terpaksa harus menggunakan kekuatan fisiknya untuk menghancurkan ratusan anak panah. Dia melompat ke atas, membuat tubuhnya terbang. Kedua bibirnya bergerak mengucapkan satu mantra yang membuat tubuhnya bergerak secepat kilat. Kedua tangannya yang mengepal sibuk memukul ratusan anak panah yang menyerang. Siluman kabut tertawa saat melihat kedua orang ini bisa menahan serangannya. “Boleh juga kalian berdua, ya,” ucapnya memuji Fang An dan Shui Hu. “Kalau begitu bagaimana dengan ini,” lanjutnya sembari terbang ke atas hingga berada di atas puluha pohon besar di hutan kampung Yunshan. Menutup kedua matanya, kedua bibirnya kembali bergerak, dan kedua tangannya membentuk berbagai macam gerakan hingga berakhir pada gerakan bentuk segitiga, lalu membuka kelopak matanya, dalam sekejap bola matanya mengeluarkan cahaya kegelapan. Dalam hitungan detik, langit malam dipenuhi dengan awan hitam pekat yang membuat cahaya bulan kembali tertutup. Suara guntur terdengar keras dibarengi kilatan beberapa petir yang menyambar puluhan puluhan. Seakan datang di undang, kabut-kabut dari berbagai daerah berkumpul hanya di satu titik lokasi. Hutan kampung Yunshan. Semuanya terasa seperti hari kiamat akan segera terjadi hari ini. Tiga bersaudara Gong muncul bersamaan di belakang Fang An. Ketiganya Bersiap untuk melindungi Fang An. Namun, Fang An meminta ketiganya untuk melindungi wanita bernama Ming Lan itu. Ming Lan yang menambah perhatian, membuat benih cinta dalam dirinya tumbuh semakin pesat. “Kekuatan yang dasyat,” ucap Fang An sembari melihat ke atas. Shui Hu segera turun dari atas, kedua kakinya kembali menginjak tanah. Tiba-tiba Fang An melakukan serangan telapak tangan pada dadanya, beruntung Shui Hu bisa menahannya, tetapi dirinya terpental ke arah Gong Sun. “Gong Sun, bawa mereka kembali ke kampung Yunshan!” perintah Fang An dengan tegas.