Biarkan Aku Melawannya Sendirian!

Penulis MrBroken
10 December 2025

“Tidak! Aku tidak ingin pergi.” Shui Hu menolak dengan tegas saat dirinya akan dibawa kembali ke kampung Yunshan. Gong Sun tak bisa menyeret seorang wanita begitu saja. Apalagi, dia bukanlah orang yang suka memaksa. Namun, tatapan tajam dari seorang Fang An, membuatnya tak bisa melepaskan genggaman tangannya pada tangan Shui Hu. Fang An mengangkat tangan kanannya, lalu melemparkan sebuah gelombang sihir kecil berbentuk bulat pada Shui Hu, yang membuatnya langsung tak sadarkan diri. Gong Sun Bersama dua saudara Gong lainnya, membawa Shui Hu dan Ming Lan kembali ke kampung, meninggalkan Fang An menghadapi bahaya sendirian. Perasaan khawatir tumbuh dalam dirinya. Ya, dia khawatir serangan mengerikan siluman kabut ini bisa menghancurkan sebagian kampung halamannya. Mau tak mau, dirinya terpaksa menggunakan banyak energi spiritualnya untuk membuat mantra pelindung pada kampung halamannya. Suara sambaran petir yang mengkilat semakin bergemuruh. Ditambah dengan awan hitam yang menyelimuti hampir seluruh isi hutan kampung Yunshan. Angin berhembus dengan kencang menambah suasana semakin mencekam. Tidak ada suasana yang begitu tenang untuk saat ini. Semua makhluk hidup baik besar mau kecil lari ketakutan, mencari tempat bersembunyi yang aman dari sambaran petir. Awan hitam perlahan meneteskan air matanya sedikit demi sedikit hingga menjadi hujan yang lebat. Tak ketinggalan angin mulai berhembus semakin kencang hingga membentuk pusaran puting beliung. Siluman Kabut ketawa terbahak-bahak saat melihat keadaan disekitarnya. Gelap gulita tanpa cahaya bulan, hingga berbagai macam pohon tumbang satu persatu. Ternyata Tuanku memang tidak berbohong. Dia benar-benar memberikan diriku kekuatan besar demi sebuah benda yang ada di dalam bocah itu, Siluman Kabut tiba-tiba teringat dengan tugas utamanya. Ya, menangkap Ming Lan adalah tugas utama. Ia harus mengambil pil inti jiwa milik Ming Lan. Siluman Kabut memerintahkan kabut untuk mencari keberadaan Ming Lan dan menangkapnya jika ketemu. Sedangkan dirinya harus membereskan seorang bocah yang keras kepala. Saat ini tak gunanya menyembunyikan kekuatan aslinya. Fang An memanggil pedangnya yang selama ini terus bersembunyi, yaitu Pedang Huo Jian. Pedang yang selalu di selimuti oleh api alam spiritual alias Pedang Api Suci. Tak menunggu lama-lama, Fang An meloncat ke atas untuk terbang, lalu melepaskan sebuah serangan tebasan api kilat. Gelombang tebasan api menyerang Siluman Kabut begitu cepat, hingga membuatnya tak mempunyai waktu untuk menghindar. Satu kali tebasan berhasil melukai bahu kanan Siluman Kabut, membuatnya meringis kesakitan. Tatapan tajam langsung melirik ke arah Fang An, yang membuat puluhan anak panah kabut menyerang Fang An sekaligus tanpa berhenti. Fang An mengayunkan pedangnya berusaha menahan puluhan anak panah yang menembak ke arahnya. Satu demi satu anak panah kabut berhasil dihilangkan olehnya, tetapi gelombang serangan tak pernah berhenti sama sekali, membuatnya cukup kewalahan. Fang An memutar otaknya, mencari tahu apa yang harus dia lakukan dalam kondisi sekarang. Sendirian, serangan tak terhenti, tak ada yang bisa membantunya. Mungkin satu-satunya cara menghentikannya adalah menyerangnya kembali, tapia pa yang harus kulakukan? Tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam pikirannya. Di mana dia sedang membaca buku yang berisi berbagai macam mantra sihir. Sebuah mantra yang belum pernah dicoba, tiba-tiba terpikirkan olehnya. Ya, mantra membuat kloningan diri sendiri. Kedua bibirnya langsung mengucapkan mantra tersebut dalam sekali ucapan. Dam, sebuah kloningan berhasil muncul di samping Fang An, bahkan langsung membantunya menahan gelombang serangan anak panah. Fang An segera bergerak kea rah Siluman Kabut yang sedari tadi terus diam. Dalam gerakannya yang begitu cepat, kedua tangannya mengayunkan pedangnya tepat di depan Siluman Kabut. Satu tebasan berbentuk silang berhasil melukai dada Siluman Kabut. Walaupun terkena tebasan, Siluman Kabut tetap tertawa sembari meledek Fang An. “Memangnya kau bisa melukaiku, bocah?” ia bertanya sembari memperlihatkan dadanya yang terluka beregenerasi dengan cepat hingga terlihat seperti tak pernah terluka. Kedua mata Fang An terbelalak seketika. Tak percaya tebasannya tak melukainya sama sekali. Apa aku harus melakukan serangan besar?, mungkin tebasan yang ketiga kalinya bisa menghancurkan Siluman Kabut. Kini giliran Siluman Kabut balas menyerang Fang An. Dia bergerak ke arahnya, satu pukulan melayang kea rah wajahnya, Fang An langsung menangkisnya menggunakan pedangnya, tetapi sebuah kabut berbentuk tangan muncul dari tangan sang siluman dan melayangkan satu pukulan kea rah perutnya, membuat Fang An terpental hingga tersungkur ke tanah. Fang An berusaha kembali berdiri setelah tersungkur, tangan kanannya berusaha mengambil pedangnya, dan menancapkannya ke tanah sebagai tumpuan agar bisa berdiri. Namun, siapa sangka pedang tersebut seketika menghilang, membuat Fang An kembali tersungkur ke tanah. Siluman Kabut kembali tertawa saat melihat Fang An dari atas. Dirinya tahu, kalua Fang An sudah kehabisan energi spiritualnya. Sial! Kenapa harus sekarang. Aku lupa, kalau diriku belum bisa mengendalikan pedang Huo Jian sepenuhnya. Pedang Huo Jian memang merupakan pedang api dari alam spiritual, tetapi kalau belum bisa mengendalikannya, membutuhkan banyak energi spiritual untuk menggunakannya. Tak menunggu waktu lama, Siluman Kabut menemukan keberadaan Ming Lan, dia sedang berlari dari belakang bersama tiga bersaudara Gong. Kabutnya langsung melahap Ming Lan begitu saja. Tiga bersaudara Gong tak menyadarinya sama sekali. “Sekarang aku akan menghabisimu, bocah!” ucap Siluman Kabut dengan tegas, ia mengangkat kedua tangannya ke atas. Suara gemuruh petir kembali terdengar keras. Pusaran angin putting beliung semakin berputar dengan cepat. Kondisi yang pas untuk menghabisi Fang An, menurut Siluman Kabut. Di atas kedua tangannya, sebuah kabut berbentuk bulat kecil muncul. Kedua bibirnya tak berhenti mengucapkan berbagai macam mantra, hingga membuat bola kabut semakin besar. Ketika bola kabutnya sudah sangat besar, Siluman Kabut langsung melemparkannya ke arah Fang An. Bola kabut melahap Fang An dalam sekejap. Petir langsung menyambarnya puluhan kali ke dalam bola kabut. Disusul angin putih beliung masuk ke dalam, membuat keadaan menjadi dingin. Tak lupa, ia memasukan pepohonan yang sudah tumbang ke dalamnya untuk membuat kondisi luka Fang An semakin parah. Fang An berteriak histeris. Dirinya merasakan kesakitan puluhan kali lipat dari sakit biasnaya. Tubuhnya menggigil, wajah dan kedua bibirnya berwarna pucat, tangan dan kakinya sama sekali tak bisa bergerak. Sedangkan mulutnya dipaksa untuk terus berteriak kesakitan. Tawa Siluman Kabut semakin kencang. Ming Lan yang menyaksikan dari atas hanya bisa meneteskan air mata dan menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Kedua tangan siluman kabut perlahan saling menempel hingga membentuk sebuah bola, seakan sedang mengendalikan siksaan yang terjadi pada An An. Senyuman jahat terukir di wajahnya. Sudah waktunya untuk membunuhnya. Dia menekan kedua telapak tangannya hingga saling bertemu. Dalam sekejap bola kabut yang menyiksa Fang An meledak dengan dasyat. Sebuah petir langsung menyambar puncak gunung sebagai tanda kalau mereka berhasil membunuh Fang An.