Tak ada yang bisa melawan takdir. Ketika sudah waktunya meninggalkan dunia, maka kita hanya bisa meninggalkannya apa pun keadaannya. Mencoba melawan takdir? Melawan kemustahilan? Bisa tetapi persentasenya mungkin hanya 0,1 persen. Namun, selama persentasenya belum 0, setidaknya kita masih bisa melawan kemustahilan. Itulah yang dialami oleh Fang An saat ini, tubuhnya remuk, darah segar berceceran, tak bisa bergerak sama sekali, mata perlahan mulai sanyu, mulut tak bisa bergerak hanya untuk mengucapkan satu kata pun. Namun, hatinya memiliki keyakinan bisa bangkit. Pada saat itulah sesuatu yang aneh mulai terjadi pada tubuh Fang An. Sedikit demi sedikit hawa iblis menyelimuti tubuhnya, mengangkatnya ke atas, lalu membungkusnya selama beberapa detik. Fang An perlahan membuka kedua matanya, merasakan tubuhnya bisa berdiri tegak dan bergerak bebas, rasanya seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal sebelumnya dirinya diserang habis-habisan oleh Siluman Kabut. Matanya dibuat terkejut dengan keadaan sekitar. Cuaca gelap gulita, tak ada awan, tak ada angin, hanya ada langit hitam yang dipenuhi dengan berbagai macam bintang redup. Terdengar suara letusan gunung berapi di berbagai arah. Larva-larvanya mengalir deras seperti sungai yang menerima banyak aliran air dari berbagai tempat. Tak ada makhluk hidup yang berkembang di sana, tak ada tumbuhan yang hidup di sana, yang hidup hanyalah satu, yaitu sebuah bunga merah yang dibalut dengan berbagai macam warna hitam di mulai dari kelopak, daun, dan batang, kecuali sari-sarinya yang berwarna merah kegelapan. D-di mana ini?, Fang An bertanya-tanya, apa yang telah terjadi pada dirinya. Tiba-tiba sebuah suara bergetar di alam ini, ia berkata, “Selamat datang Fang An di pusat spiritual milikmu.” “Pusat spiritual? Apa itu?” tanya Fang An yang masih kebingungan. “Pusat spiritual merupakan sumber spiritual milikmu. Segala kekuatan semuanya bersumber dari energi spiritual yang berada di dalam pusat spiritual. Setiap makhluk pasti memilikinya,” jelasnya memberitahu Fang An. “Pusat spiritual diriku? Kalau begitu siapa namamu? Kenapa bisa berada di dalam pusat spiritual milikku?” Suara ketawa terbahak-bahak terdengar di dalam pusat spiritual milik Fang An. “Tak perlu tahu siapa diriku. Apakah kau ingin mengalahkan Siluman Kabut?” Fang An dengan tegas menjawab, “Tentu saja mau.” Sang pemilik suara tanpa nama kembali bertanya untuk memastikan keyakinan Fang An, “Yakin?” Fang An hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon dari pertanyaannya. Sorot kedua matanya menatap tajam ke atas, menandakan tak ada keraguan di dalam dirinya. “Kalau begitu, sentuhlah bunga yang berada di puncah gunung berapi itu,” ucapnya sembari memberikan menunjuk ke arah sebuah gunung berapi menggunakan cahaya api. Tanpa menunggu lama-lama, Fang An langsung bergerak terbang ke arah puncak gunung. Terlihat sebuah bunga yang sedang mekar. Walaupun terlihat gelap, tetapi bunga ini memiliki keindahan dan keunikannya sendiri. “Bu-bunga apa ini?” Fang An bertanya karena penasaran dan ragu-ragu untuk menyentuhnya. “Bunga Xing Lin, salah satu bunga sumber kekuatan tak terbatas. Sentuhlah jika kau menginginkannya.” Sang pemilik suara tanpa ini tidak memberitahu Fang An, kalau bunga Xing Lin merupakan sumber kekuatan milik Penguasa Iblis sebelumnya. Hingga saat ini, tidak ada yang tahu keberadaan bunga Xing Lin berada di mana. Sebuah keraguan masih terukir di dalam Fang An. Dirinya tidak yakin, hanya dengan menyentuhnya saja bisa memiliki kekuatan tak terbatas. Di antara tak yakin dan tak percaya, keduanya bergelut di dalam pikiran Fang An. “Kenapa? Kau tak yakin? Sentuh saja dulu. Aku jamin, kau pasti mendapatkan kekuatannya,” ucapnya mencoba merayu Fang An agar segera menyentuhnya, “Apakah kau tidak ingin mengalahkan Siluman Kabut?” Mengalahkan Siluman Kabut adalah priotas Fang An saat ini. Ayolah Fang An. Apa yang kau ragukan? Kita harus mengalahkan Siluman Kabut terlebih dahulu, sebelum semuanya terlambat. Satu kaki mulai melangkah, tetapi kaki yang lain tak mau melangkah sama sekali. Rasa keraguan masih terukir di dalam pikirannya Fang An. Dia mencoba mengambil napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan pelan. Setelah itu, kedua kakinya melangkah mendekati bunga Xing Lin. Jarak antara Fang An dengan bunga Xing Lin sekarang hanya tinggal tiga langkah. Sang pemilik suara tanpa nama menyuruh Fang An untuk menyentuhnya dari jarak itu, jika dirinya masih memiliki keraguan. “Bisa dibilang kau boleh mencobanya terlebih dahulu. Namun, jika menyentuhnya dari jarak tersebut, kekuatannya menjadi terbatas dan setiap kali mengeluarkan kekuatannya akan menguras kondisi fisikmu.” Fang An yakin dengan pilihannya. Lebih baik mencobanya terlebih dahulu. Daripada tidak mencobanya sama sekali. Tangan kanannya perlahan bergerak mendekati bunga Xing Lin. Satu jari telunjuk menyentuh kelopak bunga, tetapi sang pemilik suara tanpa nama menyuruhnya agar menyentuk sari-sari bunganya. Fang An mematuhi perintahnya, jari telunjuknya perlahan mulai menyentuh sari-sari bunganya. Dalam sekejap Fang An membuka kedua matanya. Terkejut saat melihat tubuhnya diselimuti oleh hawa iblis. Bukankah sebelumnya aku berada di pusat spiritual? Apakah aku sudah kembali, tubuhnya terasa ringan dan tak ada luka sama sekali. Jari jemarinya yang manis juga bisa bergerak seperti semula. Mungkin ini saatnya menyerang balik. Siluman Kabut penasaran apa yang terjadi pada Fang An. Mengapa hawa iblis seperti tuanku bisa menyelimuti Fang An?, matanya terbelalak saat hawa iblis tersebut meledak dan menyisakan seorang bocah yang sudah ia bunuh terbang menggunakan hawa iblis. “K-kenapa kau bisa menggunakan Hawa Iblis?” Tanya Siluman Kabut yang penasaran. Fang An tidak ingin menjawab sama sekali. Tubuhnya bergerak dengan cepat ke arah sang siluman. Satu pukulan keras mendarat di pelipis kepalanya dengan keras. Sang Siluman terpental hingga membanting batang pohon. Fang An kemudian meraih Ming Lan yang dalam keadaan tak sadarkan diri. Sluman Kabut berusaha berdiri kembali sembari berdecak kesal. Sial! Darimana dia mendapatkan kekuatan tersebut? Tiba-tiba Fang An sudah berada di depan Siluman Kabut, tak pandang bulu sebuah tendangan melayang ke arah sang siluman, membuatnya kembali terpental hingga menembus puluhan pohon besar. Hanya dengan sekali melangkah, Fang An sudah berada di depan sang siluman lagi. Tangan kanannya mencekik sang siluman, lalu mengangkatnya ke atas. Siluman Kabut meronta-ronta kesakitan, meminta ampun pada Fang An agar tidak membunuhnya. Fang An hanya menjawab dengan dua kata saja, “Sudah terlambat.” Kedua matanya terlihat memerah. Hawa nafsu membunuh menyelimuti tubuhnya. Dia semakin mencekik siluman dengan keras hingga mengantarkan nyawanya ke neraka. Siluman Kabut hanya bisa berteriak kesakitan, hingga suara teriakannya tertelan bumi. Dalam hitungan detik tubuhnya menghilang menjadi abu. Brugh! Tubuh Fang An langsung tersungkur ke tanah. Dia merasakan lelah yang luar biasa, merasa fisiknya sudah terkuras habis. Padahal dia hanya menggunakan beberapa kekuatan saja. Sial!, rasa kesal terukir di wajahnya.