Dinikahi Paman Mantan - Apa Om Normal? - Bab 3

Penulis Nuvola
10 September 2025

TokTok! Tok! Tok! “Masuk saja, Lily,” suara ayahnya terdengar dari balik pintu. Dengan ragu, Lily membuka pintu ruang kerja sang ayah. Begitu melangkah masuk, langkahnya langsung terhenti. Pandangannya tertumbuk pada sosok Agam yang juga duduk di sana. Aura tenang sekaligus dingin pria itu membuat udara di ruangan terasa semakin berat. Sekilas bayangan semalam—saat bibirnya secara tiba-tiba menempel pada bibir Agam di hadapan Rafael—melintas begitu jelas. Darah Lily seolah berhenti mengalir, wajahnya pucat, dan dadanya seperti diremas. Cepat-cepat ia menurunkan tatapannya, mencoba menyembunyikan kegugupannya. “Ini laporan yang Ayah minta,” ucap Lily akhirnya, suaranya agak serak ketika ia menyerahkan dokumen ke meja ayahnya.

Agung menerima berkas itu, kemudian menatap putrinya. “Duduklah sebentar. Semalam kamu tidak ikut membicarakan soal pernikahan kalian.”

Lily menarik kursi, namun ia tidak benar-benar duduk nyaman. “Aku sudah katakan, aku akan mengikuti apa yang kalian mau,” jawabnya ketus. “Jadi tidak perlu lagi basa-basi membicarakan hal itu.” Ia berdiri kembali, meraih berkas kosong di meja. “Masih banyak pekerjaan. Aku kembali ke ruanganku.”

Agam, yang sejak tadi hanya diam, menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan. Matanya tajam, namun ada sesuatu di baliknya—seolah membaca lebih dalam dari sekadar kata-kata Lily. Gadis itu menghindari kontak mata, buru-buru melangkah keluar dengan dada yang masih sesak.

Setelah pintu tertutup, Agung menoleh pada Agam dengan wajah tak enak. “Maafkan sikap Lily, Agam.”

Agam menggeleng tipis, suaranya tenang namun datar. “Tidak apa-apa. Saya cukup mengerti.”


Di ruangannya, Lily menjatuhkan diri di kursinya. Ia meraih cermin kecil di laci, menatap bayangannya sendiri. Tatapannya tertuju pada bibirnya yang berwarna merah muda. Bayangan semalam kembali menghantuinya—ciuman yang tak terduga, tak terencana, tapi terlalu nyata untuk dilupakan.

“Kenapa aku terus memikirkannya sih!” gerutunya. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, mencoba menghapus pikiran itu. Namun suara pintu terbuka membuatnya spontan menurunkan tangannya.

Helaan napas kecewa lolos dari bibirnya saat melihat sosok yang masuk. Rafael.

“Untuk apa kamu kemari?” tanya Lily ketus, berdiri dari kursinya.

Rafael melangkah santai, tatapannya penuh percaya diri. “Lily, aku tahu apa yang kamu lakukan kemarin hanya untuk membalas dendam padaku. Jadi sekarang kita impas, bukan? Ayo kita mulai dari awal lagi. Aku tidak akan mempermasalahkan apa yang kamu lakukan.”

Lily menaikkan alis, nyaris tidak percaya dengan arogansinya. “Kamu benar-benar terlalu percaya diri, Rafael. Dan untuk apa aku membalasmu? Aku sudah tidak peduli dengan apa pun yang kamu lakukan.”

Tok tok tok.

Ketukan itu membuat keduanya menoleh. Pintu terbuka, dan Agam berdiri di sana. Sorot matanya lurus menatap Lily, dingin namun mengandung sesuatu yang sulit diuraikan.

“Bisakah kita pergi sekarang, Lily?” suaranya rendah, tapi penuh penekanan.

“Tentu saja,” jawab Lily cepat, meraih tasnya. Ia lalu menatap Rafael dengan senyum dingin. “Tuan Rafael, sebaiknya Anda keluar dari ruangan saya, karena saya akan pergi.”

Rafael mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Kehadiran Agam membuatnya tak berkutik. Kekuasaan Agam jauh lebih tinggi—bahkan ayah Rafael sekalipun tak bisa menandingi posisi Agam. Dengan wajah muram, Rafael keluar, melangkah melewati Agam tanpa sepatah kata.

Begitu pintu tertutup kembali, Agam masuk ke ruangan, menutup pintu rapat. Lily meletakkan tasnya kembali, lalu menjatuhkan tubuh di kursi empuk dengan wajah penuh tanya.

“Ada apa Om kemari?” tanyanya hati-hati, kini berhadapan langsung dengan Agam yang duduk di depannya.

“Aku harus membawamu ke butik. Kita akan menikah lusa.”

“Hah?!” Lily membelalak. “Lusa?” suaranya nyaring karena terkejut. “Kenapa Om tidak menolak perjodohan ini?” lanjutnya dengan suara bergetar, penuh kebingungan dan ketidakpastian.

Agam menatapnya lekat-lekat. “Aku menghormati pilihan ibuku.”

Lily terdiam sejenak, lalu pertanyaan tak terkontrol lolos dari bibirnya. “Apa Om… normal?”

Mata Agam langsung menyipit, tatapannya tajam menusuk. Lily menggigit bibirnya, sadar pertanyaannya kelewat batas. Namun lidahnya sudah terlanjur bicara. “Om tidak memanfaatkan aku hanya untuk menutupi… kalau Om gay, kan?”

Suasana mendadak hening, tegang. Rahang Agam mengeras, sorot matanya semakin tajam. “Apa kamu perlu bukti kalau aku normal?” suaranya berat dan datar.

Lily menelan ludah. Ia mengangguk perlahan, rasa penasaran bercampur gugup.

Tanpa peringatan, Agam bangkit berdiri. Tubuh tingginya menjulang, membuat jantung Lily berdegup lebih cepat. Dalam beberapa langkah, ia sudah berdiri tepat di depan Lily. Tangan kekarnya menarik lengan Lily, membuat tubuh gadis itu terhimpit di antara meja kerja dan dadanya yang bidang.

Sebelum Lily sempat mengelak, tubuhnya terangkat begitu saja oleh lengan kokoh Agam. Ia nyaris terpekik, tapi suaranya tertahan saat punggungnya menyentuh permukaan meja kerja. Dingin kayu meja beradu dengan panas tubuhnya yang mendadak menegang.

“Om… jangan!” suaranya tercekat, kedua tangannya refleks menolak dada bidang Agam. Namun dorongan itu tak berarti apa-apa. Perbedaan tenaga mereka terlalu jauh. Agam tetap berdiri kokoh, matanya tajam menatap lurus ke arahnya.

Dalam gerakan cepat, wajah Agam mendekat. Nafas hangatnya menyapu pipi Lily, membuat bulu kuduknya meremang. Lalu bibirnya jatuh di bibir Lily. Hangat. Liar. Tegas.

Lily membeku. Sekujur tubuhnya diliputi kehangatan asing yang menjalar begitu cepat, membuat sendi-sendinya kehilangan kekuatan. Otaknya berteriak untuk melawan, tapi tubuhnya seakan mati rasa.

BRAK!

Pintu terbuka keras, menghantam dinding hingga bergema. Rafael berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat, namun matanya menyala penuh kebencian. Pandangan itu menusuk, seakan ingin menguliti keduanya hidup-hidup.

Pemandangan di hadapannya membuat darah Rafael mendidih. Lily di atas meja, Agam berdiri begitu dekat, bibir mereka masih bersisa jejak. Rahangnya mengeras, giginya bergemeletuk menahan amarah. Tanpa sepatah kata pun, ia membanting pintu hingga suara dentuman memecah keheningan, lalu pergi dengan langkah besar, penuh murka.

Rafael sebenarnya kembali karena merasa curiga. Ia tak melihat Lily keluar bersama Agam, pikirnya gadis itu hanya berpura-pura patuh di depannya. Namun kenyataan yang barusan ia lihat seperti palu godam menghantam egonya. Baginya, Lily seharusnya tidak bisa melupakannya begitu mudah, apalagi menyerahkan diri pada pria lain.

Di dalam ruangan, Lily masih terpaku di atas meja. Napasnya terengah, wajahnya panas, tubuhnya kaku dalam cengkeraman Agam.

“Apakah kamu ingin aku melanjutkannya, supaya kamu percaya aku normal?” suara Agam terdengar datar, hampir dingin. Tidak ada emosi berlebihan, hanya ketegasan yang menusuk.

Kesadaran Lily akhirnya kembali. Kedua tangannya mendorong dada Agam lagi, kali ini dengan panik. Wajahnya memerah, bukan hanya karena ciuman tadi, tapi juga rasa malu yang menyesakkan dada. “Tidak perlu!” katanya cepat, suara bergetar. Ia tak berani menatap mata Agam, hanya menunduk menatap lantai.

Agam menatapnya beberapa detik. Sorot matanya sulit ditebak—antara marah, puas, atau sekadar ingin membuktikan sesuatu. Akhirnya ia menarik diri, memberi jarak. “Betulkan lipstikmu. Aku tunggu di lobi,” ucapnya singkat, lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

Lily terdiam. Ruangan terasa sunyi, hanya napasnya yang masih belum teratur. Tangannya gemetar saat meraih cermin kecil di tasnya. Bibirnya berantakan, lipstiknya memudar. Wajahnya memerah, bukan hanya karena malu, tapi juga karena sesuatu yang tak bisa ia jelaskan—panas yang masih membekas di bibir dan dadanya.

Ia menatap bayangan dirinya di cermin. Mata yang berkaca-kaca, wajah yang asing. “Apa yang terjadi padaku?” bisiknya lirih, seolah takut suaranya sendiri.

Menarik napas panjang, ia mulai memperbaiki riasannya. Satu sapuan demi sapuan lipstik terasa seperti usaha untuk menutup jejak perasaan yang masih bergetar di hatinya. Setelah merasa cukup rapi, ia mengumpulkan keberanian untuk melangkah keluar.

Di lobi, Agam sudah menunggunya. Tubuh tegaknya bersandar ringan di kursi, wajahnya dingin, sulit ditebak. Tatapannya sekilas terarah padanya, singkat tapi cukup membuat perut Lily terasa berputar.

“Ayo,” ucap Lily akhirnya, mencoba terdengar tegas meski nada suaranya masih goyah.

Mereka berjalan menuju mobil. Begitu masuk, keheningan menyelimuti. Mesin menyala, roda berputar, tapi tak ada kata yang terucap. Lily hanya menatap keluar jendela, menatap deretan lampu jalan yang berkelebat, sementara Agam fokus menatap jalan di depan.

Namun dalam keheningan itu, dada keduanya sama-sama penuh dengan riuh yang tak terucap.