Drama #Romance

Bab 11 MISI MENGHABISKAN UANG CALON SUAMI

11 December 2025

"Heh, ke kamar? lagi?" ucap mama Zoya yang tampak begitu terkejut dengan permintaan calon menantunya itu. Barulah saat itu Arga menyadari jika ia sudah salah bicara.

"Oh... bukan, bukan Tan... tapi mau ajak Zoya ke teras samping. Kayaknya kami harus ngobrol sendiri deh Tan... begitu," balas Arga sembari sesekali menyunggingkan senyum kecutnya karena sudah salah bicara.

"Oh... iya... nggak apa-apa kok Ga... silahkan saja.... semakin dekat kalian, semakin baik kok," ucap mama Zoya dengan jawabannya.

Akhirnya Arga pun pergi mengajak Zoya menuju ke teras samping rumah.

"Ada apa? ngapain ngajak mojok segala?" tanya Zoya setelah keduanya tiba di sana.

"Mojok, mojok! nggak ada!" sahut Arga kemudian yang lalu mengambil tempat duduk dan menempatinya. Zoya hanya berdori sembari menatap lelaki itu sebelum Arga memberi isyarat Zoya untuk duduk di kursi yang ada di sampingnya. Akhirnya mau tidak mau Zoya pun duduk di sana.

"Ada apa?" tanya Zoya kemudian.

"Kau tahu rencana mereka? tunangan saja masa iya sampai di dua tempat berbeda?" tanya Arga sembari menggerutu. Zoya hanya menggelengkan kepalanya saja sebagai jawaban.

"Bukankah kita sudah sepakat untuk mengikuti apa yang mereka inginkan? lalu kenapa juga kau mempermasalahkan tempat pertunangan yang mereka mau?" tanya Zoya balik. Lelaki yang saat itu hanya menatap kearah depan itu pun hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia menyandarkan dengan nyaman pundaknya pada sandaran kursi yang ia tempati.

"Haruskah akhir hidupku begini? dua puluh tujuh tahun aku menjalani hidupku yang nyaman dan sempurna seperti apa yang aku inginkan. Kini berubah total karena suatu hal yang tidak aku mengerti?" ucap gerutu Arga yang Zoya dengarkan.

"Hei tuan muda! kau ini lelaki, masih saja menggerutu seperti emak-emak yang sedang menawar sayuran di pasar? salah kamu sendirilah kenapa kau isi dua puluh tujuh tahunmu itu dengan sesuatu yang membosankan. Hemz... coba dong cara lain," ucap Zoya yang mencoba menimpali ucapan Arga.

"Kau kira aku sepertimu yang suka bermain dengan para pria penghibur itu? dasar kau! jangan-jangan kau sudah... akh sudahlah itu urusanmu! awas aja kelak kalau kamu masih melakukan hal yang sama setelah menjadi tunanganku!" ucap gerutu Arga yang hanya bisa pasrah dan menerima calon istrinya tersebut.

"Aku tahu kau memiliki pemikiran tersebut tentangku tapi asal kau tahu saja Aku bukan wanita yang seperti itu bahkan untuk soal laki-laki aku bisa dibilang pilih-pilih dan bukan hanya lelaki sembarangan yang bisa dekat denganku asal kau tahu saja!" ucap degus kesal Zoya karena ia sudah dipandang sebelah mata oleh calon tunangannya itu.

"Syukurlah kalau memang seperti itu ceritanya," sahut Arga lagi.

Akhirnya malam itu pun berlalu begitu saja dan esok pun tiba.

"Om... tante, selamat pagi..." ucap sapa Arga pagi itu ketika ia berkunjung ke rumah Zoya. Dimana Arga sengaja dibangunkan mamanya agar segera menjemput Zoya untuk datang ke butik langganan mamanya untuk memilih gaun yang akan Zoya kenakan saat acara pertunangan.

"Oh iya nak... Tante sudah tahu kok, mama kamu sudah bilang kemarin. Oh ya, Zoya sepertinya belum bangun... kau bangunkan saja dia ya di kamarnya, naik saja, di ujung paling pojok itu kamarnya Nak," ucap mama Zoya kemudian pada Arga. Arga yang pagi itu sudah membawa beberapa macam menu makanan dari mamanya pun segera menyerahkannya pada mama Zoya. Lalu lelaki itu masuk setelah diperailahkan oleh calon mama mertuanya tersebut.

"Anak gadis kok jam segini belum bangun, mau gimana nanti saat mengurus suami. Eh... kenapa juga aku harus memikirkan hal itu," ucap gerutu Arga di sela-sela menaiki anak tangga menuju ke lantai dua rumah tersebut. Tampak Arga penasaran bagaimana bentuk kamar wanita yang sudah mengejek nuansa ruang kamarnya tersebut. Lelaki itu menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu kamar yang mama Zoya sebutkan tadi. Beberapa kali ketukan lelaki itu lakukan namun tanpa mengeluarkan suara. Arga sengaja melakukan hal itu. Hingga terdengar suara seseorang dari dalam berbicara padanya.

"Masuk!!!" ucap Zoya dengan nada sedikit tinggi seakan sengja agar orang yang berada di luar pintu kamarnya mendengar suaranya.

"Apa dia sengaja? dia tahu aku disini? akh sudahlah..." ucap Arga yang lalu masuk sesuai apa yang Zoya inginkan. Arga mengedarkan pandangan matanya saat ia masuk ke dalam ruang kamar tersebut. Ia sedikit merasa geli dengan keadaan kamar Zoya yang tampak begitu feminim. Boneka beruang besar warna pink, seprei dan sprei set warna pink, tirak warna pink bahkan almari pakaian sampai rak buku serta meja kerja warna pink dan warna pink yang negitu mendominasi. Sangat jauh dari kesan gadis liar yang suka keluyuran di tempat hiburan malam. Tanpa sadar ia terkikik kecil karena ia menahan tawanya. Hingga Arga menyadari jika di sana tidak ada orang yang tengah ia cari. Sampai ia mendengar suara Zoya dari dalam kamar mandi yang meminta tolong padanya di susul pintu kamar mandi yang terbuka sedikit dan salah satu tangan Zoya terulur dari dalam.

"Tolong ambilkan pakaian dalamku... aku lupa membawanya tadi," ucap Zoya sembari melambaikan tangannya di sana seakan meminta seseorang tersebut mengambilkan barang yang ia inginkan.

"Baiklah..." ucap Arga dalam hati yang lalu segera melangkah menuju ke arah ranjang danengambilkan pakaian dalam yang Zoya inginkan. Tatapan mata Arta sedikit berpaling saat jemari tangannya menyentuh permukaan lembut yang nyaman saat ia sentuh rersebut. Nyatanya pakaian dalam wanita begitu berbeda dengan pakaian dalam miliknya. Hingga ia melihat pakaian dalam tersebut untuk sesaat sebelum ia memberikannya pada tangan Zoya. Entah mengapa Arga sedikit penasaran dengan bentuh dan warnanya meski ia sudah merasakan tekatur bahan tersebut. Rupanya apa yang Arga lakukan terpergok Zoya yang merasa seseorang tersebut lebih lama dari biasanya.

"Mama... cepatlah... eh!" ucap Zoya saat wanita itu menybulkan kepalanya keluar dari dalam celah pintu yang terbuka dan ia dapati Arga tengah menatap pakaian dalam miliknya yang saat itu berada di tangannya.

"Kau menatapnya!?" ucap Zoya dengan ekspresi terkejut bahkan nyaris pintu yang ia tahan itu terbuka namun ia masih bisa menahannya. Arga tampak begitu gugup dan langsung menyerahkan pakaian dalam tersebut pada Zoya kemudian memalingkan tubuhnya hingga memunggungi pintu kamar mandi.

Setelah merasa ia sedikit lega, Arga menuju ke teras luar kamar Zoya untuk melihat pemandangan dari tempat tersebut sampai Zoya dengan rambut yang masih sedikit basah datang ke arahnya dengan membawa handuk untuk mengeringkan rambutnya. Di sana ia melihat Arga tengah berdiri di depan teralis besi menghadap ke arah jalan raya.

"Kau... kenapa kemari sepagi ini?" tanya Zoya sembari duduk di kursi dan menuang teh hangat di sana yang sudah bibi asisten rumah tangga siapkan. Arga pun berbalik menghadap wanita itu.

"Mamamu yang memintaku kemari, aku nggak tahu kau sudah bangun," ucap Arga kemudian dengan balasannya.

"Tentu saja aku harus bangun pagi, misinya hari ini adalah untuk menghabiskan uangmu calon tunanganku!" ucap Zoya dengan senyum tersungging di bibirnya.