Terkadang, janji adalah kebohongan termanis.
“Bagaimana kalau aku ternyata tak selemah itu?”
Pertanyaan yang dilayangkan Ara, membuat Noah tersenyum lagi dan kali ini membelai puncak kepala gadis itu. Tanpa menjawabnya, tangannya bergerak meraih tangan Ara dan menggiringnya menuju pintu keluar mall.
Ara memperhatikan lelaki disisinya yang memilih tetap diam bahkan saat mereka telah berada di dalam mobil sport yang dikemudikan Noah untuk meninggalkan area mall. Keningnya semakin berkerut saat Ara mengenali jalanan yang dipilih sulung Hadinatha itu.
“Ini menuju rumah Jerriel, untuk apa kemari?” tanyanya.
“Jerriel ada di rumah, kan? Bagaimana kalau kita coba buktikan perkataannya? Anggap saja ini langkah pembuka,” tukas Noah tanpa mengalihkan pandang.
Mendengarnya membuat Ara tak lagi memprotes hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah sang kekasih. Gadis itu turun lebih dulu sebelum Noah menyusul setelahnya. Kaki Ara melangkah sampai ke depan gerbang dan mendapatinya tergembok.
Tangannya menyentuh bel sampai membunyikannya beberapa kali, namun lelaki yang ditunggunya tak kunjung membukakan pintu.
“Cukup.” Noah menahan tangan Ara yang sudah hendak menekan bel untuk kesekian kali.
“Hubungi dia, tanyakan sekali lagi dia dimana,” lanjutnya.
Ara mengangguk patuh dan meraih ponsel untuk mengirim pesan pada Jerriel sementara Noah menggiringnya kembali ke dalam mobil. Dirinya menatap Noah saat menyadari lelaki itu menyalakan mesin mobilnya dan melajukan kendaraannya sedikit menjauh dari lokasi rumah Jerriel.
“Jerriel belum membaca pesanku,” ujar Ara.
Noah mengangguk, “Tak apa, kita bisa menunggu.”
“Kamu tidak sedang sibuk? Bukannya harusnya kamu ke kantor untuk belajar dari Om Rafael?” tanya Ara.
“Anggap saja aku sedang libur hari ini,” cetus Noah.
“Pewaris memang beda,” Ara menggumam pelan yang membuat Noah terkekeh.
“Kita sama-sama pewaris, Ara.” Noah menyandarkan kepala ke punggung kursi, merilekskan tubuhnya.
“Aku bukan pewaris. Kalau hanya menambah musuh di dalam keluarga Abimana, lebih baik aku mencari jalanku sendiri seperti papa,” tutur Ara.
“Posisi di Skylar selalu terbuka untukmu kalau kamu mau,” Noah berkata tanpa ragu.
“Posisi apa? Sekretarismu, ya?” Ara berkata dengan senyum jahilnya.
“Aku bisa mengaturnya,” Noah menyahut tegas.
Kali ini Ara yang tertawa kecil, “Aku bercanda.”
“Aku serius.” Noah menatapnya dengan ekspresi serius yang membuat Ara tertegun.
“Itu bukan ide bagus, Noah.” Ara mengalihkan tatapannya dari lelaki itu.
Noah mengedikkan bahu, “Aku CEO Skylar nantinya setelah ayahku mengambil alih perusahaan keluarga Hadinatha. Semua keputusan ada padaku, termasuk jika aku ingin menempatkanmu sebagai sekretarisku.”
Ara menghela nafasnya, “Mari bicarakan lagi soal ini nanti kalau aku sudah lulus kuliah.”
Tawa kecil Noah terdengar hingga membuat Ara ikut tertawa setelahnya. Gadis itu lalu menegakkan punggungnya saat melihat sebuah motor yang sangat dikenalnya.
"Itu Jerriel," ujarnya.
Suaranya mengecil saat dia melanjutkan, "Bersama Ansela."
Noah tak menyahut. Lelaki itu justru menatap Ara, memperhatikan tiap ekspresinya. Sampai akhirnya Ansela turun dari motor Jerriel dan membuka pagar rumah, barulah Noah mengeluarkan suaranya.
"Mau turun menghampiri mereka?"
Ara menggeleng, "Tidak, mereka mungkin baru pulang dari rumah sakit. Pasti capek."
"Sikapmu yang lugu saat sedang menyangkal kenyataan di depan mata, selalu lucu." Noah menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan kendaraan itu pergi.
Gadis disisinya itu tak lagi menjawab. Ara memainkan jari-jarinya yang bertaut, tanda dia begitu gelisah dengan berbagai spekulasi di kepala. Belum lagi Jerriel masih tak membalas pesannya sekalipun sekarang seharusnya kekasihnya itu sudah bisa memeriksa ponsel.
Tak ada pembicaraan lagi diantara mereka sampai akhirnya Noah memberhentikan mobilnya di depan pintu utama mansion orangtua Ara.
Tangan Ara yang bergerak hendak membuka pintu mobil usai melepas sabuk pengaman, terhenti di udara saat mendengar kalimat yang tak disangkanya akan keluar dari bibir Noah.
"Bilang kalau kamu sudah siap melihat faktanya. Sebelum ini aku diam karena aku tak punya bukti jelas, tapi sekarang aku punya. Aku hanya menunggu kamu siap menerima fakta."
"Sayang, apa kamu tadi datang ke rumahku?" Jerriel langsung bertanya sesaat setelah Ara akhirnya menerima panggilan yang sudah ditunggunya sejak tadi.
Dirinya yang baru saja pergi keluar lagi untuk mengantar Ansela ke minimarket di dekat kompleks perumahannya, terkejut saat salah seorang tetangga mengatakan bahwa siang tadi Ara mendatangi rumahnya dan menekan bel beberapa kali.
"Eum, tadinya aku memang mampir tapi karena mungkin kamu sedang tidur jadi tak mendengar suara bel, aku langsung pergi," Ara menjawabnya.
Jerriel hampir menghela nafas lega saat mendengarnya. Dia sempat berpikir bahwa mungkin saja Ara melihatnya pergi bersama Ansela alih-alih berada di rumah seperti yang dikatakannya.
"Ah, ya. Aku memang sedang tidur tadi. Kenapa kamu ke rumah?" tanya Jerriel lagi.
Ara tak langsung menjawab. Gadis itu menatap ke arah jendela kamarnya yang menampilkan pemandangan halaman belakang mansion orangtuanya.
"Hanya ingin bertemu denganmu," ujarnya kemudian.
Jerriel terdiam. Dirinya sedikit tersentak saat mendengar suara lirih Ara yang menjawab pertanyaannya barusan. Dia cukup mengenal Ara dan tahu bahwa gadis itu sekarang sedang memiliki banyak sekali hal yang dipikirkannya.
"Mau keluar malam ini? Aku akan menjemputmu," tawar Jerriel.
Kali ini Ara melirik jam dinding di kamarnya, "Baiklah, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."
"Aku sampai setengah jam lagi," Jerriel menimpali sebelum mengakhiri panggilan itu dan bersiap pergi.
Langkahnya sempat terhenti saat Ansela merengek memintanya tetap tinggal, namun Jerriel merasa ada yang berbeda dari sikap Ara sejak pertemuan gadis itu dengan ayah dan ibu tirinya. Perasaan itu membuatnya merasa dia harus memprioritaskan sang kekasih sekarang.
"Nanti, Ansela! Aku harus menemui Ara!" sentaknya tanpa sadar.
Tanpa mempedulikan Ansela yang terpaku, Jerriel langsung melanjutkan langkah keluar dari rumah, menuju mobilnya dan pergi dari sana. Sementara itu, Ansela mengepalkan tangannya erat. Sebulir air mata lolos darinya.
"Bahkan setelah aku memberimu segalanya, kamu tetap tak memilihku," gumamnya.
"Berhenti di depan sana saja, Je." Ara menunjuk sebuah taman yang berada tak jauh dari area perumahan tempat mansion orangtuanya berada.
Jerriel mengangguk dan menepikan mobilnya ke area parkir taman itu sebelum akhirnya Ara turun dari mobil dan melangkah lebih dulu ke dalam area taman.
"Sayang?" Jerriel yang baru menyusul, langsung menekuk lututnya di depan Ara yang duduk di salah satu ayunan.
Senyum kecil gadis itu membuat Jerriel diliputi ketakutan. Ara pernah mengeluarkan senyum seperti itu sebelumnya saat meminta putus darinya setengah tahun yang lalu.
Saat itu, Ara memberinya kesempatan kedua walau gadis itu adalah seseorang yang tak akan mentoleransi pengkhianatan, tapi Ara memberinya kesempatan. Sekarang, senyum itu kembali muncul dan Jerriel jelas tahu apa kesalahannya.
"Kamu ingat janjimu setengah tahun lalu, Je?" panggilan sayang itu sudah tak ada, menandakan Ara sedang ingin didengarkan dengan serius.
Jerriel mengangguk, "Aku ingat."
"Apa janjimu?" tanya Ara lagi.
"Tak akan mengkhianatimu lagi." Jerriel menjawab seraya meremas tangan Ara digenggamannya.
"Dan apa yang terjadi jika kamu mengingkarinya?" Ara kembali bertanya.
Tak ada jawaban dari Jerriel. Melihat reaksinya, Ara menghela nafas sebelum kembali bicara, "Aku tak suka harus mengulang janji karena tak ada satu pun pria dalam hidupku yang sampai harus diberikan kesempatan berkali-kali dan masih tak mau berubah."
"Pengecualian untuk kakekku, tentu saja."
"Aku tak punya tenaga untuk mencecarmu dengan berbagai pertanyaan di kepalaku. Aku hanya akan menanyakanmu satu ini."
"Apa hatimu masih untukku?"
Jerriel menahan nafas saat Ara mengucapkan pertanyaan yang jelas tak bisa dijawabnya dengan mudah. Bersama Ansela, awalnya dia merasa itu hanyalah sekedar hasrat karena gadis itu selalu menggodanya dengan berbagai cara.
Tapi seiring kedekatan mereka dan seberapa intensnya mereka bertemu dalam satu atap yang sama sebagai saudara tiri, bohong jika Jerriel mengatakan dia tak mulai membagi hatinya juga pada Ansela.
"Masih. Semuanya masih milikmu, Ara." Jerriel menjawabnya setegas yang dia bisa.
Ara menatapnya cukup lama sebelum akhirnya menimpali, "Baiklah. Aku percaya."
Gadis itu lalu beranjak berdiri dan melangkah pergi lebih dulu, meninggalkan Jerriel yang terpaku menatap punggungnya.
"Maaf, Ara. Tapi saat ini aku benar-benar tak mau kehilangan salah satu diantara kalian."