Bima akhirnya mengatur pertemuan. Percakapan mereka mengalir tentang buku dan fiksi, menciptakan koneksi instan. Namun, Bima sengaja menyembunyikan identitas keluarganya dan makna sesungguhnya dari kutipan di tumbler itu.
Bab 4: Pertemuan Pertama, Kebohongan Pertama
Langit Jakarta sore itu murung, warnanya abu-abu pucat seperti halaman buku yang terlalu sering dibaca. Meira duduk di sudut Kopi Titik Koma, sebuah kafe kecil yang terselip di antara gedung-gedung kaku di dekat Stasiun Gondangdia. Aroma kopi sangrai yang pekat bercampur dengan wangi kue kayu manis, berusaha menenangkan gemuruh aneh di dadanya. Ini konyol. Ia sudah menghadapi editor galak, penolakan naskah berkali-kali, dan tenggat waktu yang mencekik. Kenapa bertemu dengan seorang petugas KAI yang menemukan tumblernya terasa lebih menegangkan daripada semua itu?
Ia melirik jam di ponselnya untuk kelima kali dalam sepuluh menit. Tiga lewat lima puluh. Bima Adiwangsa, si ‘Mas Kereta’ dengan profil media sosial yang dipenuhi foto lokomotif dan senja di Purwokerto, bilang akan tiba pukul empat. Meira merapikan poninya, lalu menyesap es kopi susunya yang sudah setengah mencair. Di benaknya, skenario terburuk berputar seperti film rusak. Bagaimana jika orangnya menyebalkan? Atau lebih buruk, bagaimana jika ia mengharapkan imbalan yang aneh-aneh?
Tenang, Mei. Ini cuma soal tumbler, bisiknya pada diri sendiri. Ambil barangmu, ucapkan terima kasih, lalu pergi. Selesai.
Tapi hatinya tahu, ini bukan ‘cuma’ soal tumbler. Selama seminggu terakhir, percakapan mereka di kolom pesan Instagram mengalir lebih lancar dari yang ia duga. Dari sekadar mengatur jadwal pertemuan, obrolan mereka melompat ke rekomendasi film, keluhan soal cuaca Jakarta, hingga perdebatan ringan tentang akhir cerita sebuah novel populer. Bima, dengan gaya bahasanya yang sopan tapi jenaka, berhasil menembus dinding sinisme Meira lapis demi lapis. Ia membuat Meira tertawa—sesuatu yang jarang terjadi akhir-akhir ini.
Pintu kafe berdenting, menarik perhatian Meira. Seorang pria berseragam biru tua khas PT KAI melangkah masuk. Posturnya tegap, rambutnya dipotong rapi, dan sebuah ransel hitam tersampir di bahu kanannya. Matanya menyapu seisi ruangan, dan ketika tatapan mereka bertemu, sebuah senyum lebar dan hangat merekah di wajahnya. Senyum itu—Meira harus mengakui—jauh lebih menawan daripada di foto profilnya yang agak buram.
Pria itu berjalan mendekat. “Mbak Meira, kan?” suaranya terdengar ramah, persis seperti yang Meira bayangkan.
Meira mengangguk, berusaha memasang ekspresi netral. “Iya. Bima?”
“Betul,” jawabnya, meletakkan ranselnya di kursi kosong di seberang Meira. Ia kemudian mengeluarkan sebuah benda dari dalam tas dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja. Tumbler biru dongker itu. Benda yang sama yang selalu menemaninya menulis hingga larut malam, benda yang menjadi saksi bisu tawa dan tangisnya bersama Ayah. Melihatnya lagi di sana, utuh dan selamat, membuat gelombang kelegaan menjalari tubuh Meira.
“Ini, Mbak. Aman, tidak ada goresan baru,” kata Bima, senyumnya masih terpasang.
“Terima kasih banyak, Mas Bima. Sumpah, saya nggak tahu harus bilang apa. Benda ini penting banget buat saya,” ujar Meira, suaranya lebih tulus dari yang ia rencanakan.
“Sama-sama. Saya bisa lihat dari kepanikan Mbak di DM waktu itu,” Bima terkekeh pelan. “Saya pesan minum dulu, ya?”
Meira mengangguk, matanya tak lepas dari tumbler itu. Ia meraihnya, merasakan permukaan logamnya yang dingin dan familier di tangannya. Kutipan itu masih terukir jelas di sana: Langit tidak pernah salah menentukan takdir awannya. Kata-kata Ayah.
Tak lama, Bima kembali dengan segelas es teh leci. Keheningan canggung menyelimuti meja mereka selama beberapa detik, hanya dipecah oleh suara denting sendok dan obrolan pengunjung lain.
“Jadi… Mbak Meira ini penulis?” Bima membuka percakapan, menunjuk buku catatan tebal dan pulpen yang tergeletak di samping laptop Meira.
Meira sedikit terkejut. “Calon penulis, lebih tepatnya. Masih berjuang menembus penerbit mayor.”
“Wah, keren!” mata Bima berbinar tulus. “Novel genre apa, kalau boleh tahu?”
“Fiksi kontemporer. Tentang… ya, tentang orang-orang Jakarta yang kehilangan arah,” jawabnya, merasa sedikit konyol menjelaskan premis ceritanya yang suram.
Alih-alih merespons dengan basa-basi, Bima justru mencondongkan tubuhnya sedikit. “Seperti karakter-karakter di novelnya Eka Kurniawan? Yang kelihatan biasa saja dari luar, tapi di dalamnya menyimpan semesta yang rumit?”
Meira mengerjap. “Mas baca Eka Kurniawan?”
Bima tertawa. “Jangan mentang-mentang saya kerja di kereta, bacaan saya cuma jadwal perjalanan, Mbak. Saya suka sekali Cantik Itu Luka. Tapi favorit saya tetap Lelaki Harimau. Cara dia membangun ketegangan psikologis di desa kecil itu… luar biasa.”
Dan begitulah bendungan itu pecah.
Selama hampir dua jam berikutnya, mereka tidak lagi bicara sebagai orang asing yang bertemu karena sebuah tumbler. Mereka adalah dua kutu buku yang menemukan kawan sefrekuensi. Mereka melompat dari Pramoedya Ananta Toer ke Haruki Murakami, dari membahas plot twist di novel Laksmi Pamuntjak hingga menguliti karakterisasi rapuh dalam karya-karya Aan Mansyur.
Meira mendapati dirinya benar-benar menikmati percakapan itu. Bima bukan hanya membaca, ia memahami. Ia bicara tentang bagaimana narasi bisa menjadi rumah bagi mereka yang merasa tak punya tempat, bagaimana sebuah kalimat bisa terasa lebih nyata daripada dunia di sekitar kita. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Meira merasa dilihat. Ia tidak perlu menjelaskan kenapa ia lebih suka menghabiskan akhir pekan dengan tumpukan buku daripada pergi ke mal. Bima mengerti.
“Menurut saya,” kata Bima di tengah perdebatan mereka tentang akhir yang ambigu, “cerita yang bagus itu bukan yang memberi semua jawaban, tapi yang membuat kita mengajukan pertanyaan yang tepat. Sama seperti perjalanan kereta. Tujuannya penting, tapi pemandangan dan orang-orang yang kita temui di sepanjang jalan itulah yang membentuk cerita.”
Meira tersenyum tulus. “Itu filosofi yang bagus. Cocok untuk seorang petugas KAI.”
“Hanya pengamatan saja, Mbak,” balas Bima merendah. “Pekerjaan ini mempertemukan saya dengan ribuan cerita setiap hari. Ada yang berangkat untuk memulai hidup baru, ada yang pulang untuk mengakhiri sebuah babak. Semua ada di gerbong-gerbong itu.”
Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuat Meira penasaran. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar deskripsi pekerjaan. “Kelihatannya Mas Bima suka sekali dengan pekerjaan ini.”
“Suka sekali,” Bima mengangguk mantap. “Ini bukan sekadar pekerjaan. Ini… semacam warisan keluarga.”
“Oh ya? Keluarga Mas banyak yang kerja di KAI juga?” tanya Meira, rasa ingin tahunya terusik. Ini adalah kesempatan untuk mengenal pria di hadapannya lebih jauh.
Di sinilah Meira melihat perubahan kecil itu. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk ditangkap oleh mata seorang pengamat seperti dirinya. Senyum Bima sedikit menegang di sudut bibirnya. Tatapannya yang tadi hangat kini seperti diselubungi kabut tipis.
“Nggak juga, sih,” jawab Bima, suaranya terdengar sedikit terlalu santai. “Maksud saya lebih ke… semangat pengabdiannya. Kakek saya dulu juga punya kecintaan besar pada kereta api, walau bukan pegawai. Beliau wiraswasta biasa di Purwokerto. Ayah saya juga. Saya saja yang kebetulan nyasar ke sini.”
Sebuah kebohongan. Atau setidaknya, sebuah pengelakan. Meira tidak tahu kenapa, tapi instingnya mengatakan ada bagian cerita yang sengaja dihilangkan. Jawaban itu terasa terlalu rapi, terlalu umum. Namun, ia memutuskan untuk tidak mendesak. Mungkin itu topik yang sensitif.
Ia mengalihkan perhatiannya kembali ke tumbler di atas meja. “Ngomong-ngomong soal warisan… kutipan di tumbler ini juga dari Ayah saya.”
Bima menatap ukiran kalimat itu. Wajahnya kembali menunjukkan ekspresi yang sulit dibaca. Ia terdiam sejenak, jarinya menelusuri tepian gelas es tehnya.
“Langit tidak pernah salah menentukan takdir awannya,” Bima membacanya dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan. “Kutipan yang indah. Sangat puitis.”
“Ayah saya yang membuatnya. Beliau bukan penulis atau apa, hanya seorang insinyur sipil. Tapi beliau suka merangkai kata-kata,” Meira menjelaskan, merasakan kehangatan yang familier saat membicarakan ayahnya. “Bagi beliau, kalimat ini berarti setiap orang punya jalannya masing-masing, dan kita tidak perlu cemas. Langit—atau Tuhan, atau semesta, apa pun itu—sudah menyiapkan skenario terbaik.”
Meira menunggu reaksi Bima. Ia berharap Bima akan menanyakan lebih lanjut tentang ayahnya, atau mungkin berbagi pandangannya sendiri tentang takdir. Namun, yang Bima lakukan justru sebaliknya.
“Maknanya dalam sekali, Mbak,” kata Bima. Tatapannya tidak tertuju pada Meira, melainkan pada tumbler itu, seolah benda itu menyimpan rahasia yang hanya ia yang tahu. Ia tidak bertanya apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk pelan, seolah sedang menegaskan sesuatu pada dirinya sendiri.
Lagi-lagi, sebuah kejanggalan. Responsnya terasa… tertahan. Seolah ia sengaja menjaga jarak dari topik itu. Seolah kutipan itu menyentuh sebuah titik dalam dirinya yang tidak ingin ia perlihatkan pada Meira.
Kebohongan pertama, sebuah suara sinis berbisik di benak Meira. Dan ini yang kedua.
Bima tampaknya menyadari keheningan yang tiba-tiba terasa berat. Ia cepat-cepat mengubah topik pembicaraan. “Oh iya, Mbak Meira. Saya hampir lupa. Saya ada sesuatu buat Mbak.”
Ia merogoh ranselnya lagi dan mengeluarkan sebuah buku bersampul sederhana. Judulnya Stasiun-Stasiun Terakhir, sebuah antologi cerpen karya penulis yang tidak Meira kenal.
“Saya lihat di profil Mbak, Mbak suka cerpen-cerpen bertema perjalanan. Buku ini mungkin cocok. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena sudah membuat Mbak panik selama beberapa hari,” kata Bima sambil menyodorkan buku itu.
Meira tertegun. “Mas, nggak perlu repot-repot. Justru saya yang harusnya berterima kasih.”
“Anggap saja ini rekomendasi dari sesama pembaca,” desak Bima dengan senyumnya yang kembali hangat, berhasil mengusir kabut aneh yang tadi menyelimuti mereka.
Dengan ragu, Meira menerima buku itu. Jari mereka bersentuhan sesaat. Ada sengatan listrik kecil yang mengejutkan, membuat Meira menarik tangannya sedikit terlalu cepat.
Mereka melanjutkan obrolan, kembali ke topik yang aman—buku, film, dan kelucuan penumpang kereta—tapi bagi Meira, sesuatu telah berubah. Di balik tawa dan percakapan yang mengalir, ada sebuah ruang kosong yang baru saja tercipta. Ruang yang diisi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak terucapkan. Kenapa Bima berbohong tentang keluarganya? Kenapa ia bersikap aneh saat membahas kutipan di tumbler itu?
Ponsel Bima bergetar, menampilkan pengingat di layarnya.
“Waduh, maaf, Mbak. Saya harus segera ke Gambir. Kereta saya ke Purwokerto berangkat satu jam lagi,” katanya, tampak menyesal.
“Oh, oke. Nggak apa-apa,” sahut Meira, sedikit kecewa karena pertemuan itu harus berakhir.
Mereka bangkit dari kursi. Di depan kafe, gerimis mulai turun, membuat aroma aspal basah menguar ke udara.
“Sekali lagi, terima kasih banyak, Mas Bima. Untuk tumblernya, dan untuk bukunya,” kata Meira.
“Sama-sama, Mbak Meira. Senang bisa ngobrol langsung,” balas Bima. Ia berhenti sejenak, menatap Meira dengan sorot mata yang kembali serius. “Hati-hati dengan tumblernya. Benda dengan kenangan sekuat itu layak dijaga baik-baik.”
Kalimat itu terdengar seperti nasihat biasa, tapi Meira merasa ada bobot lain di baliknya.
“Pasti,” jawab Meira.
Bima tersenyum sekali lagi, senyum yang kini terasa sedikit misterius bagi Meira. Ia mengangguk, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju stasiun, punggungnya yang tegap segera ditelan oleh keramaian sore Jakarta.
Meira berdiri di sana selama beberapa saat, membiarkan tempias gerimis membasahi ujung lengan bajunya. Di satu tangan, ia menggenggam tumbler peninggalan ayahnya yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Di tangan yang lain, ia memegang buku pemberian Bima. Pertemuan pertama mereka terasa seperti bab pembuka sebuah novel yang rumit. Ada koneksi yang tak terbantahkan, percikan yang ia kira sudah lama padam dalam dirinya. Namun, ada juga misteri. Kebohongan-kebohongan kecil yang disembunyikan di balik senyum ramah dan obrolan tentang sastra.
Ia membuka buku Stasiun-Stasiun Terakhir itu. Di halaman pertama, ada sebuah tulisan tangan yang rapi dengan tinta hitam.
Untuk Meira, semoga menemukan cerita yang dicari, di dalam buku maupun di luar sana. - B.A.
Meira menutup kembali buku itu. Angin meniup rambutnya, membawa hawa dingin yang membuatnya bergidik. Tumbler itu telah kembali, tapi ia justru merasa kehilangan sesuatu yang lain: kepastian. Pertemuan ini tidak memberinya jawaban, malah melahirkan sebuah pertanyaan besar yang menggema di kepalanya.
Siapa sebenarnya Bima Adiwangsa? Dan apa hubungannya dengan kutipan ayahnya yang terukir di tumbler biru dongker itu?