Drama

Chapter 6: Hantu dari Masa Lalu

12 December 2025

Munculnya Rania, wanita dari lingkaran keluarga Bima, mengusik ketenangan Meira. Rania secara halus memberikan petunjuk bahwa hubungan Meira dan Bima didasari oleh sebuah kebetulan yang telah direkayasa.

Bab 6: Hantu dari Masa Lalu

Langit Jakarta sore itu berwarna kelabu ragu-ragu, seolah enggan memutuskan antara hujan dan senja. Meira merasakan keraguan yang sama mengendap di dadanya. Pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal itu terasa seperti batu kerikil di sepatunya—kecil, tapi mengganggu di setiap langkah.

“Selamat sore, Meira. Saya Rania, sepupu Bima. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan denganmu. Bisa kita bertemu di Kafe Kuno besok jam 4 sore? Salam kenal.”

Singkat, sopan, namun sarat akan sebuah otoritas yang tak terucap. Meira, dengan insting sinisnya yang telah tertidur beberapa minggu terakhir, langsung terjaga. Sepupu Bima? Bima tak pernah menyebutkan punya sepupu bernama Rania. Setidaknya, tidak secara spesifik. Keluarga Bima adalah sebuah teritori berkabut baginya, hanya disebut dalam anekdot-anekdot hangat tentang ibunya yang jago memasak atau neneknya yang tegas di Bogor.

Dan sekarang, salah satu penghuni teritori itu ingin menemuinya. Sendirian.

Maka di sinilah ia, duduk di sudut Kafe Kuno yang temaram, sebuah tempat dengan interior kayu gelap dan aroma kopi giling yang pekat. Tempat ini terlalu artsy dan terlalu mahal untuk seleranya, tapi ia sengaja datang lima belas menit lebih awal. Seorang novelis harus menguasai medan perangnya. Ia mengamati pintu masuk, jemarinya mengetuk-ngetuk pelan cangkir cappuccino-nya yang mulai mendingin. Ia mengenakan kemeja flanel kebesaran dan jins belel, zirah andalannya untuk menghadapi dunia.

Tepat pukul empat, pintu kafe berderit pelan. Seorang wanita melangkah masuk. Meira langsung tahu, itu dia.

Rania adalah antitesis dari segala hal tentang Meira. Jika Meira adalah draf kasar yang penuh coretan, Rania adalah naskah final yang sudah dijilid rapi dengan sampul mewah. Rambutnya hitam legam, tergerai lurus dan berkilau membingkai wajah tirus berhias riasan tipis yang sempurna. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem dan celana pallazo yang jatuh dengan anggun. Tas tangan bermerek tersampir di lengannya. Langkahnya mantap, matanya yang setajam elang memindai ruangan sebelum berhenti dan mengunci tatapannya pada Meira.

Senyum tipis tersungging di bibirnya saat ia berjalan mendekat. Aroma parfumnya yang lembut—campuran melati dan cendana—mendahului kedatangannya.

“Meira?” suaranya halus, seperti gemerisik kain sutra.

Meira mengangguk, memaksakan seulas senyum. “Rania. Silakan duduk.”

Rania duduk di seberangnya, posturnya tegak sempurna. Ia meletakkan tasnya dengan hati-hati di kursi kosong di sebelahnya. Untuk sesaat, mereka hanya saling menatap. Meira merasa seperti sedang dianalisis, setiap detail penampilannya ditimbang dan dinilai.

“Terima kasih sudah mau datang,” Rania memulai, memecah keheningan. “Aku tahu ini mendadak.”

“Tidak masalah. Aku penasaran,” jawab Meira, sengaja memilih kata yang sedikit provokatif.

Rania tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi. “Rasa penasaran itu bagus untuk seorang penulis, kan? Bima banyak sekali bercerita tentangmu. Calon novelis hebat dari Jakarta.”

Ada nada merendahkan yang halus dalam pujian itu, tapi Meira memilih untuk mengabaikannya. “Bima juga bercerita tentang keluarganya, tapi dia tidak pernah menyebut namamu.”

“Oh, benarkah?” Rania tertawa kecil, suara tawanya seperti denting lonceng kristal. “Bima memang begitu. Dia hanya akan menceritakan hal-hal yang baik dan sederhana. Keluarga kami… sedikit lebih rumit dari itu.”

Seorang pelayan datang. Rania memesan Earl Grey tea tanpa gula dengan gestur yang familier, seolah ia adalah pelanggan tetap di sana. Setelah pelayan pergi, tatapannya kembali fokus pada Meira.

“Aku langsung saja, ya, Meira. Aku tidak suka basa-basi,” katanya, nadanya berubah menjadi lebih serius. “Aku ke sini karena aku peduli pada Bima. Dia seperti adikku sendiri. Dia anak yang baik, kadang… terlalu baik sampai naif.”

Jantung Meira berdebar sedikit lebih cepat. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Drama klasik: keluarga yang tidak setuju. “Apa maksudmu?”

“Maksudku, Bima itu hatinya tulus. Kalau dia menyukai sesuatu, dia akan menyukainya dengan sepenuh hati. Termasuk orang. Tapi kadang, dia tidak melihat gambaran besarnya.” Rania mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Seperti… pertemuan kalian, misalnya. Di kereta. Karena sebuah tumbler yang hilang. Romantis sekali, ya? Seperti adegan di film.”

Meira menyipitkan matanya. “Itu memang yang terjadi.”

“Tentu saja,” Rania mengangguk pelan, seolah sedang memaklumi kenaifan seorang anak kecil. Tehnya datang, dan ia dengan anggun mengangkat cangkir porselen itu. “Bima menceritakan semuanya. Tentang betapa berartinya tumbler itu untukmu. Peninggalan satu-satunya dari almarhum ayahmu. Sebuah cerita yang sangat menyentuh.”

Darah Meira berdesir. Ada yang salah. Sangat salah. Ia memang menceritakan kisah tumbler itu pada Bima, tapi itu terjadi setelah beberapa kali pertemuan, dalam sebuah percakapan yang dalam dan personal di tepi danau UI. Bima tidak mungkin menceritakan detail sepribadi itu pada sepupunya yang bahkan belum pernah Meira temui.

“Bagaimana kamu tahu detail itu?” tanya Meira, suaranya lebih tajam dari yang ia niatkan.

Rania menyesap tehnya, matanya menatap Meira dari balik bibir cangkir. “Bima yang cerita, tentu saja. Dia sangat terbuka pada keluarga. Terutama pada Nenek.”

Nenek. Sosok matriark yang sering Bima sebutkan dengan campuran rasa hormat dan segan.

“Begini, Meira,” Rania meletakkan cangkirnya dengan pelan, tanpa menimbulkan suara sedikit pun. “Keluarga kami itu… sangat menghargai takdir. Kami percaya pada jodoh. Tapi kami juga percaya, terkadang, takdir butuh sedikit bantuan untuk terjadi.”

Kalimat itu menggantung di udara di antara mereka, berat dan penuh makna tersembunyi. Udara di dalam kafe yang sejuk tiba-tiba terasa menyesakkan. Suara mesin penggiling kopi di bar terdengar seperti geraman.

“Bantuan?” ulang Meira, otaknya berusaha keras menyusun kepingan-kepingan puzzle yang baru saja dilemparkan Rania ke atas meja.

Rania tersenyum penuh arti. “Bima sudah cukup umur. Nenek kami ingin sekali melihatnya mapan dengan pasangan yang tepat. Pasangan yang… sepadan. Seseorang dari Bogor, dari lingkaran kami, sudah disiapkan untuknya sejak lama.”

Meira merasakan perutnya mulas. Jadi ini intinya. Perjodohan. Ia hampir saja tertawa getir. Klise sekali.

“Lalu apa hubungannya denganku?”

“Hubungannya adalah kamu,” jawab Rania, tatapannya menusuk. “Kamu muncul entah dari mana dan mengacaukan rencana yang sudah disusun rapi. Bima, dengan hatinya yang lembut itu, terpesona padamu. Pada ceritamu. Pada… tragedi kecilmu.”

“Tragedi kecil?” Meira mengernyit. “Maksudmu tumblerku?”

“Tepat.” Rania mengangguk. “Sebuah kebetulan yang sangat indah, bukan? Seorang gadis kehilangan barang paling berharganya di kereta, dan seorang pria baik hati menemukannya. Tapi, pernahkah kamu berpikir, Meira… seberapa besar kemungkinan hal itu terjadi secara kebetulan?”

Dunia Meira seakan berhenti berputar. Gema di gerbong tiga. Pertemuan yang ia anggap sebagai satu-satunya percikan magis dalam hidupnya yang sinis. Semua itu…

“Apa yang ingin kamu katakan, Rania?” desis Meira, suaranya bergetar.

“Aku hanya ingin kamu membuka mata,” Rania bersandar di kursinya, menyilangkan lengannya dengan santai. Sikapnya kontras dengan badai yang mulai berkecamuk di dalam diri Meira. “Tumbler itu… istimewa sekali, ya? Seolah memang sengaja ditaruh di sana untuk ditemukan oleh orang yang tepat.”

Sengaja ditaruh di sana.

Kalimat itu menghantam Meira seperti gerbong kereta. Rekayasa. Pertemuan mereka adalah sebuah rekayasa. Tapi… untuk apa? Mengapa? Siapa yang akan melakukan hal serendah itu? Dan bagaimana mereka tahu tentang tumbler itu, tentang signifikansinya?

“Itu tidak masuk akal,” bantah Meira, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. “Tidak ada yang tahu tentang tumbler itu selain aku.”

“Oh, yakin?” Rania mengangkat sebelah alisnya. “Di era media sosial ini, mencari tahu tentang seseorang itu mudah sekali, Meira. Kamu seorang penulis. Kamu pasti sering berbagi potongan-potongan hidupmu di blog atau media sosialmu, kan? Tentang ayahmu, tentang kenangan, tentang barang-barang sentimental. Seseorang yang cukup termotivasi bisa dengan mudah merangkai ceritamu.”

Meira terdiam. Blog lamanya. Postingan-postingan Instagram beberapa tahun lalu saat ia sedang melankolis. Ia memang pernah menulis tentang ayahnya dan tumbler itu. Ia pikir tidak ada yang membacanya. Ia pikir itu hanya jeritan kosong ke dalam ruang hampa digital.

“Siapa?” bisik Meira. “Siapa yang melakukannya?”

“Aku tidak bilang ada yang melakukannya,” Rania berkelit dengan lihai. “Aku hanya menyajikan sebuah kemungkinan lain. Sebuah sudut pandang. Bukankah itu yang dilakukan seorang novelis? Melihat sebuah cerita dari berbagai sisi?”

Ia seperti ular. Cantik, mematikan, dan lidahnya bercabang. Setiap katanya adalah racun yang disuntikkan perlahan-lahan ke dalam aliran darah Meira, melumpuhkan keyakinan yang baru saja tumbuh.

“Kenapa kamu memberitahuku ini?” tanya Meira, berusaha menjaga suaranya agar tidak pecah.

“Karena aku ingin kamu mengerti posisimu,” Rania menatapnya lekat. “Hubungan yang dimulai dari kebohongan, atau setidaknya dari sebuah fondasi yang direkayasa, tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, Bima akan kembali pada jalan yang sudah disiapkan untuknya. Aku hanya tidak ingin kamu terlalu sakit hati saat itu terjadi.”

Itu adalah sebuah ancaman yang dibungkus dengan kepedulian palsu. Sebuah ultimatum. Mundur sekarang, atau bersiaplah untuk hancur.

“Apakah Bima tahu?” Pertanyaan itu lolos dari bibir Meira sebelum ia sempat menahannya. Pertanyaan paling penting. Pertanyaan yang paling ia takuti jawabannya.

Rania terdiam sejenak, seolah menimbang-nimbang jawabannya. “Bima itu anak baik, Meira. Dia selalu melakukan apa yang terbaik untuk keluarga. Dia menghormati Nenek lebih dari siapa pun. Aku harap kamu mengerti maksudku.”

Jawaban itu lebih buruk daripada ‘ya’ atau ‘tidak’. Jawaban itu menempatkan Bima di area abu-abu, sebagai pion yang patuh atau bahkan partisipan yang rela. Bima yang ia kenal—yang matanya selalu memancarkan kehangatan tulus, yang tawanya renyah, yang tangannya terasa begitu pas saat menggenggam tangannya—apakah semua itu juga bagian dari sandiwara?

Rania melirik jam tangannya yang ramping. “Aku harus pergi. Ada urusan lain.”

Ia berdiri, merapikan blusnya yang bahkan tidak kusut sedikit pun. Ia mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja, lebih dari cukup untuk membayar pesanan mereka berdua. Sebuah gestur kekuasaan yang final.

“Senang bertemu denganmu, Meira,” katanya, tanpa sedikit pun kehangatan dalam suaranya. “Pikirkan baik-baik apa yang aku katakan. Demi kebaikanmu sendiri.”

Dan dengan itu, ia berbalik dan berjalan keluar dari kafe, meninggalkan Meira sendirian di tengah reruntuhan dunianya yang baru. Aroma parfum Rania masih tertinggal di udara, mencekik.

Meira menatap cangkir cappuccino-nya yang kini sudah dingin sepenuhnya. Buih susunya telah pecah, menyisakan cairan cokelat pucat yang tampak menyedihkan. Persis seperti perasaannya saat ini. Semua kehangatan dan keindahan yang ia rasakan bersama Bima selama ini terasa seperti buih itu—rapuh dan palsu.

Ia ingin marah. Ia ingin membanting cangkir. Ia ingin menelepon Bima dan memakinya. Tapi yang ia rasakan hanyalah kehampaan yang dingin dan menusuk. Keraguan adalah racun yang paling mematikan bagi seorang sinis yang baru saja belajar untuk percaya. Dan Rania baru saja menyuntikkan dosis letal ke dalam hatinya.

Ponselnya di atas meja bergetar, layarnya menyala.

Sebuah notifikasi dari Bima.

“Lagi di mana? Kangen.”

Diikuti dengan emoji tersenyum.

Meira menatap pesan itu. Tiga kata sederhana yang beberapa jam lalu akan membuatnya tersenyum, kini terasa seperti ejekan. Setiap hurufnya seolah berteriak: kebohongan, rekayasa, sandiwara.

Gema dari gerbong tiga, yang selama ini terdengar seperti melodi yang indah, kini berubah menjadi gaung kosong yang menakutkan. Hantu dari masa lalu telah datang, bukan hanya dari masa lalunya sendiri, tapi juga dari masa lalu Bima yang tak pernah ia ketahui. Dan hantu itu baru saja membisikkan bahwa seluruh awal dari kisah mereka adalah sebuah kebohongan yang dirancang dengan sempurna.

Meira mematikan layar ponselnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak tahu lagi harus percaya pada apa.