Drama

Chapter 7: Aksara Pengkhianatan

12 December 2025

Meira menemukan bahwa kutipan di tumblernya terhubung dengan skandal lama keluarga Bima. Ia menyadari pertemuannya dengan Bima mungkin bukan takdir, melainkan bagian dari permainan Bima untuk menghadapi masa lalunya.

Bab 7: Aksara Pengkhianatan

Udara Yogyakarta terasa berbeda. Bukan sekadar suhu yang lebih sejuk dibandingkan Jakarta yang selalu tergesa-gesa, melainkan semacam ketenangan yang meresap hingga ke tulang. Di pendopo samping ndalem keluarga Bima, tempat ia diizinkan untuk menulis, Meira merasakan ketenangan itu menyusup ke dalam dirinya. Wangi bunga kenanga dari taman berbaur dengan aroma kopi tubruk yang baru saja diseduh oleh Bi Asih, abdi dalem sepuh yang wajahnya selalu dihiasi senyum teduh.

Sudah tiga hari Meira berada di kota ini. Tiga hari yang terasa seperti jeda panjang dari realitasnya yang sinis. Bima, dengan segala kelembutan dan misterinya, berhasil membongkar satu per satu dinding pertahanan yang ia bangun. Ia menunjukkan Meira sudut-sudut kota yang tak tercantum di brosur pariwisata, membawanya ke warung sate klathak legendaris yang hanya diketahui penduduk lokal, dan mendengarkan semua keluh kesahnya tentang dunia penerbitan dengan kesabaran seorang pertapa.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Meira merasa dilihat. Bukan sebagai calon novelis gagal atau perempuan sinis yang sulit didekati, tapi hanya sebagai Meira. Dan perasaan itu, meski menakutkan, terasa begitu menyenangkan. Pertemuan di gerbong tiga itu mulai terasa seperti takdir, sebuah kebetulan manis yang ditulis oleh semesta.

Pagi itu, Bima pamit untuk mengurus beberapa hal di galeri batiknya. Meira memutuskan untuk memanfaatkan waktu sendirian itu untuk melanjutkan riset novelnya, sekaligus mencari tahu lebih banyak tentang dunia Bima. Rasa penasarannya sebagai penulis tak bisa dibendung. Pria itu adalah teka-teki yang menarik untuk dipecahkan.

"Pustaka Adiwangsa," gumam Meira sambil mengetik nama itu di laptopnya. Itu adalah nama rumah penerbitan yang didirikan oleh kakek Bima, yang kini dikelola oleh ayahnya. Bima pernah menyinggungnya sekilas, mengatakan bahwa keluarganya punya sejarah panjang dengan dunia aksara.

Hasil pencarian pertama menunjukkan situs web resmi yang tampak profesional, menampilkan jajaran buku-buku sastra berkualitas dan biografi tokoh-tokoh penting. Ada foto hitam-putih Eyang Kakung Bima, Raden Mas Adiwangsa, seorang pria berwibawa dengan tatapan tajam, berpose di depan mesin cetak tua. Meira tersenyum. Jadi dari sinilah darah seniman Bima mengalir.

Ia terus menggulir ke bawah, melewati artikel-artikel penghargaan dan ulasan buku, hingga matanya terpaku pada sebuah tautan di halaman ketiga pencarian. Judulnya samar, berasal dari sebuah blog sastra lawas yang sudah tidak aktif, ditulis sekitar lima belas tahun yang lalu. Judulnya provokatif: Gema yang Dibungkam: Tragedi Daniswara dan Sisi Gelap Pustaka Adiwangsa.

Jantung Meira berdebar sedikit lebih cepat. Daniswara. Nama itu terasa familier, tapi ia tak bisa mengingat di mana pernah mendengarnya. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia mengklik tautan itu.

Laman blog itu sederhana, dengan latar belakang kelabu dan tulisan berwarna putih. Tapi isi di dalamnya membuat Meira menahan napas. Artikel itu mengupas sebuah skandal sastra yang terjadi di akhir tahun 90-an. Seorang penulis muda berbakat bernama Daniswara Pramudya dituduh melakukan plagiarisme terhadap karya seorang sastrawan senior. Pustaka Adiwangsa, yang saat itu hendak menerbitkan novel debut Daniswara, secara sepihak membatalkan kontrak dan mengeluarkan pernyataan publik yang menyudutkannya.

Media mengoyaknya habis-habisan. Komunitas sastra terbelah. Daniswara, yang dikenal sebagai pribadi yang rapuh dan idealis, tak kuasa menanggung malu dan tekanan. Seminggu setelah skandal itu meledak, ia ditemukan tewas di kamar kosnya di bilangan Kaliurang. Bunuh diri. Artikel itu menyebutkan bahwa Daniswara meninggalkan sebuah surat pendek dan naskah terakhir yang tak pernah selesai.

Meira merasakan dingin merayap di punggungnya. Ia terus membaca, setiap kata terasa seperti pukulan di ulu hati. Penulis blog itu, yang tampaknya adalah sahabat dekat Daniswara, berargumen bahwa tuduhan plagiarisme itu tidak berdasar, sebuah konspirasi untuk menjatuhkan seorang bintang baru yang cahayanya terlalu terang. Ia menuduh Pustaka Adiwangsa, yang saat itu dipimpin oleh ayah Bima, telah mengorbankan Daniswara demi menjaga hubungan baik dengan sastrawan senior yang berpengaruh itu.

Lalu, Meira sampai pada paragraf terakhir. Paragraf yang membuat seluruh dunianya seakan berhenti berputar.

"...Naskah terakhir Danis yang tak akan pernah selesai itu berjudul 'Awan Kelabu'. Sebuah kisah tentang penerimaan dan kehilangan. Aku masih ingat kalimat pembuka yang selalu ia banggakan, kalimat yang ia tulis berulang-kali di buku catatannya, seolah menjadi mantera hidupnya. Kalimat itu berbunyi: 'Langit tak pernah memilih siapa yang dinaunginya'..."

Napas Meira tercekat di tenggorokan.

Langit tak pernah memilih siapa yang dinaunginya.

Kalimat itu. Aksara yang sama persis dengan yang terukir di tumbler peninggalan ayahnya. Kalimat yang menjadi sauhnya selama ini. Kalimat yang membuat Bima menoleh padanya di gerbong tiga.

Dunia di sekitar Meira terasa menyempit, suara jangkrik di taman dan desau angin di dedaunan mendadak lenyap. Yang tersisa hanyalah dengung tajam di telinganya. Laptop di pangkuannya terasa berat seperti batu nisan.

Semua kepingan puzzle yang tadinya berserakan kini menyatu dengan bunyi yang memekakkan, membentuk sebuah gambar yang mengerikan. Ini bukan takdir. Ini bukan kebetulan.

Ayahnya. Ayahnya seorang jurnalis lepas di akhir tahun 90-an. Seorang idealis yang sering menulis tentang kasus-kasus ketidakadilan. Meira samar-samar ingat ayahnya pernah bercerita tentang seorang penulis muda yang ia kagumi, yang nasibnya berakhir tragis. Ayahnya pasti tahu tentang Daniswara. Kalimat di tumbler itu bukan sekadar kutipan puitis. Itu adalah sebuah penghormatan. Sebuah tugu peringatan kecil dari ayahnya untuk seorang seniman yang dibungkam.

Dan Bima...

Ingatan Meira berputar kembali ke gerbong tiga. Cara Bima menatap tumblernya, bukan dengan rasa ingin tahu biasa, tapi dengan keterkejutan yang dalam, seolah melihat hantu. Pertanyaannya yang terdengar terlalu spesifik, "Dari mana kamu dapat kutipan itu?" Keinginannya untuk membantu, kebaikannya yang terasa instan dan melimpah. Semua keramahannya di Yogyakarta.

Apakah semua ini hanya skenario?

Rasa dingin di punggungnya kini berubah menjadi amarah yang membakar. Ia merasa bodoh. Naif. Bagaimana bisa ia, Meira yang selalu sinis dan tidak percaya pada dongeng, bisa jatuh ke dalam perangkap semanis ini?

Ia membuka tab baru, jarinya mengetik dengan kasar: "Bima Adiwangsa" dan "Daniswara Pramudya".

Hasilnya muncul seketika. Sebuah artikel koran digital yang diarsipkan, memuat foto lama. Foto pemakaman Daniswara. Di antara kerumunan pelayat yang muram, tampak seorang pria paruh baya yang Meira kenali sebagai ayah Bima dari foto di situs Pustaka Adiwangsa. Dan di sampingnya, berdiri seorang anak laki-laki kurus berusia sekitar sepuluh tahun, menatap kosong ke arah peti jenazah. Anak itu adalah Bima.

Jadi, Bima tahu. Tentu saja dia tahu. Dia ada di sana. Dia menyaksikan semuanya.

Pertanyaan yang lebih besar kini menghantam Meira: Apa tujuannya? Mengapa ia mendekatinya? Apakah karena tumbler itu? Apakah ia mengira Meira adalah kerabat Daniswara? Atau apakah ia ingin sesuatu dari Meira? Sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu kelam keluarganya?

Meira merasa seperti pion dalam permainan catur yang bahkan tidak ia sadari sedang berlangsung. Kepercayaan yang baru tumbuh di hatinya hancur berkeping-keping, meninggalkan luka yang lebih perih daripada kesepian yang selama ini ia rasakan. Pria yang ia pikir adalah dermaga, ternyata adalah pusaran air yang siap menenggelamkannya.

Ia menutup laptopnya dengan kasar, menimbulkan bunyi yang mengejutkan Bi Asih yang sedang menyapu di teras.

"Non Meira kenapa? Pucat sekali wajahnya," tegur wanita tua itu dengan khawatir.

Meira menggeleng, mencoba memaksakan senyum yang terasa kaku. "Tidak apa-apa, Bi. Cuma... sedikit pusing. Mungkin kurang tidur."

Ia butuh udara. Ia butuh jarak. Ia berjalan tanpa tujuan ke taman belakang, melewati kolam ikan koi yang airnya tenang. Ketenangan itu kini terasa mengejeknya. Ia menatap pantulan wajahnya di air. Wajah seorang perempuan bodoh yang membiarkan dirinya terbuai oleh ilusi.

Gema di gerbong tiga. Sekarang ia mengerti artinya. Itu bukan gema pertemuan dua hati, melainkan gema dari sebuah tragedi lama yang kembali menghantuinya melalui sebuah tumbler dan seorang pria yang penuh rahasia.

Tepat saat itu, ia mendengar suara motor Bima memasuki halaman depan. Suara mesin yang beberapa jam lalu terdengar menenangkan, kini terdengar seperti genderang perang. Jantungnya berpacu, campuran antara amarah, sakit hati, dan ketakutan.

Bima muncul dari balik pintu samping, senyumnya masih sehangat mentari pagi Yogyakarta. Di tangannya ada sebuah kantong kertas.

"Aku bawakan gudeg Yu Djum kesukaanmu," katanya riang. "Makan siang di pendopo, ya? Udaranya enak."

Meira hanya menatapnya. Ia mempelajari setiap detail wajah Bima: sorot matanya yang teduh, garis senyumnya yang tulus, cara rambutnya jatuh di dahi. Apakah semua ini kepalsuan? Apakah di balik topeng ketenangan itu bersembunyi seorang manipulator ulung?

Bima merasakan perubahan atmosfer. Senyumnya perlahan memudar. "Mei? Kamu kenapa?" Ia melangkah mendekat, raut wajahnya berubah cemas. "Kamu sakit?"

Meira mundur selangkah, sebuah gerakan kecil yang menciptakan jurang tak terlihat di antara mereka.

"Aku baik-baik saja," jawabnya, suaranya datar dan dingin, sama sekali tidak seperti suaranya yang biasa. "Aku hanya sedang memikirkan sebuah cerita."

"Cerita baru?" tanya Bima, mencoba mencairkan suasana. "Tentang apa?"

Meira menatap lurus ke mata Bima, matanya yang kini tak lagi tampak seperti telaga yang jernih, melainkan sumur yang dalam dan gelap. Ia membiarkan hening menggantung di antara mereka selama beberapa detik, membiarkan Bima merasakan ketidaknyamanan yang menjalari udara.

"Tentang pengkhianatan," ujar Meira pelan, setiap suku kata diucapkannya dengan penekanan yang tajam. "Tentang seorang penulis yang dikorbankan, tentang sebuah keluarga terpandang yang menyimpan rahasia busuk, dan tentang seorang pria yang menggunakan kebaikan sebagai senjata untuk menghadapi hantu masa lalunya."

Ekspresi Bima berubah drastis. Kecemasan di wajahnya berganti dengan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan. Wajahnya memucat, dan untuk pertama kalinya, Meira melihat ketenangan pria itu retak, memperlihatkan kepanikan di baliknya. Ia tahu. Tentu saja ia tahu apa yang Meira bicarakan.

"Mei, aku..." Bima memulai, suaranya tercekat.

Tapi Meira memotongnya. Ia tidak ingin mendengar kebohongan lain. Ia tidak ingin mendengar penjelasan yang sudah dirangkai dengan indah. Ia hanya butuh satu jawaban. Satu nama.

Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa hatinya yang berserakan. Suaranya keluar lebih mantap, dingin seperti baja.

"Bima," panggilnya, tatapannya menusuk. "Ceritakan padaku tentang Daniswara Pramudya."

Kantong kertas berisi gudeg itu jatuh dari genggaman Bima, isinya tumpah berantakan di lantai teras. Tapi tak satu pun dari mereka yang peduli. Di taman yang tadinya terasa damai itu, sebuah badai baru saja dimulai. Dan Meira tahu, perjalanannya di Yogyakarta, juga perjalanannya dengan Bima, telah berubah arah selamanya. Kisah dongeng telah berakhir, dan sebuah babak kelam baru saja terbuka.