Prok .. prok .. prok ..
Ara ikut bertepuk tangan penuh semangat bersama para penonton lain yang menyaksikan pertandingan basket antar sekolah yang diikuti oleh Jerriel dan timnya. Dirinya yang duduk bersama Jenandra dan Gisella, menyunggingkan senyum bangga ke arah sang kekasih.
Sekolah mereka memenangkan pertandingan hari itu. Senyum lebar di wajah Jerriel dan tatapannya yang lurus pada Ara, membuat gadis itu melambaikan tangannya penuh semangat.
"Ayo, Ara. Kita susul mereka ke ruang ganti." Gisella menarik tangannya, memintanya berdiri.
Ara mengangguk dan mengikuti langkah Gisella yang menuruni tribun dan menuju lorong yang membawa mereka ke ruang ganti pemain. Hanya 5 meter dari ruang ganti, Jerriel sudah berdiri disana, menunggu.
Gisella tersenyum melihatnya dan melepaskan gandengan tangannya di tangan Ara sebelum berlari lebih dulu menuju ruang ganti untuk mencari kekasihnya sendiri.
"Sayang," panggilan lembut Jerriel yang menyambutnya, membuat Ara tersenyum.
Gadis itu menyambut pelukan sang kekasih, "Selamat, sayang."
Jerriel tertawa dan mengecup pipinya sebelum kembali memeluk tubuh ramping kekasihnya itu. Ara menepuk punggung sang kekasih sebelum sebuah suara menginterupsi mereka.
"Jerriel."
Sepasang kekasih itu sontak mengurai pelukan mereka. Jerriel menatap Ansela yang berdiri dengan sebuah botol minum di tangannya, sementara Ara memilih tetap berada diantara mereka tanpa benar-benar melepaskan rengkuhan lengannya di tubuh kekasihnya.
"Aku membawakanmu minum," Ansela berkata tanpa menatap Ara sedikitpun.
Melihat sikapnya membuat Ara mengulum senyumnya. Sejak pembicaraan terakhirnya dengan Jerriel, dia menyadari bahwa sang kekasih menjaga jaraknya dari adik tirinya itu, walau dirinya sendiri tak bisa benar-benar tahu seperti apa perilaku mereka saat di rumah, tapi kali ini Ara mencoba menghilangkan semua pemikiran negatifnya.
"Terimakasih," dengan canggung Jerriel menerima uluran botol minuman yang diberikan Ansela padanya.
Gadis itu mengangguk lalu berbalik pergi tanpa mengatakan apa pun lagi. Ketika Jerriel langsung membuka botol minum itu karena dirinya memang sudah sangat kehausan, Ara meraih botol itu sebelum Jerriel sempat meneguknya.
"Aku membawakan minuman buatmu," tukasnya.
Ara menggantinya dengan botol minuman lain yang dibawanya yang tentu saja diterima dan diminum Jerriel tanpa protes. Lelaki itu lalu menggandeng tangan Ara, mengajaknya masuk ke ruang ganti untuk bertemu teman-teman timnya yang lain.
"Mau sampai kapan kamu mendiamkanku begini, Je?"
Pertanyaan itu membuat Jerriel menghentikan geraknya. Dia baru saja selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian ketika mendengar suara pintu terbuka dibelakangnya. Awalnya dirinya mengira itu adalah salah satu dari anggota timnya, hingga dia membiarkannya begitu saja.
"Kita sudah membicarakan ini. Aku tak bisa melanjutkan hubungan denganmu, Ansela." Jerriel menjawab tanpa menoleh ke arah gadis itu.
Dirinya meneruskan kegiatannya memasukkan pakaiannya ke dalam tas, sebelum bersiap pergi. Namun, geraknya tertahan oleh Ansela yang memeluknya dari belakang.
"Kenapa kamu lebih memilih Ara daripada aku?" cecar Ansela.
"Kita saudara tiri. Sejak awal, hubungan kita sudah salah," ujar Jerriel.
"Apa yang salah? Kita bukan saudara sedarah!" Ansela menyahut keras kepala.
"Aku tidak mencintaimu, Ansela. Aku hanya menjadikanmu pelampiasan karena Ara terkadang terlalu sibuk dengan urusan keluarganya dibanding meluangkan waktu bersamaku," Jerriel kembali berkata, sengaja menyakiti gadis itu agar berhenti.
"Jadi semua yang kamu katakan bohong? Setelah kamu mengambil keperawananku, setelah kamu menjanjikan kita akan tinggal bersama saat kuliah nanti, kamu berbohong padaku?!" Ansela menyentaknya keras.
Jerriel langsung membalikkan tubuhnya menghadap gadis itu, "Pelankan suaramu!"
"Untuk apa? Biarkan saja semua orang tahu sebejat apa kamu, Je!" sentak Ansela lagi.
Lelaki di depannya itu mengusap kasar wajahnya, "Apa maumu?"
Mendengarnya membuat Ansela tersenyum tipis sekali, "Kamu. Aku mau kamu."
"Aku tak akan menghalangimu bersama Ara. Kamu tetap bisa bersamanya di depan umum, tapi saat dirumah dan saat kita berdua saja seperti ini, kamu milikku."
"Kalau aku tidak mau?" tanya Jerriel.
"Maka aku akan pastikan Ara tak pernah mau lagi bersamamu," tukas Ansela tanpa ragu.
Gadis itu mendekatkan dirinya pada Jerriel. Tangannya bergerak meraba dada lelaki itu, "Aku punya semua video percintaan kita, Je."
"Kamu tak mau aku memberikan itu pada Ara, kan?"
Dibalik pintu ruang ganti yang tertutup rapat setelah Ansela menguncinya dari dalam, Ara berdiri dengan mata terpejam. Tangannya yang tadinya hendak meraih kenop pintu, menggantung di udara. Dirinya mendengar segalanya.
Bruk ..
Suara seperti sesuatu yang dijatuhkan atau menabrak benda lain, diiringi suara desahan tak lama setelahnya, semakin membuat hatinya serasa dicabik. Dirinya tahu ini, dia sudah memperkirakan yang terburuk.
Sejak pembicaraan terakhirnya dengan Jerriel malam itu, Ara tahu ada yang berbeda dari hubungan mereka. Tapi mendengarnya sendiri, tetap saja membuat hatinya sakit sekalipun dia sudah berusaha mempersiapkan diri.
"Pada akhirnya aku kalah lagi dari banyaknya persaingan."
Dua bulan kemudian,
"Ara, kamu pulang sendiri lagi?" pertanyaan Gisella membuat Ara mengulas senyum kecil sebelum menjawabnya.
"Ya, Jerriel tidak bisa mengantarku."
"Tapi bisa mengantar adik tirinya," Jenandra yang menyusul disisi kiri Ara, menimpalinya.
"Darimana kamu tahu Jerriel bersama Ansela?" Gisella bertanya karena dia sama sekali tak tahu bahwa kekasih Ara itu justru pergi bersama gadis lain.
"Aku melihatnya keluar dari parkiran bersama Ansela di boncengan motornya," sahut Jenandra.
"Beberapa minggu ini dia sering sekali membatalkan janji, bukan?" lanjutnya.
Ara tercekat, "Ya."
"Coba buat janji lagi. Kalau dia batalkan lagi, ikuti dia. Dua bulan sudah cukup untuk menyiapkan hati, bukan?" Jenandra berujar seraya berjalan lebih dulu dari kedua sahabatnya itu, meninggalkan Ara yang langsung terpaku.
"Jenandra ada benarnya. Kamu sudah dengar gosip yang beredar di sekolah kalau akhir-akhir ini yang sering menemani Jerriel latihan basket adalah Ansela, bukan kamu. Mereka sampai berspekulasi kalau kalian sudah putus," Gisella berkata halus, berusaha agar tak terlalu menyinggung Ara.
Kali ini Ara mengangguk, "Aku akan coba lakukan yang dibilang Jenandra. Bisa bantu aku?"
Gisella mengangguk cepat, "Apa yang bisa kubantu?"
"Tolong bilang Hito untuk mengundang Jerriel di acara ulang tahunnya minggu depan," pinta Ara.
"Aku akan pastikan Hito mau," Gisella menimpali tanpa ragu sebelum gadis itu berpamitan dan pergi lebih dulu untuk menghampiri sang kekasih.
Ara memperhatikan punggung Gisella yang menjauh sebelum tangannya meraih ponsel dan menghubungi seseorang yang sudah sangat ingin diajaknya bicara sejak seminggu lalu.
"Ya, Ara?" suara berat yang sudah lebih dari dua bulan tak didengarnya itu, langsung menyapa begitu panggilan tersambung.
"Noah, kamu bilang punya bukti soal Jerriel. Bisa berikan aku bukti itu sekarang?" Ara berkata dengan nada tegas.
Tak ada jawaban pada awalnya hingga Ara bisa mendengar helaan nafas Noah di seberang sana, "Apa yang kamu rencanakan?"
"Aku ingin melihatnya dengan mataku sendiri setelah hanya mendengarnya selama ini," tutur Ara.
"Mendengarnya? Apa yang sudah kamu dengar, Ara?" Noah kembali mencecarnya.
"Banyak," jawaban singkat Ara cukup untuk membuat Noah mengusap kasar wajahnya.
"Aku akan kirimkan semua yang kupunya padamu setelah ini," putusnya.
"Terimakasih, Noah." Ara berujar seraya mengakhiri panggilan dan melangkah pergi menuju mobil yang menjemputnya.
Sesaat setelah panggilan itu diakhiri, Noah mengutak atik ponselnya mengirimkan yang diminta Ara ke surel gadis itu sebelum tangannya mencari kontak bertuliskan nama ayah Ara disana.
"Om Zayn, ini tentang Ara …"
Je, aku tidak jadi datang ke acara ulang tahun Hito.
Pesan yang dikirimkannya ke nomor sang kekasih sejak 10 menit yang lalu, baru saja mendapat jawaban dari Jerriel yang menyatakan bahwa dia juga tidak akan datang ke acara itu.
Ara menyunggingkan senyum saat membalas pesan demi pesan yang dikirimkan kekasihnya sampai akhirnya tepukan di pundaknya membuatnya menoleh.
"Jerriel keluar," Gisella yang bersamanya di dalam mobil, berkata sambil menunjuk ke sebuah motor yang baru saja keluar dari gerbang rumah di dekat kendaraan mereka terparkir.
"Bersama adik kesayangannya," nada sarkasme yang jelas terdengar dalam kalimat Jenandra membuat Ara meringis.
"Ikuti mereka, Jen," pintanya.
Tanpa perlu diminta dua kali, Jenandra langsung menjalankan mobilnya mengikuti motor yang dikemudikan Jerriel dari jarak yang cukup jauh namun tak sampai kehilangan jejaknya. Mereka mengikuti motor itu sampai akhirnya masuk ke area salah satu klub malam.
"Kita masuk?" tanya Gisella.
"Ya," Ara menjawab tegas seraya turun dari mobil.
Musik keras langsung menyambut ketiganya saat masuk. Mata Ara menyapu sekeliling, mencari keberadaan Jerriel. Ketika akhirnya mendapati sang kekasih, Ara menahan nafas.
Jerriel sedang berada di lantai dansa bersama Ansela yang pakaian atasnya begitu terbuka. Tubuh mereka nyaris tanpa celah, bergoyang begitu sensual disana tanpa peduli sekitar.
Sebulir air mata akhirnya lolos dari mata Ara saat melihat Jerriel menarik tengkuk Ansela, menciumnya seakan kehausan.
"Sudah cukup. Ayo pulang, Ara." sebuah tangan besar menutup matanya, menghalanginya melihat pemandangan menyakitkan itu lebih lama.
Suara ini, suara yang sangat dikenalinya. Tangan Ara terangkat memegang lengan itu, "Noah?"
Lelaki itu tak menjawabnya. Noah justru menoleh ke arah Jenandra, "Antar Gisella ke tempat Hito, biar aku yang bawa Ara pulang."