Tahu perbedaan antara pria sejati dan pecundang? Pria sejati memberikan komitmen, sementara pecundang hanya bisa mengucap janji.
Ara menatap kosong jalanan disisi kaca jendela mobil sport yang melaju membelah keramaian kota di malam hari. Matanya lalu terpejam perlahan dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.
Noah disisinya yang sesekali menoleh, mendapatinya menangis tanpa suara. Pria muda itu mengencangkan cengkeramannya di kemudi mobil dan melajukan kendaraan semakin cepat menuju apartemennya. Lelaki itu telah meminta izin pada Zayn untuk membawa Ara ke tempat tinggalnya lebih dulu sebelum memulangkannya esok pagi.
Baginya, Ara membutuhkan waktu sendiri lebih dulu dibanding harus menghadapi berbagai pertanyaan dari orangtuanya. Begitu mereka sampai di gedung apartemen miliknya, Noah memarkirkan mobil di lantai parkir khusus unitnya. Sepuluh menit setelahnya berlalu dalam keheningan.
Noah membiarkan Ara tetap terlarut dalam perasaannya tanpa ingin menginterupsi, memberinya waktu untuk menumpahkan seluruh rasa sedihnya. Ketika netra yang tertutup itu membuka perlahan, Noah mengulas senyum lembut, “Sudah?”
“Belum.” Ara menggeleng dengan suara serak.
Anggukan kecil Noah membuatnya sedikit memberengut sebelum mendengar lelaki itu bicara seraya menghapus sisa air mata di wajahnya.
“Kamu bebas melakukan apa pun disini. Membanting dan merusak barang juga tak apa, aku hanya akan mengawasimu.”
“Aku yang terlalu sayang merusak barang-barang mewah di apartemenmu,” sahut Ara.
“Ayo turun dulu,” ajak Noah.
Dirinya keluar dari mobil lebih dulu dan membukakan pintu disisi penumpang dengan tangannya yang terulur setelahnya. Ara menyambut uluran tangan itu dan hanya pasrah saat Noah terus menggandengnya sampai mereka tiba di depan pintu unit apartemen miliknya.
“Passwordnya masih sama,” celetukan Ara membuat Noah terkekeh.
“Kata Nathan, kamu akan butuh tempat ini.” Noah menimpali seraya membuka pintu agar Ara masuk lebih dulu.
Begitu Ara melangkah melewati pintu dan menuju ruang tengah unit apartemen, Noah menutup pintu dibelakangnya. Alih-alih menyusul Ara yang sudah duduk di sofa dengan memandang ke kaca besar ruang tengah, Noah justru menuju dapur, membuat minuman untuk mereka. Ketika merasakan Noah telah menghampirinya seraya meletakkan minuman yang dibuatnya ke meja, Ara menoleh memperhatikannya.
“Seingatku minggu lalu kamu masih di Manhattan,” ujarnya.
“Aku baru sampai pagi ini.” Noah menjawab seraya memposisikan dirinya untuk duduk disisi bawah sofa.
“Kenapa?” Ara menatapnya ingin tahu.
"Karena seorang gadis kecil ceroboh membuatku khawatir," tukas Noah.
Ara kembali mencucurkan bibirnya. Gadis kecil ceroboh yang disebut pria muda itu jelas adalah dirinya, "Aku bukan anak kecil lagi."
"Kalau kamu sudah bisa menanggapi candaanku, berarti ini bukan pertama kali," simpul Noah.
Gadis didepannya itu menatapnya lama sebelum akhirnya menjawab, "Memang bukan, walau saat itu aku hanya mendengar suara mereka."
"Apa yang kamu dengar?" tanya Noah.
"Sesuatu yang tak seharusnya dilakukan sepasang anak muda tanpa ikatan pernikahan," jawab Ara.
"Dan kamu masih menyangkal sampai saat ini?" Noah kembali melempar tanya, mengujinya.
Ara mengangguk perlahan, "Aku terlalu sering menyangkal sampai tak tahu lagi harus melangkah kemana setelah ini."
"Kukira setelah memberinya kesempatan, dia akan benar-benar berubah. Kukira dia tak akan lagi memberiku persaingan, tapi ternyata sejak awal aku memang tak pernah bersaing. Aku bahkan bukan pesertanya."
"Dalam cinta, tak ada yang namanya persaingan. Kalau kamu merasa harus bersaing, berarti itu bukan cinta." Noah berkata tanpa menatapnya, tatapan pria muda itu lurus ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung pencakar langit.
"Yang aku butuhkan hanya satu kesempatan. Satu kesempatan untuk melihat sendiri pengkhianatannya. Satu kesempatan agar aku bisa menghentikan diriku yang ingin menyangkal kenyataan yang jelas di depan mataku, lagi." Ara mengangkat tangannya, menutup wajah dan kembali menangis.
Noah tak menjawab, pria itu membiarkan Ara menangis disana tanpa sedikitpun berpindah dari posisinya. Sampai akhirnya helaan nafas berat gadis itu terdengar, barulah Noah menatapnya.
"Aku akan minta papa membawaku kembali ke Zurich, tak perlu lagi menunggu acara kelulusan," tegas Ara.
"Kalau itu membantumu memulihkan diri, lakukan." Noah mengangguk paham.
"Aku mungkin tak akan pernah kembali," tukas Ara lagi.
Mendengarnya membuat Noah terdiam sejenak. Pria itu menatap Ara cukup lama sebelum akhirnya berujar, "Itu berarti kamu juga ingin membuat semuanya menjadi asing, tanpa kecuali."
"Jika bisa," tutur Ara.
Anggukan Noah setelahnya cukup mengejutkan gadis itu, "Kalau itu yang kamu lakukan untuk menyembuhkan diri, aku bisa mengabulkannya."
"Let's break up, Je."
Jerriel melebarkan kedua matanya saat mendengar kalimat itu meluncur keluar tanpa ragu dari bibir Ara, "A-apa? Sayang, jangan bercanda."
"Aku tidak sedang bercanda," Ara menjawab tegas.
Tangan Jerriel langsung meraih kedua tangan Ara yang ditepis gadis itu, "Sayang …"
"Jangan panggil aku begitu, Jerriel." Ara menatapnya dingin, tatapan yang tak pernah sama sekali didapatkan Jerriel dari gadis itu bahkan saat mereka pertama kali bertemu.
"Kenapa, Ara?" Jerriel bertanya, tatapannya mulai goyah.
"Banyak. Haruskah kusebutkan satu persatu atau kamu bisa membantuku menyebutkannya?" Ara bertanya balik.
Dia mengerti, Jerriel langsung bisa memahaminya saat Ara mengatakan itu. Kekasihnya atau mungkin sudah bisa disebut mantan kekasihnya itu, sudah mengetahui semua rahasia yang berusaha disimpannya rapat-rapat selama ini.
Bruk …
Jerriel berlutut di hadapan Ara, "Maaf .."
"Maaf, Ara."
"Aku hanya ingin kita putus," Ara berkata sekali lagi tanpa sedikitpun terpengaruh tingkah Jerriel.
"Aku tidak mau." Jerriel mendongak tanpa merubah posisi berlututnya.
"Aku tidak peduli pendapatmu. Kamu bahkan hanya mengucap maaf tanpa mengakui kesalahanmu, Jerriel. Untuk apa aku bertahan denganmu lagi?" tukas Ara.
Gadis itu lalu berbalik, namun langkahnya langsung tertahan saat Jerriel dengan cepat menarik lengannya, "Ini bukan sepenuhnya salahku, Ansela yang menggodaku lebih dulu."
Tawa sinis Ara terdengar, "Kalau kamu bukan lelaki brengsek, bahkan saat Ansela telanjang di depanmu, kamu akan langsung pergi alih-alih menghampirinya seperti kucing tertarik pada ikan."
Wajah Jerriel sontak memucat, "A-apa?"
"Jangan pura-pura bodoh. Aku bahkan mendengar kegiatan panas kalian di ruang ganti usai pertandinganmu dua bulan lalu. Aku bahkan baru kemarin melihatmu berciuman di lantai dansa dengannya, Jerriel." Ara berkata panjang seraya menyentak tangannya hingga pegangan Jerriel terlepas.
"Kamu jelas tahu bahwa semua anak di sekolah ini membicarakan kita dan mengatakan kita telah putus lalu kamu berpacaran dengan Ansela. Kamu tak melakukan apa pun untuk mengklarifikasi beritanya dan justru semakin sering bersamanya."
"Bukankah sudah jelas kamu memilihnya?"
"Ara, aku bisa jelaskan …" Jerriel berkata dengan panik.
Namun Ara sudah mengangkat satu tangannya tanda dia tak ingin mendengarkan penjelasan apa pun dari lelaki itu.
"Semua sudah jelas. Mari buat ini mudah, aku bisa mewujudkan pemikiran semua orang. Aku mengakhiri kita, Jerriel."
Satu minggu kemudian,
"Pesawat pribadi kita bisa kamu pakai jika ingin ke Zurich," kata-kata sang ibu membuat Noah yang sedang menatap ponselnya, mengalihkan pandang.
"Aku sedang tak ingin berlibur, Ma." jawaban Noah membuat sang ibu terkekeh.
"Bukan berlibur, kamu mungkin ingin melihatnya sekali lagi sebelum benar-benar mengabulkan keinginannya," tutur sang ibu.
Noah mengulas senyum kecil, "Tidak perlu. Begini saja sudah cukup buatku, Ma."
"Kamu yakin?" sang ibu kembali menanyainya.
Putranya itu mengangguk tanpa ragu dengan ekspresi yang mengingatkannya pada sang suami. Noah memang selalu memiliki keteguhan hati ayahnya., "Aku yakin. Kalau tidak, aku tak akan menjanjikannya untuk menjadi asing sampai takdir sendiri yang mengubahnya tanpa campur tanganku."
"Bahkan jika itu berarti takdir mungkin tak akan pernah memihakku." batinnya.