Dinikahi Paman Mantan - Tak Ingin Terjebak Perjodohan - Bab 4

Penulis Nuvola
15 September 2025

Lily berdiri di depan cermin butik, jemari lentiknya menyentuh perlahan kain putih satin yang membalut tubuhnya. Gaun pengantin itu memang indah, menjuntai anggun dengan detail renda halus di bagian bawah. Namun, wajah Lily sama sekali tak menunjukkan kegembiraan yang biasanya terpancar dari seorang calon pengantin.

Biasanya, calon suami akan terpukau melihat pasangannya mengenakan gaun putih. Tetapi tidak hari ini. Tidak untuk Lily.

Agam, pria yang akan segera menikahinya, justru meninggalkan dirinya begitu saja saat ia mencoba salah satu gaun pengantin.

“Menyebalkan,” gerutu Lily yang kini kembali beralih ke cermin untuk menatap pantulan dirinya. Sebenarnya Lily sudah memiliki gaun pengantin yang akan dia gunakan ketika menikah dengan Rafael. Namun, karena pernikahan mereka batal maka Lily membalas gaun yang bernilai ratusan juta itu.

Tapi sekarang tak ada gaun yang sesuai dengan apa yang Lily inginkan. Gadis itu tampak tidak bersemangat, karena waktunya pun tinggal dua hari.

“Bagaimana Nona, apa ada yang sesuai dengan selera Anda?”

“Semuanya bagus tapi aku kurang suka.”

“Mungkin Anda bisa memilih gaun yang paling sesuai dengan yang Anda inginkan lalu beri tahu kami bagian mana yang ingin Anda ubah,” jelas desainer bernama Luna.

“Baiklah, jika mengubah ini menjadi model tertutup apakah bisa?" tanya Lily yang menunjuk gaun dengan model kemben.

“Tentu saja Nona.”

“Lalu tambahkan motif bunga di dada karena ini terlihat kosong.”

Desainer itu menyanggupi apa yang Lily inginkan, setelah mengatakan semua keinginan Lily maka desainer itu berjanji jika gaun Lily akan selesai besok.

“Aku akan kembali kesini besok.”

“Tidak perlu Nona, saya yang akan mengantarkan gaun ini ke rumah Anda.”

“Baiklah, aku menunggunya,” ucap Lily dengan tersenyum senang. “Kalau begitu aku pulang dulu,” pamit Lily.

“Mari saya antar Nona.”

Luna mengantar Lily keluar dari butik, namun saat akan keluar tiba-tiba Emma datang bersama dengan Rafael. “Hello, Kak Lily. Sendirian ya? Dimana calon suaminya?” tanya Emma dengan nada mengejek.

Lily yang malas meladeni mereka pun memilih langsung pergi. Dia sama sekali tidak menatap Rafael meskipun pria itu menatap lekat dirinya.

Saat tengah berjalan, sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Lily mengenali mobil itu, Agam keluar dari mobil dan tanpa mengatakan apapun langsung membukakan pintu mobil untuk Lily. Lily pun tanpa berkata langsung masuk ke dalam mobil.

Awalnya Lily tidak begitu peduli ketika Agam meninggalkan dia. Tapi ketika Emma dan Rafael memergoki dirinya membuat Lily begitu kesal. Di dalam mobil Lily tidak membuka suara, dia diam dengan terus menatap ke luar jendela. Mobil berhenti di parkiran sebuah restoran, tanpa bertanya Lily pun keluar dari mobil. Dia mengikuti langkah Agam masuk ke dalam restoran itu. Menurut Lily untuk apa juga dia bertanya karena semua orang juga mengerti ketika kita berhenti di restoran maka tandanya akan makan, bukan? Agam memilih ruang VIP dan Lily tidak mempermasalahkan itu, meskipun hanya berdua dengan Agam. Dia tidak merasa takut, pria matang di depannya itu bukan bajingan meskipun tadi Agam menciumnya tanpa permisi.

“Setelah ini kita cari cincin nikah.”

“Om saja yang mencarinya, aku lelah.”

“Apa aku harus bertanya kepada Rafael bagaimana seleramu?”

Lily yang sejak tadi tidak menatap Agam kini langsung menatap pria itu. “Benar, mungkin Om memang harus melakukan itu,” balas Lily dengan ketus.

“Kamu menjadi pemarah ketika mengetahui Rafael akan menikah, bukan?”

“Kenapa sih Om selalu membahas baj*ngan itu!” ucap Lily dengan kesal. “Apa aku harus menjelaskan kenapa aku marah?”

Agam tidak menjawab, tapi dari pandangan matanya, Lily bisa melihat jika Agam menginginkan penjelasan. “Aku tidak peduli saat Om meninggalkanku ketika aku memilih gaun pengantin, tapi apa Om tahu bagaimana malunya aku ketika baj*ngan dan wanita murahan itu melihatku ditinggalkan oleh Om?” jelas Lily dengan penuh emosi.

Yang semakin membuat Lily kesal adalah tak ada ekspresi apapun di wajah Agam. Lily menghela nafasnya agar emosinya mereda.

“Maaf,” ucap singkat Agam dengan nada datar. Lily tidak berniat untuk menanggapinya, fokusnya teralihkah ke makanan yang baru saja datang.

Namun, alih-alih makan bersama dengan Lily, Agam justru sibuk dengan ponselnya. Lily tampak terganggu dengan apa yang Agam lakukan, dia tidak suka disaat makan tapi pasangannya justru sibuk bertelepon.

Namun, setelah Lily selesai makan dia baru sadar jika Agam tidak memesan makanan. Dia hanya memesan kopi, Lily menatap lekat Agam membuat Agam membalas menatapnya. Tatapan Agam seolah bertanya “Kenapa?” kepada Lily tanpa memutuskan panggilan telepon yang sedang dia lakukan.

Lily menggelengkan kepalanya dia memilih mengambil ponselnya dari tas dan menyibukkan diri dengan ponsel genggam itu. Sekitar sepuluh menit kemudian Agam selesai dengan pekerjaannya, dia menutup telepon dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.

“Sudah?” tanya Agam membuat Lily mengalihkan pandangannya dari ponsel yang dia genggam.

“Sejak tadi sudah selesai,” ketus Lily.

“Ayo pulang.”

Agam bangkit dari duduknya dan diikuti oleh Lily. Lily yang berada di belakang Agam, menatap punggung pria tersebut. Dia terus berpikir jika hubungan mereka tidak akan berkembang dengan baik. Meskipun Lily tidak mencintai Agam tadi dia sempat berpikir untuk menjalani pernikahan yang normal dengan Agam. Namun, semakin mencoba mengenal pria itu Lily justru semakin ragu.

Kini keduanya naik ke dalam mobil, suasana kembali sunyi tanpa ada yang berbicara. Semua itu membuat Lily muak, dia tidak bisa terjebak dalam hubungan yang seperti itu. Helaan nafas terdengar dari mulut Lily membuat Agam menoleh.

“Aku rasa pernikahan kita memang tidak seharusnya terjadi,” gumam Lily namun tidak ada tanggapan dari Agam mambuat Lily kesal. “Om? Om dengar aku ngomong tidak sih?”

“Ya aku mendengarnya.”

“Kasih aku solusi dong bagaimana agar kita tidak terjebak perjodohan ini.”

“Aku tidak ingin memikirkan sesuatu yang tidak ada jalan keluarnya,” ujar Agam tanpa ekspresi membuat Lily mencibirkan bibirnya.

“Bukankah membutuhkan pewaris?” tanya Lily membuat Agam menoleh dengan satu alis yang terangkat. “Om pasti pengen punya anakkan?” sambung Lily yang tidak dijawab oleh Agam. “Aku tidak bisa hamil.”

Lily mengamati wajah Agam, namun tidak ada ekspresi terkejut disana membuat Lily bingung. “Om, dengar Lily ngomong tidak sih?”

“Aku mendengarnya Lily, lalu kenapa?”

“Jika Om menikah denganku, Om tidak akan memiliki anak denganku dan aku tidak mau dimadu.”

“Apa aku tadi mengatakan ingin memiliki anak?” mendengar itu membuat Lily terdiam lalu menggelengkan kepalanya.

“Om memang tidak mengatakannya, mungkin karena Om sudah tahu keadaanku jadi Om hanya ingin menjaga perasaanku,” gumam Lily yang beralih menatap keluar jendela.

“Apa kamu ingin kita membuat perjanjian?”