Jalan Indah Tak Selalu Indah

Penulis MrBroken
15 December 2025

"Eh! kakek tua apa maksudnya ini? Kenapa aku harus mengantar dia?" Fang An protes tidak mau mengantarkan Shui Hu pulang ke kampung halamannya, apalagi dirinya baru sembuh dari koma selama tujuh hari.

Qingzhao selaku ayahnya, menghiraukan protes sang putra. Dirinya tetap fokus dengan membaca sebuah buku kuno yang menceritakan kisah dongeng masa lalu.

Yize memukul bahu anaknya sembari berkata, "Hey, Nak! Jangan begitu sama orang tua. Bagaimana pun kau harus mengantarnya pulang. Apalagi, dia belum pulang selama tujuh hari. Pasti orang tuanya khawatir."

"Tapi ... Bu ...."

"Tak ada tapi tapi, mau antar atau ku usir kau dari rumah ini?" Yize termasuk melakukan jurus terakhirnya, agar sang anak menurut.

Tak ada cara lain, Fang An terpaksa menurut dengan perintah ibunya. Sebab hanya perintah ibunya yang tidak bisa dia bantah begitu saja, karena di dunia ini ibu adalah nomor satu, sedangkan ayah nomor dua.

Selama tujuh hari ini, Shui Hu sibuk merawat luka Fang An bersama Ming Lan. Berkat mereka berdua, nyawa Fang An bisa terselamatkan. Sebab di kampung ini tak ada tabib yang bisa menyelamatkan nyawanya. Shui Hu memberikan sedikit energi spiritual yang pernah dia dapatkan dari Fang An, sedangkan Ming Lan membantu memulihkan fisiknya dengan menggunakan teknik penyembuhannya yang sudah mencapai level dan tian (level kekuatan tingkat esensi).

Selama tujuh hari ini pula, Shui Hu benar-benar memahami situasi dan kondisi kampung Yunshan. Wajar kalau Fang An terus menjadi bandit bersama teman-temannya, tetapi caranya Fang An juga salah, karena mencuri dan merampok sangat tidak dibenarkan. Sebenarnya Fang An bersama teman-temannya, pernah meminta bantuan pada pemerintah Kota Dongfang, sayangnya pemerintah sampai sekarang tak pernah memberikan bantuan sepeser pun.

Shui Hu bertekad setelah pulang dari sini, akan meminta ayahnya untuk memberikan bantuan besar pada kampung Yunshan.

Shui Hu dan Ming Lan tak lupa berterima kasih pada kedua orang Fang An, karena sudah menampung mereka berdua selama tujuh hari di kampung ini. Fang An membawa Gong Zhong, Gong Sun, dan Gong Shi untuk mengawal perjalanan pulang Shui Hu dan Ming Lan.

"Ternyata ibu dan ayahmu baik juga, ya, An an," celetuk Shui Hu sembari melangkah melewati Fang An.

Tiba-tiba kaki kanan Fang An tersandung batu, sesaat setelah mendengar celetukan Shui Hu. "Jangan panggil aku An An!" ucap Fang An memperingati Shui Hu dengan malu-malu.

Shui Hu hanya tertawa kecil melihat wajah malu-malu Fang An. Ternyata orang ini hanya keras di luar, tetapi lembut di dalam.

Ming Lan sedari tadi terus memperhatikan wajah tampan Fang An. Perlahan kedua kakinya melangkah mendekati Fang An. Fang An yang merasa tidak nyaman, berusaha menjauh dari buaya betina yang akan memangsanya. Dia bahkan sampai meminta Gong Zhong agar berjalan di samping kirinya, demi menghindari Ming Lan yang mendekatinya.

"Yo!" Gong Zhong menyapa Ming Lan sembari tersenyum, memperlihatkan dua gigi gingsulnya yang berwarna putih.

Ming Lan anya bisa menghembuskan napasnya dengan pelan, lalu balas tersenyum pada Gong Zhong.

Perjalanan pulang Shui Hu dan Ming Lan, harus melewati berbagai rawa dan sungai, karena letak kampung Yunshan sangat jauh dari jalan nasional pemerintah Dongfang. Walaupun perjalannya terbilang jauh, mereka sangat menikmati perjalannya, karenna bisa melihat berbagai pemandangan yang indah di atas bukit. Apalagi banyak hewan-hewan yang sedang kencan dengan lawan jenisnya masing-masing.

Perjalanan menuju jalan nasional provinsi Dongfang ini memakan waktu sekitar satu jam dengan berjalan kaki. Bahkan Shui Hu beberapa kali meminta Fang An agar istirahat setiap sepuluh menit sekali, tetapi Fang An menghiraukannya agar Shui Hu bisa cepat-cepat pulang ke rumah.

Seratus meter lagi mereka segera sampai di jalan nasional. Namun tiba-tiba datanng sepuluh orang datang menyergap. Semuanya memakai pakaian serba hitam dan topeng untuk menutupi wajahnya masing-masing. Mereka kompak mengeluarkan senjatanya masing-masing. Pedang, tombak, panah, pisau, golok, pecut, dan perisai semua senjatanya terlihat hampir lengkap.

"Mereka sepertinya mau mengincarku," ucap Ming Lan saat melihat semua pakaian dan senjata yang dipakai oleh musuh. Tak lupa matanya melihat sebuah lencana yang tergantung di salah satu mereka. "Ya, mereka sama persis dengan apa yang pernah kulihat sepuluh hari yang lalu. Mereka pembunuh bayaran yang diutus untuk menangkapku."

"Kenapa mereka ingin menangkapmu, Ming Lan?" tanya Shui Hu yang sedikit penasaran.

Ming Lan menggelengkannya, dirinya sama sekali tidak tahu alasannya.

"Lebih baik kita selesaikan dulu masalah di sini." Fang An mengingatkan semuanya, agar bersiap untuk menyerang dan menahan serangan mereka.

Fang An meminta Gong Zhong dan Sun melindungi Ming Lan. Dirinya dan Gong Shi melindungi Shui Hu. Namun, Shui Hu dengan sombong melangkah ke depan.

"Kau jangan meremehkanku, ya, An an." Shui Hu mengambil kuda-kuda melakukan serangan fisik, persis seperti saat melawan Fang An.

Fang An sangat membenci panggilan tersebut, membuatnya sedikit naik pitam.

Gong Shi bertanya saat Shui Hu melangkah ke depan untuk menyerang. "Apa yang harus kita lakukan ketua?"

"Biarkan saja dia bertindak sendiria. Jangan lupa tetap lindungi dia."

Dalam hitungan detik, sepuluh orang berpakaian hitam itu kompak melancarkan serangannya masing-masing.

Fang An menahan seseorang yang akan menebaskan pedangnya dan seorang yang melakukan tusukan memakai tombak menggunakan kedua pedangnya. Tak lupa memblokir tembakan anak panah menggunakan tendangan kakinya.

Tak ingin kalah dari Fang An, Shui Hu juga menahan tiga orang musuh. Tiga tebasan pedang menyerang ke arahnya dari segala arah. Shui Hu bergerak, berputar dengan cepat melompat dan menunduk untuk menghindari semua tebasannya. Terakhir dirinya melakukan pukulan keras ke tanah, hingga ketiga orang musuh terpental terkena gelombang pukulan bawah tanah.

Gong Shi dan Gong Sun masing-masing menahan satu orang musuh. Keduanya kompak berkerja sama menjadi pertarungan dua lawan dua. Kedua musuhnya memakai senjata pisau dan golok, sehingga memiliki gaya bertarung yang berbeda. Namun, Gong Shi dan Gong Sun memiliki gaya bertarung yang lebih unik, diam tetapi menyakitkan itulah gaya bertarung keduanya.

Gong Zhong mau tidak mau harus melawan dua orang musuh menggunakan tombak andalannya. Ming Lan yang tidak bisa bertarung, hanya bisa bersembunyi dibalik punggungnya Gong Zhong. Tak lupa, dia juga melakukan penyembuhan pada luka yang di dapat teman-temannya. Satu pecutan berhasil melukai punggung Gon Zhong. Ming Lan bereaksi dengan cepat, dengan hanya mengucapkan satu mantra teknik penyembuhan. Dalam satu detik luka dipunggung Gong Zhong langsung sembuh.

Hari semakin siang, tiba-tiba angin berhembus dengan kencang. Suara gesekan antar daun di pohon mulai terdengar keras. Perlahan langit mulai meneteskan air matanya ke bumi.

Dalam keadaan tersebut Fang An menyadari satu hal. Sekarang mereka sedang bertarung di rawa-rawa, sehingga jika terjadi hujan deras, maka air sungai akan meluap ke sini. Jadi, mereka bisa menahan musuh di sini sampai air sungai meluap dan menenggelamkan musuh sekaligus.

"Teman-teman tahan mereka di sini sampai hujan deras." Fang An berteriak dengan suara keras.

"An an kau gila, ya? Kenapa kita tak membunuhnya saja mereka sekarang."

Fang An meminta maaf pada Shui Hu, kalau dirinya dan teman-temannya tak pernah membunuh siapa pun, karena setiap nyawa sangatlah berharga.

Pantas saja, kenapa pertarungannya menjadi lama, ternyata mereka sama sekali tidak mempunyai niat membunuh, Shui Hu tersenyum sinis, sepertinya hanya aku yang bisa melakukannya.

Shui Hu meminta Fang An agar meminjam dirinya pedang, tetapi Fang An menolaknya. Tanpa bertele-tele, Shui Hu merebut sebuah pedang dari Fang An.

"Shui Hu apa yang ingin kau lakukan?"

"Lihat ini, An an!"