Shui Hu berputari menari menggunakan pedangnya diantara sepuluh orang musuh berpakaian hitam. Setiap kali satu putaran, disitulah tebasannya mengenai tubuh musuh hinggga meninggalkan jejak tebasannya yang miring ke bawah, hingga mengeluarkan air berwarna merah segar. Tak berhenti di situ, dia juga memanfaatkan daun rawa-rawa yang bergoyang terkena nyanyian angin sebagai pijakan kedua kakinya untuk melakukan kuda-kuda berpedang.
Satu demi satu sepuluh orang berpakaian serba hitam tumbang hingga nyawanya melayang. Banyak darah bercucuran di mana-mana, bahkan mengenai pakaian Shui Hu. Pertarungan ini menjadi panggung Shui Hu untuk memamerkan kejeniusannya dalam menggunakan pedang di bawah rintikan hujan. Semua orang yang melihatnya dibuat takjub dengan keindahan Shui Hu dalam menari ditengah pertarungan.
Tak terkecuali dengan Fang An. Sorot kedua matanya menyaksikan dengan sesama seperti Shui Hu saat bertarung menggunakan pedang. Akan tetapi, tiba-tiba perasaan aneh muuncul dalam dirinya. Sedikit pusing dan rasa lapar perlahan menghantui pikirannya. Secara tidak sadar tangan kanannya memegang erat punggung pedang.
"Ternyata wanita lebih hebat dari yang kita kira, ya, ketua," celetuk Gong Zhong sembari melirik ke arah Fang An.
Dalam hitungan detik Fang An melesat sembari mengayunkan pedangnya. Gong Zhong yang baru saja melirik ke arahnya dibuat terkejut.
Dalam waktu satu menit, Fang An melakukan lima tebasan dengan cepat pada satu titik yang di setiap musuh, yaitu punggungnya. Lukanya cukup dalam hingga menebus ke dalam organ-organ vitalnya, sehingga nyawanya tak bisa diselamatkan.
Shui Hu terkejut, begitu juga dengan orang-orang di sekitarnya. Sebelumnya Fang An bilang, kalau dirinya tidak bisa membunuh nyawa manusia, tetapi dilihat dari sekarang tampaknya dia seperti menjadi orang lain.
Gong Sun dan Gong Shi saling menatap satu sama lain. Ming Lan mengucek-ngucek matanya beberapa kali, memastikan kalau itu Fang An. Sebab serangan cepat Fang An tampak kasat mata bagi orang biasa.
Tampa sepengetahuan orang lain, diam-diam pedang yang dipegang oleh Fang An menghisap darah musuh. Darah tersebut berubah menjadi hawa iblis yang mengalir ke dalam tubuhnya. Hawa iblis ini membantu Fang An memulihkan luka-luka yang ada pada tubuhnya. Dan orang-orang disekitarnya pun tak menyadarinya kalau Fang An dirasuki oleh hawa iblis.
"An an, kau tidak apa-apa?" Shui Hu bertanya sembari menepuk bahunya, memastikan kalau ini adalah Fang An yang dia kenal.
Fang An segera menggelengkan kepalanya. Walaupun tampak terlihat linglung, dia terus menggelengkan kepalanya, lalu mengajak semua teman-temannya agar segera naik ke atas sebelum sungai meluap ke arah rawa-rawa.
Ketika sudah berada di atas rawa-rawa, semuanya kompak saling menanyakan keadaannya masing-masing, kecuali Fang An yang masih terdiam membisu.
Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa membunuh?, Fang An merasa ada yang aneh dengan tubuhnya sendiri. Merasa seperti dirasukin oleh orang lain.
Sebuah tangan menepuk bahu Fang An. "Kau tidak apa-apa , An an?" Shui Hu bertanya dengan nada lembut. Namun, Fang An merespon dengan kesal. "Sudah ku bilang jangan panggil aku, An an. Paham?!" Ucapnya dengan nada setinggi tinggi.
Shui Hu menelan ludahnya terkejut, dan menganggukkan kepalanya, lalu melangkah mundur dan menjauhi Fang An. Kemudian bersembunyi di balik punggung Gong Zhong. Sebuah senyuman terukir di wajahnya, ia senang karena sepertinya Fang An tidak kenapa-kenapa.
Ming Lan sedari tadi sibuk mengucapkan berulang-ulang satu mantra untuk menyembuhkan luka teman-temannya. Namun, dirinya terkejut saat ingin menyembuhkan luka Fang An, karena tekniknya sama sekali tidak mempan pada tubuhnya. Bahkan dia meningkatkan mantranya pada teknik penyembuhannya agar bisa menyembuhkan luka Fang An, hasilnya sama saja, tidak mempan sama sekal.
Fang An yang menyadari Ming Lan berusaha menyembuhkan luka pada tubuhnya, segera memberitahunya dengan nada lembut. "Aku tidak apa-apa, tenang saja."
"Kau yakin, Fang An?" tanyya Ming Lan memastikan.
Fang An menganggukkan kepalanya, lalu mempersilahkan Ming lan untuk memeriksa tubuhnya. Ming Lan mengangkat tangan kanannya, meletakannya di atas kepala Fang An. Sebuah cahaya hijau muncul dari telapak tangannya, lalu dengan pelan menurunkan tangannya dari atas kepala hingga ke bawah kaki.
Aneh, bagaimana dia bisa menyembuhkan diri sendiri? Jelas-jelas aku melihat tusukan tombak mengenai perutnya. Tak ingin mengungkapkan isi hatinya, Ming Lan menganggukkan kepalanya pada Fang An sembari berkata, "Ternyata benar. Syukurlah kalau begitu."
Fang An bersyukur semuanya selamat dari kematian, setidaknya dari orang-orang jahat. Namun, dirinya masih bertanya-tanya, mengapa orang-orang jahat itu mengincar Ming Lan. Apakah dia itu wanita istimewa atau ada sesuatu dalam dirinya. Padahal ku lihat Ming Lan wanita biasa-biasa saja. Bahkan tidak terlalu cantik dari Shui Hu. Astaga, Fang An buru-buru memukul mulutnya sendiri.
Semua orang terheran-heran saat melihat Fang An memukul mulutnya sendiri. Bahkan Shui Hu mendekatinya untuk bertanya.
Reflek Fang An menunjuk tangannya ke atas langit, lalu berkata dengan cepat. "Lihat ke atas! Ada pelangi."
Kompak semua teman-temannya melihat ke atas. Benar saja di langit ada pelangi yang muncul. Bahkan beberapa burung terbang sembari menikmati udara segar yang ada di langit. Selain muncul pelangi, beberapa bunga di atas pohon juga mulai bermekaran satu persatu. Semua teman-teman Fang An menikmati keindahan yang diberikan oleh langit.
Tiba-tiba Shui Hu berceletuk, "Orang bilang pelangi muncul, karena ingin membawa kebahagian bagi orang yang sedang sedih. Sebab hujan turun, menandakan langit sedang bersedih, karena melihat ada orang yang sedang meneteskan air matanya. Oleh sebab itulah, pelangi selalu muncul setelah hujan."
Kompak teman-teman Shui Hu bertepuk tangan dan memberikan jempolnya masing-masing sebagai tanda apresiasi kata-kata indahnya.
Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Shui Hu yang berada di Kota Dongfang.
...
Dua orang laki-laki sedang berdiri di bawah pohon cemara. Menikmati udara segar yang diberikan oleh langit setelah hujan, diiringi oleh siulan burung peliharaan salah satu dari mereka.
Satu laki-laki yang sudah berumur dan memiliki jenggot putih di dagunya, tampak menghisap sebatang kayu, lalu mengeluarkan sebuah asap dari mulutnya.
Sedangkan satu laki-laki lainnya tampak bermain dengan burung peliharaan milik laki-laki berjenggot putih.
"Kau yakin bisa menangkap bocah itu?"
"Tenang saja, Tuan Muda. Orang yang aku kirim adalah para pembunuh bayaran elite. Sebentar lagi mereka akan datang membawa laporan."
"Bagaimana jika kali ini gagal?"
Laki-laki berjenggot putih tertawa lepas saat mendengar pertanyaan dari rekannya yang masih muda. "Kalau kali ini gagal. Masih ada rencana lain. Jangan lupa julukanku, si Seribu Strategi," ucapnya meyakinkan rekannya.
Seorang prajurit tiba-tiba menerobos masuk, lalu berlutut melakukan hormat kepada kedua orang ini. "Lapor, Tuan!"
"Ada apa?"
"Pembunuh bayaran yang kita kirim gagal menangkap Nona Meng Lin."
Laki-laki yang terlihat masih muda, melemparkan secangkir teh yang akan dia teguk. "Dasar tidak berguna."
Orang berjenggot putih menenangkan rekannya, lalu bertanya pada prajurit bawahannya. "Lalu bagaimana dengannya sekarang?"
"Menurut laporan dari mata-mata, Nona Meng Lin sedang bersama Nona Shui Hu sedang meunju kediamannya."
Laki-laki yang berusia tiga puluhan menatap sinis ke arah laki-laki berjenggot putih. "Pastikan kau menangkapnya nanti."
Laki-laki berjenggot putih kembali tertawa lepas. "Tenang saja, Tuan Muda. Aku pasti menangkapnya."
"Satu lagi, Tuan," ucap prajurit dengan nada tinggi.
Kedua laki-laki yang memiliki status tinggi ini kompak menatap sang prajurit bawahan.
"Katakan!"
"Kedua nona itu diantar oleh empat orang laki-laki. Dan kami tidak mengenal siapa mereka."
Orang berjenggot putih manggut-manggut sembari tersenyum. "Hmmm ... menarik juga."