Fang An bersama teman-temannya berhasil mengantarkan Shui Hu pulang ke kediamannya di kota Dongfang bersama Ming Lan. Walaupun perjalanannya penuh tantangan dan rintangan, semuanya bisa dilalui bersama-sama dengan kerja sama yang kompak dan solid. Bahkan ketika Ming Lan diincar oleh para pembunuh bayaran, semuanya bersama-sama melindunginya.
Hanya membutuhkan beberapa langkah lagi untuk sampai di kediaman Shui Hu. Awalnya Ming Lan ingin melanjutkan perjalannya untuk pulang ke rumah, tetapi apa daya rumahnya sangat jauh dari tempat dirinya sekarang berpijak di atas tanah. Sehingga Shui Hu menawarkannya untuk menginap di kediamannya, dan akan meminta ayahnya untuk mengantarkannya pulang.
Fang An sedari tadi penasaran dengan sosok Ming Lan. Dia mengamatinya dengan seksama sejak di kampung Yunshan, dan menyadari kalau Ming Lan sebenarnya bukan warga provinsi Dongfang. Hatinya berkata untuk segera bertanya agar bisa menghilangkan rasa penasarannya, tetapi mulutnya sama seperti tertempel tak bisa dibuka hanya untuk sekedar bertanya.
Gong Zhong melanngkah sembari melirik ke kanan-kiri memperhatikan orangg-orang yang sibuk dengan aktivitasnya. "Ternyata ramai juga, ya, kehidupan di kota ini," celetuknya saat melihat seseorang yang sedang melakuukan sebuah atraksi.
Kedua mata Ming Lan tampak berbinar-binar selama perjalanan menuju kediaman Shui Hu. Tatapannya tak bisa menghindar ketika melihat penjual berbagai macam makanan.
Shui Hu hanya tersenyum bahagia ketika melihat teman-temannya menikmati pemandangan melihat orang-orang yang sibuk dengan transaksi jual-beli, tawar-menawar, hingga berkumpul untuk makan bersama-sama. Dia berencana untuk membawa teman-temannya makan bersama di kedai langganannya sebelum masuk ke kediamannya.
Gong Zhong berdehem saat melihat Ming Lan yang kesenangan, lalu bertanya dengan nada pelan, "Bukannya kau warga sini?"
Ming Lan tak mendengar pertanyaan Gong Zhong, karena suaranya terlalu kecil. "Hah? Kau bertanya apa, Zhong?" ia bertanya balik dengan suara keras.
Gong Zhong menggelengkan kepalanya, tak jadi bertanya.
Fang An yang melihat tingkah temannya hanya bisa bertepuk jidat. Kemudian ia melirik ke belakang, terkejut saat tidak melihat keberadaan Gong Sun dan Gong Shi. Loh, kemana mereka berdua?, kemudian ia bertanya pada Gong Zhong, "Gong Sun dan Gong Shi kemana?"
Gong Zhong dengan santai menjawab pertanyaan ketuanya, "Mereka bilang ingin jalan-jalan sendiri. Dan akan menunggu kita di gerbang kota."
Shui Hu menyenggol Fang An dengan sikut kanannya. "Tenang saja, ketua. Mereka bukan lagi anak kecil. Ya, nggak?"
Fang An hanya menganggukkan kepalanya, dan menjawab iya dengan simpel.
Shui Hu tiba-tiba memperlihatkan wajah cemberutnya saat mendengar jawaban singkat dari Fang An.
"Eh, kalau mau mampir ke kedai langgananku, nggak?" Shui Hu bertanya dengan penuh semangat.
Ming Lan menjawab dengan tak kalah semangat juga. "Ayo!!!"
Fang An hanya mendengus, sedangkan Gong Zhong hanya menganggakukan kepalanya saja.
Tiba-tiba seorang laki-laki yang memasuki usia kepala tiga datang mencegat Fang An dan teman-temannya. Ia melakukan hormat kepada mereka dengan sedikit membungkuk dengan kedua tangan di atas kepalanya.
"Paman Fu, kenapa kau di sini?" Shui Hu langsung bertanya saat mengenali siapa yang datang.
"Nona ... Tuan sedang menunggu kepulangan anda di kediaman. Jadi, sebaiknya Nona segera pulang, karena Tuan sudah mengkhawatirkan Nona selama beberapa hari ini," ucap Paman Fu dengan sopan dan menundukkan kepalanya.
Shui Hu menggaruk kepalanya tiba-tiba. "Tumben sekali ayah merindukanku, biasanya dia selalu membiarkanku diluar selama puluhan hari."
Fang An menyarankan Shui Hu agar segera pulang ke kediaman saja.
"Baiklah kalau begitu," ucapnya, lalu mengajak Paman Fu untuk memimpin jalan.
Ming Lan mengikuti Shui Hu dari belakang. Sedangkan Fang An dan Gong Zhong hanya terdiam tanpa melangkah. Hal ini, membuat Shui Hu bertanya-tanya.
"Kenapa kau tidak ikut, An an?"
Fang An dengan malu-malu menolak ajak Shui Hu secara halus, tetapi Pamn Fu mengatakan kalau Tuan Besar ingin bertemu dengan teman-teman Shui Hu yang menjaganya selama perjalanan pulang. Mau tidak mau, Fang An terpaksa ikut pulang Shui Hu ke kediamannya.
Perlahan matahar mulai bergeser ke arah barat, bayangan manusia menjadi lebih panjang dari biassanya. Beberapa orang sudah mulai beres-beres untuk menutup toko atau kedainya masing-masing, karena hari sebentar lagi menuju malam. Terdengar burung-burung berkicau lebih berisik dari biasanya di pagi hari, karena mereka sedang sibuk mencari tempat untuk berteduh sekaligus beristirahat tidur. Begitu juga dengan beberapa orang yang melakukan perjalan sudah mulai mencari tempat penginapan.
Fang An, Gong Zhong, dan Ming Lan akhirnya sampai di depan kediaman Keluarga Li. Tanpa basa-basi Shui Hu mengajak ketiga temannya untuk masuk ke dalam. Paman Fu pamit, karena ingin melapor pada ayahnya Shui Hu, Li Jiangxi.
Fang An, Gong Zhong, dan Ming Lan dibuat takjub dengan kediaman milik keluarga Li. Begitu luas halaman rumahnya, serta bangunannya yang mewah berwarna emas, dengan beberapa interiornya berlatar belakang dinasti zaman dulu, serta hiasan dinding dipenuhi dengan cora khas dinasti sekarang, Dinasti Da Han. Berbagai jenis bunga berjejer di sisi jalan kecantikan dan keunikannya masing-masing, serta ada beberapa bangunan yang memiliki nama dengan makna yang cukup dalam.
Ketika semuanya sibuk dengan kekagumannya terhadap kediaman Keluarga Li. Paman Fu kembali menghampiri mereka, mengajak semuanya untuk pergi ke Paviliun Harum Semerbak Wangi di halaman barat, lalu dia meminta Shui Hu agar segera mengganti pakaiannya terlebih dahulu untuk menjaga kehormatan Keluarga Li.
Namun, Shui Hu sama sekali tidak ingin mengganti pakaiannya. "Memangnya kenapa kalau gak ganti pakaian? Nggak apa-apa, kan? Toh teman-temanku saja tidak keberatan, ya, kan, An an?"
Fang An berdecak kesal saat kembali dipanggil An an. Sebagai balasannya ia kembali menjawab dengan simpel, yaitu iya.
Paman Fu tak bisa membantah sang tuan putri Keluarga Li. Dengan berat hati, dia memimpin jalan menuju Paviliun Harum Semerbak Wangi. Dalam hati, dia berharap tuannya tidak menyalahkan dirinya.
Seorang laki-laki paruh baya dengan jenggot putih kesayangannya sedari tadi mondar-mandir di depan paviliun. Rasa rindu yang tak tertahankan, membuat hatinya tak bisa tenang dan ingin segera bertemu putri kesayangannya. Kedua matanya berbinar-binar saat melihat putrinya sedang berjalan ke arahnya dari kejauhan.
Ya, dia adalah Li Jiangxi, ayahnya Shui Hu. Berlari kecil ke arah putrinya, lalu memeluknya untuk melepaskan rindu. "Akhirnya, putriku tersayang pulang juga. Ayah khawatir loh," ucapnya dengan sedikit manja sembari mencium pipi putrinya beberapa kali.
Shui Hu segera meminnta ayahnya untuk berhenti bermanja-manja, karena merasa malu. Teman-temannya berusaha menahan tawa dengan menutup mulutnya masing-masing.
Setelah melepaskan pelukan sang ayah, Shui Hu kemudian memperkenalkan teman-temannya satu persatu.
Fang An memperkenalkan diri terlebih dahulu, disusul oleh Gong Zhong, dan terakhir Ming Lan. Ketiganya tak lupa memberikan hormat sebagai sopan santun.
Jiangxi tampak tertawa kecil, "Sudah-sudah tak perlu sungkan. Anggap saja ini rumah sendiri. Ayo masuk, kita makan terlebih dahulu di dalam," ajaknya sembari tertawa-tawa.
Seorang laki-laki dengan pakaian mewah berdiri di bawah lorong jalan menuju halaman barat kediaman Keluarga Li. "Oh, jadi dia sepupu jauh permaisuri," ucapnya saat memperhatikan seseorang.