45. Penyergapan Bastien

Penulis Rei_Moira
16 December 2025

Pintu ruangan kerja itu dibuka kasar. Seorang pengawal berjas hitam berlari kecil menghampiri sang Tuan—Bastien.

“Ada apa?” Dagu Bastien terangkat, kacamata baca menggantung di ujung hidung.

“Tuan, Nick dan Kira tertangkap. Rudolf telah menindaklanjuti kasusnya.”

Tanpa menjawab, Bastien meraih kotak cerutu di atas meja, lalu melemparnya kencang ke arah pengawal. Ujung kotak menggores punggung tangan, meninggalkan jejak parut berwarna kemerahan.

“Seret Elias dari kamarnya. Bawa masuk ke dalam mobil sekarang juga!” Bastien berdiri, meraih ponsel dan menyambar coat tebal di sandaran kursi.

Sang pengawal tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya berbalik cepat dengan rahang mengetat, bergegas menuju kamar yang beberapa bulan ini ditempati Elias.

Mendapat perlakuan kejam dari Bastien seolah menjadi makanan sehari-harinya. Tidak menyenangkan—tentu saja. Namun tidak ada pilihan lain baginya selain menuruti. Semua hal yang telah didapatkannya—fasilitas terbaik, kehormatan di mata banyak orang, dan kemudahan dalam mengakses jaringan perusahaan—membuatnya mau tidak mau harus tunduk dan menerima semua perlakuan, termasuk merendahkan dirinya sendiri.

Sementara itu, Kael dan Ezra telah melaju cepat di jalanan yang membentang panjang menuju mansion Bastien. Wajah mereka tegang, Rudolf baru saja memberikan informasi jika pihak Bastien telah mengetahui langkah hukum mereka terhadap Nick dan Kira.

Jika kali ini Bastien lolos, mereka khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan pada Elias. Ezra mengepal kencang, dadanya bergemuruh hebat. Elias adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Jika ia kehilangan adik kecilnya itu, entah alasan apa lagi yang mampu membuatnya tetap berdiri dan bernapas.

“Bisa lebih cepat?” Suara Ezra semakin parau.

Luther tak menjawab. Ia hanya menuruti ucapan Ezra dengan semakin menginjak pedal gas. Tangan kirinya bahkan tak lepas dari tuas persneling. Di sebelahnya, Kael hanya terdiam. Sorot matanya tajam—penuh amarah.

“Tenanglah, kita akan mendapatkan Elias kembali.” Hanya itu yang bisa dikatakan Kael.

Selama mereka masih bisa mengendus jejak Bastien, merebut Elias adalah perkara yang mudah. Luther kembali memacu mesin mobil melebihi batas yang biasa ia lajukan. Jalanan panjang menuju mansion milik Bastien seolah menjelma menjadi ular hitam tanpa ujung. Meliuk panjang, licin terkena hujan yang mulai mengguyur.

Di tikungan terakhir, mobil Bastien terlihat keluar dari gerbang utama. Luther menambah kecepatan, sementara Ezra mencondongkan badannya.

“Elias di sana!” tunjuknya, tepat pada kursi belakang mobil Bastien yang terkena sorot lampu mobil Kael.

“Luther, hadang mobil mereka!” seru Kael, sambil membuka laci mobil di hadapannya.

Satu desert eagle kini tergenggam di tangannya, berkilau tertimpah sorot lampu dari penerangan jalan. Ezra terkesiap saat menatapnya, tak menyangka pria itu memilikinya.

“Kau bisa menggunakan senjata?” tanya Kael, menoleh sejenak pada Ezra.

Ezra menyeringai. “Kau kira aku seculun itu? Ezra merogoh sakunya, memperlihatkan sebuah glock hitam. “Aku curi dari Nick, aku sering berlatih tembak di club.”

Kael mendengus, sebelah sudut bibirnya terangkat. “Pastikan tepat sasaran, Roux.”

Ezra terdiam sejenak. Pertama kalinya Kael menyebut nama belakangnya yang asli, terasa asing, tapi menenangkan. “Serahkan padaku, Vireaux.”

Mobil meliuk kencang, suara roda berdecit kencang ketika Luther menghantam tajam kemudinya untuk menghalangi mobil Bastien yang terus melaju. Hanya berjarak satu centi ketika mobil keduanya saling berhenti tajam. Guyuran hujan semakin deras, mengaburkan jarak pandang.

Ezra melompat keluar dari mobil. Sementara para pengawal Bastien telah mengepung. Kael keluar dari mobil, berjalan santai ke arah mobil Bastien. Beberapa pengawal tampak ragu untuk mengambil tindakan. Bagaimanapun juga, Kael Viraeux adalah pemegang tahta tertinggi di kerajaan Grup Vireaux.

“Jangan halangi jalan kami,” ucap Kael datar, satu tangan mengacungkan pistolnya.

Para pengawal terdiam di tempatnya, tak berani bergerak sedikit pun. Ekspresi mereka terlihat ragu, sementara pintu belakang mobil Bastien terbuka. Pria tua itu menyeret Elias dengan kasar. Bocah itu tersentak, mengerut ketakutan.

Melihat hal itu, Ezra segera bereaksi. Tangan kanannya meraih glock di saku belakang celananya, langkahnya berderap cepat. Namun sialnya, Bastien menodongkan pistol ke kepala Elias dengan cepat.

“Maju selangkah lagi, dia akan mati di tanganku!” sentak Bastien.

Ezra menggeram, langkahnya tertahan oleh tangan Kael yang merentang—menghalanginya untuk bertindak gegabah.

“Tenang, Roux. Jangan sampai Elias jadi korban. Ikuti rencana kita.” Kael mengingatkan, dengan nada rendah yang hanya terdengar oleh Ezra.

Ezra tampak gusar, tapi ucapan Kael benar. Ia tahu bagaimana seorang Bastien ketika sedang terjepit. Selama ini, ia berada di atas angin karena tak ada yang benar-benar berani melawannya. Namun kini, kasusnya telah diproses secara hukum, dan Kael datang sendiri bersama dengan Ezra, pion yang berkhianat.

Malam ini, terlihat sebenarnya betapa pengecutnya seorang Bastien Vireaux. Si tua bangka itu hanyalah manusia tamak yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya.

“Paman, lepaskan bocah itu.” Kael bergerak selangkah, sangat hati-hati.

“Bergerak selangkah lagi, aku akan menghabisinya!” Bastien semakin menekan moncong pistol ke kepala Elias.

Bocah itu membelalakkan matanya. Bingung dengan apa yang terjadi. Matanya berkelana penuh ketakuan, sampai akhirnya menemukan sosok kakaknya di belakang Kael.

“Ezra!! Tolong aku!!” Suara Elias tersengal, ia mulai menangis sesenggukan.

Ezra mengetatkan rahangnya. Matanya berkilat, ia tak lagi merasa tenang. “Elias, calm down. Aku akan menyelamatkanmu—”

“Kau masih berani mengatakan hal itu setelah berkhianat padaku?!” Bastien menatap tajam pada Ezra. Gerakannya semakin impulsif, Elias semakin bergetar ketakutan.

“Easy, Roux. Jangan terpancing.” Kael terus menggumam, mencoba mengulur suasana untuk Luther.

Luther yang dari tadi tak tampak, ternyata telah memutar cepat ke belakang Bastien, mengendap di balik pekat dan derasnya hujan. Tak ada satu pun orang yang menyadari pergerakannya. Hingga akhirnya, pria itu menarik cepat pundak Bastien dari belakang, lalu menjatuhkannya hanya dalam sekali gerakan.

Elias terjatuh ke aspal. Pengawal Bastien segera bergerak cepat untuk menyergap Luther. Kael berlari cepat, menembakkan desert eagle-nya pada kaki para pengawal, hanya sekadar melumpuhkan. Sementara Ezra, bergerak cepat untuk mengangkat Elias dan menggendongnya menembus hujan. Ia membawa bocah kecil itu ke dalam mobil Kael, memastikan situasinya aman, lalu ia menatap adik lelakinya tersebut dengan wajah cemas.

“Elias, dengarkan aku. Tunggu di sini, jangan kemana-mana, mengerti?” Suara Ezra tegas, tapi tetap terasa hangat.

“Kau mau kemana? Aku takut,” rengek Elias, menahan lengan Ezra.

Ezra membelai pelan rambut Elias, lalu tersenyum tipis. “Aku harus membantu temanku dulu. Setelah ini, kita akan makan steak kesukaanmu. Tapi ingat, jangan turun dari sini, mengerti?”

Elias mengangguk, sorot matanya menatap cemas. “Jangan terluka,” ucapnya.

Ezra masih tersenyum, kemudian mengangguk pelan. “Tenang saja, aku jagoan.”

Ezra segera menutup pintu mobil, lalu ia menggenggam erat glock di tangannya. Para pengawal berjatuhan di aspal. Genangan hujan membawa samar warna merah pekat. Ezra masih berlari ke arah Kael dan Luther, ketika Bastien berhasil berlari menuju hutan samping yang pekat.

“Sial!” umpat Kael, lalu mengejar Bastien dengan cepat.

Luther menghampiri Ezra, pundaknya berdarah.

“Aku akan mengejar Kael. Kau tunggulah di sini. Tolong jaga adikku!” seru Ezra sambil berlari ke arah hutan tanpa menunggu jawaban Luther.