Sienna menepuk pelan pelipisnya, mencoba menahan pusing setelah menaiki terlalu banyak wahana ekstrem. Ia duduk di bangku dekat taman, mengatur napas sambil meneguk air mineral yang baru saja dibelinya.
Wajahnya sedikit pucat, tetapi matanya tetap berbinar melihat suasana ramai di sekeliling. Anak-anak tertawa, pasangan muda bergandengan tangan, dan suara musik dari karusel terdengar lembut di kejauhan.
Arden, yang berada tak jauh darinya, tengah berbincang singkat dengan Lucas mengenai jadwal berikutnya. Meski duduk di kursi roda, ekspresinya terlihat santai, bahkan sedikit puas mungkin karena berhasil membuat Sienna menjerit ketakutan di wahana sebelumnya.
Sienna memutar pandangannya, lalu matanya tertumbuk pada sebuah photo box berwarna pastel di sudut taman. Entah kenapa, ide spontan muncul di kepalanya.
“Arden!” panggilnya sambil berdiri.
“Bagaimana kalau kita foto di situ?”
Arden menoleh, menatap arah yang ditunjuk Sienna, lalu kembali memandangnya dengan alis terangkat. “Foto box?” tanyanya datar. “Kamu serius?”
Sienna mengangguk bersemangat. “Iya! Sekalian kenang-kenangan. Sayang banget, kan, udah jauh-jauh datang ke sini tapi nggak foto sama sekali.”
Arden menyandarkan punggungnya sambil menatapnya dengan senyum miring.
“Hmm … atau jangan-jangan kamu mulai suka jalan bareng aku, sampai ngajak foto segala?” godanya.
Sienna langsung memutar bola matanya. “Enggak ya, hanya mumpung di sini aja. Nggak usah GR, deh.”
Arden terkekeh pelan. “Baiklah, kalau kamu yang minta.” Ia lalu menggerakkan kursi rodanya ke arah photo box itu. Lucas membantu memastikan tempatnya aman, tapi Arden menolak bantuan lebih jauh.
“Aku bisa sendiri,” katanya.
Begitu sampai di depan bilik kecil itu, mereka berdua sama-sama terdiam sejenak.
Ruangannya sempit, tirainya berwarna merah muda, dan ada tumpukan aksesori lucu, di sisi kiri bando telinga kelinci, topi koboi, dan kacamata besar berbentuk hati.
“Uh … ini kelihatan kecil banget,” gumam Arden pelan.
Sienna menahan tawa. “Ya, namanya juga foto box, bukan studio.”
Dengan usaha sedikit rumit, Arden memutar kursinya perlahan agar bisa masuk. Sienna ikut menahan tirai, membantu mengatur posisi. Namun, ketika mereka berdua sudah di dalam, ternyata ruangnya lebih sempit dari dugaan. Lutut Sienna hampir menyentuh roda kursi Arden, ia bahkan harus menundukkan tubuh agar sejajar dengan Arden.
“Huh … sempit banget,” keluh Sienna sambil berusaha duduk lebih tegak.
“Sudah kubilang,” sahut Arden datar. “Kita keluar saja. Ini konyol.”
Sienna langsung menoleh cepat. “Eh, jangan! Kita udah repot masuk, masa nggak foto? Sayang banget.”
Arden menghela napas, tapi akhirnya mengalah. “Baiklah. Tapi kalau hasilnya aneh, salahmu.”
Sienna tersenyum puas. Ia menekan tombol di layar sentuh, lalu hitungan mundur muncul. Blitz pertama menyala.
Mereka berdua tampak kaku. Arden menatap kamera dengan ekspresi datar, sementara Sienna mencoba tersenyum, tetapi justru terlihat canggung.
“Wajahmu kayak diinterogasi polisi,” bisik Sienna menahan tawa.
“Lebih baik daripada senyum ktp seperti itu!” balas Arden datar, tetapi ujung bibirnya terangkat sedikit.
Putaran kedua dimulai. Sienna dengan cepat mengambil bando telinga kelinci dari rak dan menaruhnya di kepala Arden.
“Hei! Apa-apaan ini?” serunya spontan.
“Biar lucu dikit!” jawab Sienna sambil tertawa. Blitz menyala lagi, kali ini menangkap ekspresi Arden yang terkejut dengan bando konyol di kepalanya.
“Kalau begitu gantian,” ujar Arden, mengambil topi koboi dan meletakkannya di kepala Sienna. “Sekarang kamu kelihatan seperti gadis peternakan yang tersesat di taman hiburan.”
“Ha ha, lucu sekali,” balas Sienna sarkastik, tetapi senyumnya tak bisa disembunyikan.
Mereka pun tertawa di sela-sela jepretan berikutnya. Sienna mencoba membuat pose damai dengan dua jarinya, sementara Arden meniru dengan gaya yang berlebihan, membuat Sienna meledakkan tawa.
“Lihat, sekarang kamu mulai menikmati ini,” kata Arden pelan.
Sienna menunduk sedikit, pipinya memanas. “Mungkin sedikit,” akunya. “Tapi jangan pikir ini karena kamu, ya.”
Arden menatapnya, kali ini tanpa senyum jahil. “Terlambat. Aku sudah berpikir begitu.”
Sienna berdeham gugup, lalu buru-buru mengambil kacamata bentuk hati dan menaruhnya di wajahnya sendiri.
“Ayo, ini yang terakhir!” katanya cepat.
Blitz terakhir menyala. Kali ini, mereka berdua tanpa sadar saling menoleh bersamaan wajah mereka begitu dekat hingga hidung hampir bersentuhan. Foto terakhir itu menangkap senyum hangat dan tatapan yang sulit dijelaskan.
Ketika hasil cetakan keluar, Sienna mengambilnya dengan hati-hati. Empat potret berjejer dari canggung, lucu, hingga yang terakhir entah kenapa terasa hangat.
“Lumayan bagus,” kata Sienna lembut.
Arden memandang foto itu lama, lalu tersenyum kecil. “Iya. Tapi aku lebih suka yang terakhir.”
Sienna melirik cepat, menyembunyikan senyum yang nyaris muncul. “Kamu memang mesum, ya.”
“Salahkah?” balas Arden meledek, “Kan, kamu yang minta masuk ke sini, atau ….”
Arden berhenti sejenak dan menatap Sienna dengan tatapan jahil. “Atau ini memang niatmu sebenarnya?” lanjut Arden menggoda Sienna.
Sienna langsung berdiri tegak dan berseru, “Mana mungkin! Jangan terlalu percaya diri, deh!” ucapnya lalu keluar dari sana dengan kesal.
“Eh ... tunggu, gimana caranya aku keluar?” teriak Arden yang kebingungan untuk keluar dari sana.
Sienna berjalan cepat menjauh dari photo box, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdebar tidak karuan. Pipinya terasa panas bukan karena matahari, tetapi karena ulah Arden yang terus saja menggoda tanpa ampun. Ia bahkan tak berani menoleh ke belakang, takut kalau wajahnya yang merah padam akan terlihat jelas.
“Kenapa sih, dia selalu begitu,” gumamnya pelan sambil menepuk pipinya sendiri. “Suka banget bikin orang kesal.”
Beberapa langkah di belakangnya, terdengar suara Lucas tergesa membantu Arden keluar dari bilik foto yang sempit itu.
“Tuan muda, pelan-pelan, kursinya tersangkut.”
“Aku tahu,” balas Arden dengan nada datar, tapi terdengar geli. “Tadi dia kabur duluan, padahal aku yang terjebak.”
Begitu akhirnya Arden berhasil keluar, ia menemukan Sienna yang berdiri tak jauh sambil menunduk, tampak gelisah.
Tak lama setelah itu, terdengar suara aneh dari perutnya. Suara protes keras. Sienna langsung menegang, menatap Arden dengan mata membulat.
“Ah ... itu cuma angin lewat,” katanya cepat, mencoba menutupi rasa malunya.
Arden menatapnya lama, lalu tertawa kecil. “Angin yang cukup berisik.”
Sienna mengerucutkan bibirnya. “Sudahlah! Aku cuma lapar, oke?”
“Kalau begitu, ayo kita cari makan. Aku tahu restoran Prancis yang cukup terkenal di sini. Tempatnya mewah, menunya juga—”
“Enggak,” potong Sienna cepat. “Aku nggak mau makan yang rumit-rumit. Restoran mewah itu makanannya terlalu kecil porsinya, padahal aku lapar.”
Arden menaikkan sebelah alis. “Lalu, mau makan apa?”
Sienna menatap sekeliling, melihat papan besar bertuliskan Fast Food Corner di kejauhan.
“Itu aja! Burger, kentang goreng, es krim … itu lebih cocok buat suasana taman hiburan begini.”
Arden menghela napas, pura-pura malas. “Dari semua makanan di Paris, kamu malah pilih burger dan es krim?”
Sienna mengangguk mantap. “Iya! Dan kamu juga harus makan, biar tahu rasanya bahagia kayak anak kecil.”
Arden menatapnya sebentar, lalu mendesah panjang. “Terserah kamu saja.”
Sienna tersenyum puas. “Bagus. Sekali-sekali kamu nurut juga.”
Arden menggerakkan kursi rodanya, mengikuti langkah Sienna yang mulai berjalan menuju kios makanan cepat saji.