Drama

14. Sentuhan Arden

17 December 2025

Suasana di gerai makanan cepat saji itu terasa kontras dengan tempat-tempat mewah yang biasanya dikunjungi Arden. Musik pop ceria terdengar dari pengeras suara, aroma kentang goreng dan roti panggang memenuhi udara, dan anak-anak kecil berlarian sambil tertawa. Sienna tampak bersemangat, mengantri dengan mata berbinar.

“Lihat, nih,” katanya antusias sambil menunjuk ke menu besar di atas kasir. “Aku mau burger ganda, kentang ukuran besar, dan es krim cokelat. Kamu mau apa?”

Arden yang berada di belakangnya dalam antrean hanya mengangkat alis.

“Aku ikut kamu saja. Tapi jangan pesan terlalu banyak, aku bukan mesin pembuangan makanan.”

Sienna mendengus. “Aku nggak maksa kamu makan pun. Tapi jangan ngeluh kalau nanti kamu iri lihat makananku.”

Arden menatapnya dengan senyum miring. “Aku lebih khawatir kamu yang nanti minta dibawain air karena kekenyangan.”

Sienna melotot kecil, tetapi tak membalas. Begitu mereka selesai memesan, Lucas datang membantu membawa nampan besar berisi pesanan mereka, sementara Arden sudah mendorong kursi rodanya ke dekat jendela yang menghadap taman kecil. Cahaya sore masuk lembut, membuat suasana terasa hangat dan santai.

Sienna duduk di seberang Arden, langsung membuka bungkus burgernya dengan semangat. “Ini baru makanan yang benar,” ujarnya puas.

Arden memandanginya sambil menyandarkan diri. “Kamu makan seperti orang yang belum makan tiga hari.”

“Ya ampun, hari ini kita naik wahana sebanyak itu, siapa yang nggak lapar?” balas Sienna tanpa rasa bersalah sambil menggigit burger besarnya. “Lagipula, kamu juga kelihatan menikmati, kan?”

Arden mengangkat alis. “Menikmati? Aku cuma duduk sambil nonton kamu menjerit kayak diseret naga waktu di halilintar.”

Sienna berhenti mengunyah, menatapnya dengan wajah tidak percaya. “Kamu serius? Aku hampir mati ketakutan!”

“Itu karena kamu terlalu banyak bicara sebelum naik,” kata Arden santai sambil memakan kentang goreng. “Kamu bilang nggak takut, tapi baru naik satu putaran, langsung teriak minta turun.”

“Ya, karena itu lebih cepat dari yang kukira!” seru Sienna, wajahnya memerah. “Dan kamu malah tertawa sepanjang jalan!”

Arden tersenyum puas. “Itu hiburan terbaik hari ini.”

Sienna mendengus keras, mengambil es krim dan mulai menyendoknya dengan wajah pura-pura acuh. “Tertawa di atas penderitaan orang lain itu dosa, tahu nggak?”

“Tapi kalau yang menderita kamu, rasanya jadi anehnya menyenangkan,” balas Arden acuh tak acuh.

Sienna menatapnya lama, lalu menggeleng pelan. “Kamu ini benar-benar susah ditebak. Kadang bisa manis, kadang menyebalkan setengah mati.”

Arden menatapnya dengan senyum tipis. “Kalau aku selalu manis, kamu pasti cepat bosan.”

“Siapa bilang?” balas Sienna spontan, lalu cepat-cepat menunduk saat menyadari ucapannya sendiri. “Maksudku … ya … maksudku, seenggaknya kamu bisa berhenti membuatku ingin melempar kentang ke wajahmu.”

Arden tertawa pelan. “Itu kemajuan. Mungkin kamu mau melemparkan kursi.”

Beberapa menit kemudian, makanan di atas meja sudah hampir habis. Sienna menyandarkan punggungnya dan mengusap perutnya yang kenyang.

“Hari ini melelahkan, tapi menyenangkan juga,” ujarnya tulus. “Aku nggak nyangka kamu bisa se-seru ini.”

Arden menaikkan alis. “Maksudnya aku biasanya membosankan?”

Sienna menatapnya, lalu tersenyum kecil. “Biasanya kamu terlalu … galak dan ketus. Aku sampai malas melihatmu setiap saat.”

“Aku bisa bikin kamu jatuh cinta dengan cepat kalo terus bersikap menyenangkan,” katanya dengan senyum percaya diri.

Sienna hampir tersedak dengan minumannya mendengar ucapan itu. Ia langsung menatap Arden lebar-lebar, memastikan kalau pria itu benar-benar mengatakannya dengan serius. Tapi yang ia lihat malah senyum tipis penuh percaya diri di wajah Arden, senyum yang entah kenapa membuat jantungnya berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Kamu … kamu ngomong apa barusan?” tanya Sienna akhirnya, suaranya agak meninggi.

Arden hanya mengangkat bahu santai, masih menatapnya dengan mata berkilat nakal.

“Aku bilang, kalau aku terus bersikap menyenangkan, kamu bisa jatuh cinta padaku lebih cepat dari yang kamu kira.”

Sienna mengerjap, lalu tertawa kecil agak gugup, tetapi berusaha menyembunyikannya dengan gaya santai. “Hah! Mimpi aja, Arden. Dunia belum segila itu.”

Arden menyandarkan diri di kursi rodanya, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Oh, dunia ini udah gila sejak kamu setuju menikah denganku, Sienna.”

Kalimat itu membuat Sienna terdiam sejenak. Ada canda di dalamnya, tetapi juga nada lembut yang membuat hatinya bergetar aneh. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, pura-pura sibuk melihat lalu-lalang pengunjung taman hiburan.

“Aku menikah karena keadaan,” katanya akhirnya. “Bukan karena .…”

“Bukan karena cinta?” potong Arden pelan, tetapi nadanya tidak menekan.

Sienna menatapnya sesaat, lalu mengangguk samar. “Ya. Dan kamu juga tahu itu.”

Arden tidak langsung menjawab, hanya memandangi Sienna lama, perempuan yang selalu terlihat kuat, tetapi di balik matanya tersimpan lelah dan luka yang belum sembuh.

Akhirnya Arden menarik napas pelan, lalu tersenyum lembut, berbeda dari sebelumnya.

“Kalau begitu, mungkin tugasku sekarang adalah membuatmu percaya kalau cinta bisa datang dari hal-hal yang tidak kamu duga.”

Sienna menatapnya bingung, bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak ada kata yang keluar.

“Dan jangan khawatir,” lanjut Arden dengan nada lebih ringan, “aku nggak buru-buru. Aku tahu kamu butuh waktu. Tapi … jangan kaget kalau suatu hari kamu sadar udah jatuh cinta sama aku duluan.”

Sienna terdiam. Ia ingin membalas, ingin menyindir balik seperti biasanya, tetapi hatinya justru terasa aneh, seperti ada sesuatu yang hangat merambat pelan di dadanya.

Akhirnya ia hanya menunduk dan berdeham pelan. “Kamu ini benar-benar punya percaya diri yang tinggi, ya.”

Arden terkekeh pelan, menatapnya dengan tatapan penuh arti. “Percaya diri? Mungkin. Tapi aku juga tahu … sesuatu sedang berubah di antara kita.”

Sienna tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis lalu melanjutkan makan es krimnya sambil menghindari tatapan Arden yang terus menelusuri wajahnya dengan lembut.

Sienna tak sadar ada sedikit noda di sudut bibirnya. Arden yang duduk di depannya memperhatikan gerakan itu dengan mata tajam, lalu tanpa berpikir panjang, ia mengulurkan tangan dan menyeka lembut sudut bibir Sienna dengan ibu jarinya.

“Kenapa kamu menyisakan eskrimnya? Apa kamu anak kecil?” ledek Arden tanpa menyadari gerakannya membuat Sienna terdiam membeku.

Tatapannya langsung bertemu dengan mata Arden yang dalam, hangat, dan entah kenapa terasa begitu dekat. Ia bisa merasakan degup jantungnya berdentum kencang di dada, membuat napasnya sedikit tertahan.

Arden pun tampak sama terkejutnya. Tangannya masih menggantung di udara, sementara senyum kecil muncul di sudut bibirnya, samar, tetapi tulus.

“Kamu … berantakan sekali kalau makan,” katanya pelan, berusaha menyembunyikan kecanggungan.

Sienna menelan ludah, pipinya memanas. “Kamu juga nggak harus membersihkannya langsung,” jawabnya dengan nada gugup.

“Terlambat, Aku sudah melakukannya. Apa kamu akan membalasnya?” balas Arden kembali meledek.

Sienna mendelik dengan kesal. “Kamu memang nggak pernah bisa serius, ya?” tanyanya tajam.

Arden tertawa kencang karena Sienna benar-benar terlihat menggemaskan. Ia pun mencubit pipi Sienna dan membuat mata Sienna melotot.

“Sakit!” seru Sienna kesal.