Bab 2.

Penulis alend_
18 December 2025

Kevin menemukan yang dia cari, senyumnya berkembang. Tanpa pikir lama, dia menghubungi wanita yang dikenalnya dari teman semasa SMA. “Halo, Kevin,” jawab suara dari seberang. “Halo, Cathrine. Bagaimana kabarmu?” tanya Kevin berbasa-basi. “Ya, not bad,” balas Cathrine sambil tersenyum. “Ada apa gerangan? Sepertinya ada hal penting yang bersifat sangat rahasia, sampai-sampai orang kepercayaan dari Noah Jasper menghubungiku?” Kevin tertawa, “Kau paham sekali ya. Benar, aku sedang butuh bantuan.” Kevin mulai menceritakan kepentingannya, hanya secara garis besar. Tidak menyebutkan nama Noah dan tidak menjelaskan secara keseluruhan. “Maaf, Kevin. Kalau keadaanku masih seorang wanita lajang, mungkin saja aku mau membantu. Sayangnya, aku sudah menikah, 3 bulan lalu.” Cathrine menolak tawaran Kevin. “Ah,benarkah? Selamat kalau begitu.” Setelah saling mengucapkan maaf dan terima kasih, keduanya menutup panggilan telepon.
“Kenapa sulit sekali menemukan seorang wanita saja?” Pekerjaan yang sangat sulit untuk Kevin, mencari seorang wanita. Dia berhenti dan berpikir. Menarik nafas dengan berat. Badan bersandar dan menutup mata. Tangan kanannya memijit-mijit pelipis mata yang terasa sedikit nyeri. “Harus ke mana lagi mencari perempuan yang butuh uang dan tidak memiliki kepentingan khusus pada Keluarga Jasper?” Tidak mungkin dia asal mengambil wanita untuk bosnya. Tidak mungkin juga membuat pengumuman secara terbuka. Dia hanya menemukan jalan buntu saja. Diam sambil berpikir dan berusaha untuk tenang, satu-satunya yang bisa dilakukannya. “Benar!” Kevin tiba-tiba menyadari sesuatu. “Masih ada seorang wanita yang bisa diandalkan. Dia pernah melamar jadi calon peserta penerima beasiswa!” Kevin tidak menunda-nunda lagi. Meminta tim HRD mengirimkan berkas lamaran pelamar berjenis kelamin wanita dan memulai pencarian dari sana. Memeriksa dengan teliti setiap wanita yang memenuhi kriteria, hingga memeriksa semua akun media sosial milik calon peserta. “Haaah!” Kevin membuang napas berat. “Ternyata mencari satu perempuan saja sulit sekali.” Terasa sangat melelahkan sekali. Sudah sejak lama Kevin tidak merasakan lelah karena bekerja, seperti malam ini. “Sudah lama aku tidak merasakan bekerja sekeras ini. Rasanya menyenangkan juga, bekerja dengan tantangan baru. Seperti dulu, awal bekerja sama Pak Noah.” Kevin tiba-tiba saja kembali ke masa lalu.


Masih menikmati malam gelap di balkon lantai dua rumahnya, dengan pikiran yang jauh melayang. Mengingat-ingat kembali, siapa kira-kira yang bisa dijadikan pasangan palsu? Hingga dia berhenti pada sosok seorang perempuan yang sangat dikagumi. “Leona?” sebutnya spontan. Nama yang tiba-tiba keluar begitu saja dari semua perempuan yang dijadikan kandidat. Bergegas membuka komputer dan mencari-cari berkas lama yang mungkin masih tersimpan. “Ada!” Kevin berteriak tanpa takut menimbulkan keributan, padahal jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Kevin mulai dengan dokumen lama. Dokumen peserta calon penerima beasiswa. Satu nama yang membuat dia kagum, 4 tahun lalu. “Sayang sekali, talenta seperti wanita ini tidak mengambil target fakultas yang dibutuhkan oleh perusahaan. Pada saat wawancara, aku sendiri yang mewawancari gadis ini.” Kevin senyum-senyum sendiri. “Dia cukup tegas untuk menolak tawaran dan bujukanku waktu itu.” Sesaat Kevin mengingat masa lalu, ketika dia berdebat dengan gadis yang waktu itu berusia masih sangat belia. “Waktu itu, dia belum genap usia 18 tahun. Tapi, sangat luar biasa mempresentasikan impian dan cita-citanya.” Kembali fokus pada pekerjaan tambahannya yang dia sendiri tidak tahu, apakah akan diberikan bonus atau uang lembur. Hanya satu yang pasti, dia ingin membantu Noah untuk tujuan kali ini.


Paginya, dengan percaya diri tinggi, Kevin bersiap untuk menyerahkan dokumen yang berisi tentang Leona Iris kepada Noah. Satu yang menjadi keraguannya saat ini, yaitu usia gadis itu. “Umur Leona sangat muda sekali untuk Pak Noah, jarak mereka terlalu jauh. Entah apa yang akan dikatakan olehnya nanti, tapi untuk sekarang, hanya gadis ini saja yang masuk ke dalam kriteria Tuan Muda Jasper itu.” Di ruang kerjanya, Kevin menunggu Noah tiba sambil melakukan beberapa pekerjaan. Tak lama, suara dering pesawat telepon di atas meja mengalihkan fokusnya. “Halo,” jawab Kevin begitu menjawab panggilan. “Selamat pagi, Pak Kevin,” balas suara wanita dari seberang telepon. “Pak Noah sudah tiba.” “Baik,” balas Kevin kemudian menutup telepon dan berdiri. Sambil membawa dokumen yang berisi data Leona, Kevin juga membawa beberapa berkas pekerjaan yang harus mereka kerjakan hari ini. Dari arah pantry, seorang wanita datang membawa dua cangkir kopi dan makanan ringan untuk Noah dan Kevin. “Selamat pagi, Pak Kevin,” sapa wanita dengan lanyard bertuliskan Elara Malachy, Wakil Sekretaris. “Selamat pagi, Elara. Silakan masuk.” Kevin membantu Elara membukakan pintu ruang kerja Noah. Setelah Elara masuk dan meletakkan kopi, dia pun bergegas keluar. “Oh, iya,” cegah Kevin sebelum Elara benar-benar keluar dari ruang kerja Noah. “Saya dan Pak Noah akan rapat mendadak pagi ini. Tolong handle semua tamu yang datang mencari kami ya.” “Baik, Pak,” jawab Elara patuh. “Dan satu lagi. Kami akan membahas hal yang penting dan bersifat pribadi, sampai ada perintah saya atau Pak Noah, tolong untuk tidak mengizinkan siapa pun untuk masuk ya.” “Baik, Pak,” jawab Elara sekali lagi. Tidak terlalu lama saat Elara kembali ke ruangannya, Noah pun masuk ke ruang kerjanya dan menemukan Kevin yang sudah menunggu, berdiri di depan meja, seperti biasa. “Selamat pagi, Pak,” sapa Kevin dengan hormat. “Hmm … langsung saja,” balas Noah dengan suasana hati yang buruk. Kevin mencoba mencari tahu dengan membaca wajah Noah. Dan dalam sekejap, menemukan alasan di balik ekspresi tak enak dari wajah Noah. ‘Sudah bisa dipastikan, perusak suasana ini adalah Nona Muda Silas.’ Dalam hati Kevin menebak. Kevin mengembalikan diri ke dalam situasinya dan melaporkan hasil kerjanya kemarin hingga dini hari. “Saya merasa sudah menemukan seorang calon yang cocok untuk Anda.” Mendengar berita yang disampaikan oleh sekretaris pribadinya itu membuat Noah seperti mendapatkan berita tender sangat besar. “Benarkah? Cepat sekali?” Antara percaya tidak percaya, Noah bereaksi dengan berita dari Kevin. “Anda meragukan kemampuan saya?” Kevin berpura-pura tersinggung. “Oh, tentu saja tidak. Kevin adalah sekretaris terbaik di negara ini!” puji Noah dengan mengarahkan kedua tangannya ke arah pria yang dikenal sebagai Sekretaris Bertangan Dingin itu. “Mari, silakan duduk.” Kevin menahan tawanya, situasi saat ini berada di antara dua keadaan, serius dan tidak serius. Bagaimana mengatakannya ya?! Kevin sendiri mengalami kesulitan untuk menjelaskan. “Pak, dari sekian banyak kandidat, saya menemukan satu sosok yang sempurna untuk dicalonkan sebagai pasangan Anda.” Kevin pun menyerahkan dokumen berisi data-data Leona. Tanpa menunggu lagi, Noah membaca setiap kata yang tertulis di atas lembar-lembar putih. “Ada satu masalah yang saya rasa cukup untuk menjadi pertimbangan Anda, Pak?” Kevin menunjukkan waktu kelahiran Leona Iris.