Drama #thriller

Namanya Keisha

Penulis sanzfy
18 December 2025

“Aku sudah tidak tahan lagi.. Semua orang menyebutku gila. Tunggu saja akan aku tunjukkan kebenaran itu. Cepat atau lambat semua akan terungkap. Dan kalian akan berhenti menyebut aku GILA..”

Pesan itu muncul di layar ponsel Ruby dengan huruf kapital yang menyakitkan mata. Ia menatapnya selama beberapa detik sebelum menghela nafas yang panjang, seolah mencoba mengeluarkan semua kelelahan yang menumpuk di dadanya. Layar ponsel masih menyala, menampilkan foto profil Nindy yang hanya berupa gambar tangan yang sedang menggenggam pena—suatu hal yang cukup mencerminkan hobinya sebagai pembuat cerita bergambar.

“Ada apa, nak?” suara lembut Papa mendekat dari belakang. Ruby segera menyembunyikan layar ponselnya dengan cepat, seolah tak ingin ayahnya khawatir dengan masalah yang tengah ia hadapi. Ia menoleh perlahan, dengan senyuman yang berusaha tampak rileks meskipun hatinya sedang berdebar kencang.

“Tidak apa-apa, Pa.. Cuma pesan dari teman saja,” jawab Ruby dengan nada yang sengaja dibuat tenang. Namun ekspresi wajahnya yang sedikit mengerut tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya dari mata Papa yang sudah mengenalnya sejak kecil.

Papa mendekat dan duduk di kursi kayu di ruang tamu, menyelaraskan tubuhnya agar bisa melihat wajah Ruby dengan jelas. Cahaya lampu gantung yang bergelombang memberikan sentuhan hangat pada wajahnya yang sudah mulai ditutupi garis-garis usia.

“Jika ada masalah ceritakan saja, jangan disimpan dalam hati. Papa sudah cukup tua untuk mengerti apa yang kamu rasakan, bukan? Sejak kamu dan Faisal kecil, Papa selalu bilang kan—rumah ini adalah tempat untuk berbagi segala sesuatu, baik suka maupun duka,” ujar Papa dengan nada yang penuh kasih sayang. Matanya yang sudah mulai membutuhkan kacamata untuk melihat jelas, tetap mampu menembus kedalaman hati Ruby.

Ruby tersenyum. Papa selalu menjadi tempat berteduh bagi dirinya, kak Sofie dan adik laki-laki mereka, Faisal. Setelah Mama mereka meninggal dunia ketika Faisal masih berusia 8 tahun, Papa telah menjalankan peran sebagai ayah dan ibu sekaligus.

Untuk mengalihkan perhatian Papa dari kekhawatirannya tentang Nindy, Ruby segera membuka topik lain. “Kak Sofie katanya mau menjemput papa hari minggu depan, Pa. Dia bilang sudah lama tidak bertemu dan ingin papa tinggal beberapa hari di rumahnya,” ujar Ruby dengan senyuman yang kini lebih rileks.

Papa mengangguk perlahan, wajahnya menunjukkan senyuman yang hangat namun juga sedikit ragu. “Ya, dia sudah beberapa kali menghubungi Papa. Atta juga sering menelepon, bilang sudah sangat rindu kakeknya. Tapi papa tidak bisa pergi begitu saja, nak. Papa tidak mau meninggalkanmu sendirian di rumah,” jelas Papa dengan nada yang penuh perhatian.

Ruby tidak bisa menahan tawa kecil mendengarnya. Ia mendirikan tubuhnya dan duduk berdampingan dengan Papa, menyandar kepalanya pada bahu ayahnya yang kokoh. “Papa, Ruby sudah dewasa lho. Sudah 32 tahun! Itu bukan usia anak kecil lagi yang tidak bisa ditinggalkan sendirian di rumah. Bahkan Faisal saja sekarang sudah bekerja dan bisa merawat dirinya sendiri. Kalau papa pergi ke rumah Kak Sofie, Ruby akan baik-baik saja. Ruby bisa memasak sendiri, membersihkan rumah, dan bahkan bisa menggunakan waktu luang untuk menyelesaikan persiapan pernikahan,” ujar Ruby dengan penuh keyakinan.

Papa menoleh dan melihat wajah Ruby dengan mata yang penuh kebanggaan namun juga sedikit sedih. Ia mengusap-usap kepala Ruby dengan lembut, seperti yang sering ia lakukan ketika Ruby masih kecil. “Tidak mudah ya, nak, untuk papa melihatmu sebagai wanita dewasa yang sudah siap menjalani kehidupan sendiri. Rasanya baru kemarin saja papa melihatmu bermain dengan boneka di halaman rumah, Sekarang kamu sudah akan menikah dan akan memiliki rumah sendiri dengan Rayyan,” kata Papa dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi.

Ruby mengangkat kepalanya dan melihat wajah Papa dengan cinta yang mendalam. Ia mengedipkan mata. “Tidak akan lama lagi, Pa. Segera saja papa akan melihat Ruby berdiri mengenakan gaun pengantin dan menikah dengan pria yang dicintai. Pastinya papa akan merasa bangga kan?” tanya Ruby dengan nada yang penuh semangat.

Papa tersenyum lebar, mengangkat tangan untuk menyeka sedikit mata air yang hampir keluar dari sudut matanya. “Papa sangat bahagia bisa diberi kesempatan untuk melihat momen indah itu, nak. Mama juga pasti sangat senang melihatmu bahagia dari surga,” ujar Papa dengan suara yang penuh kebahagiaan.

Ruby kembali menyandar kepalanya pada bahu Papa, memeluk tubuh ayahnya dengan erat. Suasana ruang tamu menjadi sangat hangat dengan kehangatan kasih sayang yang mereka bagikan. “Terima kasih banyak, Pa. Sudah menjadi ayah sekaligus ibu untuk Kak Sofie, Ruby dan Faisal selama ini. Tanpa papa, kami tidak akan bisa sampai sejauh ini. Papa adalah orang terbaik yang pernah ada dalam hidup kami,” ucap Ruby dengan suara yang penuh rasa syukur.

Papa memeluk Ruby kembali dengan erat. “Itu tugas Papa sebagai ayah, nak. Papa hanya melakukan apa yang terbaik untuk anak-anak. Rasanya belum percaya juga kalau kamu akan meninggalkan papa nanti untuk mengikuti Rayyan. Rumah ini akan terasa sepi tanpa kehadiranmu,” ujar Papa dengan nada yang sedikit sedih namun juga penuh penerimaan.

Ruby mengangkat kepalanya dan memberikan senyuman yang menenangkan. “Kami kan tidak kemana-mana jauh, Pa. Rumah Rayyan tidak terlalu jauh dari sini. Kita bisa sering bertemu, kan? Aku akan datang mengunjungi papa setiap akhir pekan, membawa makanan kesukaan papa, dan Rayyan juga pasti akan sering mengajak papa keluar berjalan atau pergi memancing seperti yang kamu suka,” jelas Ruby dengan penuh semangat.

Papa mengangguk dengan senyuman. Ia berdiri perlahan dan mengulurkan tangan untuk membantu Ruby berdiri. “Baiklah, nak. Papa akan berpikir tentang undangan Kak Sofie. Sekarang papa mau istirahat dulu ya. Kamu juga jangan tidur terlalu larut. Kamu tahu kan, begadang tidak baik untuk kesehatan, terutama kalau kamu sedang dalam masa persiapan pernikahan. Jangan sampai kamu sakit sebelum hari H,” nasehati Papa dengan suara yang penuh perhatian.

Ruby mengangguk dan memberikan ciuman lembut pada pipi Papa. “Baik, Pa. Aku juga akan segera istirahat setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah tangga. Jangan khawatir ya,” jawab Ruby dengan senyuman.

Sebelum masuk kamar tidurnya, Papa berbalik lagi dan melihat Ruby dengan ekspresi yang sedikit serius. “Dan satu lagi, nak. Jangan menunggu Faisal pulang ya. Kamu tahu kan dia sering pulang larut karena pekerjaannya. Biarkan dia sendiri saja kalau pulang malam, kamu sudah cukup capek dengan segala urusanmu,” ujar Papa dengan nada yang tegas namun tetap penuh kasih.

Ruby tidak bisa menahan tawa mendengarnya. Ia memberikan salam hormat yang sedikit lucu. “Siap, komandan! Ruby akan segera istirahat dan tidak akan menunggu Faisal,” jawabnya dengan nada yang rileks.

Setelah Papa masuk kamar tidurnya, Ruby kembali ke ruang tamu dan mengambil ponselnya yang masih berada di atas meja. Ia menatap layar ponsel yang kini sudah mati, namun masih bisa membayangkan pesan yang telah dikirimkan Nindy padanya. Ia menghela nafas dan mulai membersihkan meja ruang tamu, mencoba mengalihkan pikirannya dari semua kekhawatiran yang tengah menghantui dirinya.

Namun tak lama kemudian, ponselnya tiba-tiba berdering dengan suara nada dering yang cukup keras, membuat Ruby sedikit terkejut. Ia mengambil ponselnya dan melihat nama yang muncul di layar—Nindy. Beberapa kali ia ragu untuk menjawab, membiarkan ponselnya berdering dan berdering lagi. Namun akhirnya, rasa ingin tahu dan juga rasa kasihan pada Nindy membuat Ruby memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.

“Hallo.. Ada apa lagi Nindy? Tolong ya, jangan membuatku stres dengan cerita-cerita kamu yang tidak jelas itu! Aku sudah cukup capek dengan persiapan pernikahan dan tidak ingin ditambah lagi dengan masalah yang tidak jelas seperti ini,” tukas Ruby dengan nada yang sedikit kesal saat mengangkat telpon.

Namun, suara yang terdengar dari ujung lain telepon bukanlah suara Nindy yang biasanya cukup tinggi dan penuh emosi. Sebaliknya, suara yang terdengar adalah suara wanita yang lebih tenang dan lembut. “Hallo.. Ruby? Apakah ini benar-benar nomor Ruby yang aku hubungi?” tanya suara wanita tersebut dengan nada yang sedikit ragu.

Ruby sedikit terkejut dan segera menenangkan diri. “Ya.. Ini benar-benar Ruby. Siapa ini ya?” tanya Ruby dengan nada yang lebih sopan sekarang.

“Aku Keisha, kakaknya Nindy. Maaf ya kalau mengganggumu di malam hari seperti ini,” jawab wanita tersebut dengan nada yang penuh maaf.

“Oh.. Kak Keisha? Ada apa ya kak? Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Nindy?” tanya Ruby dengan nada yang kini penuh kekhawatiran. Ia langsung berpikir bahwa mungkin ada sesuatu yang tidak baik yang terjadi pada Nindy.

“Aku menahan handphone Nindy karena aku pikir dia sudah mulai terlalu banyak mengganggumu dan mungkin sudah mulai meresahkan kamu. Aku melihat di handphonenya bahwa dia sudah mengirimkan banyak pesan padamu dan bahkan sudah beberapa kali menelponmu. Karena itu aku memutuskan untuk mengambil alih dan menelponmu sendiri untuk meminta maaf serta membicarakan hal ini denganmu,” jelas Keisha dengan nada yang sangat sopan dan penuh tanggung jawab.

Ruby sedikit terkejut mendengarnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa Nindy memiliki kakak yang peduli padanya seperti itu. “Apa sebenarnya yang terjadi ya kak? Mengapa Nindy selalu mengirimkan pesan-pesan yang membuatku bingung dan bahkan sedikit takut? Dia selalu bilang ingin menyelamatkan aku dari Rayyan dan menyebut Rayyan sebagai pembunuh berdarah dingin. Apakah ada sesuatu yang aku tidak ketahui tentang Rayyan?” tanya Ruby dengan nada yang penuh kebingungan dan kekhawatiran.

Keisha terdengar menghela nafas di ujung lain telepon. “Aku rasa lebih baik kalau kita bisa bertemu secara langsung untuk membicarakan ini. Ada banyak hal yang perlu aku jelaskan dan mungkin lebih baik jika kita bisa berbicara tatap muka,” katanya dengan nada yang serius.

Ruby secara tidak sadar mengerutkan kening. Again? pikirnya dalam hati. Baru beberapa hari yang lalu, Nindy juga telah meminta untuk bertemu dengannya.

“Ruby? Apakah kamu masih ada sana? Apakah kamu bersedia untuk bertemu denganku?” tanya Keisha lagi ketika tidak ada jawaban dari Ruby selama beberapa detik.

Ruby segera menarik napas dalam-dalam dan memberikan jawaban. “Dimana kita bisa bertemu, kak?” tanya Ruby dengan nada yang sudah siap menerima segala kemungkinan.

“Aku akan mengirimkan lokasinya melalui pesan WhatsApp ya. Aku akan menunggu kamu hingga jam 9 malam ini. Jika kamu tidak bisa datang, tidak apa-apa, tapi aku sangat berharap kamu bisa datang agar semua bisa dijelaskan dengan jelas,” pinta Keisha dengan nada yang penuh harapan.

Ruby melihat jam dinding yang berada di dinding ruang tamu—sudah pukul 7.45 malam. Ia hanya memiliki waktu sekitar satu jam untuk bersiap dan pergi ke lokasi yang akan diberikan Keisha. “Baiklah kak. Aku akan datang sesegera mungkin,” jawab Ruby dengan tegas.

“Sampai jumpa ya, Ruby. Aku akan menunggu kamu,” ujar Keisha sebelum akhirnya menutup panggilan.

Ruby menutup ponselnya dan menghela nafas panjang. Ia melihat sekeliling ruang tamu yang sudah mulai tenang dan sunyi. Papa sudah masuk kamar tidurnya dan Faisal masih belum pulang dari kantornya. Ia meraih tasnya yang berada di sudut ruangan dan segera mengambil beberapa barang penting seperti dompet, kunci rumah, dan juga handuk kecil hanya untuk berjaga-jaga. Ia segera keluar dari rumahnya, mengunci pintu dengan hati-hati dan berjalan cepat menuju jalan raya untuk mencari taksi yang akan membawanya ke lokasi yang dituju.