Drama

Sosiopat - Jerat Tanpa Bayangan - Bab 22

Penulis Ichan
18 December 2025

Jerat Tanpa Bayangan

Suasana kantor pusat perusahaan milik Dirga dan keluarganya, pagi itu tampak normal bagi semua karyawan tampak ramai, terang, dinamis. Namun, bagi Arkanza segala sesuatu terasa seperti panggung besar yang sedang menunggu tirai gelap diturunkan. Dia berdiri di balik dinding kaca lantai 20, menatap lobi di bawah yang mulai penuh. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

“Waktunya dimulai,” gumamnya pelan.

Satu hal tentang Arkanza yang tak pernah siapa pun sadari, kecerdasannya sama kejamnya dengan ketenangannya. Jika Alina adalah badai yang brutal, Arkanza adalah racun tak berbau dan hari ini, ia memutuskan untuk mengeluarkan racun itu untuk seseorang yang telah menghalangi dunia Alina. Dirga.

Alina memang belum muncul di kantor hari ini. Bahkan dia tidak tahu apa yang akan terjadi. Tidak ada rencana bersama. Tidak ada diskusi sebelumnya. Tidak ada persetujuan. Namun, bagi Arkanza, itu tidak penting. Yang penting adalah segala sesuatu yang membahayakan Alina harus dihapuskan dan Dirga termasuk salah satunya.

Ia mengetukkan jarinya ke ponsel.

Tiga lampu indikator kecil di monitor laptopnya menyala bersamaan.

“Rekaman sudah berjalan,” kata Arkanza, suaranya tanpa emosi.


Sebuah romantisme Dirga yang palsu.

Sementara itu, satu jam sebelumnya, Dirga tiba di kantor dengan membawa sebuket bunga mawar merah besar. Aura cerah dan keyakinan buta terpancar darinya seperti biasanya. Para karyawan yang lewat saling berbisik melihat bos mereka membawa bunga.

“Untuk siapa lagi kalau bukan Miss Alina?” celetuk salah seorang staf.

Dirga tidak peduli. Dia tersenyum dari ujung ke ujung, melangkah cepat menuju lift, menekan tombol lantai 23, lantai di mana ruang kerja Alina berada.

Ketika pintu lift terbuka, sejumlah karyawan menyambutnya dengan kaget dan tepat saat itu, Alina muncul dari lorong belakang, wajahnya tenang seperti biasa. Tatapannya kosong, tidak menunjukkan emosi apa pun saat melihat Dirga dan bunga mahal itu.

Dirga mengangkat buket tersebut dengan senyum besar.

“Untukmu, Alina.”

Alina menggerakkan ujung bibirnya, seolah senang, padahal itu hanyalah topeng yang sudah menjadi kebiasaannya. Dia menerima mawar itu dengan sopan.

“Terima kasih, Dirga,” ujar Alina. “Aku sangat menyukainya.”

Setelah beberapa menit berbasa-basi manis, Dirga pun pergi ke ruangannya. Alina hanya berdiri di tempat, memandang mawar itu tanpa makna. Di kepalanya, strateginya berputar begitu rumit, dingin, penuh hitungan. Namun, meskipun pikirannya penuh skema, ia belum bisa bergerak. Ada hal yang harus dia perhitungkan ulang.

Yang dia tidak tahu adalah seseorang sudah bergerak tanpa menunggu izin darinya. Arkanza.


Arkanza mulai mengatur perangkap.

Arkanza berdiri di tengah ruangan kecil yang ia jadikan markas mini. Monitor-monitor di depannya menampilkan tampilan kamera tersembunyi di berbagai sudut gedung. Salah satunya dari sudut ruang kerja Dirga, baru dipasang pagi tadi oleh Arkanza.

Ketika Dirga kembali ke ruangannya, pintu tertutup dan ia melemparkan tubuhnya ke kursi, Arkanza mulai mengetik di ponselnya.

"Kita perlu bicara. Sekarang. Soal Alina. Temu aku di ruang arsip lantai 15."

Ia tahu Dirga akan membacanya dan seperti yang diduga, kurang dari satu menit kemudian Dirga langsung bangkit, wajahnya berubah serius. Cemburu, curiga, gelisah, tiga hal itu mudah dipancing dari seorang pria yang sudah dikuasai Alina.

Dirga melangkah keluar ruangannya dengan langkah cepat.

Arkanza tersenyum kecil.

“Bagus. Kau terpancing.”

Pertemuan itu pun menjadi sebuah pertemuan yang meledak.

Dirga tiba di ruang arsip. Tempat itu sunyi, remang dan penuh lemari tua yang berderet panjang.

“Arkanza!” panggil Dirga, suaranya tegas namun bergetar emosi. “Katakan apa masalahnya.”

Arkanza muncul di antara bayangan lemari. Wajahnya sengaja dibuat terlihat panik, akting kecil yang sempurna.

“Dirga… kau harus berhenti melibatkan Alina. Dia… dia tidak seharusnya terikat padamu.”

“Kenapa?” Dirga mendekat. “Apa hubunganmu dengan Alina? Kenapa terus ikut campur urusan pribadi kami?”

Arkanza mendesah berat, seolah menahan sesuatu.

“Karena kau membahayakan dia dengan kecerobohanmu!”

Dirga mengepalkan tangan.

“Jangan bicara seolah kau tahu apa yang dia mau.”

Arkanza tertawa pendek, dingin.

“Kau pikir Alina mencintaimu? Kau pikir semua perhatianmu itu… tulus baginya? Kau benar-benar tak tahu apa-apa, ya?”

Dirga menarik kerah kemeja Arkanza.

“Katakan semuanya atau—”

“Atau apa?!” Arkanza menantang.

Itulah titiknya.

Dirga melepaskan pukulan yang begitu keras dan tepat ke pipi Arkanza. Tubuh Arkanza tersentak mundur menghantam lemari arsip. Namun, ia tidak melawan. Ia hanya bangkit perlahan lalu menatap Dirga sambil tersenyum samar.

Pukulan kedua menyusul.

Ketiga.

Keempat.

Arkanza membiarkan semuanya terjadi. Tulang rahangnya retak. Darah mengalir dari pelipis. Ia membiarkan Dirga berubah menjadi monster, karena monster yang terekam kamera adalah senjata.

Di sudut ruangan, kamera kecil yang dipasang Arkanza berkedip merah.

Beberapa menit kemudian Dirga berhenti, napasnya tersengal, tangannya gemetar.

“Apa pun urusanmu dengan Alina… putuskan. Sekarang atau aku—”

Arkanza tertawa dengan suara serak. “Kau sudah terlambat, Dirga.”


Akhirnya rekaman itu disebarkan.

Setelah Dirga pergi, Arkanza terhuyung keluar ruangan. Di balik rasa sakit, ada kepuasan dingin di balik matanya. Ia masuk ke kamar mandi staff, mencuci darah di wajahnya, lalu duduk sambil bersandar di pintu.

Dia membuka laptopnya.

Klik.

Rekaman itu sudah siap.

Kamera menampilkan adegan brutal Dirga memukuli dirinya tanpa belas kasihan. Arkanza mengecek sekali lagi, kualitas jelas, suara cukup terdengar, wajah Dirga tampak sangat jelas.

Tanpa keraguan, ia mengunggah video itu ke folder cloud terenkripsi yang terhubung otomatis ke beberapa email media nasional.

Satu ketukan jari.

SEND.

Tak sampai lima menit kemudian, notifikasi dari berbagai media berita online mulai muncul. Lalu notifikasi Twitter, Instagram, TikTok. Video itu viral dalam hitungan menit.

Judul-judul sensasional mulai bermunculan.

“SEORANG CEO BERNAMA DIRGA TERTANGKAP MEMUKUL KARYAWAN DI RUANG ARSIP!”

“BUKTI KEKERASAN DIRGA MENYEBAR!”

“INVESTOR PANIK, SAHAM DIRGA ANJLOK 60%!”

Arkanza menutup laptopnya, menatap cermin.

Wajahnya penuh memar, tapi matanya kosong. Tidak ada penyesalan.

“Aku melakukannya untukmu, Alina,” bisiknya pelan. “Agar tak ada lagi yang bisa menyakitimu.”


Dirga pun seketika terpuruk.

Sementara itu, Dirga baru saja selesai rapat penting ketika Tiara masuk dengan panik.

“Mas! Buka ponsel! Sekarang!”

Dirga mengernyit, mengeluarkan ponselnya, dan dunia di sekelilingnya runtuh dalam sekejap.

Wajahnya sendiri sangat jelas saat memukuli Arkanza. Video itu berdurasi hampir satu menit.

“Sial!” Dirga memukul meja dengan keras. “Siapa yang?”

Tepat saat itu, pintu ruang rapat terbuka keras. Dua polisi masuk bersama beberapa staf keamanan gedung.

“Saudara Dirga,” ujar salah satu petugas. “Anda kami tangkap atas tuduhan kekerasan fisik dan penganiayaan berat.”

Ruangan menjadi hening.

Tiara menutup mulutnya, syok.

Dirga mematung, wajahnya tak percaya.

Tidak ada kesempatan menjelaskan.

Tidak ada waktu melarikan diri.

Tangannya diborgol di depan para karyawan.

Beberapa berbisik.

Beberapa merekam.

Dirga dibawa pergi dengan penuh rasa malu, lebih buruk dari apa pun yang pernah dia bayangkan dan pada seluruh adegan itu Alina sama sekali belum muncul.


Setelah memastikan video menyebar, Arkanza kembali ke apartemennya. Tubuhnya sakit, lebam di mana-mana, tapi hatinya tenang. Dia berbaring di sofa, menutup mata, membiarkan napasnya turun naik pelan.

Dia tahu ketika Alina melihat berita itu, Alina akan marah. Dia tahu Alina membenci tindakan tanpa izin. Namun, Arkanza juga tahu satu hal, apa pun yang terjadi, ia akan tetap menjadi bayangan yang selalu mengikuti Alina, bahkan di jalan paling gelap yang akan ditempuh gadis itu.

“Aku akan menanggung semuanya,” bisiknya dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama air mata kecil jatuh dari sudut matanya.

Bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa takut, takut kehilangan Alina.