Drama

Sosiopat - Pemutusan Tanpa Nurani - Bab 23

Penulis Ichan
18 December 2025

Pemutusan Tanpa Nurani

Seluruh kota seakan menonton kejatuhan Dirga yang secara langsung. Video brutal dirinya memukuli Arkanza terus diputar ulang di berbagai platform media, mengundang komentar, kecaman, kebencian, bahkan pernyataan boikot terhadap perusahaan milik Dirga dan keluarganya. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, saham perusahaannya runtuh seperti bangunan rapuh yang kehilangan pondasi.

Sementara itu, di ruang tahanan kepolisian, Dirga duduk sendirian. Tangannya terlipat, wajahnya muram. Kemeja mahal yang ia kenakan sudah kusut dan berbau keringat. Rambutnya acak-acakan. Matanya merah, bukan hanya karena lelah, tapi juga dari segala tekanan yang menghantam tanpa henti.

Namun, satu hal yang paling dia pikirkan. Alina.

Dia memegangi kepalanya.

“Kenapa… kenapa semua ini bisa terjadi dalam sehari?” gumamnya lirih.

Tak ada jawaban. Hanya kesunyian sel, bercampur dengan teriakan samar tahanan-tahanan lain.

Saat itulah suara langkah sepatu terdengar mendekat dari lorong. Pelan, tapi mantap. Dirga mengangkat kepala.

Alina berdiri di balik jeruji.

Gaun warna hitam sederhana membalut tubuhnya. Rambutnya tergerai rapi. Riasannya tipis, wajahnya tanpa ekspresi. Dia bahkan tidak terlihat sedih, tidak terkejut. Hanya dingin. Datar dan… tajam.

Napas Dirga tercekat.

“Alina…”

Wanita itu tidak menjawab. Dia hanya menatap Dirga seperti menatap benda mati.

Polisi membuka pintu sel sementara Dirga dibawa ke ruang interogasi kecil untuk percakapan terawasi.

Ketika pintu tertutup, tidak ada sapaan. Tidak ada pelukan seperti pasangan pada umumnya. Tidak ada kata-kata penghiburan.

Hanya Alina, duduk di kursi seberang Dirga, menyilangkan kaki, tangannya terlipat, wajahnya setenang air danau saat angin tak berhembus.

“Kenapa kau datang?” tanya Dirga dengan suara serak. “Kau pasti mendengar semuanya. Video itu… semua itu… aku tidak, aku tidak bermaksud untuk. ”

“Berhenti,” potong Alina lembut namun tajam. “Aku tidak peduli pada pembelaanmu.”

Dirga membeku.

Alina menyandarkan tubuhnya ke kursi, memainkan kuku jarinya, lalu berkata:

“Aku datang untuk satu hal.”

Tatapannya menusuk langsung ke hati Dirga yang sedang runtuh.

“Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini.”

Dirga tersentak.

“A-apa?! Tidak. Tidak, Alina. Kau tidak boleh.”

“Ini bukan permintaan,” ucap Alina dingin. “Ini keputusan.”

Suara Dirga langsung pecah, campuran frustasi, ketakutan dan cinta yang membutakan.

“Tidak! Alina, aku, aku mencintaimu. Aku melakukan semuanya karena aku takut kehilanganmu. Aku… aku hanya…”

“Memukuli Arkanza?” Alina mencibir. “Teman masa kecilku? Satu-satunya lelaki yang pernah ada untukku sebelum kau muncul?”

Dirga menggeleng-geleng. “Aku emosi! Dia memprovokasiku! Dia, Alina, tolong dengarkan aku…”

“Aku sudah mendengarkan dengan cukup.”

Dirga menatapnya, memohon, hampir menangis.

“Jangan lakukan ini. Jangan tinggalkan aku. Aku… aku tidak bisa hidup tanpamu.”

Alina memiringkan kepalanya, seakan tengah mempelajari ekspresi Dirga seperti seseorang mempelajari reaksi hewan percobaan.

“Aku sudah katakan, Dirga. Cinta adalah hal paling bodoh yang pernah diciptakan manusia dan kau.”

Ia menunjuk dada Dirga dengan ujung jarinya.

“Adalah bukti sempurna bagaimana perasaan itu menghancurkan seseorang.”

Dirga menggeleng cepat, panik.

“Tidak! Tidak, aku tidak bodoh! Aku hanya… aku hanya jatuh cinta.”

“Ya,” jawab Alina tanpa ragu. “Dan itu membuatmu hancur.”

Alina mencondongkan tubuhnya sedikit. Suaranya merendah. Namun, tetap stabil seperti dokter yang menjelaskan diagnosis mematikan kepada pasiennya.

“Aku tidak pernah mencintaimu.”

Kata-kata itu menusuk hati Dirga seperti seratus pisau.

“Aku tidak pernah berniat menjadi kekasihmu. Aku tidak pernah ingin membangun masa depan denganmu dan aku tidak pernah, sekalipun, melihatmu sebagai seseorang yang penting bagiku.”

Dirga menatapnya dengan pandangan kosong.

Seolah seluruh dunianya runtuh tepat di hadapannya.

“Tapi… aku memberimu segalanya… sahamku… hartaku… masa depanku… aku…”

“Kau memberikannya karena kau bodoh,” potong Alina dingin.

Dirga terdiam.

Air matanya jatuh.

Alina tidak tersentuh. Tidak berkedip. Tidak menghela napas. Tidak menunjukkan simpati sedikit pun.

“Aku tidak mencintaimu karena aku tidak membutuhkan cinta,” lanjut Alina. “Aku membutuhkan tujuan. Balas dendam. Kekuasaan. Kebebasan dan kau… hanyalah alat.”

Dirga memejamkan mata keras-keras, rahangnya bergetar menahan tangis campur amarah.

“Alina… jangan lakukan ini. Kau tidak mengerti… aku benar-benar mencintaimu.”

“Aku tidak peduli,” Alina memotong lagi.

Kata itu jelas, tegas, tidak punya ruang untuk interpretasi lain.

“Tapi ini semua… ini semua salah paham! Video itu, video itu menjebak aku!” Dirga memohon. “Aku tidak ingin memukuli Arkanza! Dia memprovokasi aku! Dia yang ingin memisahkan kita.”

“Dia benar,” jawab Alina.

“A-apa?”

“Arkanza benar.”

Alina bersandar ke kursinya lagi.

“Dia berkata kau membahayakanku dan dia benar. Kau memang berbahaya. Kau impulsif. Kau mudah meledak. Kau tidak stabil. Kau tidak bisa dipercaya.”

Dirga menelan ludah.

Ketakutan merayapi seluruh tubuhnya.

“Alina… aku… aku bisa berubah. Aku mau berubah. Demi kau. Demi kita.”

Alina mengangkat alis tipisnya.

“Tidak ada ‘kita’.”

Dirga menunduk. Air matanya menggantung.

Napasnya mulai terputus-putus.

Seumur hidupnya, ia selalu berada di puncak. Selalu menjadi seseorang. Selalu berharga dan sekarang, ia dipatahkan oleh satu kalimat dari wanita yang begitu ia cintai.

Dengan tenang, Alina mengeluarkan sesuatu dari tasnya, selembar kertas.

“Kau tahu apa ini?” tanyanya datar.

Dirga mengangkat wajahnya dengan bingung.

“Surat pembatalan pertunangan,” ujar Alina. “Tandatangani.”

Dirga memandang Alina seperti melihat malaikat yang berubah menjadi iblis.

“Aku tidak mau,” bisiknya. “Aku tidak mau kehilanganmu.”

Alina menghela napas.

“Dirga. Kau ditahan. Perusahaanmu jatuh. Reputasimu hancur. Masa depanmu lenyap dan kau masih memikirkan aku?”

“Itu karena aku cinta padamu!” teriak Dirga, hampir histeris.

Alina menatapnya lama.

Lalu berkata dengan lembut, lembut yang menghancurkan.

“Cinta itu ilusi. Jangan genggam ilusi yang sudah memusnahkan hidupmu.”

Dirga menunduk, menggenggam rambutnya dengan kedua tangan.

“Aku… apa yang harus kulakukan? Kenapa semua ini terjadi?”

Alina merapatkan bibirnya.

Ada senyuman samar, sangat samar, yang tidak pernah disadari Dirga.

“Kau dihancurkan oleh perasaanmu sendiri.”

Dirga merosot ke kursi, tubuhnya gemetar.

“Aku… aku mencintaimu… aku hanya ingin bersamamu…”

“Itu masalahnya.”

Dirga mengangkat wajahnya yang basah air mata.

Alina menatapnya lurus-lurus.

“Jadilah laki-laki yang tidak diperbudak oleh perasaan. Perasaan adalah akar kehancuran. Kau tidak bisa berpikir jernih. Kau tidak bisa mengendalikan diri. Kau menampar Arkanza karena kau cemburu. Kau membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu karena cinta.”

Alina berdiri.

“Maka aku memutuskan hubungan ini, Dirga. Mulai sekarang, anggap aku tidak pernah ada.”

Dirga langsung berdiri dan memegang lengan Alina, memohon.

“ALINA! TIDAK! Jangan tinggalkan aku! Aku tidak punya siapa-siapa lagi!”

Alina menatap tangan Dirga yang menggenggam lengannya, lalu menatap mata pria itu.

Tatapannya kosong seperti ruang hampa.

“Kau tidak punya aku sejak awal.”

Dirga melepaskan pegangannya.

Tubuhnya limbung. Napasnya berat dan dalam sekejap, Alina memalingkan wajah dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Pintu tertutup.

Suara langkahnya menghilang di lorong.

Dirga ambruk ke kursi, menangis seperti pria yang baru kehilangan seluruh dunia.

Alina keluar dari tahanan itu dengan sebuah senyuman yang tipis.

Saat berjalan keluar kantor kepolisian, Alina tidak menangis. Tidak merasa bersalah. Tidak merasa kasihan. Pikirannya jernih, tajam, dan penuh kalkulasi seperti biasa.

Di luar, media memenuhi halaman depan kantor polisi.

Beberapa memotret kedatangannya.

Seorang reporter bertanya,

“Benar Anda tunangan Dirga Anshar?”

Alina tersenyum tipis.

“Tidak lagi.”

“Apakah Anda akan mendampinginya lewat kasus ini?”

“Tentu tidak,” jawab Alina santai. “Aku tidak ingin terikat dengan orang yang membiarkan amarah dan cintanya menghancurkan hidupnya sendiri.”

Ia melangkah pergi.

Di dalam matanya hanya ada satu kilatan:

Pamannya belum mati dan balas dendam Alina baru saja memasuki babak yang lebih gelap.