Drama

Sebuah Cerita

Penulis sanzfy
18 December 2025

Keisha menunggu Ruby di sebuah coffee shop, ia sebenarnya juga tidka tahu seperti apa wajah Ruby. Karena yang ia lihat di photo profil WA hanya lah gambar animasi wanita. Namun ia sudah mengirimkan photo keberadaanya agar Ruby bisa mengenalinya. Ia melihat jam di handphone. Pukul 21.00 wib

“Kak Keisha?” sapa Ruby.

Keisha menoleh.

“Ruby?”

“Salam kenal, kak..”

“Kamu cantik sekali..” puji Keisha.

“Kakak bisa saja..” Ruby duduk di hadapan Keisha. “Saya pesan minuman dulu ya?”

“Oh iya..”

Keisha memandangi Ruby yang sedang memesan minuman dan makanan tak berkedip.

“Ada apa, kak?”

“Tidak apa-apa.. Sekarang aku bisa menangkap kecemburuan Nindy padamu..”

“Maksud kakak?” tanya Ruby.

“Aku membaca beberapa percakapan Nindy denganmu. Disana aku mengetahui kalau kamu adalah calon istri dokter Rayyan. Dia sudah melamarmu?”

“Ya.. Insha allah jika tidak ada halangan kami akan menikah 2 bulan lagi..”

“Maafkan jika Nindy telah mengganggumu dengan perilakunya yang tidak pantas..” Keisha berkata dengan rasa bersalah yang jelas terlihat di wajahnya. “Aku tahu dia sudah banyak memberi kamu tekanan, bahkan sampai mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan tentang Rayyan.”

“Aku sebenarnya tidak masalah dengan itu kak.. Semua orang punya masa lalu yang berbeda-beda.. Jika pun di masa lalu mungkin Nindy punya hubungan dengan Rayyan, aku tidak akan pernah melihat atau menanyakan bentuk hubungan itu apa saja..” ungkap Ruby dengan suara yang tenang dan penuh pengertian. “Tapi yang aku tidak mengerti adalah.. Nindy begitu ngotot untuk bertemu denganku dan selalu bilang kalau ia ingin menyelamatkan aku dari Rayyan. Dia selalu menyebut Rayyan sebagai pembunuh berdarah dingin yang telah melakukan banyak kejahatan. Apakah ada hal yang aku tidak tahu tentang Rayyan? Mungkin dia menyembunyikan sesuatu dari ku.. Tapi benarkah ia pernah menghadapi sebuah kasus atas tudingan pembunuhan?” pertanyaan itu keluar dengan penuh kekhawatiran, dan Ruby bisa merasakan detak jantungnya mulai berdebar kencang.

Keisha segera menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Tidak, itu tidak pernah terjadi sama sekali! Dokter Rayyan adalah orang yang sangat baik hati dan profesional dalam pekerjaannya. Aku mengenalnya cukup lama dan bisa menjamin bahwa dia tidak pernah terlibat dalam hal-hal yang tidak benar seperti itu,” jawabnya dengan nada yang mantap, berusaha memberikan keyakinan pada Ruby.

Namun ekspresi kekhawatiran pada wajah Ruby tidak hilang begitu saja. “Apa ada yang terjadi sebenarnya, kak? Mengapa Nindy bisa berkata seperti itu tentang Rayyan? Sudah beberapa minggu ini aku merasa sangat cemas dan bahkan mulai meragukan segala sesuatu yang aku ketahui tentang calon suamiku."

Keisha menarik napas dalam-dalam sebelum mulai membuka rahasia yang telah lama ia simpan. “Aku melihat Nindy sangat menyukai dokter Rayyan sejak pertama kali bertemu.. Bahkan jauh sebelum ia bekerja sebagai asistennya di klinik,” ucapnya dengan nada yang pelan dan penuh perhatian.

Ruby mengerutkan keningnya lebih dalam. “Maksud kakak dia menyukai Rayyan sejak pertama kali bekerja di klinik itu?”

“Itu bukan pertemuan pertama mereka..” Keisha membantahnya dengan tegas, matanya mulai menunjukkan ekspresi sedih yang dalam. “Pertemuan pertama mereka jauh lebih lama dari itu, jauh sebelum kamu bahkan mulai mengenal Rayyan dengan lebih dekat.”

“Maksud kakak?” Ruby benar-benar terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa selain mengulang pertanyaan itu.

Keisha menatap langsung ke mata Ruby sebelum melanjutkan cerita. “Sudah lamakah kamu mengenal dokter Rayyan?” tanyanya sebagai pembuka cerita yang akan ia sampaikan.

“Aku mengenal dia sejak masih anak-anak kak.. Kami tinggal di lingkungan yang sama dan selalu bermain bersama setiap hari kecuali ketika dia melanjutkan kuliah di kota lain dan aku memutuskan untuk melanjutkan studi serta mencari peruntungan bekerja di luar negeri selama beberapa tahun,” jelas Ruby dengan nada yang penuh kenangan. “Kami sempat tidak kontak selama beberapa tahun, tapi kemudian bertemu kembali secara tidak sengaja di bandara ketika aku pulang dari luar negeri."

“Berapa usiamu sekarang?” tanya Keisha lagi, masih dengan nada yang pelan.

“32 tahun kak..” jawab Ruby dengan jelas.

“Kamu seusia dokter Rayyan?”

“Ya kak, kami lahir hanya berbeda beberapa bulan saja,” jawabnya.

Keisha mengangguk dan mulai menyesap sedikit air mineralnya sebelum melanjutkan. “Saat ini Nindy berusia 22 tahun.. Dia sudah bertemu dengan dokter Rayyan saat berusia 10 tahun di sebuah rumah makan keluarga yang terletak di pinggir kota saat itu,” ucapnya dengan suara yang mulai sedikit bergetar, seolah sedang menghidupkan kembali kenangan lama yang tidak mudah dilupakan.

“10 tahun?” Ruby benar-benar terkejut dan tidak bisa membayangkan bagaimana pertemuan antara seorang anak kecil berusia 10 tahun dengan seorang pemuda berusia 20 tahun bisa menjadi awal dari segala masalah yang terjadi sekarang.

“Ya.. Di usia 10 tahun dan saat itu dokter Rayyan berusia 20 tahun. Ia masih merupakan mahasiswa fakultas kedokteran hewan di salah satu universitas ternama di kota itu. Saat itu aku dan Nindy sedang makan malam bersama orang tuanya di rumah makan itu ketika terjadi sebuah kejadian yang mengubah pandangan Nindy tentang dunia,” cerita Keisha dengan mata yang mulai menatap jauh ke masa lalu. “Suatu ketika Nindy keluar sebentar ke belakang rumah makan untuk mengambil sesuatu yang ia tinggalkan di dalam mobil, dan saat itu ia melihat seekor kucing jalanan yang sedang terluka parah akibat menjadi korban tabrak lari oleh sebuah kendaraan yang langsung melarikan diri. Nindy yang selalu menyukai hewan langsung menangis dan berusaha menolong kucing itu, tapi ia tidak tahu harus bagaimana.

“Lalu apa yang terjadi kak?” tanya Ruby dengan penuh perhatian, sudah benar-benar terpikat dengan cerita yang disampaikan Keisha.

“Pada saat yang sama, Rayyan yang sedang makan bersama teman-temannya di rumah makan itu keluar untuk mengambil panggilan telepon. Ia melihat Nindy yang sedang menangis sambil memeluk kucing yang terluka dan langsung berlari mendekatinya. Ia adalah mahasiswa kedokteran hewan, jadi ia tahu bagaimana cara menangani kasus seperti itu. Ia segera mengambil beberapa peralatan dasar yang ada di dalam tasnya dan mencoba memberikan pertolongan pertama pada kucing itu. Namun sayangnya, kucing itu sudah terluka terlalu parah dan akhirnya mati dalam pelukan Nindy,” jelas Keisha dengan suara yang semakin pelan, seolah merasakan kembali kesedihan yang dialami Nindy saat itu. “Namun meskipun kucing itu tidak bisa diselamatkan, Nindy merasakan kekagumannya yang luar biasa pada Rayyan. Ia selalu berkata.. ‘Suatu hari nanti takdir Tuhan akan mempertemukannya kembali dengan dokter Rayyan yang baik hati itu’. Dan ketika beberapa tahun kemudian ia melihat lowongan pekerjaan sebagai asisten di klinik hewan yang dikelola Rayyan, dia langsung melamar dan berhasil diterima. Saat itu dia bertemu kembali dengan Dokter Rayyan setelah bertahun-tahun tidak bertemu,” tambahnya dengan ekspresi yang penuh kesedihan.

“Aku ingat dia tak berhenti menceritakan kekagumannya pada dokter Rayyan setiap hari setelah mulai bekerja di sana.. Setiap hari tanpa pernah merasa bosan, Ruby,” lanjut Keisha dengan mata yang sudah mulai mengandung air mata. “Dia selalu bercerita tentang betapa baiknya dokter Rayyan dalam menangani hewan-hewan yang sakit, betapa sabarnya dia dalam menjelaskan kondisi pasien kepada pemiliknya, dan betapa tampannya dia ketika sedang fokus bekerja. Aku bahkan merasa bahagia melihatnya begitu bersemangat dengan pekerjaannya dan dengan orang yang dia kagumi.”

Ruby mengangguk dengan penuh pengertian. “Apa Rayyan tahu kalau Nindy adalah gadis kecil yang ia bantu waktu itu?” tanyanya dengan rasa penasaran yang besar.

Keisha menggelengkan kepalanya dengan perlahan. “Nindy tak pernah mengatakannya kepadanya atau kepada siapapun selain aku. Dia bilang.. ‘Biarkan Dokter menyadarinya lewat naluri saja. Kalau memang kita benar-benar diperuntukkan oleh Tuhan, dia pasti akan mengenalkanku tanpa perlu aku mengatakan apa-apa’,” jelasnya dengan mengutip kata-kata Nindy yang pernah ia dengar berkali-kali.

“Oh..” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Ruby, rasanya campur aduk antara rasa kasihan dan kebingungan.

“Tapi setelah bekerja selama 4 bulan di sana, tiba-tiba Nindy datang pulang dengan wajah pucat dan ketakutan yang luar biasa. Dia bahkan menangis terus menerus dan berkata tidak mau kembali bekerja di klinik itu lagi,” cerita Keisha dengan suara yang semakin sedih. “Aku bertanya berkali-kali apa yang terjadi, tapi dia hanya bisa menangis dan tidak bisa berkata apa-apa. Sejak saat itu, dia mulai sering pulang dengan wajah ketakutan dan tidak pernah mau berbicara banyak tentang pekerjaannya atau tentang dokter Rayyan.”