Drama

Pada pukul 23.00 wib

Penulis sanzfy
18 December 2025

Ruby menatap Keisha.

“Kenapa bisa begitu kak? Apa yang membuatnya begitu ketakutan?” tanya Ruby dengan suara yang penuh kekhawatiran, rasanya semakin prihatin dengan kondisi Nindy.

“Setelah beberapa hari kemudian, dia mulai mau berbicara sedikit demi sedikit. Dia bilang dia melihat sosok dokter Rayyan yang sama sekali berbeda dari yang dia kenal selama ini..” ucap Keisha dengan nada yang sedikit menggigil, seolah ia sendiri sedang melihat hal yang sama dengan Nindy.

“Maksudnya kak? Sosok yang berbeda bagaimana?” Ruby merasa detak jantungnya semakin cepat, takut dengan apa yang akan ia dengar selanjutnya.

“Dia bilang dia melihat Dokter Rayyan yang dingin tanpa rasa empati, Dokter yang kejam dan tangannya berlumuran darah. Dia bahkan mengatakan pernah melihat Rayyan sedang melakukan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan jelas, tapi dia yakin bahwa Rayyan sedang melakukan hal yang salah dan tidak manusiawi,” jelas Keisha dengan suara yang penuh kekhawatiran. “Dia mulai sering berkata kalau dokter adalah penjahat yang sudah banyak menghilangkan nyawa. Nyawa anak-anak.. Bukan lagi malaikat penyelamat yang ia lihat semasa anak-anak.”

“Apa? Itu tidak mungkin!” Ruby tidak bisa menahan diri untuk tidak bersuara lebih keras, menarik perhatian beberapa pelanggan lain di coffee shop yang langsung menatap mereka. Ia segera menutup mulutnya dengan tangan dan mengucapkan maaf dengan suara pelan sebelum kembali fokus pada percakapan dengan Keisha. “Rayyan tidak mungkin melakukan hal seperti itu kak.. Dia adalah orang yang paling baik hati yang aku kenal dalam hidupku. Dia bahkan tidak bisa melihat hewan kecil yang terluka tanpa merasa sedih dan berusaha menolongnya,” tambahnya dengan suara yang mulai bergetar karena emosi. "Rasanya tidak mungkin dia tega melakukan hal jahat. Apa lagi pada anak-anak."

“Aku tahu itu sulit untuk dipercaya, Ruby.. Tapi itu yang selalu dikatakan Nindy setiap hari setelah dia berhenti bekerja di klinik itu,” jawab Keisha dengan rasa bersalah yang dalam. “Aku sendiri tidak bisa mempercayainya karena aku tahu betapa baiknya dokter Rayyan, tapi melihat kondisi Nindy yang semakin parah membuatku merasa sangat khawatir.”

“Kenapa dia bisa bicara seperti itu tentang Rayyan? Apakah ada sesuatu yang terjadi pada dirinya kak?” tanya Ruby dengan penuh keprihatinan, sudah mulai merasakan rasa kasihan yang mendalam terhadap Nindy.

“Sejujurnya.. Aku merasa kalau dunia Nindy sudah mulai berubah sejak ia mulai aktif menulis cerita dalam bentuk gambar di bukunya yang ia buat sendiri..” Keisha mulai menjelaskan dengan nada yang pelan dan penuh perhatian. “Dia selalu menyukai menggambar dan menulis cerita sejak kecil, tapi sekitar satu tahun sebelum ia mulai bekerja di klinik Rayyan, dia mulai terobsesi dengan cerita-cerita tentang pembunuhan dan kejahatan yang ia buat sendiri. Aku merasa dia mulai berhalusinasi dan tidak bisa lagi membedakan mana yang adalah kenyataan dan mana yang adalah bagian dari cerita khayalannya sendiri. Terlalu tenggelam dalam dunia cerita bergambar yang ia tulis dan gambarinya sendiri,” tambahnya dengan suara yang semakin sedih.

“Oh.. Kakak tidak membawanya ke..”

“Dia tidak mau.. Dia selalu berkata kalau dia tidak gila. Dia menolak setiap kali aku ajak menemui dokter. Akhirnya aku mencoba mengobatinya dengan cara tradisional. Saat ini sebenarnya Nindy dalam perawatan, kadang dia terlihat tenang. Tapi sepertinya sejak bertemu kembali dengan dokter Rayyan dan kamu, ia mulai kembali berpikir tentang kejahatan. Tentang pembunuhan yang dilakukan dokter. Aku benar-benar merasa tak enak dengan dokter Rayyan. Dia sangat baik tapi Nindy sepertinya selalu meracau dan menyebut dia jahat”.

“Oh begitu..”

“Maafkan Nindy sudah mengganggu hubunganmu dengan dokter. Mungkin dia merasa cemburu padamu. Tidak rela dokter dimiliki olehmu sehingga memaksa kamu untuk mendengarkan cerita khayalannya”.

Ruby tersenyum.

“Tidak apa-apa kak..”

“Tolong sampaikan maafku pada dokter Rayyan ya?”

“Baik kak..”

“Terima kasih..”


Sementara itu, Di klinik Hewan milik Rayyan..

“Sudah lama tidak bertemu denganmu..” kata Raissa. “Terakhir bertemu ketika aku melihatmu bersama Ruby..”

“Itu 2 minggu lalu..” ujar Rayyan.

“Bagiku itu sudah sangat lama..” kata Raissa.

Rayyan hanya bisa geleng kepala.

“Sebenarnya aku ingin mengajakmu minum kopi diluar.. tapi aku melihat kamu sangat sibuk”.

“Ya, hari ini ada beberapa operasi..”

“Kalau begitu sekarang sudah luang kan?” tanya Raissa.

“YA, tapi aku sedang tak ingin kemana-mana.. ingin istirahat saja."

Seseorang mendorong pintu.

“Maaf sudah tutup..” kata Rayyan

“Lalu kenapa dia masih bisa berada disini?” tanya Ruby yang melangkah masuk.

“Ruby?" sapa Rayyan hati-hati.

“Aku datang bukan sebagai owner, aku datang sebagai sahabat!” tukas Raissa.

Ruby melihat jam dinding.

“Aku rasa ini sudah bukan jamnya bertamu.. ini sudah jam 11 malam..”

“Kamu sendiri ngapain kesini jika sudah malam?”

“Aku mengantarkan makan malam untuknya.. Karena aku yakin dia pasti melewatkan makan malamnya lagi..”

“Perhatian sekali.. Aku harap ini bukan perhatian palsu."

“Aku calon istrinya, Raissa!” tukas Ruby. “2 bulan lagi kami akan menikah! Dan kamu ingat! aku tidak suka kamu terus mengganggu waktu calon suamiku!”

“Lihat, aku benarkan? Ketika kamu memilih dia.. sepertinya pertemanan kita akan tamat!” Raissa meninggalkan tempat itu dengan kesal.

“Raissa..” panggil Rayyan.

“Tidak bisakah kamu menghormati aku sebagai calon istrimu? Sudah jelas aku tidak suka dengannya tapi kamu masih saja meladeni dia”.

“Raissa itu juga temanku sejak dulu, Ruby. Dia juga pelanggan tetap disini. Tidak mungkin aku menolaknya ketika ingin datang."

“Haruskah datang pada jam malam seperti ini?” tanya Ruby.

“Dia sudah datang dari tadi.. tapi karena aku sedang ada operasi dia menungguku. Tidak mungkin aku mengusirnya pulang."

“Oh begitu? Ok.. Baiklah."

“Kamu kenapa? Datang dan menjadi marah hanya karena melihat Raissa disini? Cemburu? Aku tahu kamu tidak suka dengan dia.. tapi Aku rasa tidak ada yang perlu dicemburui."

“Ada yang ingin aku tanyakan padamu dan cukup! Aku tak ingin lagi membahas soal Raissa!”

“Siapa yang membahas Raissa? Bukannya kamu yang lebih dulu mempermasalahkan kedatangannya? Aku capek, Ruby.. Jangan memancing pertengkaran."

“Siapa yang mau bertengkar? Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal!”

“Apa lagi?” tanya Rayyan.

“Kamu sepertinya tidak suka saat aku bertemu Nindy.. Kenapa?” tanya Ruby.

“Aku hanya tidak mau kamu terpengaruh dengan ceritanya dan berakibat pada rencana pernikahan kita."

“Bukankah semua orang menyebut dia gila?”

“Ruby..”

“Kenapa dia begitu ketakutan setelah 4 bulan bekerja denganmu hingga memutuskan untuk keluar?”

“Ada apa Ruby? Apa yang sudah kamu dengar dari Nindy?” tanya Rayyan.

“Kenapa dia bilang kamu adalah sosok yang berbeda? Kamu terlihat dingin dan berlumuran darah?” tanya Ruby. “Tadinya aku pikir mungkin dia memang mengalami masalah dengan psikologi.. Namun setelah aku pikir kembali.. Bagaimana bisa dia tiba tiba begitu ketakutan? Apa yang dia lihat sebenarnya? Kenapa dia menyebut kamu pembunuh? Kenapa Rayyan?!"

Rayyan diam tak menjawab, hanya menatap wajah Ruby dengan kaku.

“Ada yang kamu sembunyikan dariku, Ray?”

“Ya..” jawab Rayyan pendek.

“Apa yang kamu sembunyikan? Kenapa kamu takut aku bicara dengan Nindy? Apa yang kamu lakukan dan ia lihat?” tanya Ruby.

“Kamu yakin ingin tahu?”

“Ya..”

“Tidak takut kah kamu mendengarnya?” tanya Rayyan.

“Aku tidak ingin ada hal yang aku tidak tahu sebelum kita menikah..” tegas Ruby.

“Ok, ini yang kamu inginkan.. Ikut aku,” Rayyan menarik Ruby agar mengikutinya.

“kemana?”

“Ikut saja..”

Rayyan menarik Ruby ke sebuah ruangan.

“Aku melakukan semuanya disini..”

“Maksud kamu?”

“Lihat ini..” Rayyan menunjukkan semua peralatan bedah.“Nindy benar.. Aku melakukan sebuah kekejian di ruangan ini.. membedah perut.. mengamputasi kaki.. Di ruangan ini tanganku selalu berlumuran darah..”

“Rayyan.. Kamu?” wajah Ruby mendadak pucat.