Drama

Pengakuan

Penulis sanzfy
18 December 2025

Rayyan menjentik dahi Ruby dengan lembut, namun cukup membuatnya merasa sedikit sakit.

“Ah.. Sakit!” protes Ruby sambil menggosok bagian dahinya yang sedikit merah, wajahnya menunjukkan ekspresi sedikit kesal namun tetap penuh keceriaan.

Rayyan hanya tersenyum sambil menatap wajah wanita yang akan menjadi istrinya itu. “Dimana pikiranmu? Kamu tahu apa profesiku?” tanya Rayyan dengan nada yang sedikit menyindir namun penuh perhatian. Ia sudah melihat bagaimana Ruby terus mengerutkan kening dan memikirkan sesuatu sejak tadi malam datang ke klinik membawa makan malam untuknya.

Ruby mengangkat bahu dengan sedikit bingung, bahkan mengeluarkan kata-kata yang membuat Rayyan sedikit mengerutkan kening. “Dokter he..wan?” ucapnya dengan nada yang ragu-ragu, seolah sedang mencoba menguji apakah jawabannya benar atau salah.

Rayyan menghela napas perlahan sebelum mulai menjelaskan dengan nada yang lebih serius. “Ketika aku melakukan sebuah operasi.. Menurut kamu apakah tanganku tidak akan berlumuran darah?” tanya Rayyan, kemudian segera melanjutkan sebelum Ruby bisa menjawab. “Apa menurutmu hewan tidak punya darah?”

Ruby terdiam sejenak, matanya bergerak ke sana kemari seolah sedang menyusun pikiran yang sudah menjadi kekacauan sejak mendengar cerita dari Keisha malam sebelumnya. Akhirnya ia menghela nafas lega, seolah beban yang selama ini menekannya mulai sedikit terangkat.

Rayyan melihat ekspresi wajah Ruby yang mulai rileks, kemudian menggenggam jari jemari kecilnya dengan lembut. Ujung jarinya yang hangat menyentuh kulit Ruby yang terasa dingin. “Telapak tanganmu dingin..” ucap Rayyan dengan nada penuh perhatian, matanya penuh dengan rasa sayang terhadap wanita yang dicintainya.

“Aku ketakutan..” bisik Ruby dengan suara yang lembut, kepalanya mulai sedikit menyandarkan diri pada bahu Rayyan. Ia merasa aman setiap kali berada dalam pelukan pria ini, namun cerita tentang Nindy dan tuduhannya terhadap Rayyan membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

Rayyan tertawa dengan suara yang lembut dan penuh kehangatan, kemudian perlahan memeluk tubuh Ruby yang sedang menggigil sedikit. “Ayo.. aku bikinkan kopi untukmu,” kata Rayyan sambil merangkul bahu Ruby agar mengikutinya keluar dari ruang istirahat menuju area dapur kecil yang ada di dalam klinik.

Mereka duduk bersebelahan di sofa yang cukup lebar, dengan meja kayu kecil di depannya yang sudah dilengkapi dengan beberapa buku tentang kedokteran hewan dan sebuah wadah bunga kering yang cantik. Udara di sekitar mereka terasa hangat berkat kipas angin berkecepatan rendah yang menyebarkan udara hangat dari kompor yang baru saja digunakan Rayyan untuk memasak air.

“Maafkan aku sudah menakuti kamu..” ucap Rayyan, matanya menatap wajah Ruby dengan pandangan yang penuh perhatian. Ia tahu bahwa cerita dari Nindy telah membuat Ruby merasa khawatir dan bingung tentang karakter dirinya.

Ruby melihat ke arah Rayyan, kemudian dengan lembut memukul lengan kirinya yang sedang ditekuk di atas sofa. “Kamu membuatku ketakutan setengah mati..” ucapnya dengan nada yang sedikit marah namun tetap penuh cinta. Rayyan hanya tertawa melihat kelakuan wanita itu yang selalu bisa membuat hatinya merasa hangat.

“Aku harus bagaimana? Kamu sepertinya kebingungan setelah mendengar cerita dari Nindy,” ucap Rayyan dengan nada yang lebih rendah, ia benar-benar khawatir bahwa cerita dari mantan karyawannya itu akan merusak hubungan mereka yang sudah direncanakan untuk melangkah ke jenjang berikutnya.

Ruby menggelengkan kepalanya perlahan sebelum menjawab. “Kakaknya Nindy yang bercerita padaku..” katanya sambil menatap mata Rayyan yang penuh dengan rasa ingin tahu.

“Kak Keisha?”

“Ya.. Dia berkata kalau Nindy mengalami sedikit masalah kejiwaan. Namun di perjalanan aku tiba-tiba berpikir. Bagaimana jika apa yang dikatakan Nindy benar?” ucap Ruby dengan suara yang penuh keraguan, matanya menunjukkan betapa seriusnya ia memikirkan kemungkinan itu meskipun dalam hati ia tahu bahwa hal itu mustahil.

Rayyan menghela napas panjang sebelum menjawab dengan nada yang tenang namun tegas. “Kamu kira jika apa yang ia ceritakan itu benar.. aku bisa berjalan kemanapun aku suka? Tentunya kamu tidak akan bertemu aku dan kita tak akan pernah punya rencana untuk menikah.. Kamu akan melihatku di penjara selama bertahun tahun dengan tuduhan pembunuhan berencana,” jelas Rayyan dengan logika yang sangat masuk akal, membuat Ruby semakin menyadari bahwa tuduhan dari Nindy tidak mungkin benar.

“Benar juga..” pikir Ruby dengan suara yang pelan, wajahnya mulai menunjukkan ekspresi lega karena akhirnya bisa melihat kebenaran yang sebenarnya.

Rayyan kemudian sedikit mengerutkan kening dengan nada yang sedikit menyindir namun penuh dengan candaan. “Bagaimana aku harus mengatakannya ya? Calon istriku study sejauh itu ke negara eropa namun cara berpikirnya ternyata masih zaman batu?” gerutu Rayyan sambil mengangkat bahu dengan nada yang bercanda.

“Ray..” Ruby merengut dengan suara yang manis, bibir bawahnya sedikit keluar dan matanya menunjukkan ekspresi kesal yang tidak terlalu serius. Ia sangat menyukai ketika Rayyan melakukan kelakuan seperti ini karena membuatnya merasa lebih dekat dengan pria itu.

Rayyan melihat ekspresi wajah Ruby dengan mata yang penuh cinta. “Kenapa aku suka sekali melihat bibirmu saat merengut seperti itu?” Rayyan mengedipkan matanya dengan gaya yang sedikit cuek namun tetap penuh pesona.

“Apaan sih..” Ruby mendorong dada Rayyan dengan lembut, wajahnya mulai memerah karena merasa sedikit malu dengan perhatian yang diberikan oleh pria yang dicintainya.

Tanpa berlama-lama, Rayyan menarik Ruby ke dalam pelukannya dengan kuat namun tetap lembut. Kedua wajah mereka kini bertatapan begitu dekat, hanya dipisahkan oleh jarak beberapa sentimeter saja. Udara di sekitar mereka sepertinya menjadi lebih hangat dan penuh dengan ketegangan yang menyenangkan.

“Katanya mau membuatkan aku kopi..” ucap Ruby dengan suara yang lembut dan sedikit menggigil, jantungnya mulai berdetak lebih kencang saat merasa napas hangat Rayyan menyentuh wajahnya.

Jantungnya terasa berdetak lebih kencang saat berada sedekat itu dengan Rayyan, bahkan ia bisa merasakan denyut nadi Rayyan yang juga mulai meningkat. Rayyan kemudian mendekatkan wajahnya ke arah telinga Ruby dan berbisik dengan suara yang dalam dan penuh cinta. “Tapi aku masih ingin memelukmu seperti ini..”

Ruby merasa tubuhnya menjadi lebih lembut mendengar kata-kata itu, namun ia tetap mencoba untuk tetap tenang. “Aku harus pulang.. Sudah malam,” bisik Ruby dengan suara yang hampir tidak terdengar, matanya tidak berani menatap mata Rayyan yang penuh dengan hasrat.

Rayyan mengangguk perlahan sebelum menjawab. “Nanti aku yang mengantarmu pulang,” ucapnya dengan suara yang penuh tekad, ia tidak akan pernah mengizinkan Ruby pulang sendirian di malam hari terutama setelah mengetahui bahwa Nindy masih sering mengganggunya.

“Aku bawa mobil sen..” ucapan Ruby terhenti mendadak ketika Rayyan dengan cepat mencium bibirnya dengan lembut namun penuh kehangatan. Ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik saja namun sudah cukup membuat Ruby merasa terbakar dan tubuhnya menjadi lemas.

“Permisi...” terdengar sebuah panggilan dari arah pintu masuk klinik yang membuat kedua orang itu segera terkejut dan berpisah. Suara itu datang dari seorang pria yang berdiri di pintu dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran.

Rayyan segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruang istirahat menuju pintu masuk. Ia menunjukkan wajah yang profesional dan siap membantu seperti biasanya. “Ya,” jawab Rayyan dengan suara yang jelas dan tegas, kemudian segera melanjutkan. “Maaf, kami sudah tutup.”

Pria itu yang usianya sekitar 40 tahun menggelengkan kepalanya perlahan sebelum menjawab dengan nada yang penuh kesusahan. “Saya melihat pintu belum dikunci.. Jadi saya pikir saya bisa minta bantuan kesini..” ucap Pria itu sambil melihat ke arah dalam klinik dengan ekspresi yang harap-harap cemas. Di sisinya berdiri seorang wanita yang sedang menangis dengan wajah yang penuh kekhawatiran.

“Ada apa?” tanya Rayyan dengan suara yang penuh perhatian, ia sudah bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak baik yang terjadi melihat kondisi kedua orang itu.

“Seseorang menabrak kucing saya.. lihat mulutnya berdarah,” ucap Pria itu sambil menunjukkan arah luar klinik dimana sebuah keranjang plastik berisi kucing berwarna oranye yang sedang terengah-engah dengan mulut yang berlumuran darah. Wanita di sisinya semakin menangis melihat kondisi kucing kesayangannya itu.

Rayyan memandang wanita yang menangis di samping pria itu dengan rasa kasihan yang mendalam. Ia kemudian segera memberikan tanggapan yang penuh dengan kesediaan untuk membantu. “Ayo masuk, Bang. Kakak,” kata Rayyan dengan suara yang hangat dan penuh semangat untuk membantu, meskipun kliniknya sudah resmi tutup untuk hari itu.

“Terimakasih, dokter..” ucap kedua orang itu dengan suara yang penuh rasa syukur, kemudian segera masuk ke dalam klinik membawa keranjang yang berisi kucing kesayangannya.

Ruby keluar dari ruang istirahat dan menghampiri Rayyan dengan wajah yang penuh dengan rasa ingin tahu. Ia melihat kondisi kucing yang sedang terluka dan langsung merasa kasihan. “Kenapa?” tanya Ruby dengan suara yang lembut kepada Rayyan.

“Kucing abang ini ketabrak.. Sepertinya aku belum bisa mengantarmu pulang..” jawab Rayyan dengan suara yang penuh rasa minta maaf, ia merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi janjinya untuk mengantar Ruby pulang.

Ruby menggelengkan kepalanya dengan cepat sebelum menjawab dengan suara yang penuh pengertian. “Oh, tidak apa-apa.. Aku bisa pulang sendiri. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu,” ujar Ruby dengan suara yang hangat, kemudian menambahkan dengan nada yang penuh perhatian. “Oya, jangan melewatkan makan malammu lagi..” Ruby juga mengingatkan karena tahu bahwa Rayyan seringkali melupakan makan ketika sedang sibuk membantu pasien-pasiennya.

“Ya..” jawab Rayyan dengan suara yang singkat namun penuh rasa terima kasih terhadap perhatian yang diberikan oleh Ruby. Ia merasa sangat beruntung memiliki wanita yang begitu peduli dengannya.

“Aku akan menelpon mu sesampai di rumah,” ucap Ruby sambil berjalan meninggalkan ruangan itu menuju arah pintu keluar, namun sebelum bisa melangkah jauh, Rayyan menahannya dengan cepat menggenggam tangannya.

"Tunggu saja, Nanti selesai pasien ini aku antar," ucap Rayyan dengan suara yang penuh tekad, kemudian segera masuk ke ruang periksa diikuti oleh kedua orang yang membawa kucing terluka itu. Ia ingin memastikan bahwa Ruby benar-benar aman pulang dan tidak akan terkena masalah apa pun.

Ruby tersenyum melihat sikap pria yang akan menjadi suaminya itu yang selalu begitu peduli. Ia kemudian duduk di salah satu bangku kayu yang berada di ruang tunggu klinik, memandangi plang nama klinik hewan milik Rayyan.

“Aku tidak pernah suka dengan hewan jenis apapun.Tapi aku akan menikahi seorang yang dunianya dipenuhi hewan.. ironis juga,” gumam Ruby.

Handphone Ruby yang berada di dalam tasnya berdering dengan nada yang cukup keras, membuatnya sedikit terkejut. Ia segera mengambilnya dan melihat bahwa ada panggilan masuk dari Ayahnya.

“ya, pa..” jawab Ruby saat mengangkat telpon dengan suara yang lembut dan penuh rasa hormat. Ia tahu bahwa ayahnya pasti sudah khawatir karena ia belum pulang meskipun sudah larut malam.

“Kamu dimana? Sudah malam kenapa belum pulang?”

“Ini tadi mau pulang, pa. Tadi mampir ke kliniknya Rayyan mengantarkan makan malam.. Aku pikir dia pasti belum makan, karena seharian ini terlalu sibuk dengan jadwal operasi. Tapi mendadak ada pasien. Jadi menunggu Ray dulu, Pa. Nanti Rayyan yang mengantar pulang,” jelas Ruby

“Ya sudah, hati hati ya nak..”

“Ya, papa..”

Ruby tersenyum meletakkan handphonenya kembali ke dalam tasnya, merasa lega karena ayahnya sudah tidak khawatir lagi. Namun, tidak lama kemudian ada suara notifikasi yang menunjukkan bahwa ada pesan masuk ke dalam handphonenya. Ia kembali meraihnya untuk membaca pesan itu, dan wajahnya langsung berubah menjadi serius setelah melihat nama pengirimnya.

“Nindy? Mau apa lagi dia? Bukannya kak Keisha bilang menahan handphonenya?” gumam Ruby dengan suara yang penuh dengan kebingungan dan sedikit ketakutan. Ia sudah merasa tenang setelah mendengar penjelasan dari Keisha, namun masuknya pesan dari Nindy kembali membuatnya merasa tidak nyaman.

Dengan hati yang sedikit berdebar, Ia membuka pesan dari Nindy yang hanya berisi satu kalimat pendek namun cukup membuatnya merasa geli dan tidak nyaman. Teks pesannya tertulis dengan jelas di layar handphone: “Perhatikan taman belakang.. Kamu akan merasa hawa yang aneh jika duduk disana saat malam hari..”

“Apa maksudnya?”