Drama

Antara Raissa dan Nindy

Penulis sanzfy
18 December 2025

“Apa maksudnya?” gumam Ruby dengan suara yang pelan, matanya melihat ke arah luar klinik menuju arah taman belakang yang memang ada di belakang bangunan klinik itu. Ia merasa bulu kuduknya merinding mendengar pesan yang tidak jelas itu, namun pada saat yang sama rasa ingin tahu juga mulai muncul dalam dirinya.


“Sudah kuduga.. Kamu pasti penasaran, karena itu kamu mencari ku kan?” Nindy tersenyum mengejek.

Rubby menarik kursi dan duduk di hadapan Nindy

“Bukankah handphone kamu ditahan kak Keisha? Bagaimana kamu bisa mendapatkan kembali?” tanya Ruby.

“Itu tidak penting.. Yang jelas aku tahu kamu penasaran dengan apa yang aku ungkapkan tentang Rayan..”

“Aku sudah tahu semuanya.. Kamu sudah lama menginginkan dia kan? Lelaki itu adalah cinta pertama kamu”.

“Aku menyesal mencintainya..”

“Nindy.. Kenapa kamu tak mendengarkan kakakmu?”

“Tidak perlu membahas kesehatanku! Aku tidak sakit dan aku tidak gila!” tukas Nindy. “lakukan saja apa yang aku katakan. Duduklah di taman belakang itu pada malam hari dan kamu akan merasakan hawa yang aneh..”

“Aku tidak akan melakukannya”.

“Lalu untuk apa kamu menemui ku?” tanya Nindy.

“Aku hanya ingin mengingatkanmu.. Kasihan kak Keisha,” jawab Ruby.

“Ruby..” sebuah panggilan membuat Ruby menoleh.

“Kamu..” ucap Ruby datar saat melihat Raissa yang datang menghampiri.

“Hai.. Nindy, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu?” sapa Raissa.

“Kak Raissa..” Nindy tersenyum ramah.

Ruby memandang Nindy dengan tatapan heran.

“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Nindy.

“Kenapa kamu terlihat sopan saat menyapa Raissa sementara denganku kamu bersikap seakan kita hanya berbeda 1-2 tahun? Tidak kah kamu sadar kalau usiaku dan Rayyan juga Raissa sama?”

“Memangnya kenapa?” tanya Nindy.

Raissa tertawa.

“Artinya dia tidak suka padamu, karena itu dia tidak menaruh rasa hormat padamu,” ejek Raissa.

“Apa?” kata Ruby.

“Duduk,kak..” kata Nindy.

“Aku tidak tahu kalian ternyata saling kenal..”

“Aku baru mengenalnya..” jawab Ruby.

“Tapi sangat penasaran denganku..” ucap Nindy.

“Ada apa?” tanya Raissa.

“Tanyakan saja padanya kenapa? Dia yang selalu mengusik hidupku, mengirimkan banyak pesan berisi hal yang tak masuk dalam pikiranku..”

“Aku katakan padanya untuk tidak di dekat dokter Rayyan tapi dia tidak mau mengikuti saranku kak.. Aku bisa apa jika dia kelak menjadi korban? Bukan salahku lagi.. Aku sudah mengingatkan. Baiklah, aku pergi dulu.. Kak Raissa, nanti kita ngobrol di telpon ya?” Nindy segera meninggalkan tempat itu.

“Dasar tidak waras!” gerutu Ruby.

Raissa tersenyum.

“Kenapa?” tanya Ruby.

“Dia cerita apa padamu?” tanya Raissa sambil melambaikan tangan memanggil pelayan cafe.

“Ya, kak? Mau pesan apa?”

“Coffee latte..”

“baik kak.. ditunggu”.

Raissa memandang Ruby.

“Dia juga menceritakan hal yang sama padaku setelah dia keluar dari klinik..” ungkap Raissa.

“Benarkah?”

“Cerita yang sama yang juga ia ceritakan pada Jessika..”

“Apa maksudnya?”

“Namanya juga orang yang punya masalah dengan kejiwaan.. YA dengarkan saja, kenapa juga kamu malah jadi uring-uringan? Kamu kan sudah lama mengenal Rayyan. Masa kamu tidak tahu bagaimana dia?”

“Aku bukan tidak percaya pada Rayyan.. tapi perempuan itu terus mengusik hidupku”.

“Anggap saja dia bicara begitu karena ingin kamu meninggalkan Rayyan.” kata Raissa.

“Apa?”

“Aku sih hanya mengikuti saja.. Jika kamu ketakutan karena cerita Nindy dan memilih mundur.. Aku yang akan maju mendekati Rayyan dan menjadi istrinya. Bagiku memukul mundur perempuan gila itu sih gampang. Karena aku tidak terpengaruh sedikitpun dengan cerita dia,” kata Raissa.

“Aku tidak bilang aku percaya pada cerita Nindy..”

“Tapi kamu pastinya penasaran kan?”

“Bukan seperti itu..”

“lalu..”

“Sudahlah.. Ngapain sih kamu mau tahu urusanku?”

“Kamu tahu?”

“Apa lagi?”

“Sebenarnya aku tahu kalau Nindy tidak bohong”.

“Apa maksud kamu?”

“Aku pernah mencoba mengikuti apa yang Nindy ceritakan..”

“Lalu?”

“Tapi buatku bukan masalah.. Selama aku mencintai Rayyan, aku akan melindunginya dari jeratan hukum”.

“Maksud kamu.. Rayyan memang melakukan hal yang mengerikan?”

“Ya.. Aku melihat sendiri dia membelah perutnya dan mengeluarkan bayinya lalu menguburkannya di taman belakang. Aku melihat beberapa kali ia menguburkan di halaman itu.. Entah sudah berapa yang terkubur disana.. mungkin 7..8.. 9?”

“Jangan bercanda, Raissa!”

“Aku tidak bercanda..”

Handphone Ruby berdering.

“Angkat saja, dia mungkin mencari mu..” kata Raissa.

Ruby mengangkat telponnya.

“Ya..”

“Dimana?” tanya Rayyan.

“Sedang di luar bertemu teman..”

“Siapa?”

“Perempuan..”

“Oh..”

“Kenapa?”

“Mau mengajakmu mengambil cincin..”

“Oh iya..”

“Aku jemput nanti jam 7 malam ya?”

“Aku saja yang ke tempat kamu sepulang dari sini sekalian membawakan makan malam kamu,” kata Ruby. “Aku tahu kamu pastinya akan disibukkan beberapa pasienmu di hari minggu ini”.

“Terimakasih,sayang...” kata Rayyan.”Tapi tidak usah repot.. Aku akan ke rumah kamu jam 7 nanti malam..”

“Baiklah.. Sampai nanti.” Ruby menutup pembicaraan.

“Sepertinya kamu takut sekali kalau Rayyan akan diambil orang.. Selalu menyempatkan diri untuk melihatnya”.

“Bukan urusanmu!” Ruby berdiri.

“Dari pada membuang waktu menunggu, kamu boleh mencari tahu cerita nindy.. Coba iseng menggali beberapa tanaman di taman belakang itu,” Raissa mengingatkan.

Ruby tak menjawab, melangkah meninggalkan tempat itu.Raissa tersenyum.

“Aku tahu kamu akan melakukannya Ruby, aku tahu betapa bodohnya kamu..” ejek Raissa.

Ruby berbalik dan kembali duduk di hadapan Raissa.

“Apakah apa yang kamu katakan tadi benar?” tanya Ruby.

Raissa tertawa.

“kenapa tertawa?”

“Bukannya kamu dengan begitu yakin berkata kalau kamu jauh lebih mengenal Rayyan? Kamu tahu semua hidupnya sejak masih anak-anak”.

“Ya..”

“Tapi kamu lupa,sayang... Kamu kemana 4 tahun kemarin ini?”

Ruby terdiam.

“4 tahun waktu yang cukup panjang untuk membuatmu kehilangan cerita tentang Rayyan. Ia bisa saja berubah dalam kurun waktu 4 tahun..” kata Raissa.

“Sudahlah, jangan merusak pikiranku..” tukas Ruby.

“Kalau kamu butuh teman curhat, aku bukan orang tepat untukmu,” Raissa mengingatkan.

Ruby melangkah meninggalkan tempat itu, berjalan menuju parkiran dimana Nindy menunggu di depan mobilnya.

“Ngapain kamu?”

“Aku ingin numpang pulang denganmu, dan menyambung cerita tentang kejahatan dan kekejian yang dibuat lelaki yang kamu cintai itu..”

“Kamu juga mencintainya kan? Kakakmu sendiri yang bilang padaku kalau kamu mengaguminya sejak kamu berusia 10 tahun!”

“Ya, aku akui itu.. Tapi setelah aku melihat apa yang ia lakukan dnegan tangannya yang berlumuran darah, aku berhenti untuk mencintainya dan aku ingin membuka mata semua orang tentang siapa dokter yang disebut orang banyak sangat baik hati”.

“Berhentilah mempengaruhi orang dengan pikiran gila mu itu!”

“Aku tidak gila!”

“Kamu harusnya mencari psikiater untuk pikiranmu itu!”

“Lihat ini! Kamu lihat ini!” kata Nindy sambil menunjukkan buku gambar. “Aku menggambarkan semua apa yang aku lihat disini! Semua yang ia lakukan aku gambarkan disini”.

Ruby menepis buku itu.

“Aku tak ingin melihat buku yang kamu gambar lewat imajinasi kamu itu!” tukas Ruby. “Berhentilah mengganggu hidupku!”

“Kamu akan menyesal! Dia kelak akan membunuhmu seperti yang lainnya! Seperti anak kecil itu!”

Ruby masuk ke mobilnya dan menutup pintunya.

“Ruby! Kau hanya ingin menyelamatkan hidupmu dari dia!”

Ruby membuka kaca mobilnya.

“Aku tidak perlu kamu selamatkan. Silakan berimajinasi dan menulis cerita bergambar dengan genre misteri. Aku akan membelinya setelah kamu menyelesaikannya!” tukas Ruby.

“Perempuan bodoh! Kamu sudah dibutakan oleh cinta!”