Pintu kaca besar kantor itu terbuka otomatis, angin malam langsung menyambut. Ezra melangkah cepat, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kelelahan, meski sorot matanya jelas menyimpan rasa letih. Pertengkaran dengan Seira masih menyimpan bara.
Setengah langkah di belakangnya, seorang pria lain menyusul, tubuhnya sedikit lebih tinggi dua sentimeter dari Ezra. Nael. Bayangan yang tak pernah jauh dari sisi sang penguasa.
Perawakannya tegak, auranya dingin, tenang, dan menakutkan dalam keheningannya. Lengan kemeja hitam pekat yang dikenakan selalu menutupi tato di tangan kanannya. Aequus in tempestate.
Mereka melangkah seirama menuruni tangga marmer. Sepatu kulit Ezra mengetuk lantai dengan ritme terburu, seolah ada yang dikejarnya. Nael menyesuaikan langkah tanpa suara, hanya membiarkan jeda pendek sebelum akhirnya bersuara pelan. “Ezra..” Nada suaranya datar, dalam. “Kau punya waktu dua jam untuk beristirahat. Setelah itu, kita harus berangkat ke Shanghai.”
Ezra tidak menoleh, hanya menghela napas pendek. “KIta ke Exz hotel!” Menyebut salah satu hotel miliknya. Langkah Nael tetap mantap, tatapannya lurus ke depan. Lalu dengan suara lebih rendah, nyaris seperti bisikan, dia berkata, “Tidakkah sebaiknya kau ke penthouse?”
Ezra menghentikan langkahnya sesaat. Matanya menyipit, kemudian beralih ke arah Nael. “Memangnya kenapa?” Nael menahan tatapannya, dingin tapi tidak gentar. “Seira menunggumu di sana.”
Hening sesaat. Ezra memejamkan mata, mengembuskan napas keras lewat hidung. Kemudian dia mengangguk tipis, seolah pasrah pada sesuatu yang berat. “Ok.”
Tanpa banyak bicara, Nael maju setengah langkah, membuka pintu mobil mewah yang terparkir di depan. Dia sendiri yang akan menjadi sopir malam itu. Begitu Ezra masuk, Nael menutup pintu, lalu melangkah ke kursi pengemudi dengan gerakan teratur.
Mobil meluncur meninggalkan gedung kantor, menembus jalanan kota yang dipenuhi lampu.
Di kursi belakang, Ezra menyalakan rokok, menghisap dalam-dalam, sebelum suaranya terdengar berat, dingin. “Sejak kapan Seira ada di sana?”
“Aku rasa sejak menemuimu tadi,” jawab Nael tanpa menoleh. Ezra melirik arlojinya. Angka di sana menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Matanya menyipit, lalu tawa pendek dan dingin lolos dari bibirnya.
“Mau apa sekarang? Tiba-tiba tidak ada jadwal dan memilih menungguku?” Tidak ada jawaban seketika. Hanya suara mesin mobil dan deru jalan. Nael tampak menimbang kata-katanya. Akhirnya, dengan nada rendah yang nyaris netral, dia berkata, “Aku rasa dia cukup tersiksa dengan pembatalan kontrak itu.”
Ezra tertawa lagi, kali ini lebih lama, tapi tak ada kehangatan dalam tawanya. Asap rokok mengepul, memenuhi ruang sempit di dalam mobil.
Sesaat, pandangan Ezra bertemu dengan mata Nael melalui cermin tengah. Tatapan itu tajam, penuh pertanyaan. Mata Nael menatapnya balik, dingin, tapi ada sesuatu di sana, seolah tidak sepenuhnya setuju dengan cara Ezra memperlakukan istrinya.
Ezra menyipitkan mata, tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia tahu Nael tidak akan terang-terangan menentangnya. Nael bukan sekadar asisten atau bodyguard. Dia adalah sahabat yang tahu segalanya, tentang bisnis konglomerasi Ezra, tentang jaringan rahasia yang ia bangun, bahkan tentang retaknya rumah tangga Ezra dengan Seira. Keheningan panjang menyelimuti mobil itu. Hanya terdengar suara ban melaju di aspal basah.
Akhirnya, Nael kembali bicara, suaranya pelan namun pasti. “Aku akan siapkan pesawat. Begitu waktunya tiba, aku jemput kembali. Semua akan siap.”
Ezra tidak menanggapi, hanya mengisap rokoknya lagi. Tapi dalam diam, ia tahu Nael bisa mengatur segalanya, jadwal, keamanan, bisnis, bahkan menutup setiap jejak yang ingin disembunyikan.
Bagi Ezra, Nael adalah bayangan. Diam, setia, tapi juga selalu mengawasi. Perjalanan itu terasa lebih panjang dari biasanya. Kota di luar jendela melaju cepat, lampu-lampu neon dan papan iklan berganti dengan bayangan gelap gedung tinggi.
Di kursi belakang, Ezra menutup mata sebentar. Bayangan wajah Seira muncul, sorot matanya yang marah, tangisnya yang getir saat pertengkaran terakhir mereka tadi. Ingatan itu menusuk, tapi bukannya melunak, justru membuat garis rahangnya semakin mengeras.
“Dia menungguku…” gumamnya pada dirinya sendiri, nyaris tak terdengar. Namun Nael, dengan telinganya yang tajam, menangkap kata-kata itu. Ia tetap tidak merespons.
Ketika mobil akhirnya berhenti di depan lobi penthouse eksklusif milik Ezra, Nael segera turun, membukakan pintu belakang dengan sikap tenang. “Jangan terlalu jauh dari ponselmu, aku akan menghubungimu begitu semua siap,” katanya datar, mengesalkan, tapi hanya Nael yang berani berkata dengan nada seperti itu pada Ezra.
Ezra tak menanggapi, melangkah keluar, tubuhnya menjulang dalam balutan jas mahal. Dia menatap pintu kaca tinggi yang berkilau diterpa cahaya lampu lobi. Ezra menarik napas dalam, lalu melangkah masuk. Nael menutup pintu mobil dengan tenang, menyalakan mesin lagi. Sorot matanya mengikuti punggung Ezra yang menghilang di balik pintu kaca. Lalu mobil itu melaju pergi, meninggalkan penthouse yang akan kembali mempertemukan dua jiwa yang sama-sama keras kepala, sama-sama penuh luka, dan sama-sama masih terikat untuk saling menyakiti.
Di dalam lift pribadi, Ezra berdiri dengan kedua tangan di saku celananya. Pikirannya berputar, berisi kemarahan dan rasa penasaran. Layar digital di atas pintu menunjukkan angka yang terus naik, hingga akhirnya berhenti di lantai tertinggi. Ketika pintu lift terbuka, aroma lembut ruangan yang khas langsung menyambutnya. Cahaya hangat menyinari ruang tamu yang luas. Dan di sana, di sofa putih di dekat jendela besar, sosok wanita yang mengenakan gaun satin tipis, dengan rambut sedikit berantakan, duduk menunduk.
Ezra berhenti di ambang pintu, menatapnya dalam-dalam. Bibirnya melengkung tipis, sebuah senyum dingin yang penuh ironi. “Jadi…” suaranya berat, memecah keheningan. “…kau benar-benar menungguku.”
Penthouse itu sunyi. Hanya dengungan lembut pendingin ruangan dan gemerlap lampu kota di balik kaca jendela besar yang jadi saksi dua jiwa yang pernah dimabuk cinta itu saling menatap.
Ezra berdiri di ambang ruang tamu, jas mahalnya masih melekat sempurna di tubuh. Rahangnya tegang, tatapannya gelap, tapi ada kilatan tipis di sudut matanya. Seira bangkit dari sofa.
Dress satin berwarna gading yang melekat di tubuhnya menegaskan setiap lekuk yang membuatnya terkenal di mata dunia. Bahunya telanjang, gaun itu hanya bertumpu pada tali tipis yang seakan rapuh menahan semua kesempurnaan. Rambutnya jatuh berantakan di bahu, namun justru menambah pesonanya. Seira berjalan mendekat, langkahnya pelan, tidak tergesa. Tidak ada emosi meledak seperti tadi di kantor, tidak ada tangis. Kali ini dia tenang, bahkan terlalu tenang. Jelas ada maksud yang membahayakan.
Ketika akhirnya jarak mereka hanya sejengkal, jemari Seira terulur, menyentuh kerah jas Ezra. Satu gerakan pelan, lalu jas itu terlepas dari tubuh pria itu, jatuh membentuk lipatan rapi di tangannya. Seira mendekat, menarik napas dalam, dan berkata lirih dengan nada yang menusuk.
“Inikah yang kau inginkan, Ezra? Pulang… dan aku menyambutmu?” Seira meletakkan jas itu di sandaran kursi, lalu menoleh kembali, matanya menatap Ezra lekat-lekat. Bibirnya melengkung, bukan dengan tawa, tapi sebuah senyum yang sulit diartikan, antara getir dan tantangan.
“Aku akan lakukan,” bisiknya lagi.
“Sesuai permintaanmu, sesuai janjiku.”
Ezra tidak langsung bereaksi. Sorot matanya menyapu wajah istrinya, menilai setiap detil, setiap bahasa tubuh yang tersirat. Dia tahu, Seira tidak akan semudah itu menurut. Ada permainan di balik kelembutan ini. Suara beratnya terdengar, pelan tapi penuh tekanan. “Kau ingin aku mendapatkan kembali kontrakmu?” Duganya. Ezra tahu, Seira memang tak semudah itu dihentikan.
Seira diam, hanya menatapnya. Tangannya mulai menyusuri deretan kancing kemeja Ezra. Jemarinya telaten, satu demi satu kancing itu lepas, menyingkap dada bidang yang masih terasa hangat oleh sisa rokok. “Bisakan kau melakukannya… jika aku menuruti keinginanmu malam ini?” suaranya rendah, nyaris seperti desahan. “Aku janji… tidak akan ada suara handphone lagi.”
Tangannya naik menyusuri sepanjang dada Ezra, berakhir melingkarkan kedua lengannya di leher. Aroma parfumnya, manis dan segar menyusup di antara mereka yang hanya berjarak napas. Matanya mantap, sorotnya tegas. Seira tahu cara mengendalikan sorot kamera, tapi kini ia mencoba mengendalikan sorot mata suaminya sendiri.
Namun, Ezra tak semudah itu memberikan. Tatapannya menyipit, sebuah sorot berbahaya muncul di sana. Bibirnya melengkung tipis, senyum dingin yang lebih mirip ancaman ketimbang rasa sayang. “Kita lihat nanti,” ucapnya dingin. “Seberapa kau berusaha menyenangkanku… demi kontrak itu.”
Ada jeda yang terasa menegangkan. Sejenak, kilatan kecewa muncul di mata Seira. Wajah cantiknya nyaris retak oleh kenyataan pahit, bahwa dia, seorang supermodel yang dielu-elukan dunia, harus merendahkan diri, bahkan menyerahkan tubuhnya, demi sesuatu yang semestinya dia bisa dapatkan dengan kerja keras.
Namun ia cepat menutupinya. Bibirnya kembali melengkung, senyuman tipis.
“Fine,” katanya.