Drama

Tantangan Dari Nindy

Penulis sanzfy
18 December 2025

Ruby melangkah masuk ke dalam klinik.

“Malam, Kak..” sapa Jessika.

“Dokter ada?”

“Sedang ada pasien kak.. Tunggu saja kak di dalam”.

“Tidak usah.. Aku hanya mau menitipkan ini,” kata Ruby sambil memberikan kotak pada Jessika. “Aku pulang..”

“Untuk dokter?”

“Ya..”

“Baik kak..”

Ruby segera berjalan keluar.

Beberapa saat kemudian.Rayyan keluar bersama seorang wanita yang membawa kucingnya dalam gendongan.

“Kak Ruby baru saja dari sini, Dok..” kata Jessika.”Tapi sudah pulang.. Tidak mau menunggu”.

“Oya?”

“Hanya meninggalkan ini..” Jessika menyerahkan kotak yang ditinggalkan Ruby.

Rayyan menerima kotak itu dan membukanya. Sepasang cincin pernikahan dan sehelai kertas yang dilipat. Rayyan membaca tulisan yang ada di kertas itu.

“Aku lelah menantimu.. Sepertinya hanya aku saja yang bersemangat akan hari pernikahan kita. Cincinnya aku kembalikan..” tulis Ruby.

Rayyan terdiam. Teringat pertengkaran mereka 2 hari sebelumnya.

“Maaf.. Aku tak bisa pergi, ada beberapa pasien gawat yang datang...” ucap Rayyan penuh penyesalan.

“Lagi?” tanya Ruby.

“Aku sebenarnya sudah akan pergi..”

“Sudahlah..!”

“Besok aku akan datang menjemput kamu lebih cepat..”

“Tidak usah berjanji! Dan tidak usah menjemputku. Aku bisa pergi sendiri untuk mengambilnya!” saat itu Ruby langsung pergi dengan membawa amarahnya.

Rayyan memandang Jessika.

“Kapan dia mengantarnya?”

“Barusan.. Mungkin masih di depan..” kata Jessika.

Rayyan memandang wanita yang berdiri di depan meja Jessika.

“Dengan Jessika ya, mbak..”

“Baik, dokter..”

Rayyan segera keluar . Mobil Ruby masih terparkir disana.

“Ruby..” panggil Rayyan

Ruby menyalakan mesin mobilnya.

“Buka pintunya..” kata Rayyan.

Ruby membuka kaca mobilnya.

“Tidak bisakah dibicarakan dengan baik?” tanya Rayyan.

“Kamu bukan satu-satunya dokter hewan di kota ini, tidak bisakah kamu meluangkan waktu kamu sebentar saja untuk menyenangkan aku?” tanya Ruby.

“Ruby, dengarkan dulu..”

“Aku memang tidak mengerti dengan pekerjaanmu. Kamu tahu sejak dulu aku tak suka hewan jenis apapun. Tapi takdir membuat aku bertemu dengan seorang lelaki yang hidupnya berkecimpung di dunia hewan. Aku bisa menerima semua itu. Kenapa? Karena aku mencintaimu. Aku bahkan dihantui oleh perempuan yang aku yakin berasal dari masa lalu kamu yang menyebut kalau kamu bukanlah orang yang baik. Aku tidak ambil pusing dengan semua ceritanya itu. Tapi aku sudah tidak tahan! Sebentar lagi kita menikah dan sejauh ini hanya aku yang sibuk sendiri mempersiapkan semuanya? Aku ini menikah sendiri atau bersama pasanganku, Ray?”

“Maafkan aku..”

“Ah, sudahlah.. Aku mau pulang!”

“Ruby.”

“Besok pagi aku akan berangkat ke Singapore untuk urusan pekerjaan. Aku sudah menyelesaikan beberapa yang perlu diselesaikan. Mungkin mereka akan menghubungi kamu karena aku tak bisa dihubungi selama 1 minggu ini”.

“Aku akan ke rumahmu setelah ini..”

“Tidak usah! Sudah malam, aku ingin istirahat, besok pagi aku harus sudah ke Bandara”.

“Aku akan mengantar kamu..”

“Tidak perlu!” Ruby menutup kaca mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu.

“Ruby..!” panggil Rayyan.

Seseorang yang berdiri di belakang Rayyan bertepuk tangan. Rayyanmenoleh.

“NIndy..” sapa Rayyan.

“Aku melihat kalau dia mulai ragu padamu, dokter..” ucap Nindy.

“Ada apa kesini?”

“Aku sudah bercerita banyak dengannya tentangmu..”

“Dia tak akan percaya padamu..”

“Aku akan membuka semuanya, dokter.. Tak lama lagi kamu akan tamat”.

Rayyan tak menjawab meninggalkan Nindy masuk ke ruangan.

Nindy tersenyum dan berjalan mengikuti Rayyan masuk.

“Maaf kami sudah tutup..” kata Jessika. “Eh, Nindy?”

“Apa kabar Jessi? Sudah lama tidak bertemu..” sapa Nindy.

“Baik..” kata Jessika sambil memberikan kantong obat pada wanita di hadapannya.

“Minggu depan control lagi ya, kak..”

“Ok.. O iya, aku dengar dokter mau nikah ya?”

“Ya, kak..”

“Semoga lancar sampai acaranya ya..”

“Aamiin...”

Wanita itu meninggalkan tempat itu.

Jessika memandang Nindy.

“Ada apa kesini?”

“Hanya berkunjung.. Dokter mana?”

“Di ruangannya, istirahat.. Dari tadi rame,” jawab Jessika sambil berdiri. “Aku mau pulang.. “

“Ok..”

“Kamu masih disini?”

“Ada yang ingin aku bicarakan dengan dokter..”

“Jangan membuat masalah, Nindy..”

“Apa maksudmu?”

“Kamu bercerita hal yang tak masuk akal pada kak Ruby, kasihan dia..” kata Jessika.

“Aku justru ingin menyelamatkan hidupnya”.

“Nindy, cukup! Berhentilah membuat masalah!”

“Aku tidak melakukan hal yang salah. Kamu dan yang lainnya lah yang terlalu bodoh untuk tidak percaya."

“Percaya pada khayalanmu? Itu semua hanya ada dalam cerita bergambar yang kamu tulis!” tukas Jessika.

“Aku melihat dengan mataku sendiri!”

“Tidak ada bukti apa-apa! Kamu mengatakan dokter sudah menghilangkan nyawa seorang anak dan menguburnya di taman belakang. Tapi mana buktinya? Sudah digali dan tidak menemukan apa-apa selain tulang hewan yang mati di klinik ini!”

“Ada apa ini?” Rayyan keluar dari ruangannya. “Aku ingin istirahat!"

“Saya baru mau pamit pulang dok, tapi Nindy..”

“Baiklah.. Hati-hati,” kata Rayyan.

“Permisi,dok..” Jessika segera keluar dari ruangan itu.

Rayyan mengalihkan pandangannya pada Nindy.

“Dan kamu? Tidak ingin pulang kah?” tanya Rayyan

“Aku ingin bicara denganmu," jawab Nindy.

“AKu tak punya waktu. Hari ini terlalu melelahkan! Aku ingin istirahat!”

Nindy tertawa.

"Kenapa tertawa?"

"Aku melihat kamu begitu baik dan peduli pada nasib hewan hewan itu.. tapi kamu yang sebenarnya adalah pria yang sangat mengerikan."

"Keluarlah!"

“Jika aku tidak keluar dan kamu merasa sedang sangat marah.. Apakah kamu juga akan melakukan hal yang sama padaku?”

“Apa maksud kamu?”

“Menyingkirkan orang yang kamu rasa mengganggu ketenanganmu..” ucap Nindy.

“Kamu memang benar benar sudah gila”.

“Aku tidak GILA,dokter.. Aku sama sekali tidak GILA, kamu tahu pasti hal itu!”

“Aku pikir kamu akan sembuh dari sakit jiwamu itu, tapi ternyata..”

“sebentar lagi aku akan melihat sisi aslimu, dokter..”

“Kamu sedang mencoba membuatku emosi kan?”

“Ya, karena aku tahu bagaimana kamu ketika sedang sangat marah dan tidak menyukai orang yang menentangmu,” Nindy tersenyum.

“Keluarlah..”

“Aku menunggu kamu mengeluarkan pisau itu, dokter..” Nindy menyeringai.

“Aku akan mengirimmu malam ini juga ke rumah sakit jiwa..” Rayyan balas tersenyum dengan wajah dingin.

“Kamu tak akan pernah bisa menyingkirkan aku, Dokter.. Sudah waktunya aku yang mengantarmu ke depan pintu gerbang rumah sakit jiwa”.

Rayyan tertawa.

“Aku sudah cukup sabar selama ini, Nindy. Tadinya aku pikir kamu akan berhenti menghidupkan cerita yang kamu tulis itu. Buka matamu, nona! Ini dunia nyata! Bukan dunia dimana kamu bisa menjadikan siapapun sebagai tokoh dalam cerita yang kamu tulis”.

“Aku menantangmu, Dokter!”

Rayyan tersenyum tipis dan menusukkan jarum pada Nindy.

“Selamat tidur dan menetaplah di tempat yang seharusnya kamu berada, nona..” ucap Rayyan.

“Kamu..” dan Nindy pun terkulai pingsan.