Keisha mengetuk pintu rumah Ruby. Cukup lama ia menunggu hingga pintu dibuka oleh Sofie.
“Siapa ya?” tanya Sofie.
“Saya Keisha, kenalannya Ruby.. Apa Ruby ada?”
“Baru saja berangkat ke singapore untuk urusan pekerjaan pagi tadi. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Sofie. “Saya kakaknya."
“Oh, pantas nomor telponnya tidak bisa dihubungi..” ucap Keisha.
“Ada apa? Sebentar, kalian baru kenal dan sudah tahu rumah ruby dimana?"
"Saya.. Sebelumnya minta maaf. Saya kebetulan tahu dimana Ruby bekerja dan tadi saya ke kantornya. Salah seorang temannya memberikan alamat Ruby."
"Lancang sekali dia."
“Ada yang ingin saya tanyakan..”
“Soal apa? Mungkin nanti saya bisa sampaikan pada Ruby..” kata Sofie.
“Tapi dia tetap menggunakan WA kan?”
“Ya..”
“Tidak apa.. Kalau begitu biar nanti saya WA saja dia..”
“Baiklah..”
“Permisi..” pamit Keisha.
“Ya..” Sofie tersenyum.
Keisha mengurungkan niatnya untuk pulang ketika melihat mobil Rayyan masuk ke pekarangan rumah itu.
“Dokter..” sapa Keisha saat melihat Rayyan turun dan berjalan menghampiri.
“Kak Keisha..” sapa Rayyan.
“Rayyan..” sapa sofie.
“Kak..”
Rayyan kembali memandang Keisha.
“Ada apa kesini kak?” tanya Rayyan.
“Aku kehilangan Nindy..” jawab Keisha. “Aku tidak melihatnya lagi sejak tadi malam. Beberapa hari ini dia terus mengurung diri di kamar dan berteriak marah. Tidak tahu apa yang terjadi, namun yang aku tahu dia terakhir kali bertemu Ruby di sebuah cafe. Dan sejak itu ia terlihat seperti tak terkendali."
“Adikmu menghilang dan kamu berpikir Ruby penyebabnya?” tanya Sofie tak suka. “memangnya ada apa dan siapa adikmu itu? Apa masalahnya dengan Ruby sehingga kamu mencari Ruby ketika adikmu menghilang? Kamu pikir Ruby sudah menghilangkan adikmu?”
“Bukan begitu..”
“Nindy aman kak.. Aku sudah mengantarnya ke tempat yang seharusnya,” jelas Rayyan.
“Maksud kamu?”
“Apakah kakak tidak ingin dia segera sembuh?”
“Kamu..”
“Nanti kita bicara kak.. Aku akan menghubungi kakak. Tidka enak bicara disini karena keluarga Ruby tidak tahu masalah Nindy”.
“Baiklah.. Aku tunggu cerita darimu. Permisi,” Keisha segera meninggalkan tempat itu.
“Ada apa, sofie? Siapa yang datang?” tanya Papa yang keluar dari dalam rumah.
“Tidak apa-apa, Pa..” kata Sofie.
“Rayyan..? Ruby tidak ada, dia sudah berangkat."
“Ya, Pa.. Saya sudah tahu,” jawab Rayyan
“Masuklah.. Kak Sofie buatkan teh,” kata Sofie.
“Tidak usah repot kak..” Rayyan mengikuti Sofie dan papa masuk.
“Duduklah..” kata Papa.
Rayyan duduk di hadapan papa.
“Saya.. Ingin minta maaf soal Ruby,” kata Rayyan. “Saya tahu dia sedang sangat marah pada saya..”
“Ruby hanya sedang panik karena hari pernikahan sudah dekat,” kata Papa. “Ia stress karena banyak pekerjaan yang belum selesai ia lakukan”.
“Maafkan saya tak bisa banyak membantu dia..” sesal Rayyan.”Terkesan membiarkan dia menyiapkan segala keperluan pernikahan sendiri”.
“Dia tidak sendiri kok,” kata Sofie sambil menghidangkan secangkir Teh di hadapan Rayyan. “Aku dan Faishal pasti membantunya. Kami paham dengan kesibukanmu."
“Tapi kak..”
“Tidak apa-apa.. Nanti juga sepulang dari Singapore emosinya reda dan dia akan berbaikan lagi denganmu,” ucap Papa. “ Sabar saja..”
“Ya, Pa..”
“O iya, perempuan tadi mencari Ruby karena adiknya menghilang. Ada apa?” tanay Sofie.
“Itulah yang menjadi masalah.. Entah kenapa Ruby meladeni Nindy. Padahal aku sudah bilang kak.. Nindy itu gangguan kejiwaan..”
“Oya?”
“Dulu Nindy bekerja di klinikku.. Tapi hanya 4 bulan dan dia berhenti. Dengan alasan kalau dia melihatku adalah seorang pembunuh berdarah dingin..” cerita Rayyan.
“Apa?” Sofie terkejut.
“Semua yang mendengar ceritanya sudah tahu kalau Nindy terlalu menjiwai karakter yang ia ciptakan dalam cerita bergambar yang ia buat..” ungkap Rayyan. ”Aku sudah berkali kali mengingatkan Ruby. Staf di klinik juga sudah menyampaikan, tapi dia keras kepala.. Tetap penasaran akan cerita Nindy dan selalu meluangkan waktu untuk bertemu Nindy..”
“Oh begitu..”kata papa.
“Lalu Nindy kemana?” tanya Sofie.
“Tadi malam dia ke klinik.. Aku tak mau dia terus mengusik hidup Ruby, kak.. Sejak kenal Ruby, dia hampir setiap saat meneror Ruby. Kasihan Ruby..” cerita Rayyan. “Akhirnya aku putuskan untuk mengantarkan Nindy ke rumah sakit jiwa..”
“Artinya kakaknya belum tahu?” tanya Papa.
“Belum pa.. Saya memang berencana memberitahu dia pelan-pelan. Bukan berniat mau mendahului sih.. Hanya sudah cukup lama Nindy dengan masalah kejiwaan seperti itu tapi keluarganya terkesan mrmbiarkannya begitu saja.. Dulunya saya tidak begitu peduli, tapi sejak dia mulai mengusik hidup Ruby saya rasa tidak bisa lagi untuk dimengerti,Pa..” jawab Rayyan.
“Dia suka dengan kamu?” tanya Sofie.
“Apa, kak?”
“Nindy.. Dia suka denganmu?”
“entahlah.. Aku tidak terlalu peduli selama ini sampai Ruby masuk dalam hidupku”.
“Dia tahu kalian akan menikah?” tanya Papa.
“Tahu, Pa..”
“Fix dia cemburu. Dia tidka suka kamu menikah dengan Ruby sehingga mencoba mengacaukan pikiran Ruby dengan cerita-cerita buruk tentang kamu, tujuannya sudah jelas.. Dia ingin kalian berpisah, batal menikah..” kata sofie. “Drama kecemburuan wanita yang merasa tak ingin pria yang dia sukai menikahi wanita lain..”
Rayyan tersenyum tipis.
“Imbasnya Ruby menjadi terganggu dan gampang emosi..” ucap Rayyan.
“Dia bilang kamu tak serius ingin menikah. Itu yang selalu dia katakan saat aku mau mengantarnya ke bandara tadi pagi..” cerita Sofie. “Katanya, di kota ini ada banyak dokter hewan. Klinikmu bukan satu satunya yang punya fasilitas lengkap. Tapi kamu tak bisa mengenyampingkan pekerjaanmu sebentar saja, setidaknya untuk menyenangkan hatinya”.
“Aku juga menyesal kak.. Ruby benar, harusnya aku bisa mereschedule jadwalku untuk menemaninya hanya sekedar mengambil cincin pernikahan kami..” sesal Rayyan.
“Sudahlah, tidak apa-apa.. Nanti papa juga akan bicara dan melunakkan hati Ruby agar mau berbaikan denagnmu..” janji papa.
“Katakan padanya Pa, kalau masih mau nikah singkirkan ego dan emosinya yang meledak ledak itu,” kata Sofie.”Dari dulu selalu begitu. Makanya tidak ada yang mau menikah dengannya, habis terlalu galak”.
Rayyan tersenyum.
“Cuma kamu laki-laki yang mau menikahi dia, sumpah..” kata Sofie.
“Cuma dia juga yang betah bertahan denganku, kak..” Rayyan tertawa.
Sofie melihat jam dinding.
“Astaga.. Aku belum menjemput Atta. Ayahnya bisa mengamuk anak tunggalnya itu menunggu lama di sekolah,” sofie berdiri.
“Bukan ayahnya.. Tapi kakeknya ini juga..” kata Papa. “Entah kenapa kamu selalu lupa menjemput anakmu. Apa tidak ingat kalau sudah punya anak sebesar itu?”
“Masih berasa remaja, pa..” Sofie tertawa.”pamit dulu,Pa.. Yuk, Ray..”
“Ya kak..”
"Tidak perlu dijemput,kak.. Atta sudah pulang denganku," Faishal masuk bersama Atta yang langsung berlari memeluk Papa.
"Kakek.."
"Bagaimana kamu bisa menjemput Atta?" tanya Sofie.
"Anak pintar itu meminta gurunya menelponku, katanya Mama pasti lupa menjemput Atta," jawab Faishal.
"Ayo, Atta ganti baju dulu," Sofie cepat menarik putranya.
Papa hanya menggeleng gelengkan kepala.
“3 Anak 3 pula perangainya dan semua itu gila. Sofie selalu lupa akan hal sekolah anaknya. Faishal berbeda lagi. Ruby terkadang marah marah tak terkendali. Bagaimana aku tidak cepat menjadi tua”.
“Memangnya Faishal kenapa pa? Faishal kan baik baik saja," protes Faishal.
"Kamu tak pernah di rumah, nongkrong dan bekerja, itu saja duniamu".
Faishal tertawa.
Papa memandang Rayyan
“Semoga setelah menikah nanti kamu bisa menyabarkan Ruby ya..”
“Insha Allah pa..”