“Dia ingin aku benar-benar GILA.. Agar tidak ada lagi yang tahu kejahatannya!” kata Nindy. “Cukup Nindy! Kamu mau membuat aku gila?” tukas Keisha. “Kakak bahkan lebih percaya dia daripada aku? Kak! Aku ini adikmu!” “Tidak ada yang membuktikan semua cerita kamu itu benar!”. “Aku ingin membuktikannya tapi tidak ada yang mau membantuku!” “Apa yang bisa orang bantu jika cerita yang kamu buat itu tidak benar?” “Kenapa sulit sekali untuk percaya padaku?” “Kamu penulis cerita Misteri! Semua yang kamu gambar itu adalah bagian dari cerita yang kamu pikirkan! Sudah berapa kali aku katakan untuk berhenti menulis cerita seperti itu!” “Kenapa sih semua orang disini bodoh?” tanya Nindy “Apa maksud kamu?” “Mana handphone kakak? Aku pinjam!" “Untuk apa?” “Aku mau menelpon ruby." “Tidak bisa, dia sedang di singapore!" “Kan bisa telpon lewat WA?” “Nindy! Sudahlah..! Jangan mengusik hidup Ruby!” tukas Keisha. “Aku ingin menyelamatkan dia!” “Tidak usah memaksa dia untuk mengikuti apa katamu!” “Bukankah mama kita selalu bilang kalau kita harus menolong orang kak?” “Sudah!” “Kak, tolong sekali ini saja”. Keisha memandang Nindy. “Aku janji kak.. Aku akan tetap berada disini.. tapi izinkan aku untuk bisa terus menghubungi Ruby”. Keisha menyerahkan handphonenya pada Nindy. “Hallo..” terdengar Ruby. “Ada apa kak?” “Ini aku, Nindy..” “Nindy..?” “Aku tahu kamu sibuk dan aku tidak akan mengganggu waktumu..” kata Nindy. “Ada apa?” tanya Ruby. “Rayyan memasukkan aku ke rumah sakit jiwa..” “Apa?” “Dia benar benar membuat aku menjadi pasien rumah sakit jiwa. Dia ingin membungkam mulutku agar aku tak bisa lagi menghubungi kamu”. “Oh, begitu..” “Aku serius, Ruby!” “Aku sudah tahu..” “Dia sengaja membuat aku jauh dari kamu agar aku tidak bisa menghubungi kamu dan menunjukkan bukti kejahatannya”. “Katakan saja apa buktinya kalau memang dia seorang penjahat seperti yang kamu katakan. Adikku adalah seorang polisi. Aku akan minta pendapatnya untuk hal ini." “Adikmu polisi?” tanya Nindy. “Ya.. kenapa?” “Itu sangat bagus. Izinkan aku untuk bisa bicara dengannya. Bisakah kamu menolongku? Setelah kamu kembali bawalah adikmu menemuiku." “Apa bukti dari cerita kamu agar aku bisa percaya?” “Kamu bisa menggali..” “Menggali apa?” Nindy menutup pembicaraan. “Kenapa memutuskan pembicaraan?” tanya Keisha. “Aku ingin dia penasaran dan terus mencariku kak.. Dia bilang adiknya polisi..” “Aku sebenarnya tak percaya padamu,Nindy!” “Apa kak?” “Kamu sudah terlalu jauh mengganggu hidup Ruby. Kenapa?” “Aku kasihan padanya, karena itu aku ingin membuat dia percaya pada ceritaku dan meninggalkan Rayyan”. “Kamu cemburu, Benarkan?” “Maksud kakak??” “Saat kamu pertama melihatnya bersama Rayyan, mungkin kamu sudah merasa kalau dia punya hubungan dengan Rayyan. Dan kamu tak suka ada yang memiliki dia!” kata Keisha. “Kakak, aku rasa kalian semua yang suda gila!” “Aku pulang,” kata Keisha . “kakak!" panggil Nindy. “Apa lagi??” “Cobalah ke taman belakang klinik. Dan galilah lebih dalam. Kalian akan menemukan apa yang aku katakan”. “Sudah, aku tak mau mendengarkannya lagi!” Keisha meninggalkan Nindy dengan kesal. Nindy menendang lantai dengan kesal. “Semua tak ada yang mau percaya padaku! Baiklah. Terserah, yang jelas aku sudah mengingatkan.” tukas Nindy.
Keisha mengetuk pintu ruangan Rayyan yang terbuka. Lelaki itu menoleh. "Kak Keisha?" “Maaf jika kakak harus mengganggu waktu kerjamu,” kata Keisha. “Tapi kemarin kamu bilang mau menghubungi kakak, kenapa tidak juga dihubungi? Sudah 2 hari kakak tunggu”. Ia menutup pintu. “Maaf kak.. Klinik sedang rame.. Dokter Amanda tidak bisa masuk karena sakit. Saya sendirian mengurus pasien.” “Oh, maaf..” “Duduk, kak. Tapi maaf saya juga tidak punya waktu lama untuk menemani kakak ngobrol. Ini kebetulan saya sedang istirahat jadi bisa ngobrol dengan kakak..” “Ya..” “Soal Nindy.. Maaf saya tidak minta pendapat kakak saat membawa dia pergi kesana. Saya spontan berpikir melakukannya karena saya merasa ia sudah mulai mengancam ketenangan Ruby. Dan jujur kak.. Kami menjadi sering ribut sejak Nindy semakin sering meneror Ruby dengan ceritanya”. “Aku sangat menyesalkan sikap Nindy.. Aku benar-benar sudah tidak tahu harus melakukan apa..” “Harusnya ketika kejadian waktu itu, kakak langsung mengbati kejiwaannya. Tapi kakak membiarkannya sehingga semakin berlarut-larut”. “Ya.. Sejak waktu itu dia semakin rajin menulis cerita bergambar. Setiap hari menulis cerita tentang seorang lelaki yang mengenakan pakaian dokter sedang melakukan pembunuhan..” Keisha menundukkan kepalanya. “Dia berkata pada Ruby kalau dia melihat tanganku berlumuran darah, aku membelah tubuh dan mengeluarkan isinya.. YA Allah. Kak, bukan kah itu hal yang biasa aku lakukan saat melakukan operasi?” “Ya..” Sebentar kak.. Ruby meneleponku,” kata Rayyan. “Silakan..” “Ya.. Ada apa Ruby?” tanya Rayyan. “Sedang apa?” “Istirahat..” “Sudah makan?” Rayyan tersenyum. “Sudah..” “Jangan melewatkan makan ya? Meski sedang sangat banyak yang kamu kerjakan, jangan sampai tidak makan. Ingat, tubuh juga harus dijaga agar tetap sehat.” “Baik,bu..” kata Nemo. “Minggu aku pulang..” “Jam berapa?” “Mau menjemputku?” “Jika kamu tidak marah lagi padaku..” "Jika aku marah aku tidak akan menelpon kamu." "Terimakasih sayang.." “Maafkan aku ya.. papa benar. Aku harusnya mengerti dengan profesi kamu. Bagaimana pun kelak setelah menikah aku akan menghadapi masa dimana kamu akan lebih banyak menghabiskan waktu kamu bersama pasien di klinik dari pada denganku.” Rayyan tersenyum. “Nanti kita sambung lagi ya?” kata Ruby. “I love you, dokter..” “Sama..” jawab Rayyan. “Hanya begitu jawabnya?” tanya Ruby. “Aku sedang ada klien..” “Aku tidak akan menutup telpon ku sebelum mendengar kamu mengucapkannya,” kata Ruby. “Nanti aku telpon ya?” “Ah kamu payah..” Ruby menutup telponnya. Rayyan tersenyum. “Love you, sayang..” ia mengirimkan pesan pada Ruby. Keisha tersenyum memandang Rayyan. “Ada apa, kak?” tanya Rayyan saat melihat Keisha. “Aku melihat kamu bahagia bersama Ruby..” Rayyan tesenyum. Pintu ruangan itu di ketuk. “Masuk..” kata Rayyan. “Sore pak Dokter..” sapa Wanda. “Eh, bang Wanda..” sapa Rayyan. “Kenapa bang? Mona sakit?” “Agak demam.” “Oh ya, sebentar ya Bang,” Rayyan berdiri. “Maaf kak. Aku tinggal dulu ya?” “Aku pulang saja, sepertinya kamu akan sibuk..” “Oh ya, lain waktu kita ngobrol lagi..” “Permisi..” pamit Keisha. “Ya..” Wanda memandang Keisha sampai menghilang. “Itu siapa? Calon ipar kamu?” “Bukan..” “Lalu?” “Kakaknya Nindy.” “Oh, ada apa kesini?” “Hanya sharing..” “Masalah Nindy dan halusinasinya?” Rayyan tersenyum. “Jangan diurusi lagi.. Nanti calon bini meradang." “Sudah meradang dan kabur ke Singapore tanpa mau aku antar saat berangkat”. Wanda tertawa. “Untungnya aku punya calon papa mertua dan kakak ipar yang sangat baik.. Bisa melunakkan hatinya untuk kembali bicara padaku”. “Cemburu pada Nindy?” “Bukan.. Cemburu pada pasienku,” Rayyan tertawa. “ah, untung dia sedang tidak disini. Bisa-bisa dia cemburu melihat Mona bergayut manja padamu,” Wanda ikut tertawa. “Nanti setelah menikah tidak akan cemburu lagi karena sudah memiliki,” kata Rayyan. “Aku pikir tadinya kamu tidak punya pacar. Aku berniat menjodohkanmu dengan sepupuku,” cerita Wanda. “Tapi ternyata, hanya menunggu Ruby pulang dari study untuk melangsungkan pernikahan..” “Ayo bang.. ke ruang pemeriksaan..” “Ayo..”
Di ruang administrasi.. “Kenapa balik lagi kak? Ada yang tertinggal?” tanya Jessika. “Aku ingin ke toilet..” kata Keisha. “Oh, dibelakang kak..” “Iya, terimakasih..” keisha meninggalkan ruangan itu. Keisha berjalan menuju taman belakang. “Cobalah menggali lebih dalam..” ucapan Nindy bermain di kepalanya. “Menggali lebih dalam..? Bagaimana caranya aku menggali sedangkan ini bukan tempatku?” gumam Keisha. “Satu-satunya orang yang bisa melakukannya adalah staf Rayyan, mereka adalah pekerja disini.. dan juga Ruby. Mungkinkah karena itu Nindy ingin membuat Ruby percaya padanya?” gumam Keisha.